Possessive Love

Possessive Love
Truth or Dare



Setelah senja berlalu, mereka memutuskan untuk segera pulang ke villa. Mereka tampak menaiki mobil, dengan formasi yang masih sama seperti sebelumnya.


Di dalam mobil yang David kendarai, terasa begitu hening. Diandra yang sedari kemunculannya terlihat sedikit murung, hingga ia memutuskan untuk menekuk lehernya, sembari bersandar pada sandaran jok mobil, tanpa bersuara sedikit pun.


Pun dengan Samuel yang juga sama, lebih memilih untuk diam dan sibuk dengan kegiatan menatap ke luar jendela mobil.


Dengan rasa penasarannya Aretha memutar sebagian tubuh dan kepalanya ke belakang. "Ra, tadi lo dari mana?" tanyanya yang tiba-tiba membuka suara.


Namun, Diandra tak menjawab. Nampaknya, ia tidak menyadari jika Aretha tengah mengajaknya berbicara.


Ya, Tuhan ... dia tidak mendengarku? Ada apa dengannya? Ah, aku sangat merasa bersalah sekali, karena tidak tahu apa yang tengah dia hadapi saat ini, sehingga membuatnya murung seperti itu, sahabat macam apa aku ini?


Aretha menghela napas, lalu melirik ke samping, menatap sang suami yang kala itu menoleh sejenak kepadanya, mungkin karena David juga merasakan keanehan dari sikap Diadra, ketika tidak memberi jawaban atas pertanyaan Aretha.


Baik Diandra maupun Samuel, mereka tidak ada yang menanggapi Aretha. Samuel hanya melirik sejenak menatap Aretha. Namun, ia tidak berniat untuk menanggapi, karena memang bukan dirinya yang ditanya, melainkan wanita yang tengah duduk di sampingnya.


Aretha kembali menghadap ke depan dengan sempurna. Ia sengaja membiarkan Diandra yang mungkin saja memang sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk dirinya.


Tak lama kemudian, mereka telah tiba di villa tempat mereka menginap. Mobil Rendy tampak lebih dulu memasuki gerbang villa itu, Sementara mobil David dan Alan tampak mengikuti. Mereka memarkirkan mobilnya di tempat semula.


Ketika mereka baru saja masuk, seketika tercium aroma masakan dari arah dapur. Nampaknya bi Sri baru saja selesai memasak untuk makan malam. Dan benar saja. Hanya dalam hitungan detik, bi Sri terlihat membawa dua piring berisi makanan yang telah siap untuk dihidangkan di atas meja makan.


"Sudah pulang, Mas, Mbak?" tanya Sri yang menyadari keberadaan mereka yang tak jauh dari tempatnya beraktivitas. "Bagaimana liburanya?" imbuhnya berbasa-basi.


"Sangat menyenangkan, Bi," jawab Aretha seraya melebarkan senyumnya.


"Syukurlah." bi Sri tampak tersenyum senang, di tengah-tengah tatapannya yang masih tertuju pada mereka.


"Bibi sudah siapkan makan malamnya, nanti kalau sudah selesai bersih-bersih bisa langsung makan malam bersama," ucap bi Sri memberi tahu.


"Baik, Bi. Terima kasih." balas David.


Mereka memutuskan untuk membersihkan badan mereka terlebih dahulu. Mereka tampak memsuki kamar mereka masing-masing.


***


Setelah selesai makan malam, lalu berbincang ria dengan yang lainnya di ruang tengah, Aretha dan David, pun dengan yang lain segera masuk kembali ke kamar mereka masing-masing, ketika perbincangan mereka telah resmi diakhiri, karena rasa lelah yang membuat mereka mengantuk dan ingin segera beristirahat.


Namun, berbeda dengan David yang justru sibuk dengan i-pad di tangannya. Ia sibuk memeriksa email yang dikirim beberapa karyawannya, sebagai laporan jarak jauh.


Aretha yang dimintanya untuk tidur lebih dulu, justru terlihat tengah membolak balikkan tubuhnya menghadap kana dan kiri secara berulang-ulang. Entah apa yang membuatnya terjaga, sehingga tidak lagi dapat memejamkan mata.


David yang kala itu tengah duduk berselonjor tentu dapat menyadari apa yang tengah dirasakan sang istri. Ia mengalihkan fokusnya ke tubuh Aretha yang kala itu tengah terbaring memunggunginya.


"Sayang, kenapa? Kamu tidak bisa tidur?" tanya David dengan tidak melepas i-pad dari tangannya.


Aretha langsung berbalik menghadap sang suami. "Tidak tahu nih, Mas ... aku tidak bisa tidur lagi," ucapnya memberengut. "Kamu belum selesai, Mas?" tanyanya kemudian.


David tersenyum, lalu memegang kepala Aretha seraya merapikan rambut wanita itu yang sedikit berantakan. "Tunggu sebentar lagi, ya," ucapnya lirih.


Aretha hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. Ia memperhatikan sang suami yang telah kembali sibuk dengan gawai di tangannya. Setelah beberapa menit, David tampak menyimpan i-pad itu ke atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Aretha terus memperhatikan kegiatan sang suami, hingga David menurukan tubuhnya dan berbaring di sampingnya.


Alih-alih segera tidur di dalam pelukan sang suami, Aretha justru memiliki ide baru untuk mengisi kekosongan dan kejenuhan malam itu. Sebab, ia memang benar-benar sudah tidak merasakan kantuk.


"Mas, kita main truth or dare, yuk!" ajak wanita itu sedikit antusias.


David yang baru saja akan menarik selimut menutup tubuhnya, tiba-tiba mengangkat sebelah alisnya merasa heran.


"Sudah malam, Sayang. Ayo tidur!" titah pria itu menolak.


"Ayolah, Mas ... aku tidak bisa tidur," rengek Aretha memasang wajah memelas, dan selalu saja membuat David mengalah.


Entah apa alasan yang paling kuat, sehingga membuat wanuta itu begitu ingin bermain permainan itu.


"Oke, baiklah. Tapi, sebentar saja." David tampak menyetujui dengan sedikit rasa malas.


"Oke, kita bergantian ya, Mas." Aretha tampak duduk, lalu menyiapkan ponselnya, membuka aplikasi instagram. Sementara David masih dalam posisi terbaring.


David memang belum pernah memainkan permainan itu, tetapi ia cukup tahu bagaimana aturan mainnya. Baginya yang super sibuk, rasanya terlalu membuang-buang waktu untuk hal yang tidak terlalu berguna.


"Kamu dulu ya, Mas," ucap Aretha memberi tahu.


"Hmm ...." David hanya bisa menurut.


Aretha tampak mengarahkan kamera ponselnya ke wajah David.


"Truth or dare?" tanya Aretha, ketika pilihan tantangan telah muncul pada layar ponselnya.


"Truth!" David menjawab yakin.


Dengan sigap Aretha langsung menekan tombol truth pada layar ponselnya.


"Apa hal paling romantis yang pernah kamu lakukan kepada mantan?" Aretha tampak membacakan pertanyaan pertama yang berada pada layar.


"Lho, kok pertanyaannya seputar mantan, sih? Jangan bahas mantan lah, aku malas!" protes David, lalu menutup wajahnya dengan bantal.


"Masa begitu, kamu curang namanya," kesal Aretha seraya menarik bantal yang menutupi wajah suaminya.


Jelas saja David tidak mau membahas hal-hal bersama mantan. Selain karena bukan untuk dikenang, ia juga tidak ingin membuat sang istri cemburu nantinya. Sebab, begitu banyak hal-hal romantis yang sudah ia lewati bersama sang mantan.


"Aku tidak tahu," jawab David.


"Kalau kamu tidak jawab, nanti aku hukum." ancam Aretha dengan nada manja.


"Aku tidak mau jawab, biarkan saja dihukum!" tegas David yakin.


"Ish!" Aretha tampak mencebikkan bibirnya kesal, padahal ia ingin tahu sekali jawaban dari David.


"Yakin kamu, Mas? Aku coret muka kamu ya, pakai marker!" Aretha langsung mengambil spidol yang memang ia pernah melihatnya di dalam laci nakas.


"Asal jangan yang permanent, aku tak apa." David nampak tidak peduli.


"Tidak asik kamu, Mas! Maaf ya ...," gerutu Aretha, lalu mencoret kening David memakai spidol berwarna hitam.


"Oke, lanjut!" Aretha melanjutkan permainan ke tantangan berikutnya.


Setelah tantangan kedua David masih memilih truth, Aretha membacakan pertanyaan kedua yang ada pada layar ponselnya.


"Apa kamu pernah mencuri sesuatu? Hal apa yang pernah kamu curi?"


"Pernah, hati kamu," jawab David tanpa berpikir panjang.


Aretha tersenyum mendengar jawaban dari David. Namun, tak berlangsung lama. Ia segera melanjutkan ke tantangan berikutnya.


"Jika kamu diberi kesempatan untuk memiliki kekuatan power, kekuatan apa yang ingin kamu miliki?"


"Kekuatan untuk mencintai kamu." Lagi-lagi David menjawab dengan cepat. Dan jawaban kedua semakin membuat wajah Aretha merona.


"Hal apa yang kamu tidak sukai dari pasanganmu?"


"Dekat-dekat dengan pria lain!" tegas David seolah memberi kode keras, sehingga membuat Aretha mencebikkan bibirnya.


"Lebih baik meninggalkan atau ditinggalkan?"


"Harus pilih salah satu, Mas!" Aretha tampak memaksa.


"Aku tidak mau!" tolak David tak mau kalah. Apa-apaan ia harus menjawab pertanyaan semacam itu, pikirnya.


"Ish!" kesal Aretha, lalu mencoret kembali pipi David.


Aretha sudah memberikan David pertanyaan sebanyak sembilan kali. Tampak beberapa coretan di wajah pria itu, karena ia tidak mau menjawab pertanyaan seputar mantan dan pertanyaan yang memang menurutnya tidak perlu diberikan jawaban.


Tibalah pada pertanyaan terakhir yang akan dilontarkan oleh sang istri kepadanya.


"Hal apa yang pertama kali bisa membuat kamu jatuh cinta terhadap pasanganmu saat ini?"


David terdiam sejenak, seraya berpikir. Ia sendiri tampak bingung, entah apa yang pertama kali membuatnya jatuh cinta kepada sang istri.


"Apa ya, Sayang?" tanyanya.


"Kok gitu, sih? Masa kamu tidak tahu apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" kesal Aretha yang tentu sedang menunggu jawaban dari David.


"Kamu sendiri, apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" David menatap sang istri penuh.


"Apa, ya?" Aretha tampak berpikir, seraya menopang dagu menggunakan tangannya.


"Tuh 'kan, kamu saja bingung apalagi aku?"


Mereka berdua tampak terkekeh, karena sama-sama tidak mengetahui apa yang menjadi alasan mereka bisa saling mencinta.


Waktunya giliran David yang memberi tantangan kepada sang istri. Kala itu David sudah terduduk di depan sang istri.


"Truth or dare?" tanya David melakukan hal yang sama seperti yang Aretha lakukan pertama kali kepadanya.


"Truth!" jawab Aretha.


Muncullah pertanyaan yang akan David bacakan pada layar ponsel.


"Apa mimpi terkonyol yang masih kamu ingat sampai sekarang?"


"Hahaha!"


Alih-alih memberi jawaban, Aretha malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan David, sehingga membuat David mengerutkan dahinya merasa heran.


"Kok malah tertawa?" tanya David heran.


"Kamu mau tahu?" Aretha menatap David tidak serius.


"Apa?" David semakin penasaran.


Aretha terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. "Menikah dengamu. Haha," jawabnya yang diakhiri dengan gelak tawa.


"Serius? Kamu pernah bermimpi itu?" David menatap tidak percaya.


"Sering!" Aretha begitu yakin, karena memang itu kenyataannya.


"Kapan?"


"Sebelum menikah denganmu. Bahkan, dari sebelum kita jadian, hehe." Aretha tampak menyeringai malu. "Sepertinya sih, karena aku kepikiran perjodohan itu," imbuhnya menduga.


David tidak menyangka jika Aretha bahwa Aretha sampai seperti itu karena perjodohan dengannya. Ia menanggapinya dengan senyuman.


"Bukan karena kamu yang sudah jatuh cinta kepadaku?" goda David yang langsung mendapat cebikkan bibir dari sang istri.


"Hal apa yang membuat pasanganmu bahagia?" David membacakan pertanyaan kedua.


Aretha terdiam. Ia berpikir cukup keras tentang apa yang bisa membuat suaminya bahagia. Sejatinya, hanya orang yang bersangkutanlah yang tahu akan hal itu.


"Mas, aku tidak tahu," ucap Aretha memasang ekspresi menyesal.


"Masa kamu tidak tahu apa yang membuatku bahagia? Kamu istri aku, lho!" David melayangkan protesnya. Padahal jawabannya sangat sederhana. Dengan Aretha yang selalu berada di sampingnya, itu sudah cukup membuatnya bahagia. Dan hal sekecil itu istrinya tidak tahu? Benar-benar menyebalkan, pikirnya.


"Aku benar-benar tidak tahu," terang Aretha jujur.


"Baiklah kita lanjut ke tantangan berikutnya!" ucap David menanggapi.


"Kamu hukum aku dulu, Mas. Aku 'kan tidak menjawab pertanyaan kamu!" pinta Aretha merengek ingin dihukum.


"Nanti saja," jawab David seraya mengutak-atik layar ponsel itu.


"Sekarang saja! Kurang asyik kalau hukumannya ditunda-tunda!" paksa Aretha.


"Nanti saja, kita lanjutkan dulu tantangannya, setelah selesai baru aku beri kamu hukuman," jelas David seraya menatap ekspresi manja sang istri.


"Tidak mau!" Aretha tampak kekeh. "Ayo, hukum aku dulu!" pintanya seraya mendekatkan wajahnya ke arah David.


David tersenyum, lalu melayangkan kecupan manis di pipi sang istri, sebagai hukuman untuknya.


Aretha sedikit membeliak, merasa terkejut. "Ini hukuman darimu?" tanyanya.


"Yes!" singkat David.


Aretha tampak tersenyum lebar mendapat hukuman manis dari sang suami. Seketika wajahnya bersemu merah, dan memang selalu begitu, ketika David membuat perasaannya mbak terbang di awang-awang.


"Apa makanan favorit pasangan kamu?"


"Aku tidak tahu!" Secepat kilat Aretha menjawab pertanyaan David.


David mengangkat sebelah alisnya. Lagi-lagi Aretha tidak tahu tentangnya? Namun, ia tidak ingin berkomentar apapun. Ia hanya melayangkan kecupan di pipi Aretha yang satunya, ketika Aretha menintanya hukuman.


Setelah pertanyaan baru muncul di layar ponsel. Seketika David memiliki ide untuk mengganti pertanyaannya.


"Kapan terakhir kali kamu makan di luar dengan pasanganmu?" David menatap sang istri penuh tanya.


"Mmm ... aku lupa, aku tidak tahu!" jawab Aretha berlagak sok lupa, pakai acara berpikir segala. Jelas-jelas ia baru saja melakukannya tadi siang.


Dan lagi-lagi David melayangkan kecupan di keningnya, sebagai hukuman ketiga.


"Kapan terakhir kali pasanganmu mencium keningmu?" tanya David kemudian yang jelas tidak terfokus ke pertanyaan yang berada pada layar ponsel yang ia genggam.


"Aku tidak tahu!" jawab Aretha sembari menahan senyumnya. Namun, David masih bisa menyadari akan kejahilan sang istri.


Secepat kilat, David melepaskan ponselnya, menatap wajah sang istri dengan gemas. Ingin rasanya ia menerkam tubuh mungil Aretha saat itu juga, tetapi masih ia tahan.


Sepertinya dia sengaja mengerjaiku.


"Kamu sengaja mengerjaiku, ha?" tanyanya gemas.


"Tidak!" Aretha tertawa mencurigakan.


Detik itu juga, David langsung mendorong tubuh Aretha hingga terbaring dan berada di bawah kungkungannya. David menghujani wajah wanita itu dengan berbagai kecupan, sehingga membuat Aretha tertawa kegelian.


"Mas, ampun!!" pekik Aretha, ketika David sudah mendaratkan puluhan kecupan di wajahnya tanpa ampun. Namun, David tidak ingin kalah, apalagi menyerah.


"Kamu harus bertanggung jawab, karena sengaja sudah menggodaku!" David masih tidak ingin melepaskan sang istri yang sudah kewalahan dengan beberapa kecupan di wajahnya.