
"Maksud kamu?" tanya Aretha, setelah ia mendengar pernyataan Richard untuk yang kedua kalinya.
Gadis itu tampak menunggu jawaban dari pria di hadapannya. Namun, Richard masih diam tak menjawab, entah apa yang tengah ia pikirkan saat itu.
"Aku belum menikah," lirih pria itu, setelah beberapa detik.
DEG!
"Ka-kamu ngomong apa, sih?" Aretha nampak tidak percaya dengan jawaban pria itu.
Jelas-jelas dua tahun yang lalu Richard menulis surat untuk gadis itu dan memberinya kabar bahwa ia akan menikah karena perjodohan. Akan tetapi, kenapa tiba-tiba Richard mengatakan bahwa dirinya belum menikah? Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Aretha sungguh dibuat bingung. Seketika ia berpikir apakah itu hanya alasan Richard untuk mengakhiri hubungan mereka saat itu. Jika itu memang benar, sepertinya gadis itu harus bersiap-siap untuk merasakan sakit yang kedua kalinya.
"Aku memang belum menikah, Re," jawab Richard.
Aretha menyunggingkan bibir, seraya tersenyum getir. "Lalu, apa maksud dari semua ini? Kenapa dulu kamu bilang bahwa kamu akan segera menikah?" tanyanya kecewa.
"Aku tidak habis pikir kamu sejahat itu. Hanya demi mengakhiri hubungan kita, kamu rela membohongiku?" imbuhnya sedikit geram.
Yang Aretha pikirkan saat itu bahwa Richard telah membohonginya dan itu sungguh menyakitkan bagi gadis itu. Kenapa harus berbohong? Jika memang benar-benar ingin mengakhiri hubungan, kenapa tidak jujur saja? Batinnya saat itu.
"Bukan begitu, Re," sangkal Richard. "Aku tidak pernah membohongimu," lanjutnya.
Aretha memalingkan pandangannya ke arah jendela. Ia sangat merasa kecewa. Mengingat dirinya yang bersusah payah menerima kenyataan pahit itu, lalu harus berusaha melupakan sosok pria di hadapannya, tiba-tiba hari ini ia mengetahui kenyataan bahwa pria itu belumlah menjadi milik orang lain.
"Re?" panggil Richard. Namun, Aretha tak bergeming. "Demi apapun, aku sama sekali tidak bermaksud membohongi kamu," jelasnya.
"Kamu tahu, betapa sulitnya aku menerima kenyataan itu? Apakah kamu tahu juga, seberapa besar rasa sakit yang aku rasakan saat itu?" tanya Aretha seraya menatap sinis pria itu.
"Aku tahu," gumam Richard seraya menatap sayu gadis di depannya yang terlihat sudah berkaca-kaca. "Bahkan, aku tahu betapa susahnya kamu melupakan aku," imbuhnya.
Aretha hanya diam membisu. Seketika butiran kristal bening di sudut mata gadis itu, tampak luruh membahasi pipinya. Untuk yang kedua kalinya ia merasakan kekecewaan yang begitu mendalam karena pria itu.
Gadis itu kembali memalingkan pandangan ke arah jendela. Ia menatap jalanan yang cukup gelap di tengah sibuknya lalu lalang kendaraan. Beberapa street light tampak memberikan penerangan pada jalan tersebut sehingga suasananya terlihat cukup indah dipandang oleh mata.
Namun, nyatanya itu tidak mampu mengembalikan mood booster gadis itu dalam waktu sekejap. Walau bagaimanapun Richard telah membuatnya badmood saat itu.
"Aku batal menikah," lirih Richard, sontak membuat gadis itu seketika mengalihkan pandangan ke arahnya. Richard masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya, yaitu memandang gadis yang tengah duduk di depannya.
Mereka tampak beradu pandang. Namun, tak satu pun kata yang lolos dari tenggorokkan gadis itu, meski sebenarnya ada yang ingin sekali ia tanyakan terkait pernyataan yang baru saja ia dengar langsung dari mulut pria itu. Namun, entah kenapa bibirnya seakan kaku.
Gadis itu memang cukup berusaha keras menahan emosinya kala itu sehingga membuatnya kesulitan untuk berbicara. Karena apapun yang ingin ia ucapkan seolah tertahan, tidak bisa dikeluarkan.
Aretha hanya mengernyitkan dahi seraya menatap pria itu penuh tanya, dengan segudang rasa penasarannya. Ia berharap pria itu akan segera menjelaskan semuanya tanpa diminta.
"Gadis itu membatalkan pernikahan kita secara sepihak, tepat di hari pernikahan itu," jelas David, sontak membuat Aretha semakin terkejut.
"Aku bahagia, bahagia sekali, karena jujur aku masih berharap kita bisa kembali seperti sebelumnya," imbuhnya seraya memberi jeda.
Seketika Aretha menghapus air mata yang kian membanjiri pipinya. Ia sedikit menyesal mendengar penjelasan Richard.
Andai saja waktu itu ia tidak pergi berlibur di rumah neneknya untuk sekadar menenangkan pikiran, karena kekecewaanya terhadap pria itu. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu. Tidak menutup kemungkinan juga mereka masih bisa bersama sampai detik ini.
"Andai saja aku memiliki banyak waktu. Mungkin aku akan menyusulmu ke Bandung. Namun, waktuku terbatas. Aku harus pergi ke London untuk melanjutkan study-ku, setelah mendapat ijin dari papa." Richard tampak menjelaskan setiap kejadian yang terjadi dua tahun yang lalu.
"Dua hari berikutnya aku berangkat ke London bersama Rendy. Aku mengejar waktu untuk mengikuti tes gelombang kedua, di sana" imbuhnya.
Aretha masih tak bergeming. Ia mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan oleh pria itu.
"Usahaku tidak sampai di situ. Aku mencoba menghubungi kontak kamu sebelum berangkat ke sana, tapi nomor telepon kamu tidak pernah aktif," ujar Richard.
"Aku bingung sekali waktu itu, harus bagaimana lagi agar aku bisa berbicara denganmu," lanjutnya seraya mengingat kekecewaan itu.
Mendengar setiap penjelasan Richard, seketika membuat gadis itu sangat merasa menyesal. Andai saja waktu itu ia tidak segera mengganti nomor teleponnya, mungkin ia tidak akan berlama-lama menahan rasa sakit itu.
"Setelah berada di sana, aku kembali mencoba menghubungi kamu. Namun, hasilnya sama. Hingga aku putuskan untuk menelepon langsung ke rumahmu. Lagi-lagi asisten rumah tangga kamu bilang, kamu sedang tidak ada di rumah dan selalu begitu."
"A-aku tidak pernah tahu jika kamu menghubungiku melalui telepon rumah," ucap Aretha terbata.
"Aku hampir putus asa. Namun, Rendy selalu menguatkanku dan aku percaya jika Tuhan menakdirkan, maka kita dipertemukan kembali dalam kondisi apapun itu," ujar Richard terdiam sejenak. "Dan di sanalah aku mengenal David," imbuhnya.
"Aku ...." Aretha tampak termenung, tidak dapat melanjutkan ucapannya. Seketika gadis itu menundukkan kepala, meratapi penyesalannya.
"Jujur, sampai detik ini aku masih belum melupakanmu, Re. Perasaan itu masih ku simpan dengan rapi di sini," sela Richard seraya memegang dadanya sendiri. "Bahkan, kamu lihat jam tangan ini!" titahnya seraya menunjuk ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aretha sedikit mendongak, lalu menatap jam tangan itu.
"Kamu masih ingat jam tangan ini?" tanya Richard masih menunjuk jam tangan itu. Aretha mengangguk.
"Aku selalu pakai ini kemana pun, hanya sekadar untuk mengurangi rasa rinduku padamu," ucap pria dengan wajah sendunya.
Lagi-lagi gadis itu tidak dapat membendung air mata yang sedari tadi telah memenuhi sudut matanya.
"Hari ini aku senang. Bahkan, sangat senang karena Tuhan mempertemukan kita kembali secara kebetulan." Richard tampak tersenyum simpul sembari menatap gadis itu. Lain halnya dengan Aretha yang terlihat sangat bersedih mendengar semua penjelasan pria itu.
"Apa kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan, Re?"
_______________
Hai Readers ...😊
Maaf ya kalau selanjutnya author akan telat update, karena jujur aku galau plus dilema setelah nulis chapter ini😢 Bingung mau pilih siapa😢
Mohon bersabar ya😊
HAPPY READING!