Possessive Love

Possessive Love
Pernikahan Rendy



Setelah beberapa hari, akhirnya tibalah pada waku yang ditunggu-tunggu, di mana Rendy dan Clara akan melangsungkan pernikahan malam itu.


David dan Aretha sudah berada di perjalanan menuju sebuah hotel mewah, tempat Rendy dan Clara akan melangsungkan resepsi pernikahan.


Setelah hampir satu jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ya, jalanan malam itu cukup sesak dengan kendaraan, sehingga membuat mereka harus menghabiskan waktu hampir satu jam karena terjebak macet.


David segera membukakan pintu mobil untuk sang istri, lalu segera mengajaknya masuk. Mereka tampak berjalan berdampingan. Aretha merangkulkan tangannya di lengan sang suami. Sungguh pasangan yang sangat serasi dengan balutan long dress dan tuxedo berwarna senada.


Dengan perlahan, tetapi pasti, mereka menginjakkan kaki di atas karpet merah yang terbentang di ruangan yang sudah di dekorasi dengan sangat indah dan elegan. Tampak beberapa tamu undangan yang sudah membuat riuh ruangan tersebut, saling berbincang membicarakan sesuatu.


Aretha tak henti-hentinya meberbitkan senyuman di setiap langkahnya, sedangkan David terlihat acuh tak acuh, meski sesekali ia juga tersenyum kepada orang-orang yang ia kenal dan menyapanya. Ya, tentu saja tidak sedikit dari para tamu undangan yang mengenal pengusaha kelas atas seperti David. Sesekali pria itu juga menghentikan langkahnya untuk sekadar berbasa-basi saling bertegur sapa dan menanyakan kabar.


"Pak David? Sudah lama sekali tidak bertemu. Bagaimana kabar Anda?" tanya seorang pria bertubuh sedikit gemuk dan pendek yang berusia sekitar empat puluh tahunan.


"Pak Seno, senang sekali bertemu Anda di sini. Kabar saya baik. Anda sendiri?" balas David.


"Saya juga baik, Pak." Seno tampak tersenyum, lalu mengalihkan pandangan kepada Aretha. "Wah ... rupanya istri Bapak sedang hamil?" tanyanya, ketika ia menyadari perut Aretha.


"Betul, Pak," jawab David tersenyum senang.


"Selamat ya, Pak. Semoga proses lahirannya nanti dilancarkan," ucap Seno.


"Amin. Terima kasih, Pak." David tersenyum, lalu terdiam sejenak. "Baiklah, sepertinya kami harus menemui kedua mempelai terlebih dahulu," imbuhnya kemudian.


"Oh ya, silakan, Pak," jawab Seno tidak masalah.


Aretha dan David kembali melanjutkan langkah mereka menuju pelaminan, tempat Rendy dan Clara beserta keluarga dari kedua belah pihak berada.


Mereka berdua tampak mengucapkan selamat kepada keduanya.


"Selamat ya, Bro," ucap David kepada Rendy. Mereka tampak berpelukan beberapa saat, layaknya sahabat.


"Thanks, Bro," jawab Rendy.


Sebagaimana sang suami, Aretha pun melakukan hal yang sama. Ia mengucapkan selamat kepada Rendy dan juga Clara secara bergantian.


Setelah selesai, mereka segera menjauh dari tempat itu, mengingat masih banyak para tamu undangan yang tengah mengantrinya di belakang.


David dan Aretha berjalan tanpan tujuan, hanya tempat duduk kosong yang tengah mereka cari saat itu.


"Dave, lo dari tadi?" tanya Richard yang tiba-tiba ada di depan mereka bersama Renata.


"Baru saja," jawab David singkat.


"Hai, Re ... apa kabar?" sapa Renata seraya mencium pipi kanan dan kiri Aretha.


"Aku baik, kamu sendiri bagaimana?" Aretha bertanya balik sembari menatap gadis di depannya yang terlihat cantik dengan balutan dress berwarna merah muda.


"Selagi kakakku ada di sampingku, aku pasti akan baik-baik saja," seloroh Renata seraya melirik ke arah Richard.


"Kalau kamu terus-menerus berada di sampingnya, lalu kapan kakakkmu ini akan punya kekasih?" celetuk David tidak serius, tetapi sedikit menyindir.


Richard tampak mencebikkan bibirnya kesal. Namun, ia tidak menanggapi apapun.


"Biarkan saja dia tetap seperti ini, Kak. Aku senang karena bisa merepotkannya kapan saja," balas Renata menyeringai senang.


Ah, Adik sama kakak sama saja, sama-sama menyebalkan. Kapan dia bisa move on dari Aretha, kalau yang digandeng adiknya terus? Benar-benar menyebalkan.


"Berilah kesempatan untuk kakakmu ini, Rena!" timpal Aretha sedikit ragu. Ia hanya berusaha mencairkan suasana agar tidak terlihat canggung di depan Richard, pun sebaliknya.


"Aku sudah sering memberinya kesempatan, Re, tetapi dia selalu saja menyia-nyiakannya," ujar Renata sungguhan.


Ya, memang betul apa yang dikatakan gadis itu bahwa ia selalu memberi Richard kesempatan untuk mencari wanita yang barangkali bisa dijadikan kekasihnya, sekadar untuk melupakan wanita yang memang membuat pria itu seolah taruma karena cinta, tetapi Richard tidak pernah tertarik untuk itu. Nyatanya pria itu tidak membenarkan bahwa menyembuhkan rasa sakit karena seorang wanita itu adalah dengan mencari wanita lain.


"Ah, sudahlah, jangan bahas itu terus, kalian nikmati saja kebersamaan kalian, tidak perlu memikirkanku. Sampai detik ini aku masih percaya bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang baik untukku," sela Richard, ketika ia sudah merasakan panas pada telinganya.


Baru saja David akan menanggapi, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, sehingga membuat fokusnya teralihkan. David segera merogoh saku celananya, lalu melihat layar ponsel itu. Seketika ia mengangkat sebelah alisnya.


Pak Andre? Ada apa dia telepon?


David menoleh ke arah Aretha. "Sayang, kamu tunggu di sini sebentar bisa? Aku mau menerima telepon dulu dari klien," ucap David memberi tahu.


"Oh ya, Mas, silakan." Aretha tampak memberikan ijin kepada sang suami.


"Bro, titip sebentar ya," ucap David kepada Richard.


"Ya," singkat Richard dengan ekspresi datar.


"Ya ampun, aku bukan anak kecil, Mas," protes Aretha.


"Kamu hati-hati, jangan kemana-mana!" pesan David, sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari hadapan sang istri dan juga sahabatnya.


David segera pergi mencari tempat yang jauh dari keramaian, karena tidak mungkin ia menerima telepon di tengah-tengah riuhnya sekelompok manusia.


David tampak keluar dari ballroom hotel yang menjadi tempat resepsi itu, barulah ia menerima panggilan masuk dari kliennya. Tak ada hal penting lain, selain perihal bisnis antara mereka.


Di dalam ballroom, Aretha masih di tempat yang sama. Ia masih asyik berbincang dengan Renata, membicarakan berbagai hal yang tidak begitu penting untuk di bahas.


Sedangkan, Richard tampak tengah berbincang dengan beberapa tamu undangan lain yang mereka kenal. Namun, ia masih di tempat yang sama, dekat Aretha dan adik perempuannya. Sesekali Richard memperhatikan perbincangan antara adik dan mantan kekasihnya itu, di tengah-tengah perbincangannya dengan tamu undangan lain. Namun, itu hanya sekilas dan ia tidak berniat untuk berkomentar apapun.


Setelah beberapa saat Aretha berbincang dengan Renata, ia memutuskan untuk mencari teman-temannya yang juga diundang ke acara tersebut, barangkali mereka sudah tiba di tempat itu.


"Rena, aku mau mencari teman-temanku dulu ya, barangkali mereka sudah ada di sini," ucap Aretha.


"Oh ya, silakan, Re," jawab Renata.


"Baiklah, aku tinggal ya ...."


Aretha baru saja akan melangkahkan kakinya, tetapi tiba-tiba Richard yang menyadarinya segera menghentikan langkah Aretha.


"Kamu mau kemana, Re?" tanya Richard.


"Aku mau cari teman-temanku dulu, Kak," jawab Aretha.


"Lho, bukannya David minta kamu jangan kemana-mana?" ujar Richard mengingatkan.


"Hanya sekitar sini, kok. Tidak akan jauh-jauh," balas Aretha.


"Ya sudah, hati-hati ya jalannya," pesan Richard khawatir, mengingat Aretha yang tengah hamil berada di tempat ramai seperti ini.


"Iya, Kak. Terima kasih," balas Aretha.


Aretha langsung beranjak dari hadapan sepasang adik dan kakak itu. Ia tampak berjalan ke arah kanan, sembari celingukan mencari sosok ketiga sahabatnya. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya, sehingga membuat Aretha hilang keseimbangan.


"Re, awas!!"