
Pagi harinya, Aretha tengah sibuk menyiapkan baju kerja sang suami dengan ekspresi wajah yang masih memberengut kesal karena kejadian semalam.
Bukannya ia tidak menghargai kejujuran David, hanya saja itu benar-benar mengganggu pikirannya. Rasanya dadanya itu terasa sesak sekali, ketika membayangkan sang suami berciuman dengan wanita lain, meski itu terjadi sebelum ia mengenalnya.
Ketika Aretha baru saja mengambil tuxedo dari dalam lemari, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Tampak David yang menyembul dari balik pintu itu dengan hanya memakai handuk yang melilit di bagian pinggangnya, sementara dadanya dibiarkan telanjang tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.
Sudah bukan perihal asing bagi Aretha. Ia sudah terbiasa melihat pemandangan itu. Kendatipun begitu, pemandangan itu tetap saja membuat Aretha tergoda.
Entah kenapa ia selalu ingin menyentuh dengan lembut dada bidang itu. Namun, itu sama sekali tidak pernah ia lakukan. Malulah ia jika harus memulai lebih dulu, khawatir disangka sedang menggodanya.
Melihat Aretha yang sedari bangun tidur hanya diam dan cemberut, membuat David segera menghampirinya, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang.
Seketika jantung Aretha berdegup dengan kencang. Demi apapun, tanpa ia harus melakukannya, David malah lebih dulu melakukan itu. Seketika ia menghirup aroma maskulin yang begitu menenangkan. Ia sangat menyukai aroma khas dari tubuh sang suaminya.
"Sayang, sudah dong ... jangan marah terus," rengek David seraya menopangkan dagunya di atas bahu sebelah kiri Aretha.
"Mas, pakaianmu sudah kusiapkan," ucap Aretha malas.
"Aku tidak akan memakainya, sebelum kamu tersenyum," ujar David tidak peduli.
"Sudahlah, Mas ... aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi," balas Aretha sedikit terpaksa.
David memutar tubuh Aretha, sehingga mereka tampak saling berhadapan. Aretha tertegun beberapa saat, ketika mendapati apa yang selama ini selalu menggoda dan meracuni otaknya. Dada bidang David terpampang jelas di hadapannya dalam keadaan telanjang, sungguh indah dan menggoda. Ingin rasanya ia membelainya, lalu membenamkan wajahnya di sana. Ah, tidak! Tidak mungkin ia berani melakukan itu.
"Ehem!" David berdeham, sontak membuat Aretha tersadar dari lamunnya. Seketika ia menjadi salah tingkah.
"Kamu suka?" tanya David yang sedari tadi menundukkan kepalanya memperhatikan Aretha yang tengah menjamah tubuhnya melalui tatapan.
"Hh?" Aretha terkesiap. Wajahnya sudah tampak seperti kepiting rebus. Tentu saja ia merasa malu, karena kepergok sedang menikmati tubuh David yang begitu memesona.
"Kamu menyukainya?" tanya David sekali lagi seraya menyeringai senang. Jelas ia berniat ingin menggoda Aretha.
"Apa?" tanya Aretha.
"Itu." David menggerakkan kepalanya mengarahkan ke dada bidangnya.
"Apa sih kamu, Mas!" Aretha berusaha melepaskan pelukan David. Namun, tenaganya tidak begitu kuat untuk melawan tubuh kekar itu.
David menatap intens wajah Aretha. Ia terdiam beberapa saat. Ia menelusuri setiap inchi wajah sang istri, mata, hidung, pipi dan bibirnya, ah sungguh membuatnya terhipnotis seketika, hingga ia tidak sudi untuk berpaling dari sana, barang sedetik pun.
David tampak menurunkan wajahnya, lebih dekat dengan wajah Aretha, sehingga membuat wanitanya terpaku, tak bergerak. Ingin rasanya ia menolak, tetapi nalurinya seolah berkata tidak. Ia pun memutuskan untuk menunggu apa yang akan dilakukan David saat itu.
Hingga saatnya tiba, David mengecup bibir ranum itu. Hanya sekilas. Namun, cukup membuat hati keduanya bergetar. David menyeringai senang, dengan tidak mengalihkan fokusnya dari wajah Aretha.
Aretha masih terpaku. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain membalas tatapan David saat itu.
"Jangan cemberut seperti itu, aku tidak suka melihatnya!" perintah David. Namun, Aretha hanya diam tak menanggapi.
Mana mungkin aku bisa marah dalam waktu yang lama, kalau kamu saja selalu memperlakukanku semanis ini, Mas.
"Sudah siang, Mas, nanti kamu telat masuk kantor," ucap Aretha mengalihkan.
David pun tampak segera mengakhiri kegiatannya, lalu segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Lima belas menit kemudian, pria itu telah rapi dan siap untuk berangkat.
Seperti biasa, Aretha selalu mengantar sang suami ke depan rumah, setelah mereka selesai sarapan.
"Hati-hati, Mas! Jaga diri baik-baik, jaga hati, jaga pikiran dan juga jaga iman!" pesan Aretha sedikit menyindir.
David tampak terkekeh, seolah merasa paham dengan maksud Aretha yang tentu saja masih ada kaitannya dengan Freya. Khawatir jika wanita itu kembali menggodanya.
"Pasti!" jawab David yakin seraya mengulas senyuman di wajahnya.
***
Seharian di rumah saja membuat Aretha merasa sedikit jenuh dengan kegiatan yang itu-itu saja. Membaca novel, menonton televisi dan hanya memainkah gawai miliknya. Ah, rasanya sangat membosankan baginya.
Setelah selesai membaca novel karyanya mbak Asma Nadia yang berjudul Cinta di Ujung Sajadah, Aretha tampak meraih gawainya, lalu mengirim pesan di grup chat whats app yang beranggotakan dengan ketiga sahabatnya.
Wanita itu tampak senyum-senyum sendiri, ketika mereka menggodanya perihal malam pertama yang sebenarnya belum pernah ia lakukan.
Deasy :
Jalan-jalan ke kota mekkah, jangan lupa beli sajadah. Senangnya yang baru menikah, pasti setiap malam ada yang jamah.
Haish! Bahasa lo Des ... ingat umur, masih bau kencur saja sudah bahas-bahas begituan.
Diandra :
Wah ... gue hampir lupa, kalau teman kita yang satu ini @Aretha ternyata sudah nikah. Please, jangan ngorok ya, sekarang kan sudah ada yang menemani tidur!
Ledek Diandra pada balasan chat whats app grup.
^^^Aretha :^^^
^^^Pokoknya ... yang belum, nyesel!^^^
balas Aretha sembari tertawa lepas. Ia segera mengakhirinya dengan tidak menanggapi lagi chat dari ketiga sahabatnya itu.
Seketika Aretha teringat kepada sang suami yang selalu membuatnya merasa rindu. Ingir rasanya ia mendengar suaranya kala itu. Namun, ia merasa takut malah akan mengganggu aktivitasnya.
Aretha pun memilih untuk membuat story whats app.
Terkadang, aku ingin sekali bercerita.
Tentang semua yang kurasa.
Tentang rasa lelah dan juga letih.
sebab, menahan rasa rindu yang semakin berlebih.
Tulisnya pada sebuah laman story whats app.
Tak disangka, satu menit kemudian tiba-tiba benda pipih itu bergetar, ketika baru saja ia akan menyimpannya di atas nakas.
Dengan sigap Aretha mengecek kembali benda pipih itu. Seketika matanya terbelalak, saat mendapati komentar dari sang suami.
My Crazy Boss :
Asmara kian mendayu.
Di bawah rintik hujan yang sendu.
Lirih mengusik kalbu.
Terdengar sayup di telinga resahku.
Masih adakah alunan rindu itu untukku?
Aretha tampak tersenyum membaca komentar David. Siapa yang menyangka ternyata David lebih romantis dari apa yang ia bayangkan selama ini.
^^^Aretha :^^^
^^^Pada akhirnya, aku sampai pada titik sadar bahwa tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaanya dengan baik dan benar. Ada cinta, tetapi memilih untuk diam. Ibarat rindu yang semakin terkurung, sudikah kiranya tuan merangkul untuk saling mendukung?^^^
Dengan sedikit ragu, Aretha mengirimkan balasan itu kepada David. Tak lama David membalasnya kembali.
My Crazy Boss :
Tuhan, tak banyak permintaanku hari ini, aku hanya memohon pada-Mu, jagalah dirinya, dan sampaikan kepadanya bahwa aku juga sangat merindukannya.
Bibir Aretha semakin merekah, ketika membaca balasan dari David. Baru saja ia akan membalasnya, David telah lebih dulu mengirim chat susulannya.
My Crazy Boss :
Bersiap-siaplah, satu jam lagi aku jemput. Malam ini kita makan di luar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC