
Aretha masih termangu dengan keindahan yang nampak jelas di matanya. Sebuah rooftop yang disulap menjadi bar dan lounge ataupun tempat nongkrong tertinggi di kotanya dengan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menawan di malam hari.
Aretha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Ia masih tidak percaya bahwa David akan membawanya ke tempat itu, dimana ia bisa menikmati panorama keindahan ibukota pada malam hari, langsung dari gedung teratas dengan diiringi live music yang sengaja disuguhkan untuk para pengunjung.
Tampak beberapa pengunjung yang didominasi oleh sepasang anak-anak muda yang juga ikut menikmati pemandangan tersebut.
Gadis itu tampak melebarkan senyumnya. Ada kebahagiaan tersendiri baginya, ketika melihat pemandangan yang cukup menarik untuk dinikmati. Bahkan, bukan hanya sekadar menarik, melainkan sungguh luar biasa dan mengagumkan sehingga membuatnya enggan untuk mengedipkan mata, walau barang sedetik pun.
Berada di lantai teratas gedung pencakar langit merupakan pengalaman pertama gadis itu. Ia baru menyadari akan keindahan kota kelahirannya pada malam hari. Itu sangat berbeda dengan ketika ia hanya menikmatinya di bawah sana.
"Indah sekali," puji Aretha.
David yang sedari tadi memerhatikan gadis itu tampak melebarkan senyumnya. "Kamu suka?" tanyanya masih berdiri di belakang gadis itu sembari memegang bahunya.
Aretha menganggukkan kepala berulang kali tanpa menghentikan senyumnya. "Suka, suka banget!" jawabnya yang sontak membuat David semakin senang melihatnya.
"Kamu ikut aku!" ajak David seraya menutup kembali mata Aretha dengan kedua tangannya, lalu membimbing gadis itu untuk pergi ke sebuah tempat privat yang sedikit jauh dari jangkauan pengunjung lainnya. Kendatipun begitu, keduanya masih tampak bisa menyaksikan keseruan dari pengunjung lain dengan jelas.
Tempat itu berada tak jauh dari jangkauan area live music sehingga tidak menutup kemungkinan jika itu akan menjadikan momen terindah bagi mereka berdua, khususnya David yang memang memiliki rencana tersebut. David tampak membuka mata gadis itu, setelah mereka berada tepat di tempat yang dimaksud.
Di sana, Aretha semakin dikejutkan dengan hal yang menakjubkan lainnya, dimana ia bisa menikmati keindahan itu dengan lebih leluasa karena mejanya berada tepat di dekat balkon rooftop itu.
Tidak hanya itu. Aretha tampak reflect menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari melebarkan tatapannya pada sebuah meja yang sudah ditata rapi beserta hidangan untuk sebuah candle light dinner.
Tampak tirai putih yang membentang pada empat tiang yang mengelilingi meja itu diterangi temaram nyala lilin yang juga ikut mengelilingi sekitarnya, memberikan sedikit penerangan dengan kesan sunyi dan romantis.
Entah mengapa, semua itu membuatnya tidak bisa menolak untuk menikmati akan setiap keindahan yang disuguhkan di depan matanya, secara gratis. Seketika ia melupakan tentang sosok David yang selama ini menurutnya sangat menyebalkan. Gadis itu menoleh ke arah David yang sudah berdiri di sampingnya.
Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi romantis malam ini?
"Mas, kamu?" tanyanya sedikit terhenti karena merasa kagum.
"Duduk!" titah David seraya menarikkan sebuah kursi yang sudah siap di sana. Aretha pun menurutinya. Tak henti-hentinya gadis itu mengulas senyum simpul di wajahnya.
Aku tidak percaya kalau dia bisa seromantis ini. Ini sungguh mengesankan bagiku. Terima kasih untuk malam ini.
David tampak mendudukkan tubuhnya di depan Aretha dengan terhalang sebuah meja yang sudah tersaji beberapa menu makan malam di atasnya. Tatapannya terkunci, tak mau mengalihkan dari wajah cantik jelita yang berada di hadapannya.
Seketika gadis itu tampak memerhatikan penampilannya. "Mas, sepertinya aku saltum, deh," lirih Aretha, setelah ia menyadari akan pakaian yang melekat di beberapa pengunjung tempat itu.
"Saltum?" David tampak mengernyitkan dahinya.
"Salah kostum," jawab Aretha memberi tahu.
"Hmm kupikir apa." David tampak memasang ekspresi datar. "Kamu tetap cantik," pujinya seraya memperdalam tatapannya terhadap gadis itu, sontak membuat Aretha tersipu malu mendapatkan pujian dari pria itu.
Meski gadis itu hanya memakai celana jeans dan blouse yang belum sempat digantinya dari sepulang kuliah. Namun, itu tidak lantas membuat David mengalihkan perhatiannya. Sama sekali tidak masalah bagi pria itu karena seburuk apapun penampilan Aretha, baginya gadis itu adalah tetap yang paling cantik di matanya.
"Kamu yang nyiapin ini semua?" tanya Aretha seraya menatap David tidak percaya.
"Menurut kamu?" Alih-alih mendapat jawaban, David malah berbalik tanya.
"Tapi untuk apa?" heran Aretha polos.
David masih tidak memalingkan pandangan dari wajah Aretha. Keindahan yang hakiki dan sangat sayang jika ia lewatkan begitu saja. Kapan lagi bisa menikmati kecantikan wajah itu, pikirnya.
"Kamu suka lagu?" tanya David.
"Of course," jawab Aretha yakin sehingga membuat pria itu kembali mengulas senyumnya, lalu mengangkat tubuhnya kembali dari tempat duduk.
David tampak akan beranjak dari tempat itu. Namun, seketika Aretha menghentikannya. "Mas David mau kemana?" tanya aretha penasaran.
"Nyanyi," singkat pria itu seraya menoleh.
"Memangnya kamu bisa nyanyi?" tanya Aretha seolah tidak percaya.
"Demi kamu," jawab David yang seketika membuat pipi gadis itu semakin berubah bersemu merah dengan hidung yang sedikit mengembang.
"Aku tunggu," lirih Aretha yang entah David mendengarnya atau tidak.
Pria itu tampak berjalan ke sebuah panggung yang menjadi area life music. Ia tampak berbincang sejenak dengan ke empat personil band yang menjadi penghibur di malam itu.
Sang vokalis dari band tersebut tampak menggeserkan tubuhnya, sebelum akhirnya David berhasil mengambil alih tempat itu dan memegang sebuah microfon dengan sempurna. Tak ayal semua mata tertuju ke penampilan pria tampan di depan sana.
"Selamat malam semuanya!" sapa David kepada seluruh pengunjung yang tampak sudah fokus memandangnya.
"Malam ini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang akan saya persembahkan untuk gadis yang duduk di sana," imbuhnya seraya menunjuk Aretha dengan tangannya yang sontak mengalihkan perhatian pengunjung lain. Seketika wajah gadis itu kembali berubah, bersemu merah. Secepat kilat mereka memberikan sorakan hangat untuk David dan Aretha.
"Huuuuuuhhh ...!" teriak pengunjung lain seraya bertepuk tangan.
Andai kau izinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa
Cinta yang kupendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau telah memilih
Menutup pintu hatimu
Dua bait lirik lagu dari penyanyi legendaris Iwan Fals yang berjudul "Ijinkan Aku Menyayangimu" telah berhasil dinyanyikan dengan sempurna oleh pria itu.
Seketika penampilan pria itu membuat Aretha tercengang. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Itu sungguh mengejutkan baginya. Mendengar David menyanyikan lagu dengan semerdu itu. Sungguh menjadi hal yang asing bagi Aretha.
Seorang David Wijaya yang tak lain merupakan spesies beruang kutub itu, ternyata bisa bernyanyi juga dan itu sangat sulit untuk dipercaya, pikirnya.
_______________
HAPPY READING