
Setelah beberapa menit dari kepulangan Richard dan Rendy, tampak Maria yang menyusul. Perempuan paruh baya itu telah lebih dulu pamit. Sementara David, sang putranya masih berada di rumah sakit.
"Nak Dave, sebaiknya kamu pulang saja dulu, biarkan Aretha kami yang jaga," ucap Anton menyarankan.
"Tidak, Om. Saya mau menunggu Aretha di sini. Sebaiknya Om dan Tante saja yang pulang, biarkan saya yang jaga Aretha malam ini," ucap David menolak.
"Tidak usah, Nak. Kamu pulang saja. Besok harus kerja, bukan?" timpal Carmila.
"Iya, Mas. Kamu pulang sana! Biarkan Mami yang jaga aku." Aretha tampak ikut menyetujui saran kedua orangtuanya.
"Tidak, Tante. Sebaiknya Tante dan Om saja yang pulang, besok pagi Tante yang jaga Aretha lagi." kekeh David.
Melihat perdebatan itu membuat Aretha sedikit termangu. Entah kenapa David begitu kekeh dengan keinginannya.
Kenapa jadi dia yang ngatur? Dasar keras kepala!
"Saya janji akan menjaga Aretha dengan baik. Om dan Tante tidak perlu khawatir." David mencoba meyakinkan kedua orangtua Aretha.
Mereka terdiam beberapa saat. Sepertinya kedua orangtua Aretha tengah berpikir, terlebih lagi Anton.
"Baiklah, kalau begitu Om dan Tante titip Aretha ya," ucap Anton. "Kalau ada apa-apa segera hubungi Om!" titahnya kemudian.
"Baik, Om. Om dan Tante hati-hati di jalan!" balas David.
"Sayang, Mami pulang dulu, kamu istirahat ya, besok pagi Mami ke sini lagi," ucap Carmila seraya mencium kening putrinya.
"Iya, Mi. Hati-hati ya ...." Aretha tampak mengiyakan, meski sebenarnya ia merasa canggung jika David yang harus menunggunya.
Anton dan istrinya tampak bergegas dari kamar rawat Aretha. David mengantar mereka ke depan. Setelah beberapa menit, David telah kembali ke ruangan dimana Aretha tengah terbaring di sana.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya David seraya mendudukkan tubuhnya di samping Aretha.
"Sudah," jawab Aretha menolehkan pandangan ke arah pria itu.
David meraih sebelah tangan Aretha lalu menggenggam erat tangan gadis itu sembari menatapnya lekat. Tatapan itu cukup lama hingga membuat Aretha merasa tidak nyaman dipandang seperti itu.
"Mas, kenapa? Kok, menatapku seperti itu?" tanya Aretha seraya mengerutkan dahi.
David tersenyum lebar tanpa mengedipkan matanya. Pandangannya masih terkunci di wajah Aretha. "Tidak apa-apa, Sayang," jawabnya. "Kamu sudah mengantuk?" tanyanya kemudian.
"Belum, Mas." Aretha menggelengkan kepalanya pelan.
David terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara. "Boleh aku tanya sesuatu?" tanyanya meminta ijin.
"Tentu saja boleh. Mau tanya apa?" Aretha memasang ekspresi penasaran.
Lagi-lagi David terdiam. Nampaknya ia sedikit ragu dengan apa yang akan ia tanyakan kepada Aretha. "Mm ... Sayang, selama ... kamu pacaran sama Richard ...." David mengehentikan ucapannya seketika, sebelum ia menyelesaikannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Aretha nampak sudah tidak sabar menunggu sehingga membuat David sedikit tersentak.
"Itu ... anu ...," ucap David bingung.
"Apa?"
"Kamu sudah pernah melakukan apa saja dengan Richard?" tanya David polos yang seketika membuat Aretha tercengang keheranan. Kenapa tiba-tiba David bertanya seperti itu? batinnya.
"Banyak," jawab Aretha polos. "Jalan, makan bersama, liburan ke pantai, nonton dan masih banyak yang lainnya. Kenapa?" imbuhnya seraya mengabsen kegiatan bersama Richard beberapa tahun silam.
"Ah, bukan itu maksudku," keluh David.
"Lantas?" Aretha kembali mengerutkan dahinya.
David berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia melanjutkan apa yang membuatnya penasaran.
"Maksud aku ...." Lagi-lagi suara David tercekat.
"Apa sih, Mas?" Aretha semakin tidak sabar. "Kamu membuatku penasaran!" kesalnya.
"Maksudku—"
Drt ... drt ... drt ....
Bunyi getar ponsel seketika memotong pembicaraan David sehingga membuat pria itu mengalihkan perhatiannya, lalu merogoh saku celananya mengeluarkan benda pipih itu.
Diusapnya layar ponsel tersebut. Nampaknya notifikasi pesan whatsapp yang masuk. David segera membuka pesan itu. Namun, baru saja ia membuka pesan yang dimaksud, tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi geram.
David melepas tangan Aretha yang kala itu masih digenggamnya, lalu berdiri dari tempat duduknya. Pria itu mulai menjauh dari jangkauan Aretha. Sembari berjalan, Ia mengepalkan sebelah tangannya seolah memendam amarah yang begitu mendalam, sementara tangan yang lainnya masih fokus dengan ponsel miliknya.
Aretha yang sedari tadi memperhatikan David seketika dibuatnya bingung karena menyadari ekspresi pria itu yang nampak begitu menyeramkan baginya.
"Ada apa, Mas?" tanya Aretha ingin tahu. Namun, David tak bergeming. Aretha masih memperhatikan pria yang tengah berjalan ke luar, hingga tidak lagi menampakkan tubuhnya.
Aretha semakin bingung. Begitu banyak pertanyaan yang ada dibenaknya. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba dia berubah? Apa dia ada masalah? Siapa sebenarnya yang mengirim pesan itu sehingga membuatnya tiba-tiba berubah? batinnya saat itu.
Belum genap sepuluh menit, David telah kembali dengan ekspresi biasa. Namun, sepertinya pria itu memang sengaja memendam apa yang tengah ia sembunyikan.
Sejak kemunculan David di ambang pintu, Aretha sudah sangat memperhatikan pria itu. Bahkan, manik cokelat itu tampak menelusuri setiap lekuk wajah pria yang tengah berjalan sekitar satu meter dari tempatnya. Ekspresinya telah kembali seperti biasa. Bahkan, pria itu tampak menerbitkan senyumnya seraya menatap Aretha.
Kenapa dia susah sekali ditebak? Baru beberapa menit dia terlihat begitu menyeramkan, sekarang tiba-tiba berubah menjadi manis? Kenapa jadi aku yang bingung?
Aretha masih menatap penuh tanya ke arah David. Bahkan, ketika pria itu telah duduk kembali di kursi sebelumnya, Aretha masih menatapnya, hingga membuat David yang menyadarinya tampak begitu heran. "Kenapa, Sayang?" tanyanya seraya menatap Aretha datar.
"Kamu yang kenapa?" Aretha bertanya balik.
"Aku? Aku tidak apa-apa," jawab David.
"Aku lihat kamu tampak marah, setelah membaca pesan yang masuk ke handphone kamu," ucap Aretha sedikit curiga.
"Marah?" David seolah tidak mengindahkan perkataan Aretha.
"Jangan bohong! Ada apa sebenarnya?" tukas Aretha.
Ck, sepertinya dia curiga kepadaku.
"Baiklah, itu karena ada sedikit masalah diperusahaan," terang David mencari alasan yang entah benar atau tidak.
Aretha langsung menanggapinya dengan anggukkan kepala seolah percaya dengan penjelasan David.
"Ya sudah, kamu tidur ya ... sudah malam!" titah David seraya menarik selimut, lalu menutupi sebagian tubuh Aretha.
"Aku tidak mau tidur, sebelum kamu melanjutkan obrolan yang tadi," rengek Aretha.
"Yang mana?" tanya David tampak sudah tidak mengingatnya.
"Yang sebelum ada pesan masuk ke hp kamu!" jawab Aretha yang seketika membuat David teringat kembali apa yang sebelumnya mereka bahas.
"Oh ... itu," ucap David tampak membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'. "Maksudku ... selama kamu pacaran dengan Richard, bagian mana saja yang sudah pernah disentuhnya?" jawab David tanpa rasa ragu ataupun canggung. Entah kenapa tiba-tiba ia begitu lancar mengucapkan kalimat itu, padahal sebelumnya ia tampak begitu gugup.
________________________________
JANGAN LUPA KOMENTAR YA ... MY BELOVED READERS LOVE LOVE
HAPPY READING!
TBC