
"Dok, saya keluarga dari pasien kecelakaan itu," ucap Kris memberi tahu. "Bagaimana keadaan anak saya?" tanyanya dengan sangat antusias.
Tampak Richard dan kedua orang asing yang mengantar korban juga memperhatikannya, menunggu jawaban dari dokter berkacamata itu.
Dokter itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menanggapi pertanyaan Kris.
"Bapak ini ...." Dokter itu tampak menggantungkan kalimatnya.
"Saya ayah dari korban," jawab Kris memotong pembicaraan.
Dokter itu langsung menganggukkan kepala, seolah menunjukkan tanpa pemahaman yang sebenarnya itu tidak terlalu penting dilakukan.
"Baik, Pak. Mohon maaf sebelumnya, dengan berat hati saya harus menyampaikan ini semua." Dokter itu tampak memberi jeda akan ucapannya beberapa saat, sontak membuat Kris dan Richard semakin dibuat khawatir dan penasaran.
"Kondisi pasien saat ini masih belum sadarkan diri, karena mengalami pendarahan di kepala yang cukup hebat. Oleh karena itu, pasien terpaksa harus mendapat perawatan khusus dan akan segera dipindahkan ke ruangan ICU," jelas dokter itu memberi tahu.
Seketika Kris termangu. Sungguh, kabar itu seolah menguras energinya dalam waktu sekejap. Ia seolah merasa kehilangan sebagian raganya. Jangatungnya seakan terhantam godam. Rasanya sakit sekali mengetahui kabar mengerikan itu. Namun, apalah daya. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain pasrah dan menerima apa yang telah Tuhan gariskan.
Ya, tentu semua orang juga akan merasakan hal yang sama. Merasakan berat menerima itu semua. Tak ada satu pun orang yang ingin berada dalam posisi seperti itu. Namun, siapa yang bisa menunda atau bahkan melawan takdir yang selama ini dianggap sebagai misteri?
Andai saja manusia bisa membuat bumi berhenti berputar, mungkin mereka akan menghentikannya setiap kali takdir buruk siap menghadang. Namun, sayangnya itu hanyalah lelucon. Ya, tentu saja itu lelucon. Sebab, nyatanya memang tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa melakukan hal itu.
"Dok, bagaimana dengan kondisi temannya?" tanya Richard mengingat pihak rumah sakit telah memberi tahunya bahwa ada dua orang korban kecelakaan yang dibawa ke rumah sakit itu.
Sebagaimana yang diketahui Richard bahwa David pergi ke luar kota ditemani oleh Rangga sang asisten pribadinya. Maka dari itu, pria itu langsung menanyakan kondisi korban yang lain kepada dokter tersebut. Sebab, ia juga belum mengetahui siapa korban tidak sadarkan diri yang dimaksud oleh dokter itu. Entah David, Rangga atau malah keduanya.
Dokter itu mengalihkan fokusnya kepada Richard yang kala itu tengah berdiri di samping Kris. Seketika ia menerbitkan senyum simpulnya.
"Untuk korban lainnya, Alhamdulillah kondisinya jauh lebih baik, hanya saja beliau sedikit syok," jelasnya.
Detik itu juga, Richard mengusap dadanya merasa lega. Setidaknya, salah satu di antara David dan Rangga sudah diketahui bahwa kondisinya baik-baik saja. Baik David maupun Rangga kondisinya baik, Richard tidak peduli, meski sebenarnya ia lebih berharap bahwa David yang dalam keadaan baik-baik saja.
Sebagaimana Richard, Kris pun melakukan hal yang sama, setidaknya ia juga memiliki harapan bahwa David yang berada dalam kondisi baik-baik saja. Bukan hanya karena ia memikirkan putranya, melainkan ia juga memikirkan anak menantunya yang saat itu juga tengah berjuang memepertaruhkan nyawa.
Betapa Aretha akan sangat kecewa, ketika ia tahu bahwa David tidak ada mendampinginya, setelah operasi nanti. Tentunya wanita itu juga akan terpukul, ketika ia mengetahui kondisi David yang sebenarnya, jika yang dimaksud dokter tentang pasien tidak sadarkan diri adalah David.
"Dok, apa kami bisa menemui pasien?" tanya Richard.
"Maaf, untuk saat ini sebaiknya biarkan pasien istirahat terlebih dahulu. Lebih baik Anda segera mengurus administrasi untuk proses pemindahan pasien ke ruang khusus," jawab dokter itu.
"Maaf, Dok. Apa kami bisa memindahkan pasien ke rumah sakit di kota kami?" tanya Kris kemudian.
Terlepas David ataupun Rangga yang tidak sadarkan diri, Kris tetap harus membawa mereka kembali pulang ke kota kelahiran, dengan alasan agar lebih mempermudah segalanya.
Kris pun berusaha menjelaskan kepada dokter itu bahwa mereka bukanlah berasal dari kota tersebut, melainkan dari kota tetangga yang memang tidak begitu jauh dari kota itu. Berharap dokter itu akan memahami apa yang ia jelasan.
Lagi-lagi dokter itu terdiam sejenak, seolah berpikir. Setelah beberapa saat, ia menerbitkan senyumnya.
"Baik, Dok. Terima kasih," balas Kris.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Kris benar-benar sudah sangat penasaran dengan kondisi David yang sebenarnya. Tidak bisa melihat sosok itu membuatnya semakin merasa tidak tenang. Perasaan Khawatir pun kembali memuncak di kepalanya.
Tidak ingin dibuat penasaran terlalu jauh, ia pun memutuskan untuk menanyakan kembali perihal tersebut.
Dokter yang dberniat untuk segera bergegas dari hadapan mereka, tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika Kris memanggilnya kembali.
"Dok, jika boleh tahu ... siapa nama pasien yang tidak sadarkan diri?" tanya Kris kemudian.
***
Di tempat lain. Di rumah sakit yang berbeda. Nampaknya, operasi Aretha sudah berjalan sejak beberapa menit yang lalu.
Suasana ruangan operasi itu terasa sangat mencekam. Ruangannya benar-benar dingin dan sepi, hanya terdengar suara monitor yang memang digunakan sebagai alat untuk memonitor alat vital dalam tubuh Aretha.
Beberapa tim medis yang salah satu di antara mereka adalah Dara, terlihat tengah sibuk dengan aksi mereka. Sayatan demi sayatan mereka lakukan di bagian perut Aretha. Namun, Aretha yang sudah mendapat obat biu sebelumnya, ia tidak dapat merasakan sakit sedikit pun.
Kendatipun begitu, Aretha masih sadar dan bisa melihat dengan jelas apapun yang ada di ruangan itu, meski ia telah diberikan anestesi spinal oleh dokter anestesi sebelumnya.
Sesekali Aretha melirik ke layar monitor yang berada tepat di sampingnya, meski ia tidak paham dengan alat tersebut. Namun, ia mengetahui fungsi dari alat tersebut.
Di tengah kecemasannya, wanita itu bertanya akan tensi darahnya kepada salah satu petugas medis yang memang bertugas mengontrol layar monitor tersebut, khawatir jika tensinya naik secara tiba-tiba pada situasi yang sangat menegangkan itu.
Berulang kali petugas itu meminta Aretha untuk tidur di tengah-tengah kegiatannya. Namun, Aretha sama sekali tidak ingin memejamkan matanya, meski ia sedikit mengantuk. Tentu saja karena saat itu hanyalah pikiran negatif yang berada di dalam otaknya.
Seketika Aretha merasakan guncangan hebat pada perutnya, sehingga membuatnya sedikit terkejut, tetapi ia masih tidak merasakan sakit sedikit pun.
Kendatipun begitu, Otak dan pikiran wanita itu masih saja memikirkan hal-hal negatif. Beberapa hal buruk yang kemungkinan akan terjadi, tampak memenuhi otaknya saat itu. Bagaimana jika operasinya tidak berjalan dengan lancar? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan dirinya dan juga bayinya? Bagaimana kalau ternyata di—
Owa ... owa ... owa ....
Seketika rasa cemas dan pikiran buruk yang ada di dalam otaknya teralihkan begitu saja, ketika ia mendengar suara tangisan bayi.
_____________
Hai Readers ...
Mohon maaf ya updatenya agak telat, kerjaan di RL sedang tidak bersahabat, jadi aku belum bisa up banyak.
Semoga suka.
HAPPY READING!