Possessive Love

Possessive Love
COWOK SONGONG



Sepulang dari kantor tempat magang, Aretha dan Diandra pergi ke sebuah department store, sekadar menghilangkan penat, setelah berkutat dengan berbagai macam pekerjaan. Mereka tampak membeli beberapa belanjaan seperti baju, sepatu dan perlengkapan lainnya.


Seusai membeli beberapa kebutuhan mereka, Aretha mengajak Diandra untuk makan terlebih dahulu di kawasan tersebut. Dengan santai mereka berjalan menuju food court sembari berbincang ringan untuk hal yang tidak penting.


BRAAK!!!


"Aww ....!!" pekik Aretha.


Seketika gadis itu hilang keseimbangan, lalu terjatuh hingga terduduk di lantai, ketika seorang pria yang tengah berjalan ke arah yang berlawanan menabraknya. Beberapa katong belanjaan yang sedang dibawa gadis itu pun seketika berantakan.


Kejadian itu cukup membuat Pria itu mengalihkan perhatiannya. Ia menghentikan langkahnya, lalu berdiri tepat di hadapan Aretha. Pria dengan tinggi badan sekitar 180 centimeter itu tampak menurunkan sedikit kacamata hitam yang melekat di wajahnya.


Tampan. Penampilannya pun memukau. Pria berkarismatik dengan gaya casual celana jeans yang dipadupadankan kaos putih polos berbalut sweater hitam. Jika ada kata yang lebih dari sekadar sempurna, mungkin itulah yang akan cocok untuk mendeskripsikan pria itu.


Diandra yang kala itu masih berdiri di samping Aretha, terbius akan penampilan makhluk dihadapannya. Pemandangan itu cukup membuat Diandra terhipnotis dan melupakan kejadian yang menimpa sahabatnya.


Aretha sedikit mendongakkan kepalanya ke arah pria tersebut. Alih-alih mendapat bantuan dari pria yang menabraknya, ternyata itu hanyalah sebuah harapan. Pria itu hanya menurunkan lagi sedikit kacamata hitamnya, lalu menundukkan kepala melirik ke arah Aretha, setelah itu apa yang terjadi?? Pria itu memasang kembali kacamatanya dengan sempurna, kemudia berlalu pergi meninggalkan Aretha tanpa sepatah kata pun. What??


"Ha??? Dasar cowok songong!" umpat Aretha sedikit meninggikan suaranya sembari menatap pria yang tengah berjalan memunggunginya.


Terlihat beberapa pengujung pusat perbelanjaan itu tengah memperhatikan kejadian tersebut. Aretha mengalihkan pandangannya ke arah Diandra yang kala itu masih ternganga tak berdaya, menatap kepergian pria yang membuatnya speechless seketika.


"Diandra, bantuin gue!" pekik Aretha membuat Diandra tersadar.


"Sorry, Re ...," ucap Diandra sembari menyodorkan tangan kepada Aretha, berniat untuk membantu sahabatnya berdiri.


"Seneng banget lo liat gue menderita!" umpat Aretha sembari merapikan kembali barang belanjaan yang sempat berantakan dengan di bantu oleh Diandra


"Sorry, Re ... bukannya begitu," jawab Diandra. "Tadi tuh cowok yang nabrak lo, sumpah gantengnya pake banget, apa lo enggak lihat tadi?" Imbuhnya.


"Ya ampun Diandra ... sumpah demi apa, lo lebih peduliin cowok songong itu ketimbang gue?" kesal Aretha yang kala itu telah berdiri sembari menenteng kembali barang belanjaannya.


"Ya ... habisnya itu cowok ganteng, sih!" polos Diandra.


"Diandra!" teriak Aretha sembari menatapnya murka sehingga membuat Diandra menciut ketakutan, kemudian memasang wajah memelas.


"Menyebalkan!" lanjut Aretha kemudian pergi meninggalkan Diandra membuat Diandra terkesiap dan langsung mengejarnya.


"Re, tunggu ... katanya kita mau makan dulu, tempatnya kan di sana, Re!" Seru Diandra sambil menunjuk ke arah foud court yang dimaksud tanpa merasa berdosa sedikit pun. Aretha menghentikan langkahnya dan mendelik kesal ke arah Diandra.


"GAK JADI!!" Ketus Aretha penuh penekanan seraya memalingkan wajahnya.


"Yah, dianya ngambek!" lirihnya, "Gue heran semenjak putus dari Richard, dia jadi sering marah-marah gak jelas!" lanjutnya entah kepada siapa dia berbicara.


Aretha telah berada di pinggir jalan untuk menunggu taxi. Diandra langsung menghampirinya dengan wajah memelas.


"Re, ayo donk ... masa gitu doank ngambek?" Ucap Diandra. "Gak asyik lo!" imbuhnya pelan.


"Gue tau kalau lo itu jomblo akut, tapi gak usah segitunya juga kali. Cowok songong kayak gitu di bangga-banggain, ngapain coba?" ucap Aretha masih dengan nada ketusnya. "Gak ada bagus-bagusnya sama sekali!" imbuhnya kesal.


"Ya ampun, Re ... kata-kata lo itu ya," ucap Diandra sedikit memberi jeda, "Menyakitkan banget!!!" ketusnya.


"BODO AMAT!!"


"Emang kaki lo sakit banget ya, Re?" tanya Diandra.


"Ya maaf, Re!" ucap Diandra memelas, namun tak mendapat jawaban.


Tak harus menunggu lama, akhirnya taxi yang di tunggu melintas di hadapan mereka. Dengan sigap Aretha langsung menghentikan taxi tersebut. Aretha dan Diandra segera masuk kedalam taxi yang di maksud setelah sopir taxi menghentikan kemudinya. Sesuai dengan permintaan Aretha, supir taxi mengantarkan keruamah Diandra terlebih dahulu karena jarak rumah Diandra lebih dekat dibandingkan dengan rumahnya.


Di dalam taxi tidak ada perbincangan sedikitpun, karena Aretha masih merasa kesal dengan tingkah laku sahabatnya. Sesekali Diandra melirik ke arah Aretha, namun Aretha tak menghiraukan. Tak terasa mereka telah sampai di depan rumah Diandra, supir taxi pun menhentikan kemudinya. Setelah Diandra turun, supir taxi itu melanjutkan kembali kemudinya menuju rumah Aretha.


*****


"Malam Mi, Pi!" sapa Aretha kepada kedua orang tuanya yang terlihat tengah berada di ruang keluarga sembari menonton TV.


"Malam, sayang!" sapa kedua orang tua Aretha.


Aretha ikut mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan tersebut dan mulai mengalihkan pandangannya ke arah saluran televisi yang saat itu tengah di tonton kedua orang tuanya, namun di rasa acaranya kurang menarik, ia mengalihkan pandangannya kembali dan meraih sebuah majalah yang tergeletak di atas meja. Aretha mulai membuka lembaran majalah tersebut dan membaca beberapa kalimat didalamnya.


"Gimana magang hari ini, Re?" tanya Anton. Aretha menghentikan kegiatannya sejenak kemudian menoleh ke arah ayahnya.


"Masih seperti hari-hari sebelumnya, Pi." jawab Aretha. "Tugasku hanya motokopi sama bikin kopi." imbuhnya seraya menghela nafas.


"Sabar, nasib anak magang memang kebanyakan seperti itu." ucap Anton. "Ini kan baru permulaan, nanti juga kamu dapat tugas lain." imbuhnya.


"Semoga saja, Pi!" seru Aretha singkat. "Menurut info yang aku dapat dari beberapa karyawan, katanya besok akan ada pimpinan perusahaan baru yang akan menggantikan pak Kris." jelas Aretha. Anton terlihat mengernyitkan dahinya.


"Siapa, Pak Kris?" Tanya Anton meyakinkan.


"Iya, Pak Kris, direktur di perusahaan tempat aku magang, Pi."


"Nama perusahaannya apa?"


"KW group!"


"Loh, pak Kris itu kan rekan bisnis papi, sayang."


"Yang bener, Pi?"


"Iya. Kabarnya beliau memang akan mengelola perusahaannya yang di luar kota untuk sementara dan perusahaannya yang di sini akan di alihkan kepada anaknya yang baru pulang dari London." Jelas Anton.


"Iya. Kok aku agak khawatir ya, takutnya anaknya gak sebaik pak Kris, Pi." Ucap Aretha. "Nanti kalau aku di tindas, gimana?"


"Nggak lah, Re. Dave itu persis seperti pak Kris. Papi kan pernah ketemu dia sebelumnya, anaknya juga ramah."


"Dave? Namanya Dave?" Tanya Aretha yang diiyakan oleh Anton dengan anggukkan kepala.


"Syukur deh, semoga aja baik seperti pak Kris."


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.35, Aretha pamit masuk ke kamar setelah menyelesaikan perbincangan dengan orang tuanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak butuh waktu lama ia terlelap dalam tidur yang mampu membawanya ke alam mimpi yang indah.


ย 


Maaf Up-nya agak telat, tetap semangat bacanya ya readers ..., jangan lupa Like & Comment terus biar Author juga semangat updatenya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


***To be continue ....


HAPPY READING*** ...!!!