Possessive Love

Possessive Love
Melindungi



"Saya ...."


"Anda perlu tahu satu hal. Aretha yang anda sebut sebagai wanita murahan, dia ini adalah istri saya. Istri yang saya nikahi secara sah menurut hukum dan agama. Dan kalau anda ingin tahu alasan saya menikahinya karena apa, jawabannya adalah karena saya sangat mencintainya. Saya tidak ingin kehilangan wanita yang baik sepertinya, maka dari itu saya segera menikahinya, dan perlu saya tegaskan sekali lagi, itu saya lakukan karena saya takut kehilangan dia, bukan karena dia yang sudah hamil di luar nikah seperti yang anda bilang, apa itu sudah cukup jelas?" jelas David panjang lebar seraya memotong pembicaraan Indira.


David tampak menaikan volume suaranya, seolah sengaja ingin mengumumkan hal itu di depan orang banyak. Di samping itu, ia juga ingin mengembalikan nama baik Aretha yang sempat tercemar karena ulah Indira.


Nampaknya, David telah mengetahui banyak apa yang telah diucapkan oleh Indira kepada istrinya itu. Perkataan yang tentunya ia tahu bahwa dapat melukai hati sang istri, dan ia tidak dapat membiarkan itu terjadi, terlebih di depan matanya sendiri.


"Sa-sa-saya ...," ucap Indira tergagap.


"Dan satu hal lagi! Tolong jangan sekali-kali ganggu istri saya lagi, apapun alasannya! Karena, saya tidak akan membiarkan siapapun yang ganggu istri saya untuk bernapas, termasuk anda!" tegasnya lagi-lagi memotong ucapan Indira.


Seketika Indira dibuatnya bergetar. Antara gugup dan takut. Di hadapan Aretha dan ketiga sahabatnya, Indira terlihat gagah, tetapi di depan David, seketika ia berubah menciut ketakutan.


Tampak beberapa pengunjung lain yang berbisik membicarakan Indira, mengumpatnya. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai wanita culas yang tak tahu malu. Meski terkesan berbisik, tetap saja mereka dapat mendengarnya, tak terkecuali Indira yang seketika wajahnya dibuat memerah.


Indira hanya bungkam tak menanggapi. Entah bagaimana ia harus membalas David saat itu. David benar-benar telah membuatnya malu di depan orang banyak. Dan ia sangat tidak terima itu. Namun, ia juga tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk membalas pria itu.


Ia tidak sadar apa yang telah ia lakukan kepada Aretha sebelumnya. Ia juga telah membuat istri David malu, dan mungkin itu adalah balasan yang setimpal untuk seorang wanita culas sepertinya.


Sementara ketiga sahabat Aretha tampak bersorak-sorai di dalam hati. Merasa senang karena melihat Indira yang dengan mudahnya menciut, ketika mendengar mulut boncabenya seorang David Wijaya. Tak ketinggalan berbagai umpatan yang mereka sebut dalam hatinya.


Mampus!


Rasain!


Makan tuh, memangnya enak!


Seperti itulah kira-kira umpatan ketiga sahabat Aretha. Jika ditanya siapakah orang yang paling berbahagia di atas penderitaan Indira saat itu, jawabannya adalah MEREKA!


"Kenapa anda hanya terdiam? Adakah yang masih kurang jelas?" tanya David tanpa merubah tatapan tajamnya.


Lagi-lagi Indira hanya terdiam. Ia semakin gemetar ketakutan. Seketika keringat panas dinging terasa keluar dari setiap pori-pori tubuhnya. Ia benar-benar dibuat mati kutu, seakan tidak bisa berkutik, walah hanya sehelai rambutnya.


"Oh, atau mungkin masih ada yang mau anda sampaikan kepada istri saya? Saya lihat, tadi anda begitu gencar mencaci istri saya di depan orang banyak, kenapa sekarang hanya diam saja?" sindir David kemudian.


Dengan masih gemetar, Indira berusaha membuka mulutnya dengan leher yang sudah di tekut, seolah sudah tidak kuasa membalas tatapan David yang semakin membunuh. "Sa-saya ... saya minta maaf," lirihnya terbata-bata.


David tersenyum getir mendengar kata maaf dari gadis itu. Ia tahu betul bahwa orang sepertinya bukanlah orang yang mudah meminta maaf, kecuali ia tengah terdesak oleh situasi yang membuatnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dan itu pun tidak tulus. Lantas, haruskah David memaafkannya begitu saja? Tidak! Sayangnya, ia bukanlah orang yang mudah percaya kepada orang jahat seperti Indira.


"Mas, sudahlah! Tidak ada gunanya juga kita meladeni orang seperti dia," ucap Aretha mencoba ingin mengakhiri perdebatan yang sudah mengganggu pengunjung lain kafe itu.


"Maaf, apa ada masalah? Tolong jangan membuat keributan di kafe ini!" ucap seorang pria berjas yang diduga pemilik atau manajer kafe itu.


"Maaf, Pak, kami telah membuat keributan di sini" ucap Aretha tidak enak hati.


"Saya harap, anda tidak akan lagi menunjukan muka anda di depan saya, karena saya tidak sudi!" geram David.


"Sudahlah, Mas! ayo, kita pulang!" ajak Aretha, lalu meminta maaf lagi kepada pemilik kafe itu.


Setelah itu, mereka beranjak dari tempatnya, sementara Indira masih mematung di tempatnya.


"Bagaimana? Nikmat, kan?" timpal Deasy seraya menatap sinis.


Berbeda dengan Tania yang lebih santai. Ia tampak menepuk bahu Indira pelan. "Ngeyel sih jadi orang, coba tadi dengar apa kata gue, mungkin gak akan kayak gini jadinya, gue jadi senang lihatnya," ucapnya yang lebih ke nada menyindir dengan di akhiri senyuman getir di wajahnya.


Lagi-lagi Indira tidak bisa membalasnya. Ia tertegun beberapa saat di sana, setelah kepergian mereka, hingga datanglah seorang wanita menghampirinya yang tak lain adalah Freya, mantan David.


"Dir," panggil wanita itu.


Indira tersentak, lalu menoleh ke sumber suara. "Kak?" ucapnya.


"Kamu kenapa?" tanya Freya.


Tanpa adanya jawaban dari Indira, ia langsung memeluk Freya dan menangis di pelukan wanita itu, tanpa rasa malu. Percuma juga ia merasa malu, ketika ia saja sudah dipermalukan oleh David.


***


Di sepanjang perjalanan, Aretha hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang tentu saja masih terlihat kesal. Ia tampak membuang mukanya ke luar jendela mobil. Sesekali David meliriknya.


"Sayang, sudah ya ... jangan dipikirkan lagi," ucap David seraya mengelus lembut kepala Aretha, sehingga membuat wanita itu menoleh dengan wajah cemberutnya.


"Sudah! Tidak perlu dipikirkan, Kamu bukan wanita seperti itu!" ucap David sekali lagi.


"Tetap saja aku sakit hati, Mas!" kesal Aretha.


Betapa geramnya ia, ketika Indira memanggilnya dengan sebutan laknat itu. Ingin sekali ia menjambak rambutnya saat itu. Namun, tentu saja ia tidak bisa melakukan itu, dan itu membuatnya semakin geram.


"Aku tahu, siapa sih yang tidak sakit hati jika dibilang seperti itu?" ujar David memahami, dengan pandangan yang fokus ke depan. "Tapi tidak harus seperti itu juga kan ekspresinya? Kamu tahu? Aku jadi semakin merasa bersalah," imbuhnya.


"Lho, kenapa begitu?" tanya Aretha.


"Walau bagaimanapun aku yang meminta kamu untuk menikah denganku dalam waktu dekat, kalau saja aku sedikit bersabar, mungkin ...."


"Sudahlah, Mas! Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri! ini sudah menjadi komitmen kita berdua, jadi untuk apa saling menyalahkan," tukas Aretha.


David menoleh sejenak, lalu tersenyum. "Maaf ya, Sayang," ucapnya tanpa ada tanggapan dari Aretha. Mereka kembali terdiam beberapa saat


"Mas, terima kasih ya, sudah membela aku di depan orang banyak. Tadi aku malu sekali lho, Mas," ungkap Aretha.


"Tidak perlu berterima kasih, melindungimu adalah salah satu kewajibanku," jawab David seraya mengelus pipi Aretha.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TB