
Setelah rencana Aretha gagal untuk pergi ke dokter kandungan, karena ulah sang suami. Tiba-tiba David membujuk wanita itu untuk makan malam. Awalnya Aretha sempat menolak, karena masih merasa kesal.
Namun, bukan David namanya kalau tidak bisa membujuk sang istri untuk masalah sepele. Ketika pun istrinya tidak bisa dibujuk, bukanlah hal yang sulit untuk memaksanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pria itu adalah sosok yang tidak bisa ditolak.
Malam itu, Aretha dan David telah berada di sebuah restoran berbintang lima, dimana David telah menyiapkan sebuah kejutan untuk istri tercinta. Ya, candle light dinner yang sudah lama tidak mereka lakukan berdua.
David sengaja melakukan reservasi untuk private room yang dimana sudah di dekor dengan indah dan romantis. Memang bukan hal yang baru bagi Aretha diberikan kejutan romantis oleh suaminya. Namun, tetap saja ia selalu merasakan keterkejutan yang luar biasa.
"Sayang, maaf untuk hari ini," ucap David seraya memegang sebelah tangan Aretha, sebelum akhirnya mereka melakukan kegiatan makan malamnya.
"Sebenarnya aku masih sangat kesal sama kamu, Mas. Tapi, ya sudahlah, mau diapakan lagi?" Aretha masih memasang wajah sedikit kesal.
Ya, paling tidak ia tetap harus menghargai usaha David untuk menebus kesalahannya seharian ini. Ia memang harus ekstra sabar dalam menghadapi sikap suaminya yang cukup menyebalkan.
Padahal, aku ingin memberikan kejutan untuknya hari ini, biar dia mendengar sendiri dari dokter, tapi ... ah, semuanya jadi kacau gara-gara dia. Kesal!
David mengulum senyumnya, dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan sang istri. "Besok pagi, aku tidak akan ke kantor dulu," ucapnya memberi tahu yang entah kenapa tiba-tiba ia tidak ingin masuk kerja.
"Lho, kenapa?" Aretha menatapnya penuh tanya.
"Mm ... aku akan antar kamu ke rumah sakit." David menyunggingkan senyumnya. Namun, terlihat seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
Lho, kok mas David tahu kalau aku mau ke rumah sakit?
Aretha menatap pria itu dengan penuh keheranan. "Kamu masih menganggap kalau aku sakit, Mas?" tanyanya seraya membulatkan matanya.
"Ck! Mana mungkin aku beranggapan seperti itu," bantah David seraya melengos sejenak.
"Lalu? Untuk apa kita ke rumah sakit?" Aretha tampak menyipitkan sebelah matanya, masih mencoba mengamati kemana arah pembicaran pria itu.
Lagi-lagi David mengulum senyumnya. "Apapun itu, pokoknya ... hari ini aku bahagia sekali. Terima kasih ya, Sayang, karena kamu telah membuatku menjadi orang yang sempurna." David terdiam sejenak, lalu menatap haru wanita di hadapannya. "Jaga dirimu baik-baik, jaga kesehatanmu dan janin yang ada di dalam sana," imbuhnya seraya mengelus punggung tangan sang istri, lalu menurunkan tatapannya ke bawah, tepatnya menuju perut Aretha.
Aretha yang mendengarnya tiba-tiba terperangah beberapa detik, disertai pupil mata yang melebar. Bagaimana bisa David sudah mengetahuinya.
"Mas, jadi kamu sudah tahu?"
"Sure. Selamat ya, Sayang, akhirnya kita akan punya bayi," ujar David.
"Tunggu dulu! Kamu tahu dari mana?" Aretha menatap curiga sang suami.
"Itu tidak penting," balas David terdengar santai.
"Dari bi Ratih, ya? " Aretha menduga bahwa asisten rumah tangganyalah yang memberi tahu David. Sebab, hanya Ratih yang mengetahui soal itu.
"Menurutmu?"
"Ah, bi Ratih kurang asyik, kamu juga! Aku 'kan sengaja mau memberi kejutan, kenapa harus diberi tahu duluan, sih? Tidak bisa jaga rahasia, nih. Kesal!" Aretha tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan melipat kedua tangannya di atas dada. Sementara tatapannya ia lempar ke sembarang arah, disertai ekspresi kesal. Lagi-lagi David menggagalkan rencananya.
"Kapan sih, aku kalah dari kamu?" tanya David begitu bangga.
Ya, memang benar, Aretha selalu saja tidak bisa mengalahkan pria itu. Seketika ia semakin mengerucutkan bibirnya. Alih-alih memberi kejutan, malah dia sendiri yang dibuat terkejut.
Tentu saja David bisa menyadari akan kekesalan istrinya itu.
"Ayolah, Sayang ... jangan cemberut seperti itu. We should be happy, right?" David tampak membujuk sang istri.
"MASA BODOH!" Aretha tak peduli. Bahkan, ia tidak ingin menoleh sedikit pun.
"TERSERAH!"
"Wanita hamil juga tidak boleh stres." David masih berusaha menggodanya. Meski Aretha sudah terlihat sangat kesal, tetapi ia suka melihatnya.
"TIDAK PEDULI!"
David tidak ingin menyerah, hingga Aretha mau bersikap seperti biasa.
"Nanti anaknya mirip aku, lho," goda David sekali lagi.
"Jangan ...," rengek Aretha seraya menoleh. Seketika ekspresi kesalnya berubah menjadi ekspresi manja.
"Lho, kenapa? Aku ini papanya, bukan?" David membulatkan matanya, merasa tidak terima dengan ucapan Aretha.
"Kamu itu keras kepala, juga menyebalkan, Mas. Aku tidak mau anak kita seperti kamu, NOWAY!" jelas Aretha sengaja berniat menyindir suaminya.
"Lho, kok begitu, sih? Kamu curang! Masa anaknya tidak boleh mirip sama papanya sendiri!" protes David.
"Suka-suka aku," jawab Aretha seraya menjulurkan lidahnya.
David tampak melebarkan senyumnya melihat aksi sang istri yang terlihat menggemaskan.
Pria itu tampak berjalan menghampiri istrinya, lalu berdiri tepat di belakang wanita itu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, menyeimbangkan dengan kepala Aretha.
"Tapi, aku tetap bahagia malam ini. Bahagia ... sekali. Terima kasih, Sayang," ucapnya seraya mengecup pipi kiri Aretha.
Seketika Aretha menjadi terharu atas perlakuan David. Pria itu selalu saja membuatnya serasa melayang.
"Tapi ... aku masih belum yakin, Mas," keluh Aretha seraya memutar kepalanya ke samping. "Kamu jangan kecewa ya, kalau ternyata hasil test pack itu tidak akurat," imbuhnya cemas. Bahkan, dirinya sendiri masih was-was, takut dikecewakan oleh hasil dari test pack yang ternyata tidak akurat.
"Kamu tidak perlu khawatir seperti itu, besok pagi kita ke dokter," balas David, lagi-lagi mendaratkan kecupan di kening sang istri.
"Terima kasih, Mas," lirih Aretha seraya menarik napas lega.
"Mm ... kamu mau hadiah apa dari aku?" tanya David kemudian.
Tanpa berpikir panjang Aretha langsung menjawab. "Aku cuma mau kamu tidak selingkuh, menyakitiku, mengece—"
"Ssst!" Secepat kilat David membekap mulut sang istri dengan telapak tangganya. "Aku tidak mungkin melakukan itu," ucapnya yakin.
"Itukan menurut kamu yang sekarang, entah kalau nanti," balas Aretha seolah tidak ingin begitu saja percaya, setelah David melepaskan tangannya dari mulut sang istri.
"Haiish! Kamu mau aku seperti itu?"
"Mana ada istri yang mau suaminya seperti itu," bantah Aretha.
"Ya sudah, jangan berbicara seperti itu lagi. Aku tidak suka!" pinta David. "Pokoknya secantik apapun wanita di luar sana, aku tidak akan pernah tergoda oleh mereka, karena sampai detik ini hanya kamu yang mampu menggodaku," imbuhnya sembari terkekeh.
"Cih!"
"Kamu tahu?" David terdiam sejenak. "Aku sangat suka semua yang ada pada dirimu, apapun itu. Jadi, untuk apa aku mencari yang lain, ketika aku sudah memiliki semuanya?" lanjutnya seraya mengerlingkan sebelah matanya yang sontak membuat Aretha mencebikkan bibirnya.
Ya, tentu. Karena ia pikir David memang sengaja menggodanya, dan itu sangat berlebihan menurutnya.
"Gombal akut kamu, Mas!" balas Aretha. Sementara, David hanya terkekeh menanggapinya.