Possessive Love

Possessive Love
Terharu



"Bro, sorry ...," lirih David.


Richard mendongak seraya menatap David. "It's okay, Bro. Lo santai saja, gue akan bahagia untuk kebahagiaan kalian berdua," ucapnya lirih. "Pokoknya, do'a terbaik buat kalian," imbuhnya.


Sekeras apapun Richard menutupinya, tetap saja itu tidak dapat menyembunyikan rasa sakit di hatinya. Dan David bisa melihat itu dari ekspresi dan sorot matanya.


"Gue tahu ini menyakitkan buat lo—"


"Gue jauh akan lebih sakit, jika melihat orang yang gue sayang tidak bahagia. So, gue minta sama lo, bahagiakan dia, jangan pernah sakiti dia, apapun alasannya!" tegas Richard memotong pembicaraan.


David sedikit memaksakan senyumnya, meski ia merasa tidak enak hati. "Pasti! Gue janji sama lo!" jawab David yakin. "Gue harap kalian berdua bisa datang di acara akad nikah gue," pintanya kemudian.


"Tentu, kita akan datang. Selamat ya buat kalian," ucap Richard mewakili, sementara Rendy masih belum berkomentar apapun. Ia menatap lekat wajah Richard saat itu.


"Thanks, Bro. Sekali lagi gue minta maaf untuk hal ini," jawab David.


"Lo tidak perlu merasa tidak enak sama gue. Walau bagaimanapun ini bagian dari takdir, tidak ada yang bisa menghalanginya." ucap Richard lapang. "Lagi pula, perasaan Aretha memang buat lo, jadi untuk apa lo ngerasa bersalah?" imbuhnya.


"Ya," singkat David seraya menganggukkan kepala.


"Baiklah, kayaknya gue harus balik sekarang, masih ada urusan lain," ucap Richard seraya bangkit dari tempat duduknya. "Lo mau bareng, Ren?" tanyanya kepada Rendy.


"Barenglah. Lo kan tahu sendiri, gue gak bawa mobil," jawab Rendy yang ikut berdiri dari tempat duduknya.


Sebagaimana yang dilakukan Richard dan Rendy, David pun melakukan hal yang sama.


"Gue tunggu ya, Bro!" ucap David seolah mengingatkan kembali.


"Pasti. Lo tenang saja!" jawab Richard. "Gue balik ya," pamitnya kemudian.


"Gue juga ya, Dave. Selamat buat lo, gue turut berbahagia buat kalian berdua," ucap Rendy seraya menepuk punggung David pelan sembari tersenyum semringah.


"Thanks, Ren," balas David seraya tersenyum. "Take care, ya!" imbuhnya.


Kedua pria itu tampak beranjak dari apartemen David. Mereka melangkahkan kakinya menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai dasar, gedung pencakar langit itu.


Mereka memasuki lift yang tampak terbuka lebar, setelah Richard menekan tombol di sampingnya. Tidak ada orang lain dalam lift itu, selain mereka berdua. Richard kembali menekan tombol yang berada di dalam hingga pintu lift tertutup kembali.


Lift itu melesat dengan cepat, mengantarkan kedua pria itu hingga lantai dasar. Beberapa menit kemudian, mereka telah berada di area parkir apartemen itu.


Richard segera membuka kunci pintu mobilnya. Mereka masuk ke dalam mobil itu berasamaan. Richard mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu menekan pedal gas dengan kecepatan sedang.


Mereka terdiam beberapa saat. Sedari awal masuk mobil, Rendy sudah memperhatikan Richard. Bahkan, ia tak mengalihkan pandangannya sedetik pun. Namun, Richard nampak tak acuh, meski sebenarnya ia menyadarinya.


"Bro, gue tahu ini—"


"Lo gak usah khawatir. I'm okay. Gue bahagia bisa melihat mereka bahagia," sela Richard memotong pembicaraan, seolah sudah mengerti apa yang akan dikatakan oleh rendy.


"Gue tahu lo, Rich!" tukas Rendy.


Richard mendengus. "Apa sih yang lo tahu tentang perasaan gue?" tanyanya tanpa menoleh.


"Gue tahu ini menyakitkan banget buat lo. Lo gak usah sok-sokan menyembunyikan ini dari gue!" ucap Rendy sedikit memaksa.


Lagi-lagi Richard mendengus kesal. "Kalaupun memang iya, lantas gue harus ngapain?" tanyanya seraya menoleh sejenak, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke depan. "Harus banget gue merebut Aretha kembali dari David? Gak mungkin, kan?" lanjutnya.


"Sorry, gue gak bisa bantu apa-apa," lirih Rendy. "Gue benar-benar kha—"


"Sudah gue bilang, jangan terlalu mengkhawatirkan gue! Gue yakin, gue bisa melewati ini. Lo percaya sama gue!" tegas Richard.


"Cukup ya, Ren! Gue gak suka lo terlalu mengkhawatirkan gue seperti itu!" sergah Richard. "Ingat! Gue bukan cowok lemah!" imbuhnya menyangkal yang sontak membuat Rendy seketika melengos sembari berdecak kesal.


"Jaga diri lo baik-baik! Karena gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri, kalau sesuatu terjadi sama lo, karena masalah ini!" titah Rendy seolah mengingatkan.


"Haish! Lo pikir gue insecure apa?" gerutu Richard seraya mencebikkan bibirnya.


Nyatanya lo memang lemah, Rich. Dan sorry, gue harus akui itu.


***


Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Grissham.


Aretha tampak berjalan menuruni anak tangga satu persatu, hingga ia tiba di ruang keluarga, dimana sang papi dan maminya tengah berada di sana sembari menonton televisi.


Aretha mendaratkan tubuhnya di atas sofa berwarna abu, tepat di samping sang papi yang kala itu tengah duduk bersebelahan dengan maminya.


"Papi, kok Papi gak bilang kalau mas David maunya nikah lusa?" rengek Aretha seraya merangkulkan kedua tanggannya pada lengan sang papi. Ia tampak bergelayut manja.


"Loh, bukannya kalian sudah membicarakan masalah itu sebelumnya?" tanya Anton heran.


"Belum, Pi ... mas David baru bilang tadi. Waktunya singkat banget, Pi ...," rengek Aretha seraya memasang ekspresi manja.


"Papi pikir, Dave sudah bilang sama kamu, Nak," balas Anton.


"Apa tidak bisa diulur lagi ya waktunya, Pi? Aku kok ngerasa gimana gitu, Pi. Udah nervous duluan aku," keluh Aretha yang sontak membuat kedua orangtuanya tertawa.


"Mami dan tante Maria sudah menyiapkan semua keperluannya. Mami juga sudah mengundang kerabat jauh kita, agar bisa hadir di acara akad pernikahan kalian. Jadi, mana mungkin bisa dibatalkan," ucap Carmila menimpali seraya menoleh ke arah putri semata wayangnya.


"Ya sudah, memangnya kenapa? Mau nanti atau sekarang, sama saja, kan?" ucap Anton.


"Papi sama saja kayak mas David jawabnya," gerutu Aretha.


Anton tertawa kecil. "Sini!" ucapnya seraya memeluk putri semata wayangnya. "Putri papi sudah dewasa, sudah mau menikah. Papi titip sama kamu, jadilah istri yang nurut sama suami, jangan suka membantah, lakukan apa yang suami perintahkan, dan jagalah harga diri kamu dan keluarga kamu baik-baik," imbuhnya menasihati yang sontak membuat Aretha sedikit terharu. Matanya mulai berkaca-kaca.


Carmila bangkit dari tempat duduknya seraya beralih ke samping Aretha, hingga posisi mereka berubah. Aretha berada di tengah-tengah kedua orangtuanya.


"Nanti, kalau kamu sudah menikah dan tinggal di tempat lain, jangan lupa sering-sering ke sini ya, tengokin mami sama papi, karena rumah ini pasti sepi kalau tidak ada kamu," ucap Carmila menambahkan. Ia tampak memeluk putri semata wayangnya juga.


"Mami, Papi, hiks ...." lirih Aretha.


Air mata yang sedari tadi memenuhi sudut mata Aretha, tanpa disadari luruh juga di pipi gadis itu. Suasananya begitu mengharukan sehingga membuatnya tidak bisa menahan kesedihan. Walau bagaimanapun ia akan segera menikah dengan David, dan cepat atau lambat, ia pasti akan berpisah dari kedua orangtuanya.


"Sudah jangan menangis! Kamu sudah mau menikah, tidak boleh manja!" perintah Anton seraya mengacak rambut putrinya, sementara Aretha tampak memberengut.


"Mami senang kamu mendapatkan pria yang sangat baik seperti nak David," ucap Carmila seraya menyeka air mata putrinya.


Perempuan paruh baya itu tampak berusaha menahan kesedihannya. Namun, sekeras apapun pertahanan seorang ibu. Akhirnya, ia juga tidak bisa menahan kesedihannya, air matanya pun tumpah luruh, mengingat akan berpisah dengan putri semata wayangnya.


"Mami jangan sedih, nanti aku akan sering menginap di sini, kok," ucap Aretha seraya menyeka air mata sang mami. Seketika suasana yang mengharu biru itu berubah menjadi tawa.


________________________


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TBC