
Setelah David pergi meninggalkan area kampus beberapa menit yang lalu, Aretha segera melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa-gesa, memasuki gedung perkuliahan. Ia tampak berjalan melewati koridor kampus itu sendiri, tanpa ditemani siapapun.
Nampaknya gedung perkuliahan itu sudah dipadati oleh mahasiswa yang terlihat sedang berbincang di tepi koridor. Beberapa mahasiswa lainnya tampak tengah memfokuskan pandangan mereka pada gawai yang sedang berada pada genggaman masing-masing.
Bahkan, ada salah satu diantaranya, yaitu seorang pria berambut gondrong yang tampak memakai earphone di telinganya yang telah tersambung pada gawai miliknya. Diduga pria itu tengah mendengarkan sebuah lagu.
Hal itu terbukti akan gerak-gerik pria itu yang nampak menggeleng-gelengkan kepala seolah menikmati lagu yang tengah didengarnya. Jika dilihat dari penampilannya yang bergaya rebel, sepertinya pria itu berasal dari fakultas seni.
"Re!" Suara bariton seketika menghentikan langkah Aretha dan membuatnya menoleh ke belakang. Nampak Samuel yang tengah mengejarnya.
Sedari tadi Samuel memang menantikan momen berdua dengan Aretha. Entah apa yang akan pria itu lakukan atau bicarakan dengan Aretha sehingga harus menunggunya seperti itu.
"Mau apa lagi sih, Sam?" tanya Aretha seraya menunjukkan ekspresi kesal karena tragedi tujuh bunga mawar tadi. Kala itu Samuel telah berdiri tepat di hadapannya.
"Ngambek nih, ceritanya?" sindir Samuel.
"Kamu cari gara-gara, sih!" ketus Aretha seraya membalikkan kembali tubuhnya, lalu melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
Samuel tampak mengekori gadis itu, lalu menyamaratakan posisinya dengan tubuh Aretha hingga mereka tampak berjalan berdampingan.
"Cuma segitu doang, Re ... masa ngambek?" rengek Samuel. " Lagian, aku cuma mau lihat saja ekspresi dia kayak apa, ketika aku menggoda kekasihnya," imbuhnya santai tanpa beban.
Aretha mendengus kasar. "Apa sih yang mau kamu tahu dari dia?" tanyanya seraya menoleh ke arah Samuel tanpa menghentikan langkahnya.
"Mau tahu saja, seberapa besar sih cintanya ke kamu dan seberapa cemburunya dia, ketika tahu ada aku yang selalu setia menunggumu," goda Samuel seraya mengedipkan sebelah matanya yang sontak membuat Aretha seketika mencebikkan bibirnya.
"Kamu keterlaluan, Sam!" ketus Aretha.
"Aku?" Samuel menunjuk wajahnya sendiri. "Ada juga dia yang keterlaluan, sudah membuang ketujuh bunga mawar yang sengaja aku kasih buat kamu. Dikira aku dapat bunga itu hasil mungut dari TPS apa!" imbuhnya kesal yang sontak membuat Aretha sedikit terkekeh.
Mereka masih berjalan melewati beberapa mahasiswa yang tampak menghabiskan waktu mereka di koridor itu, sebelum jam perkuliahan dimulai.
Mengingat kelasnya yang berada di lantai tiga, gedung yang berada di sebelah timur, membuat Aretha dan Samuel harus sedikit bersabar untuk tiba di gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
"Memang kamu nulis apa sih, di kartu itu?" tanya Aretha. "Kok kayaknya dia marah banget ya?" imbuhnya seraya berpikir.
"Tidak ada yang berlebihan, kok. Aku hanya nulis ucapan selamat pagi, lalu bilang semoga hari kamu menjadi luar biasa layaknya sesapan pertama kopi di pagi hari. Ada yang salah?" jelas Samuel seraya menatap Aretha penuh tanya.
"Cuma itu?" tanya Aretha mencoba.
"Ya," singkat Samuel seraya menganggukkan kepala.
"Kok dia bisa semarah itu ya?" Aretha tampak berpikir sejenak.
"Emang dasar pacar kamu saja yang lebay!" ejek Samuel yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari gadis di sampingnya.
"Sam!" bentak Aretha yang sontak membuat Samuel menyeringai sembari mengangkat tangannya, lalu menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf 'V' seolah mengajak Aretha untuk berdamai.
"Apa sih istimewanya dia buat kamu, sampai kamu harus terus-terusan membelanya?" kesal Samuel.
"Menurut kamu?" tanya Aretha acuh tanpa menoleh.
"Kamu mau tahu bedanya kamu sama dia apa?" tanya Aretha seraya menghentikan langkahnya sejenak.
Samuel melakukan hal yang sama dengan menghentikan langkahnya. "Apa?" tanyanya penasaran.
"Bedanya, dia itu enggak somplak kayak kamu!" ledek Aretha seraya kembali melanjutkan perjalanannya.
"Dzalim banget sih, Re!" gerutu Samuel yang tidak dihiraukan oleh Aretha. Samuel tampak menyeimbangkan kembali langkahnya dengan gadis itu.
Mereka telah tiba di tempat yang tak jauh dari lift. Lagi-lagi Aretha dan Samuel harus bersabar, ketika mendapati beberapa mahasiswa yang tengah menunggu antrian di depan pintu lift itu.
Melihat antrian yang begitu panjang, entah mereka akan bisa menggunakan lift itu di urutan ke berapa. Tidak mungkin juga mereka mau menggunakan tangga darurat untuk tiba di lantai tiga. Sungguh itu akan sangat melelahkan. Mereka berharap mendapatkan antrian, sebelum jam perkuliahan dimulai.
Setelah kurang lebih sepuluh menit, Aretha dan Samuel akhirnya mendapatkan antrian untuk menggunakan lift tersebut. Sebelumnya telah dua kali lift itu melesat dengan cepat mengantarkan mahasiswa lain ke lantai yang dituju.
Terdapat beberapa mahasiswa yang memasuki lift itu bersama dengan Aretha dan Samuel sehingga kondisi di dalamnya nampak sedikit terasa sesak.
Tring!
Bunyi lift seketika membuat Aretha yang kala itu tengah memainkan ponselnya sedikit tersentak. Gadis itu mendongak.
Pintu lift itu terbuka lebar hingga membuat beberapa makhluk di dalamnya berhamburan keluar, tak terkecuali Aretha dan Samuel. Dari pintu lift, Aretha dan Samuel masih harus berjalan lagi beberapa meter untuk tiba di kelasnya.
Tak berlangsung lama, mereka telah tiba di depan kelasnya. Sebagian penghuni nampaknya telah berada di kelas itu. Namun, sebagian lagi masih belum terlihat, mungkin masih dalam perjalanan atau karena terjebak antrian lift seperti yang dialaminya.
Tanpa menunggu komando, keduanya langsung masuk ke dalam kelas itu, lalu mencari tempat duduk yang masih kosong. Aretha sedikit merasa risih, ketika Samuel terus-terusan mengikutinya hingga tempat duduk pun pria itu memilih yang lebih dekat dengan Aretha seolah tidak ingin jauh dari gadis yang selama ini ia anggap istimewa.
Namun, apa yang bisa Aretha lakukan, selain membiarkan Samuel untuk duduk dimana saja, toh setiap mahasiswa bebas memilih tempat duduk yang mereka inginkan.
***
Di tempat lain, David baru saja tiba di kantornya. Ia tampak berjalan menuju ruangannya. Namun, seketika pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan meja sang sekretaris yang tak lain adalah Alivia. David menatap meja yang masih tampak rapi dan tidak ada yang menempati kursi putar itu.
Kira-kira dia sudah pulang atau belum? Ah, masa bodoh ... dia mau pulang atau tidak, memang apa urusanku? Sepertinya akan jauh lebih baik jika perempuan murahan itu tetap tinggal di sana dan tidak kembali ke kantor ini lagi!
Ya, setelah tragedi di kamar hotel itu, David memutuskan untuk pulang sendiri tanpa mengajak Alivia. Jangankan mengajaknya, memeberi tahunya pun tidak. Kejadian itu benar-benar sudah membuat David murka terhadap sekretarisnya itu.
David kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan, tempat ia bekerja. Ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi putar yang berada di belakang meja kerjanya. Ia tampak melamun sejenak, entah apa yang tengah ia pikirkan. David merogoh saku jasnya, mengambil ponsel miliknya.
"Saya butuh bantuan anda. Tolong anda cari tahu tentang identitas seseorang! Nanti, saya kirim fotonya!" titah David, setelah ia berhasil menempelkan ponselnya pada telinga. Entah siapa orang yang ditelepon David atau juga orang yang dimaksud untuk dicari identitasnya.
"Baiklah, saya tunggu kabar secepatnya!" tegas David seraya mematikan teleponnya kembali.
______________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT😊
HAPPY READING!