Possessive Love

Possessive Love
Toko Kue



Di depan sebuah toko kue, Aretha tampak turun dari sebuah mobil mewah berwarna silver yang dikendarai oleh Arman sang supir pribadinya.


Ya, sore itu ia sengaja pergi keluar rumah hanya demi mencari beberapa kue yang ia inginkan.


Seiring berjalannya waktu, semakin lama, perut wanita itu semakin berisi, karena memang usia kandungannya sudah mencapai enam belas minggu.


Setelah melewati masa-masa sulit selama hamil muda, akhirnya ia bisa kembali merasakan makan enak. Padahal sebelumnya ia selalu mual, ketika melihat makanan. Namun, akhir-akhir ini ia justru selalu merasakan lapar yang berlebih. Itulah mengapa ia selalu sediakan camilan untuk di rumahnya.


Dan sore itu, ia sedang ingin sekali kue brownies cokelat yang biasa ia beli di toko kue yang sudah menjadi langganannya. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.


Aretha tampak membuka pintu kaca toko kue itu, lalu mengelilingi ruangan tersebut melewati beberapa etalase kaca yang berisi beberapa jenis kue yang sudah tertata rapi di sana. Kue-kue itu tampak berbeda-beda jenisnya, baik dari segi rasa maupun bentuknya.


"Wah ... sepertinya semua kue-kuenya enak," gumamnya dalam hati.


Sebenarnya bukanlah hal yang sulit bagi wanita itu untuk membuat beberapa jenis kue yang ada di toko tersebut. Ia sudah khatam bagaimana cara membuatnya. Hanya saja, sang suami tidak memberinya izin untuk melakukan terlalu banyak kegiatan, terlebih lagi asupan makannya yang sempat terganggu. David tidak ingin kesehatan istrinya juga terganggu karena terlalu banyak aktivitas yang dikerjakan.


Aretha telah memilih beberapa jenis kue brownies dan cupcake yang akan ia bawa pulang ke rumahnya. Entah siapa yang akan memakan kue sebanyak itu. Melihat beberapa jenis kue yang berbeda, nampaknya membuat wanita itu ingin membeli semua kue-kue yang ada di toko. Namun, ia tidak ingin memaksakan diri. Dan akhirnya ia hanya menjatuhkan pilihan ke beberapa kue yang sudah ia bawa ke meja kasir.


Aretha tampak berdiri di depan meja kasir, menunggu proses transaksi pembayaran. Setelah semuanya selesai, ia langsung keluar dari toko itu menuju mobilnya yang diparkir di depan toko. Tampak Arman yang tengah menunggunya di dalam mobil.


Nampaknya Arman belum menyadari keberadaan Aretha di sana, sehingga pria itu tidak sigap membukakan pintu mobil untuk sang majikan. Aretha pun tak mau ambil pusing, dan memang selalu seperti itu. Ia memutuskan untuk membuka mobil itu sendiri, tanpa menunggu bantuan dari supir pribadinya.


"Mbak Aretha?"


Baru saja Aretha akan membuka mobil itu, tiba-tiba, seorang perempuan menyapanya. Aretha langsung memutar tubuhnya, mencari sosok yang memiliki suara itu.


"Dokter Dara?" Aretha sedikit terkejut saat mendapati Dara yang sepertinya baru saja keluar dari mobil berwarna merah yang terparkir tepat di samping mobilnya.


"Sendirian saja?" tanya Dara seraya melirikkan matanya ke beberapa arah, seolah tengah mencari sosok lain.


"Berdua—"


"Sama David?" Dara tampak antusias, sehingga tanpa disadari, ia telah memotong pembicaraan Aretha.


Aretha sedikit heran. Ia tampak mengernyitkan dahinya, terdiam beberapa saat, lalu memaksakan sedikit tawanya, berusaha tetap bersikap elegan di hadapan wanita itu.


"Tidak. Mas David kebetulan masih di kantor. Saya diantar supir," jawab Aretha memberi tahu.


Dara tampak menganggukkan kepalanya, seolah paham.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Dara kemudian.


"Ya," singkat Aretha seraya menganggukkan kepala pelan. "Tempat tinggal saya di sekitar sini, jika dokter tidak keberatan, silakan mampir dulu," imbuhnya berbasa-basi.


"Oh ... iya, terima kasih sebelumnya. Tapi, kebetulan setelah ini saya masih ada urusan lain. Mungkin lain waktu. Kebetulan rumah saya juga masih sekitar sini," jawab Dara.


"Oh, ya? Kok kita tidak pernah bertemu sebelumnya, ya? Aretha tampak terkejut mendengarnya.


"Ya, dan baru kali ini Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu di sini," balas Dara.


Aretha tersenyum simpul menanggapinya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit, Dok. Permisi," ucapnya berpamitan.


"Baik. Hati-hati, ya," balas Dara yang juga tampak tersenyum.


***


Di tempat lain, tepatnya di kantor perusahaan David. David tampak tengah berbincang dengan kedua sahabatnya Richard dan Rendy. Beberapa menit lalu, mereka baru saja selesai meeting untuk membahas kelanjutan kerjasama mereka dalam membangun sebuah perusahaan yang akan bergerak di bidang kuliner.


Mereka terlihat sedang berbincang santai di ruangan sang CEO perusahaan tersebut.


"Lo kenapa, Dave? Gue perhatikan dari tadi muka lo terlihat kusut banget?" tanya Rendy yang memang sedari tadi memperhatikan David.


Ya, benar. David memang terlihat sangat lelah dan lesu. Bagaimana tidak? Semenjak sang istri hamil dan memiliki banyak keinginan, sering kali membuat tidurnya terganggu di tengah malam.


"Lo ada masalah, Bro?" tanya Rendy sekali lagi.


David menghela napas kasar. "Entahlah, semenjak Aretha hamil, gue jadi kurang tidur, selalu saja ada gangguan. Sering sekali dia merasakan mual-mual dan pusing, tidak tega gue lihatnya," jelasnya seraya menatap ke sembarang arah, seolah tengah sembari membayangkan wajah sang istri, ketika dalam kondisi yang sedang ia ceritakan saat itu.


"Sekarang, kondisinya sudah jauh lebih baik, mual-mual sudah mulai hilang, tetapi selalu saja ada maunya. tengah malam minta di beliin inilah, itulah. Apa memang semua wanita hamil menyebalkan seperti itu?" imbuh David seraya memasang ekspresi kesal.


Richard dan Rendy tampak terkekeh menanggapi curahan hati sahabatnya itu, sontak membuat David semakin kesal dibuatnya. Enak sekali mereka berbahagia di atas penderitaanya? Batinnya saat itu.


"Haish!!" kesal David seraya mencebikkan bibirnya.


"Haha ... Dave ... Dave ... lo baru segitu saja sudah mengeluh, tidak seperti waktu ingin menikah dulu, mati-matian berjuang biar bisa menikah dengan Aretha," ledek Rendy.


"Gue bu—"


"Kalau gue yang jadi suaminya Aretha, gue akan lakukan apapun yang dia mau. Sekalipun dia mau kebab langsung dari negara Turki, gue jabanin!" seloroh Richard memotong pembicaraan David yang baru saja akan mulai menanggapi Rendy.


"Ck! Bukannya gue mengeluh. Gue cuma heran saja, kenapa wanita hamil itu selalu saja ada tingkahnya yang sedikit menyebalkan. But, it's okay, gue tetap menikmati itu. Kalian tahu 'kan, betapa berartinya dia buat gue? So, tidak mungkin gue tidak menuruti keinginannya, setelah dia yang memelas mati-matian minta dituruti maunya," jelas David dengan yakin.


"Hanya saja ... ya begini jadinya, ketampanan gue jadi sedikit berkurang," celetuk David.


"Lo tuh ya! Sudah mau punya anak, masih saja memikirkan ketampanan!" sindir Ricjard.


"Hahaha!" Suara tawa pun memecah di ruangan itu. Ya, benar. David memang tidak sungguhan berbicara seperti itu.


"Tidak seperti itulah ... gue sangat menikmati sekali masa-masa gue yang sekarang. Aretha memang terkadang menyebalkan, tetapi ya ... kadang gue merasa lucu dengan ulahnya," ujar David sembari tersenyum membayangkan sang istri.


Seketika Richard terdiam menatap sendu sahabatnya yang terlihat begitu bahagia.


Andaikan yang menjadi suaminya itu gue, mungkin gue juga sama akan sebahagia lo, Dave.


Rendy yang tahu betul bagaimana Richard. Ia segera ingin mengakhiri perbincangan itu, ketika melihat Richard yang ia pikir sudah tak baik-baik saja.


"Baiklah, sepertinya gue harus segera balik ke kantor," ujar Rendy yang sontak membuat Richard terkesiap. Rendy langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Ya, gue juga," timpal Richard yang juga ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Oke," singkat David.


Sebagaimana yang dilakukan kedua sahabatnya, David pun ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Take care, Bro!" ucapnya mengingatkan.


Setelah itu kedua sahabatnya langsung keluar dari ruangan itu. David tampak memperhatikan keduanya hingga merela lenyap di telan pintu.


Seketika dering ponsel berbunyi. David langsung memfokuskan pandangan ke arah meja kerjanya, lalu menghampiri meja itu, berniat untuk mengecek siapa yang tengah meneleponnya.


Ia meraih benda pipih itu, lalu menyunggingkan senyumnya, ketika menatap layar ponsel dan tertera nama kontak sang istri di sana.


"Ya, Sayang, ada apa?" ucap David seraya mendaratkan tubuhnya di atas kursi putar yang menjadi kebanggaannya.


"Mas, aku ini istri kamu, memangnya tidak boleh aku meneleponmu?" suara dari seberang sana.


David tertegun sejenak, ketika mendapat tanggapan dari sang istri.


Ya, Tuhan ... dia masih saja sensitif.


"Lho, bukan begitu, Sayang. Maksudku kamu tumben sekali meneleponku, ada apa?" balas David mengonfirmasi.


"Apa? Tumben? Tumben kamu bilang? Apa sebegitu tidak perhatiannya aku sama kamu, Mas, sampai-sampai dibilang tumben seperti ini?" ketus Aretha seolah tersinggung.


Ah, salah ngomong lagi gue!


"Oke, aku salah, aku minta maaf." David lebih memilih untuk mengalah menghasapi sang istri yang tiba-tiba berubah menjadi sensitif dan sedikit cerewet, setelah kehamilannya, dari pada urusannya semakin panjang dan melebar kemana-mana.


"Kamu tidak tanya, aku mau apa?" tanya Aretha kemudian yang sontak membuat David mengeratkan giginya, antara kesal dan gemas.


Bagaimana mungkin istrinya menanyakan hal yang sudah jelas-jelas ia tanyakan. Memang apa bedanya antara 'Ada apa?' dengan 'Mau apa?'


David berusaha menetralkan persaannya dan lebih memilih untuk bersabar menghadapi tingkah sang istri. Seketika ia mengusap wajahnya sendiri dengan sedikit kasar.


"Oh iya, mau apa, Sayang?" tanya David.


"Aku baru saja dari toko kue, lalu kebetulan aku bertemu dengan dokter Dara di sana, katanya rumah dia juga tidak jauh dari tempat tinggal kita, apa kamu pernah bertemu sebelumnya dengan dia?" cerocos Aretha yang lagi-lagi membahas Dara.


"Oh ya? Aku baru tahu juga kalau rumahnya tidak jauh dengan rumah kita. Dulu sih, tidak sengaja sempat bertemu di depan minimarket, tetapi setelah itu tidak lagi," jelas David.


"Apa? Jadi, kamu pernah bertemu dengannya dan tidak pernah bilang sama aku, Mas? KETERLALUAN KAMU!" kesal Aretha dengan memberi penekanan pada akhir kalimatnya.


"Lho, itu sudah lama sekali, Sayang, dan memang tidak sengaja. Kalau tidak salah, waktu aku membelikan pembalut untukmu di hari pertama kita pindah rumah," jelas David sedikit frustrasi. Bagaimana tidak? Apapun yang diucapkannya saat itu, selalu saja salah di mata Aretha. Sungguh wanita itu sangat sensitif.


"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kamu tetap salah, karena tidak mau bercerita sama aku, TITIK!" Aretha tampak tak peduli dengan penjelasan Dvaid.


"Ya sudah, iya aku salah lagi, aku minta maaf, aku khilaf." Lagi-lagi David mengalah, demi tidak terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dengan sang istri.


"Terserah kamu saja lah, Mas!" ketus Aretha.


Wanita itu pun segera mengakhiri percakapan dengan sang suami.


David tampak menghela napas panjang, setelah perdebatannya dengan sang istri. Tidak bisa dipercaya bahwa istrinya begitu sensitif setiap kali membahas Dara. Padahal, mereka hanya berteman biasa, dan tidak seakrab yang Aretha bayangkan.


"Ada-ada saja dia!" ucapnya heran. Namun, diakhiri dengan senyuman.