Possessive Love

Possessive Love
Kesempatan



Aretha tampak meneyetujui ajakan Richard. Karena jalannya satu arah, terpaksa mereka harus memutar mobil mereka agar bisa tiba di depan kafe tersebut.


Aretha menaiki mobilnya yang dikendarai langsung oleh Iman, sopir pribadinya, sementara Richard mengendarai mobilnya sendiri.


Setibanya di depan kafe itu, Mereka segera turun dari mobil masing-masing. Namun, tidak dengan Iman yang tampak menunggunya di dalam mobil yang terparkir di halaman kafe tersebut.


Richard memilih tempat duduk yang berada di jajaran paling dekat dengan jendela, kemudian mereka memesan minuman beserta camilannya yang akan menemani kegiatan mereka malam itu.


Nampaknya, pelayan di kafe tersebut begitu cekatan. Mereka segera mengantarkan pesanan keduanya dalam waktu yang singkat sehingga tak harus menunggu lama, Aretha dan Richard dapat segera menyantap apa yang telah menjadi pesanannya.


"Jadi, apa jawaban kamu?" Tanpa harus menunggu lama, Richard segera menanyakan perihal yang belum selesai mereka bahas sebelumnya.


Aretha sedikit menggeser cangkir berisi hot chocolate yang baru saja ia minum. "Aku bingung harus jawab apa," ucapnya seraya berpikir, sementara Richard masih mengamati.


"Aku dan pak David hanyalah sebagai rekan kerja, sebagaimana seorang atasan dan karyawannya. Hanya saja ... kemarin malam, tiba-tiba kedua orangtua kami berencana untuk menjodohkan aku dan pak David, karena dari awal memang aku mengetahui bahwa papi dan pak Kris itu adalah rekan bisnis," jelas Aretha. Ia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan perkataannya.


Richard masih belum menanggapi pernyataan gadis itu. Pria itu tampak memperhatikan gadis di hadapannya, tanpa sepatah kata pun yang lolos dari tenggorokkannya. Yang terlihat jelas adalah raut kecewa yang terpampang di wajah pria itu. Entah karena apa.


"Sejujurnya ... aku belum menyutujui perjodohan itu, tetapi pak David seolah memaksaku untuk menyetujuinya," imbuhnya seraya memasang wajah kecewa.


"Apa kamu dijodohkan karena urusan bisnis?" tanya Richard penasaran.


"Entahlah. Aku pikir, itu memang tidak direncanakan sebelumnya," balas Aretha.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" Richard melipat kedua tangannya di atas meja.


"Aku belum berpikir sejauh itu. Yang aku pikirkan sekarang, bagaimana caranya agar aku bisa menyelesaikan tugas magangku dengan baik, itu saja!" tegas Aretha.


"Perasaanmu sendiri?" tanya Richard seolah penasaran dengan perasaan Aretha terhadap David kala itu.


"Perasaan?" Aretha mengernyitkan dahi. "Perasaan apa?" tanyanya kemudian.


"Perasaan kamu sama Dave?"


Gadis itu tampak mengambil gelas, lalu meminum hot chocolate itu, sebelum menjawab pertanyaan Richard. "Aku belum memiliki perasaan apapun terhadap beliau," jawabnya seraya menyimpan kembali gelas itu ke tempat semula.


"Apa itu artinya aku masih memiliki kesempatan?"


DEG!


Seketika pertanyaan Richard membuat jantung gadis itu berdegup. Pertanyaan itu cukup membuatnya terlonjak. Namun, untuk yang ke sekian kalinya gadis itu mencoba menetralkan kembali perasaanya di depan pria itu.


Gadis yang kala itu tengah memfokuskan pandangan pada gelas yang baru saja disimpannya, seketika mendongakkan kepala, menatap ke arah pria itu.


"Kesempatan?" tanya gadis itu seraya memasang wajah penasaran "Kesempatan apa?" imbuhnya.


"Kesempatan untuk kembali seperti dulu lagi," jawab Richard tanpa rasa ragu. Gadis itu cukup dibuat terkejut. Namun, ia tidak menanggapi dengan serius.


Aretha sedikit menyunggingkan senyumnya. "Ngaco kamu!" umpatnya kemudian.


Kala itu Aretha hanya berpikir bahwa Richard tidaklah serius dengan ucapannya. Ia sangat mengenal pria itu. Yang ia tahu selama ini Richard bukanlah tipikal pria yang tidak setia dengan pasangannya. Jadi, rasanya tidak mungkin jika pria itu berniat untuk berkhianat kepada pasangannya. Terlebih lagi pasangan halal.


"Aku serius!" tegas Richard seraya menatap gadis itu.


Aretha melengos seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan pria itu. "Apaan sih," ucapnya.


Aretha memperhatikan wajah pria itu sejenak. Namun, seketika ia palingkan kembali tatapan itu sembari menggeleng tidak percaya.


"Oh ya, bagaimana dengan kabar istri kamu? Kalian sudah memiliki momongan?" tanya Aretha penasaran. "Maaf, aku tidak bisa hadir di acara pernikahan kamu," imbuhnya.


Terlihat jelas dari wajahnya. Gadis itu tampak menyembunyikan rasa sakit yang seketika kembali menyayat hati, tatkala mengingat kejadian dua tahun silam.


"Istriku yang mana?" tanya Richard menatap gadis itu dengan begitu dalam.


Aretha hanya mengernyitkan dahi seolah ada yang aneh dengan sikap pria di hadapannya.


"Memangnya selama dua tahun ini, Kak Richard sudah menikah berapa kali?" tanya Aretha seraya menertawakan pria itu seolah menganggapnya sebagai candaan. "Kok gak ada undang aku, sih?" imbuhnya.


"Menurutmu? Niat nikah satu kali saja sudah langsung ditolak, kok," jawab Richard kecewa.


"Ha? Maksudnya?" Aretha terlihat penasaran.


"Bukannya dulu yang menolak itu kamu?" sindir Richard seraya menyesap sedikit espressonya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah gadis itu.


Seketika gadis itu menundukkan kepala. Ia terdiam sejenak, lalu sedikit mendongak seraya menatap pria itu. "Sudahlah jangan bahas masa lalu. Sekarang kondisinya sudah berbeda, yang penting kamu sudah berbahagia dengan kehidupan kamu yang baru, aku pun sama. Meski hidupku masih gini-gini saja, tidak ada yang istimewa, tapi aku selalu ingat dengan pesan dari kamu untuk tetap tersenyum menghadapi itu semua," jelas Aretha panjang lebar.


"Tetapi bagiku, itu penting untuk dibahas," timpal Richard sembari menaruh cangkir ke tempat semula.


"Untuk apa? Tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Aku sudah melupakan semuanya!" tegas Aretha seolah merasa yakin dengan ucapannya.


"Termasuk perasaan kamu ke aku?" Richard menatap gadis itu dengan rasa penasaran.


Saat itu juga jantung Aretha kembali berdegup dengan begitu hebatnya. Entah itu pertanda apa. Namun, ucapan Richard cukup membuat gadis itu terlonjak.


Ada apa dengan pria itu hingga tiba-tiba ia membahas kembali masalah perasaan yang selama ini telah berusaha dilupakan oleh gadis itu. Sungguh hal itu membuat Aretha seketika meyakinkan kembali perasaannya sendiri.


Apa? Ada apa dengan hatiku? Aku yakin selama ini telah berhasil melupakan semua perasaan itu, tapi ... jantungku? Ah, itu tidak benar, aku yakin itu! Batin gadis itu.


Aretha tampak termangu. Nyatanya ia juga belum begitu yakin dengan apa yang ia ucapkan. Namun, anggap saja ia tengah memberi pengaruh positif terhadap dirinya sendiri bahwa ia memang benar-benar telah melupakan semua kenangan tentang pria itu, meski sebenarnya ia masih sering mengingat itu semua dengan jelas.


"Apa aku pantas menyimpan perasaan itu untuk seorang pria yang jelas-jelas telah menjadi milik orang lain?" Gadis itu tampak berbalik tanya.


Richard menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. "Itu tidak benar!" sangkalnya.


Seketika gadis itu memelototkan matanya. "Apa ada yang salah dengan pendengaranku?" tanyanya.


Gadis itu mencoba memasang telinganya dengan baik, agar bisa mendengar dengan jelas jawaban pria itu untuk yang kedua kalinya.


"Itu memang tidak benar, Re!" tegas Aretha.


"Maksud kamu?" tanya Aretha, setelah ia mendengar pernyataan Richard untuk yang kedua kalinya.


________________


Maaf kalau chapter ini kurang maksimal ya😬🙏


Tolong jangan meradang🤭


Happy Reading!