
"Apa mami dan papi benar-benar akan menjodohkanku dengan pak David?" Aretha tampak memasang ekspresi ragu.
"Kenapa, Sayang?" Carmila menoleh, setelah ia selesai dengan kegiatannya.
"Mami, tolong bujukin papi dong ... agar batalin perjodohannya," rengek Aretha.
"Kenapa? Apa Dave mengganggumu?" Carmila mengerutkan dahinya seraya menatap putri semata wayangnya itu.
"Kurasa aku gak akan kuat deh kalau harus menikah sama dia," keluh Aretha.
"Loh, kenapa bisa begitu?" Carmila tampak menghampiri putrinya seraya duduk di samping Aretha.
"Mami, pak—"
"Oh ... benarkah seperti itu, Pak? Saya senang sekali mendengarnya. Istri saya pasti senang juga mendengar kabar baik ini." Suara Anton yang terdengar dari luar tampak mengalihkan perhatian mereka berdua.
Rupanya pria paruh baya yang baru saja pulang itu sedang menelepon seseorang yang entah itu siapa.
"Masalah itu ... biar nanti istri saya yang akan aturkan," imbuhnya kepada seseorang di seberang sana.
"Baik, Pak. Selamat sore!" Anton tampak mematikan saluran teleponnya, setelah ia berada di ambang pintu kamarnya.
Aretha yang sedari tadi menunggunya langsung menghampiri sang papi, lalu merangkulkan tangannya di tangan sebelah kiri Anton, sementara Carmila tampak mengambil tas kerja, lalu mencium tangan suaminya. Setelah itu, ia menyimpan tas sang suami di atas meja.
"Papi," rengek gadis itu dengan manja.
"Loh, anak papi kenapa ini, kok tiba-tiba manja begini?" tanya Anton heran melihat tingkah putrinya yang tak biasa. Pria paruh baya itu tampak menoleh seraya menundukkan kepalanya, menatap gadis itu.
"Papi, aku mohon batalin perjodohanku dengan pak David, ya? Papi tidak benar-benar ingin menjodohkanku dengan dia, kan? Please!!!" ucap Areta memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di atas dada.
"Loh, ada apa ini? Kok tiba-tiba kamu minta dibatalin, sih?" Anton semakin heran.
"Kan aku memang belum menyetujuinya, Pi," rengek Aretha kembali.
"Tidak bisa, Sayang," tolak Anton. "Baru saja pak Kris telepon papi bahwa akan segera membuat pesta pertunangan buat kalian," jelasnya yang berhasil membuat netra gadis itu terbelalak. Bahkan, Carmila yang sedari tadi mendengarkan perbincangan suami dan putrinya itu merasa ikut terkejut.
"APA? TUNANGAN?" Seketika Aretha dibuatnya mematung dengan mulut sedikit menganga.
Tubuhnya tiba-tiba seakan terkulai lemah tak berdaya. Itu sama saja dengan ia menjerumuskan diri sendiru ke dalam lubang buaya. Entah seberapa lama ia akan bertahan dengan pria itu, jika benar-benar harus menikah dengannya.
"Beneran, Pi?" tanya Carmila seraya menghampiri sang suami yang langsung mendapat anggukkan kepala sebagai tanggapan.
"Malah, pak Kris meminta mami dan bu Maria untuk mengurus keperluan mereka," terang Anton.
"Oh ya? Baiklah," jawab Carmila yang nampak senang mendengarnya. Namun, tentu saja tidak dengan Aretha. Gadis itu seketika menoleh sinis.
"Mami, kok mami gak berpihak ke aku, sih?" kesal gadis itu.
"Loh, bagus dong, Sayang. Lagian, mami suka kok dengan Dave," ujar Carmila seolah tidak peduli.
"Uruslah sesegera mungkin karena pesta pertunangannya akan dilaksanakan dua minggu lagi!" titah Anton seraya berjalan menghampiri tempat tidur.
"Papi! Bahkan, Papi tidak meminta persetujuan dariku."
Aretha tampak mengekori pria paruh baya itu, sementara Anton mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu membuka sepatunya. "Buat apa papi minta persetujuan lagi dari kamu, Re. Pak Kris bilang hubungan kalian juga sudah semakin dekat, jadi untuk apa ditunda lagi?" ucap Anton.
"Dekat? Dekat apanya, Papi?" geram Aretha. "Aku malah tidak suka dengan cara dia yang memperlakukanku seenaknya," imbuhnya yang sontak membuat kegiatan Anton terhenti, lalu mendongak.
"Apa yang dia lakukan sama kamu, Nak?" tanya pria paruh baya itu seolah khawatir.
Aretha mendengus. Terpaksa ia harus menceritakan kelakuan David kepada sanga papi, demi tidak ingin terjebak pada cinta yang salah.
"Pak David itu banyak ngatur, Pi, posesif banget, apa-apa harus sesuai dengan keinginannya. Aku gak boleh inilah, itulah, harus beginilah, harus begitulah, kan gak nyaman akunya, Pi," keluh Aretha yang langsung membuat sang papi tersenyum lebar.
"Oh ... bagus dong, itu artinya dia sayang sama putri papi yang cantik jelita ini." Anton tampak mengusap puncak kepala Aretha dengan sangat lembut. Namun, itu malah membuat Aretha semakin kesal. Kenapa orang-orang yang selama ini selalu mendukungnya tiba-tiba berubah menjadi orang yang menyebalkan.
"Papi!" pekik gadis itu.
"Sudahlah, papi yakin Dave yang terbaik buat kamu," ucap Anton tak peduli. "Ya sudah, papi mau mandi dulu," imbuhnya seraya berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.
"Mami ...," rengek Aretha kepada sang mami seolah meminta dukungan atas keinginannya.
Carmila tampak menghampiri putri semata wayangnya dengan tatapan yang memelas. Meski ia sangat setuju dengan adanya pertunangan itu, tetapi jika melihat putrinya yang seperti itu, ia merasa kasihan juga. Naluri seorang ibu pasti lebih tahu bagaimana perasaan anaknya.
"Sudahlah, mandi sana!" titah Carmila yang tidak digubris sama sekali oleh Aretha.
"Satu hal yang perlu kamu yakini bahwa jodoh itu sudah ada yang ngatur. Jadi, kamu tidak perlu terlalu khawatir. Apapun yang terjadi pada kita, itu pasti yang terbaik untuk kita sendiri," ucap Carmila menenangkan sembari mengusap punggung putrinya itu.
"Tapi, Mi—"
"Sudahlah. Mami yakin kamu bisa melewati ini semua, percayalah!" sela Carmila.
Aretha tampak memberengutkan wajahnya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Dengan langkah gontai, gadis itu keluar dari kamar kedua orangtuanya. Entah harus bagaimana caranya agar kedua orantuanya bisa berubah pikiran.
Kenapa semuanya menjadi seperti ini, sih? Aku bisa mendadak gila jika harus benar-benar tunangan dengan dia. Belum menikah saja sudah seperti ini, apalagi setelah menikah nanti?
"Arrrgh ...!!" Aretha mengerang frustasi, setelah ia berhasil masuk ke dalam kamarnya. Ia tampak membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur. Sembari rebahan, gadis itu memikirkan beberapa hal menyangkut dirinya dengan David.
"Apa yang akan mereka lakukan, setelah berhasil mempertunangkanku dengannya? Menikahkanku dengannya? Bunuh saja aku sekalian!" gerutu gadis itu sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi kenapa pak David tidak memberitahuku sebelumnya?" gadis itu berpikir sejenak. "Aku yakin dia sudah mengetahui soal ini," imbuhnya seraya mengangkat kembali tubuhnya, lalu meraba sebuah nakas di samping tempat tidur. Gadis itu mengambil ponsel yang ada di dalam tas yang sebelumnya ia letakkan di sana.
Aretha mencari nama kontak my crazy boss yang sengaja ia simpan sebagai kontak David. Setelah menemukan kontak tersebut, gadis itu langsung menghubungi David.
Aretha segera menempelkan ponsel itu pada telinganya. Dalam hitungan detik, telepon itu telah tersambung ke nomor yang dituju.
"Hallo!"
____________
HAPPY READING!