Possessive Love

Possessive Love
Kejutan Ulang Tahun



"Surprise!!"


David terpaku, sepasang matanya membulat sempurna, ketika ia mendapat teriakan dari beberapa orang di dalam ruangan itu, termasuk Ratih dan kedua security yang harusnya berjaga di depan, entah sejak kapan mereka meyelusup masuk ke dalam ruangan itu.


"Kalian?" Hanya itu yang terucap.


"Happy birthday!" teriakan mereka kembali memecah di ruangan itu.


David terharu dibuatnya. Bahkan, ia sendiri lupa akan hari ulang tahunnya. Ia tidak menyangka jika akan mendapat kejutan dari sang istri dan kedua orangtuanya. Bahkan, dari kedua mertuanya yang juga ikut hadir di sana.


"Happy birthday, Mas!" ucap Aretha seraya membawa kue tart ke hadapan sang suami yang kala itu masih mematung di ambang pintu.


"Kamu mengerjaiku?" tanya David seraya memencet hidung Aretha dengan gemas.


"Aauuww ... sakit, Mas!" rintih Aretha.


"Biarkan saja, aku tidak peduli!" David terus memencet hidung mancung itu.


"Aku cuma kasih kejutan saja, Mas," rengek Aretha seolah meminta dilepaskan, sementara tangannya tidak bisa berbuat apa-apa karena tengah memegang kue ulang tahun.


Sementara yang lainnya tampak menertawakan kedua pasangan itu, setelah mereka berada tepat di belakang Aretha.


David melepaskan tangannya, setelah ia merasa tidak tega melihat sang istri yang terus merintih kesakitan. Tampak hidung Aretha yang berubah memerah.


"Terima kasih semuanya," ucap David seraya menatap yang lain, lalu beralih menatap sang istri dengan penuh haru.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya, lalu mengecup kening wanita itu.


"Tiup dulu dong lilinnya," titah Aretha.


"Make a wish dulu, Sayang," timpal Carmila mengingatkan.


"Oh, iya! Make a wish dulu, Mas!" ucap Aretha.


David menurut. Ia tampak memejamkan matanya, lalu mengucapkan harapannya kepada sang Mahakuasa dalam hati. Tak lupa ia meminta perlindungan dan kebahagiaan atas rumah tangga, dan juga keluarganya.


Setelah pria itu selesai mengabsen satu persatu harapannya dalam hati, ia kembali membuka mata, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajah seraya mengucap Aamiin. Semoga Tuhan mengabulkan permintaannya.


"Sekarang tiup lilinnya!" titah Aretha.


David pun meniup lilin itu hingga padam. Dilanjutkan dengan acara potong kue. Potongan kue pertama, tentu ia berikan kepada sang istri tercinta. David menyuapi istrinya dengan begitu romantis, setelah itu ia kembali mengecup kening wanita itu, sehingga membuat Aretha sedikit tersipu malu.


"Selamat ya, Mas," ucap Aretha seraya tersenyum bahagia.


"Terima kasih, Sayang,"


Potongan kedua ia berikan kue itu kepada sang mama, di sambung kepada papanya juga kedua mertuanya yang ia suapi satu-persatu.


Tak lupa, pria itu juga memberikan potongan kue itu kepada asisten rumah tangga juga kedua satpamnya, meski mereka tak mendapat suapan dari tangan David. Namun, mereka cukup merasa bahagia, karena diperlakukan secara adil oleh sang majikan, dan keberadaan mereka memang dianggap ada di rumah itu.


Setelah acara itu selesai, mereka melanjutkan dengan acara makan siang bersama keluarga. Momennya sangat pas sekali, yang mana kedua keluarga berada di sana.


Tak banyak yang mereka bahas, ketika acara makan siang itu berlangsung. Ya, sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka untuk tidak banyak berbicara, ketika sedang makan. Hanya sesekali saja mereka mengeluarkan suara, itupun untuk hal yang sifatnya mendesak. Etika yang sangat baik dan perlu dicontoh memang.


Hanya dalam waktu seperempat jam, kegiatan mereka telah selesai. Aretha tampak membantu Ratih untuk merapikan meja makan itu, dengan dibantu oleh sang mami dan mama mertuanya, sementara kaum adam telah berkumpul di ruang tengah, berbincang berbagai hal yang entah itu apa.


***


Aretha, Carmila dan Maria tampak menghampiri ketiga pria yang tengah duduk di sana, setelah kegiatan mereka di dapur selesai.


Mereka duduk di dekat pasangannya masing-masing. Aretha tampak duduk di samping sang suami yang kala itu duduk di sofa panjang.


"Nak, kapan kalian akan melaksanakan resepsi?" tanya Kris tiba-tiba.


"Resepsi?" ucap David dan Aretha bersamaan.


Ya, mereka hampir saja lupa dengan resepsi pernikahan yang belum sempat mereka lakasanakan.


"Iya, padahal sepertinya ini momen yang tepat untuk kalian berdua, disaat Aretha sedang libur kuliah, jadi bisa langsung honeymoon kemana pun yang kalian mau," timpal Anton, sementara kedua perempuan paruh baya hanya mengangguk, seolah setuju.


"Betul sekali, Pak Anton," ujar Kris yang mengindahkan perkataan Anton.


"Lho, jangan begitu dong, Sayang ... masa tidak ada resepsi sama sekali, kalian itu kan anak semata wayang kami, mana mungkin kami mau melewatkan momen terindah yang hanya bisa kami rasakan satu kali seumur hidup," tolak Maria yang terlihat ingin tetap diadakan resepsi.


David masih diam tidak berkomentar. Entah ia juga bingung. Ia setuju sekali dengan usulan sang papi mertua, hanya saja keputusan tetap ia serahkan kepada Aretha. Kali ini biarkan wanita itu yang menentukan apa maunya.


"Bagaimana menurutmu, Dave?" tanya Kris kepada putra semata wayangnya.


David tampak terkesiap. "Aku serahkan semuanya kepada Rere, Pa," jawab David seraya menoleh kepada sang istri sekilas. Sungguh membuat Aretha cukup termangu dengan jawaban suaminya.


Ha, tumben sekali dia? Biasanya dia yang egois, inginnya semua sesuai dengan yang dia harapkan. Ini kenapa tiba-tiba dia malah menyerahkan sepenuhnya ke aku?


"Kok aku, sih?" tanya Aretha.


"Ya ... kamulah, Sayang," jawab David. "Aku ikut apa yang kamu mau," imbuhnya.


"Jadi bagaimana, Nak? Kamu bersedia, kan?" tanya Anton.


"Ya sudah, aku nurut saja, deh," jawab Aretha sedikit terpaksa. Bingung juga mau menolak kalau kedua orangtua dan mertuanya tetap memaksa ingin diadakan resepsi pernikahan.


"Baiklah, kalau kalian sudah setuju. Kalian tidak perlu khawatir. Kalian hanya perlu fokus dengan pakaian pengantin dan surat undangan untuk teman dan rekan kerja kalian, selebihnya biarkan kami yang mengurus," ucap Kris.


"Baik, Pa," jawab David dan Aretha kompak.


"Oh, ya, libur kuliahku tinggal tiga minggu lagi, kalau bisa, dipercepat saja, karena awal semester aku sudah harus mulai menyusun skripsiku," jelas Aretha.


"Baik, Nak, papa paham. Mungkin satu atau dua minggu ke depan, acaranya sudah bisa dilaksanakan, jadi kalian masih ada waktu untuk honeymoon, sebelum masuk kuliah," jawab Kris.


"Oh, ya, kalian mau pergi honeymoon kemana? Biar nanti mama belikan tiketnya. Prancis, Belanda, Amerika, atau ...." ucap Maria seraya menggantungkan kalimatnya.


"Soal itu, kita bicarakan lagi nanti, Ma. Aku dan Rere masih harus memilih-milih tempat yang cocok," sela David.


"Baiklah, segera kasih tahu mama, kalau kalian sudah menemukan tempatnya," titah Maria.


***


Sore harinya, Aretha dan David tampak mengantar mereka ke depan untuk segera pulang dalam waktu bersamaan.


"Hati-hati ya, Pi, Mi, Papa dan Mama juga," ucap Aretha mengingatkan.


"Iya, Sayang," jawab mereka seraya berjalan keluar gerbang, menghampiri mobil mereka yang sengaja diparkir di pinggir jalan komplek perumahan, tepat di depan rumah tetangga. Hanya karena tidak ingin David curiga, ketika tiba di rumahnya.


Kedua pasangan itu segera masuk ke dalam rumah. Aretha meminta sang suami untuk mandi terlebih dahulu, sementara dirinya membereskan barang-barang David, mengambil pakaian kotor dari dalam koper dan beberapa barang lainnya.


Setelah itu ia duduk di atas tempat tidur, memainkan gawainya sembari menunggu suaminya selesai mandi. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, diiringi suara Ratih yang memanggilnya.


Aretha segera beranjak dari tempat tidurnya, berniat untuk menemui Ratih di depan kamarnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Aretha, setelah ia berhasil membuka pintu kamarnya.


"Ini, Mbak, ada kiriman paket," jawab Ratih seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Aretha.


"Paket dari siapa, dan untuk siapa?" tanya Aretha heran.


"Saya tidak tahu, Mbak, saya menerimanya dari pak Yudha," jawab Ratih.


Di tengah kebingungannya, Aretha meraih paket itu dari tangan Ratih, lalu ia kembali menutup pintu kamarnya.


Aretha menatap bungkusan kiriman itu, tertera nama sang suami di sana, sudah dapat dipastikan bahwa paket itu dikirim untuk sumainya. Namun, di sana tidak ada nama pengirimnya siapa, sehingga membuat Aretha sedikit merasa heran dan penasaran akan isinya.


"Ini apa ya isinya? Aku jadi penasaran," ucap Aretha seraya membolak-balikkan paket itu. "Aku buka tidak apa-apa kali, ya. Mas David tidak akan marah juga," imbuhnya.


Karena rasa penasarannya, akhirnya Aretha membuka paket itu. Dalam hitungan detik, paket itu telah terbuka sempurna, sesempurna mata Aretha yang membulat, ketika melihat isinya. Ia benar-benar terkejut dengan isi paket itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC