
"Baiklah, sekian rapat hari ini. Terima kasih kepada Bapak pimpinan dan jajaran manajer yang telah berkenan hadir pada kesempatan kali ini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Selamat siang!" Aretha yang bertugas sebagai moderator tampak menutup kegiatan meeting di perusahaan.
Seluruh peserta meeting akhirnya berdiri dari tempat duduknya, lalu secara bergantian saling berjabat tangan dengan David, selaku pimpinan perusahaan, beserta rekan kerja yang lainnya.
Seluruh manajer yang terlibat pada meeting tersebut telah berlalu dari ruangan itu. Kini hanya Aretha dan David yang berada di sana.
Gadis itu tampak merapikan beberapa berkas yang ada di atas meja, lalu mematikan laptopnya, setelah ia menyimpan beberapa file yang berisi resume hasil meeting tersebut.
"Segera selesaikan tugasmu, lalu temani saya makan siang!" tegas David yang kala itu tengah berdiri di samping Aretha sembari memerhatikan gadis itu yang terlihat masih sibuk.
"Hh?" Gadis itu sedikit terkesiap, lalu mendongak, menatap pria itu sejenak. Secepat kilat ia menganggukkan kepala, tanda menyetujui perintah sang atasan.
Sebenarnya, Aretha sangat malas menerima ajakan David. Namun, percuma juga ia menolak karena David tidak akan mempedulikan ia bersedia atau tidak. Tidak ada pilihan lain, selain mengiyakan perintah sang atasan, karena hanya itulah satu-satunya jawaban yang bisa diterima oleh pria itu.
David keluar meninggalkan ruangan meeting, sementara Aretha masih sibuk dengan kegiatan merapikan beberapa berkas.
Selang beberapa menit, gadis itu keluar dari ruangan meeting, setelah ia berhasil menyelesaikan tugasnya.
Aretha menyimpan berkas-berkas itu ke dalam lemari arsip, berisi berkas-berkas penting. Lemari itu terletak tepat di belakang meja kerja gadis itu. Ia mendaratkan tubuhnya pada sebuah kursi putar yang menjadi pasangan meja kerjanya.
Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi tersebut, sedikit meregangkan otot-otot pada tubuhnya yang sempat menegang, lalu ia memejamkan matanya sejenak. Namun, belum sempat ia membuka matanya kembali, tiba-tiba suara bariton mengaketkannya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
Aretha terlonjak, tatkala suara sang atasan terngiang di telinganya. Gadis itu segera menyempurnakan kembali posisi duduknya, lalu menatap pria yang kala itu tengah berdiri di hadapannya. Pria itu tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan.
"Su-sudah, Pak!" jawab Aretha gugup.
"Ikut saya!" titah David seraya berlalu dari tempat itu.
Aretha segera beranjak dari tempat duduknya, lalu mengekori pria itu hingg ke tempat parkir, dimana mobil mewahnya berada di sana.
Aretha segera masuk ke dalam mobil itu, sesuai yang diperintahkan oleh David. Entah pria itu akan membawanya kemana kala itu.
Lima belas menit di dalam mobil. Melewati jalanan yang tidak begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan, siang itu. Tak ada yang mereka bahas.
David fokus dengan kegiatan menyetir, sementara Aretha terlihat sedikit melamun sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil.
Ya, sepertinya hari itu Aretha sama sekali tidak memliki semangat untuk mengerjakan segala hal. Ada sesuatu yang tengah mengusik hati dan pikirannya saat itu.
"Kamu mau makan dimana?" tanya David seraya menoleh ke samping sejenak, lalu mengalihkan kembali pandangannya ke depan. Namun, Aretha tak bergeming seolah tak mendengar perkataan pria itu.
David kembali memerhatikan gadis itu sejenak. Ia bukanlah pria bodoh yang tidak bisa membaca raut wajah seseorang. Meski pria itu tidak mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh gadis di sampingnya, tetapi ia bisa menebak dengan cepat bahwa memang ada yang tengah mengganggu pikiran gadis itu.
Ada apa dengan gadis ini? Kenapa hari ini dia seperti tidak bersemangat? Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan?
"Kamu mau makan dimana?" David tampak mengulangi pertanyaannya dengan menaikan sedikit volume suaranya, sontak membuat gadis itu seketika terlonjak.
Aretha menoleh ke arah David. "Iya, kenapa, Pak?" tanyanya.
David yang kala itu masih fokus dengan kegiatan menyetir mobil seketika menghela napas pendek. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya.
"Maksud Bapak?" tanya gadis itu seraya mengernyitkan dahi.
"Ada yang sedang mengganggu pikiranmu, benar begitu?" tanya David tanpa menoleh ke arah gadis itu.
"Oh ... Ti-tidak kok, Pak," jawab Aretha menyangkal.
David menyunggingkan senyumnya seolah tidak percaya. "Kamu bukanlah orang yang pandai berbohong," celetuk pria itu. Tentu saja ia tahu karena melihat ekspresi gadis itu yang seolah tengah menutupi sesuatu.
"Tidak ada, Pak." Aretha menundukkan kepala. Ia tampak memainkan kedua jari telunjuknya, terlihat sangat gugup. "Maaf kalau kerja saya hari ini kurang maksimal, konsentrasi saya sedang tidak baik," imbuhnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya David igin tahu.
Gadis itu terdiam sejenak. Ia tampak menerawang beberapa hal yang tengah mengganggu pikirannya saat itu.
"Tolong jangan sampai David tahu tentang hal ini!" Seketika kalimat terakhir yang diucapkan Richard tadi malam tampak menghantui pikirannya.
Selama dua tahun ia mencoba menata hati. Berusaha keras untuk melupakan pria itu. Namun, seketika semua itu seolah hanya mimpi buruk baginya, tatkala ia bertemu dan bisa menatap kembali pria itu seperti sebelumnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dugaan David memang benar. Namun, rasanya ia tidak perlu menceritakan tentang apa yang telah mengganggu pikirannya kepada pria itu. Itu adalah masalah pribadinya, jadi sama sekali bukan urusan David.
"Tolong jangan kaitkan masalah pribadimu dengan pekerjaan!" tegas pria itu.
Aretha kembali mendongakkan kepala, lalu menoleh ke arah David. "Maaf, Pak, tapi memang benar tidak ada," lirihnya meyakinkan.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau bercerita," David terlihat masih tidak percaya dengan ucapan gadis itu. Namun, ia tidak begitu peduli karena ia bukanlah tipikal orang yang selalu ingin tahu akan urusan orang lain.
Aretha hanya mencoba tersenyum menanggapinya seolah ingin menunjukkan bahwa memang benar tidak ada apa-apa pada dirinya. "Oh ya! kita mau kemana?" tanya gadis itu kemudian seolah ingin mengalihkan pembicaraan.
Namun, David segera menghentikan mobilnya, sebelum ia menjawab pertanyaan gadis itu. Gadis itu segera dapat memahami apa yang menjadi pertanyaannya, setelah ia menyadari bahwa David menghentikan mobilnya pada sebuah halaman restoran.
Ya, sudah dapat dipastikan bahwa pria itu akan mengajaknya makan siang di sana, karena sebelumnya David telah meminta langsung kepadanya agar ia dapat menemani pria itu makan siang.
Akan tetapi, kenapa makan siangnya harus di tempat yang cukup jauh dari kantor, padahal tempat yang dekat masih banyak? Terlebih gadis itu juga mengetahui, bahwa siang itu tidak ada jadwal David bertemu dengan klien di luar kantor. Namun, entahlah. Gadis itu hanya bisa menurutinya.
Mereka berdua tampak turun dari mobil mewah berwarna silver itu, kemudian beranjak menuju pintu masuk restoran tersebut. Namun, belum genap lima langkah, pria itu membuat Aretha seketika menghentikan langkahnya.
Gadis itu tampak terlonjak, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pria itu seraya membelalakkan matanya.
__________________
Hai, Readers ...🤗🤗
Masih setia menunggu? Silakan dibaca ya ... lanjutan ceritanya. Semoga kalian tetap suka dengan alur cerita novel pertamaku. 😊
Oh ya! Tolong jangan tanya apa jawaban Aretha atas pertanyaan Richard pada chapter sebelumnya, karena author pun tidak tahu jawabannya apa.😂 Jika penasaran ikuti terus ceritanya sampai selesai ...!🤣🤣🙏
Thank you.
Happy Reading!