
Siang itu, tepat pada jam istirahat makan siang. Aretha tampak tengah berada di kantin yang terletak di lantai 1, dengan ditemani oleh Diandra, sahabatnya.
Hari itu, David tampak sibuk bekerja. Seharian pria itu menghabiskan waktu di ruangannya. Bahkan, hingga melewatkan jam makan siang.
Kesibukan pria itu membuat Aretha menjadi memiliki kesempatan untuk mengajak Diandra makan siang bersama, setelah beberapa kali rencana mereka gagal hanya karena ulah sang atasan.
"Akhirnya ... setelah ratusan purnama berlalu, kita bisa juga makan siang bareng, Re," celoteh Diandra di tengah-tengah kegiatan mereka.
Aretha mendecak. "Lebay!" cetusnya.
Gadis itu mulai menyeruput kembali es teh manis yang tinggal setengah gelas, lalu menopang dagu dengan sebelah tangannya.
"Lah, emang begitu, kok," ucap Diandra tak mau kalah.
"It will be over. Trust me!" lirih Aretha dengan tatapan kosong yang ia lontarkan ke sembarang arah.
"Maksud lo?" tanya Diandra yang tidak memahami maksud dari ucapan Aretha.
"Hh?" Aretha sedikit terkesiap. "Kenapa ... kenapa?" tanyanya gugup sembari membenarkan posisi duduknya. Ia duduk tegak menatap sahabat yang sedari tadi memerhatikannya.
"Lo ngelamun, Re?" tanya Diandra heran dengan tingkah Aretha yang tampak tidak fokus dengan obrola mereka.
"Gue?" Aretha tampak menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Lo pikir gue lagi ngomong sama siapa?" Diandra tampak melipat kedua tangannya di atas dada, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sembari menatap sahabatnya, gadis itu tampak memasang eskpresi kesal.
"Yaelaaah ... ambekan banget sih, lo!" sindir Aretha, setelah menangkap ekspresi wajah Diandra yang dirasa tidak cukup baik.
"Lo ngeselin,sih!" gerutu Diandra seraya mengerucutkan bibirnya. "Lagi mikirin apa sih, Re?" tanyanya penasaran.
Aretha terdiam sejenak. "Udahlah ... gak perlu dibahas, gak penting!" ucapnya.
Seketika gadis itu teringat kembali akan perlakuan David terhadapnya. Seperti yang diucapkan Diandra. Meski sahabatnya terkesan berlebihan, tetapi memang begitulah keadaannya. Mereka hampir tidak bisa menghabiskan waktu bersama, setelah kemunculan David di perusahaan itu.
Setelah menjadi sekretaris David, Aretha memang selalu mengekori pria itu kemanapun ia pergi. Sekali pun sudah jam istirahat yang seharusnya membebaskan gadis itu untuk mengerjakan hal yang ia inginkan. Namun, nyatanya tidak seperti itu.
Gadis itu harus selalu mengikuti perintah sang atasan, meski di luar jam kerja. Benar kata orang. Nasib menjadi karyawan itu pahit. Oh, Tidak! Bahkan, dia hanyalah mahasiswa magang yang mungkin nasibnya bisa jauh lebih buruk dari seorang karyawan tetap.
Kerja berat sudah pasti. Salah sedikit dicaci maki. Tidak hati-hati bisa kena sanksi. Loyalitas harga mati. Tidak loyal, siap untuk dimutasi. Mungkin itu cukup mendeskripsikan nasib daripada seorang karyawan. Terlebih lagi, mahasiswa magang seperti gadis itu.
Sekeras apapun gadis itu merubah hukum pasal satu yang menyatakan bahwa atasan selalu benar. Namun, tetap saja ia tidak akan bisa merubah hukum itu karena sampai kapanpun atasan tidak akan pernah salah. Jika suatu saat atasan melakukan kesalahan, maka balik lagi pasal tersebut.
Sebagaimana telah menjadi hak paten yang sudah tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun itu.
Ya, akan ada masa dimana burung itu lepas dari sangkarnya. Pun denganku yang tidak akan selamanya berada dalam kungkungan pak David hingga aku dapat kembali terbang dengan bebas, menjadi mahasiswa seperti sebelumnya, setelah semua tugasku selesai. Cepat atau lambat!
"Re!" pekik Diandra yang sontak membuat Aretha seketika terlonjak.
"Apa sih, Ra?" tanya Aretha seraya menatap gadis di depannya.
"Boleh ikut gabung di sini?"
"Boleh, Kak!" jawab Diandra girang seraya menganggukkan kepala berulang kali.
"Dengan senang hati, Kak," timpal Aretha.
Rangga pun mendaratkan tubuhnya di kursi kosong yang terletak antara Aretha dan Diandra.
"Maaf, aku permisi sebentar ya, Kak. Mau ke toilet," pamit Aretha seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Silakan, Re," jawab Rangga.
Aretha berjalan menuju toilet yang tempatnya tidak terlalu jauh. Toilet itu tampak sepi, tak ada satu pun penghuni di dalamnya. Gadis itu segera memasuki salah satu bilik yang berada di sana.
Setelah kegiatan di dalam kamar mandi selesai, gadis itu berniat untuk segera keluar dari tempat itu. Ia tampak merapikan kembali pakaiannya, sebelum membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Eh, kamu tahu gak? Itu anak magang yang sekarang menjadi sekretarisnya si bos, kayaknya dia sengaja deh mau deketin pak Dave,"
Seketika suara seorang perempuan membuat Aretha yang baru saja akan keluar dari bilik kamar mandi tiba-tiba mengurungkan niatnya. Gadis itu tampak sedikit terlonjak dengan topik pembicaraan perempuan itu. Tentu saja karena ia menyadari bahwa orang yang dimaksud adalah dirinya.
Aretha mencoba mendekati pintu kamar mandi, lalu menempelkan telinganya di sana, mencoba memperjelas pendengarannya.
"Maksud kamu si Rere?" tanya seseorang yang diduga teman dari perempuan itu.
"Siapa lagi? Gila ya, bocah ingusan mainannya bos besar, hebat banget dia!" celetuk perempuan itu.
Obrolan kedua perempuan itu semakin membuat Aretha penasaran, hingga ia berpikir untuk membuka sedikit pintu kamar mandi itu agar ia dapat melihat siapa sebenarnya orang yang mencoba membuat gosip murahan tentang dirinya.
Tampak dua orang perempuan yang tidak asing bagi Aretha tengah berdiri di depan wastafel yang terdapat sebuah cermin besar di atasnya.
Ya, mereka adalah Dita dan Rena. Karyawan yang bergerak di bagian marketing. Meski tidak mengenal baik, tapi Aretha tahu siapa Dita. Beberapa kali ia memergoki perempuan berusia sekitar dua puluh tujuh itu tengah bergosip ria kepada rekan lainnya dan sekarang dirinyalah yang menjadi sasaran perempuan julid itu.
"Sial! Berani sekali mereka bergibah tentangku. Di toilet lagi, kayak gak ada tempat lain saja!" Aretha mengumpat dalam hati.
"Masa sih dia begitu?" tanya Rena seolah tidak percaya.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka sering berangkat dan pulang bareng, terus aku sempat memergoki mereka ketika makan siang di luar, beberapa kali. Apa coba kalau bukan karena dia yang mencoba mendekati pak Dave?" jelas perempuan itu yang sontak membuat Aretha seketika naik pitam.
"Iya juga, sih!" balas temannya sembari mencuci tangannya.
"Aku yakin pak Dave kemakan sama rayuan dia. Kalau tidak, mana mungkin pak Dave mau dengan cewek model begitu? Apalagi hingga harus mengantar jemputnya, kayak sudah jadi sopir pribadi saja! Dasar cewek penjilat, gak bisa lihat yang tajir dikit!" Lebih lanjut Dita mengumpat.
"Damn it! Gak nyangka mereka menilaiku serendah itu. Apa salahku ya Tuhan?" batin Aretha saat itu.
Sungguh Aretha sudah tidak tahan dengan kata-kata kotor yang keluar dari mulut Dita. Gadis itu tampak semakin geram dibuatnya. Ingin sekali ia mencabik-cabik mulut perempuan itu. Namun, itu artinya ia sama saja dengan mereka. Gadis itu pun segera menetralkan kembali perasaannya, lalu mencoba membuka pintu itu dengan perasaan tenang.
Ceklek!
____________
HAPPY READING!