
"Kenapa lo menutupi ini dari gue, Ren? Sahabat macam apa lo?" tanya David sekali lagi.
Pria itu tampak begitu geram. Setelah lebih dari dua tahun mengenal Richard, kenapa baru hari itu ia mengetahui kenyataan tentang sahabatnya itu. Ia sungguh menyesal dengan apa yang baru saja ia dengar.
Andai saja ia mengetahuinya dari awal, mungkin ia jauh akan lebih memikirkan perasaan sahabatnya daripada perasaan dirinya sendiri. Sekalipun ia harus mengorbakan orang yang sangat ia sayangi, ia rela.
"Sorry, Dave, Richard yang meminta gue menyembunyikan ini dari siapa pun, termasuk elo dan keluarganya," terang Rendy.
David terdiam sejenak. " Jadi, maksud lo ...," kata-katanya ia gantungkan beberapa detik.
"Iya. Papa dan adik kandungnya pun baru mengetahuinya sebulan yang lalu," sela Rendy.
Ya, Felix dan Renata memang baru mengetahuinya sebulan yang lalu. Waktu itu ginjal Richard memburuk disaat ia tengah bersama kuarganya, dan Richard benar-benar sudah tidak bisa menahan itu seperti sebelumnya.
Alhasil, Felix dan Renata segera melarikan Richard ke rumah sakit dan di sanalah mereka mengetahui bahwa Richard mengidap penyakit gagal ginjal stadium akhir. Betapa terkejutnya mereka mendengar kabar itu.
Setelah mereka kehilangan seorang wanita yang tak lain adalah mamanya Richard, karena mengidap penyakit yang sama, apakah ia juga harus kehilangan Richard disaat mereka benar-benar membutuhkan pria itu untuk mejaganya. Selama ini, Richardlah yang selalu menjadi penyemangat hidup Felix dan Renata.
Bagi Felix, Richard adalah putra yang begitu kuat, ia mampu melakukan apapun dibandingkan dirinya. Bahkan, ia juga bisa berperan sebagai ibu dari adik kandungnya.
Sementara bagi Renata, Richard adalah kakak yang paling sempurna. Tak ada yang bisa menandinginya. Mau senang ataupun sedih, dialah yang selalu ada untuknya. Lantas, setelah seperti itu, apakah dia harus rela kehilangannya? Tidak! Itu tidak mudah baginya.
Rendy mulai menceritakan semuanya kepada David. Menurutnya, Richard memang mengidap penyakit yang sama seperti yang diderita mamanya, setelah tiga bulan ia kuliah di London, tepatnya ketika ia cukup terpuruk karena hubungannya dengan Aretha yang belum sempat ia perbaiki, sebelum pergi ke London.
Dari luar, Richard memang terlihat sehat, seperti tidak memiliki beban apapun. Namun, kenyataannya, di belakang orang-orang, ia begitu menderita, dan cuma Rendy yang tahu akan hal itu. Itupun karena Rendy adalah sahabat yang tinggal bersamanya di apartemen yang sama.
Ya, kandasnya hubungan dengan Aretha benar-benar membuatnya insecure, terlebih ketika mereka lose contact, tidak bisa menghubungi satu sama lain. Karena itulah ia mulai mengabaikan kesehatannya sendiri, meski Rendy sudah mencoba memberinya semangat, hingga kahirnya hal buruk terjadi kepadanya.
Waktu itu, penyakitnya masih stadium rendah, sehingga Richard masih bisa kuat menahan apa yang tengah dideritanya. Kendatipun begitu, ia tetap menjalani pengobatan rutin di sana, sesuai yang disarankan Rendy, meski semakin lama, kondisinya malah semakin memburuk.
Seiring berjalannya waktu, Rendy tetap memberikan semangat kepada Richard, sehingga membuat Richard bangkit kembali, dan ia percaya bahwa Aretha akan kembali kepadanya. Dan gadis itulah yang selama ini menjadi alasan ia untuk tetap hidup.
Sampai pada suatu ketika, ia membuat sebuah buku yang menceritakan tentang perjalanan hidupnya dengan Aretha. Ia berharap bisa memberikan buku itu kepada gadis yang sangat ia cintai, sepulang dari London. Meski ia belum menyelesaikan buku itu, ia tetap berharap bisa membuatnya dua musim, dengan akhir cerita yang bahagia.
Namun, sepulang dari London, kenyataannya jauh berbeda. Richard sangat terkejut ketika dipertemukan dengan Aretha secara tidak disengaja. Ada rasa bahagia, sekaligus kecewa karena saat itu ia mengetahui bahwa Aretha akan menjadi calon tunangan David, sahabatnya sendiri, yang ia kenal selama di London.
Hatinya sakit. Ia seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Rasanya tidak mungkin merebut gadis impiannya begitu saja dari sahabatnya sendiri. Ia bukan orang sejahat itu. Sampai akhirnya, ia pun menyembunyikan itu semua dari David. Ia meminta Aretha dan Rendy untuk ikut menutupinya.
Namun, tak berakhir di situ. Tidak bisa dipungkiri bahwa Richard juga masih berharap Aretha bisa kembali. Ia pun memutuskan untuk bertanya langsung kepada Aretha. Ia sangat bahagia, ketika mendengar jawaban dari Aretha bahwa mereka hanyalah dijodohkan dan Aretha belum memiliki perasaan apapun terhadap David. Ia pun mulai menyusun rencana agar Aretha bisa kembali.
Beberapa kali ia berbicara dengan Aretha dari hati ke hati. Ia sangat bahagia. Namun, sayangnya tidak berlangsung lama. Kebahagiaan itu berubah menjadi kecewa, ketika ia melihat bagaimana cara Aretha memandang David. Ia tahu betul bahwa sebenarnya Aretha telah memiliki perasaan terhadap sahabatnya saat itu.
Ya, mungkin benar apa kata pepatah, hadirnya cinta sebab sering bersama. Mungkin itu yang dirasakan oleh Aretha. Awal mula mungkin benar ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap David. Namun, seiring berjalannya waktu, karena mereka sering melakukan aktivitas bersama, akhirnya tumbuh rasa cinta dan takut kehilangan satu sama lain. Namun, nampaknya gadis itu tidak langsung menyadarinya begitu saja.
Sejak saat itu, Richard mencoba menghindari Aretha, meski itu sangat menyakitkan baginya. Ia rela mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan Aretha. Dan, sejak saat itu pula kondisinya kembali drop. Setelah dilarikan ke rumah sakit, ternyata kondisinya semakin memburuk, penyakitnya sudah sampai tahap akhir.
"Upaya apa yang bisa menyembuhkan penyakitnya?" tanya David seraya menatap penuh tanya.
"Selama ini Richard telah menjalani cuci darah beberapa kali, tetapi nyatanya itu memang tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Hanya ada satu cara ...," lirih Richard.
***
Tak jauh dari mereka. Di waktu yang sama, Aretha juga masih tengah berbincang dengan Felix.
Gadis itu masih belum memahami akan perkataan Felix yang memintanya untuk menolong Richard. Aretha tertegun beberapa saat. Ia tidak bisa begitu saja menjawab 'Iya', sebelum mengetahui kenyataannya.
Tak cuma Felix, Renata pun ikut menangisi kondisi Richard saat itu. Felix tampak merengkuh putrinya, hingga Renata menangis di pelukannya.
Sementara Aretha, beberapa menit ia hanya bisa menatap sendu keduanya. Tak banyak yang bisa ia perbuat. Ia masih berpikir keras tentang maksud ucapan dari Felix.
"Om, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kak Richard?" tanyanya sedikit ragu seraya menatap Felix penuh tanya.
Felix melepaskan pelukannya, lalu menatap Aretha kembali.
"Richard ... Richard mengidap penyakit gagal ginjal stadium akhir. Selama ini hanya kamulah yang menjadi penyemangat untuk hidupnya," jelas Felix dengan masih tidak bisa menahan tangisnya. Ya, ia mengetahui itu semua dari Rendy. laki-laki oaruh baya itu begitu terluka dengan derita yang dialami oleh putra sulungnya.
Seketika Aretha membeliak, ia tampak menutup mulutnya yang sesaat terbuka lebar karena mendapat keterkejutan yang luar biasa. Bagaimana bisa pria itu terlihat begitu sehat disaat sebenarnya ia memiliki penyakit separah itu, pikirnya.
"Om tahu, ini salah om. Andai saja dulu om tidak membuat kalian ber—"
Belum selesai Felix menjelaskan kepada Aretha, tiba-tiba seorang dokter dan perawat tampak berlari menuju ruangan ICU, dimana Richard tengah berada di dalamnya.
Seketika perhatian mereka teralihkan, tak terkecuali David dan Rendy. Mereka segera menghampiri Aretha dan Felix yang berada di depan ruangan itu.
Perasaan cemas dan takut tampak mengganggu pikiran mereka. Mereka takut sesuatu buruk terjadi kepada Richard, sementara dokter masih menangani di dalam cukup lama. Renata semakin tenggelam dalam tangisannya. Aretha mencoba menenangkan dengan memeluknya.
Setelah beberapa lama menunggu, seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Keluarga Richard!" panggil dokter bernama Hadi, yang sudah biasa menangani Richard, sesuai rekomendasi dokternya sewaktu di London.
"Bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Felix dengan napas yang sedikit memburu.
"Kondisinya semakin memburuk," jawab dokter Hadi tanpa berbasa-basi. "Kita harus segera melakukan transplantasi ginjal. Hanya itu satu-satunya yang bisa kita lakukan," jelasnya yang sontak membuat Aretha reflect.
"Ambil ginjal saya, Dok!" ucap Aretha yakin seraya mendekati dokter itu.
"Tidak! Ambil ginjal saya saja!"
___________________
TETAP LIKE AND COMMENT YA READERS TERCINTAH😘😘
HAPPY READING!
TBC