Possessive Love

Possessive Love
Penyadapan



"By the way, lo bisa menyadap handphone?" tanya Rendy tiba-tiba dengan nada sedikit berbisik, sementara tubuh dan kepalanya ia condongkan sedikit, mengarah kepada Denis, meski dengan jarak yang tersisa beberapa jengkal.


Dari gelagatnya, sepertinya ada sesuatu yang tengah pria itu rencanakan yang entah itu apa. Entah siapa pula yang akan ia jadikan sebagai korban dari penyadapan itu.


"Tentu saja bisa," jawab Denis.


"Bisa dong gue minta bantuan?" tanya Rendy.


"Bisa saja," jawab Denis.


"Waaah parah lo, Ren! Siapa yang mau lo jadikan korban?" celetuk Richard.


"Diam lo!" ketus Rendy. "Gue cuma mau tahu apa yang Clara lakukan di belakang gue, dan ini bukan untuk kejahatan," akunya.


"Ide bagus! Gue juga mau kalau begitu," timpal David sedikit tergiur dengan rencana Rendy.


"Kenapa harus disadap gitu? Memangnya dia ada gerak-gerik mencurigakan sampai harus disadap segala?" protes Richard.


"Nah, justru itu, Bro. Akhir-akhir ini dia berubah jadi cuek sama gue," terang Rendy. "Wajar dong kalau gue curiga," lanjutnya.


"Itu artinya lo harus sadar diri, barangkali dia sudah jenuh sama lo," sindir Richard tidak serius.


"Sialan lo!" umpat Rendy kesal seraya melempar satu bantal sofa ke wajah Richard, sehingga membuat pria itu terkekeh senang karena berhasil menggoda sahabatnya.


"Caranya bagaimana?" tanya Rendy kepada Denis.


"Ya, saya harus pegang dulu handphone-nya, Mas," jawab Denis.


"Mampus!!" ledek Richard.


Rendy mendelik kesal ke arah Richard, tetapi ia tak berkomentar apapun.


"Apa tidak bisa pakai cara lain?" Rendy seolah tidak ingin menyerah.


Jika harus memberikan handphone Clara kepada Denis, tentu bukanlah hal yang mudah baginya. Boro-boro bisa begitu, memegangnya pun ia belum pernah.


"Tetap harus pegang dulu handphone-nya, Mas," jelas Denis.


"Tidak perlu menunggu yang tak pasti, yang sudah ada di depan mata saja, nih!" sela David di tengah-tengah perbincangan mereka seraya memberikan handphone Aretha kepada Denis.


Rendy hanya berdecak kesal. Sayang sekali ia tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan, padahal ia ingin sekali mengetahui kegiatan sang kekasih di belakangnya. Barangkali apa yang dikatakan Richard benar adanya, sehingga wanita itu telah menemukan tambatan hati yang lain. Tidak menutup kemungkinan, bukan?


Denis terdiam sejenak, seolah merasa ragu, sementara Richard tampak membelalakkan matanya menatap David. Baru saja ia akan membuka mulut untuk berkomentar, tetapi David telah lebih dulu membuatnya bungkam.


"Ini buat keamanan, biar gue tahu, ketika dia dalam bahaya!" ucap David seraya menatap sinis ke arah Richard, seolah ia tahu bahwa Richard tidak akan setuju.


Padahal sebenarnya bukan seperti itu. Jika itu bertujuan untuk keamanan, Richard tentu akan setuju, meski itu sifatnya privasi, tetapi kan David suaminya Aretha, jadi sudah sewajarnya jika ia mengkhawatirkan wanita itu. Sayang sekali David telah lebih dulu menghakimi Richard, sebelum ia tahu komentar dari pria itu.


"Baiklah, kalau memang itu demi keamanan, dan sepertinya untuk Mbak Aretha memang perlu dalam situasi seperti ini," ucap Denis seraya meraih benda pipih itu dari tangan David.


"Kalau untuk keamanan gue setuju, lo tidak perlu khawatir," ucap Richard. "Sebab, bukan cuma lo yang mengkhawatirkan dia, tetapi juga gue," candanya yang langsung mendapat tatapan tajam dari David.


Richard dan Rendy hanya terkekeh melihat ekspresi geram dari sahabatnya itu, sementara Denis yang tidak terlalu memahaminya hanya menggelengkan kepala sembari mengutak-atik ponsel milik Aretha.


Bagi yang sudah ahli seperti Denis, tidak memerlukan waktu yang cukup lama, ia telah berhasil melakukan apa yang David inginkan. Pria itu segera memberi petunjuk kepada David tentang penyadapan tersebut, tak lupa Denis juga memberikan pengaturan pada ponsel milik David agar bisa terhubung dengan ponsel istrinya tanpa sepengetahuan Aretha.


"Pak, apa mau saya bantu untuk pasang CCTV juga?" tanya Denis


"Tentu! Dengan senang hati, jika kamu tidak keberatan," jawab David.


Cukup lama sekali mereka bergelut dengan kegiatan mereka saat itu, hingga tak terasa langit sudah semakin gelap. Namun, mereka masih belum selesai dengan kegiatan mereka.


Pada akhirnya, Aretha mengajak ketiga tamunya itu untuk makan malam bersama di rumahnya. Ia sengaja meminta Ratih untuk memasak lebih banyak dari biasanya.


"Terima kasih lho, untuk jamuan makan malamnya, ini benar-benar nikmat sekali, rupanya istri Bapak pintar masak juga," puji Denis, setelah selesai makan malam.


"Terima kasih. Mas Denis terlalu berlebihan. Lagi pula ini bukan saya yang masak, tetapi bi Ratih," jawab Aretha.


***


Keesokan harinya, David telah kembali beraktivitas. Tidak dipungkiri ia masih merasa sangat khawatir meninggalkan istrinya di rumah, meski ada ratih dan satpam yang menjaganya. Namun, ia juga tidak bisa kalau harus terus-menerus meninggalkan pekerjaannya.


Ia berharap, dengan menyibukkan kembali dirinya, paling tidak ia bisa melupakan sejenak masalah yang tengah ia hadapi saat itu. Namun, ternyata dugaannya salah. Justru di kantor ia mendapati masalah yang cukup serius. Dan itu membuatnya semakin frustrasi.


David tampak berkacak pinggang di ruangannya, dengan amarah yang seakan telah berada di ubun-ubun. Entah mengapa masalah datangnya begitu bertubi-tubi. Satu masalah saja belum selesai, ia malah mendapat masalah baru di perusahaannya.


Masih dengan amarah yang membucah, David tampak memencet tombol pada telepon yang ada di ruangannya.


"Rangga, tolong minta sekretaris pak Hendra segera menghadap saya, SEKARANG JUGA!" tegasnya pada Rangga.


David segera mematikannya kembali, setelah Rangga bersedia untuk melakukan perintahnya.


Dalam waktu singkat, Diana yang merupakan seorang sekretaris dari Hendra, sebagai manajer keuangan di perusahaan itu tampak menghadap kepada David.


Wanita itu menatap takut wajah sang atasan. Seketika ia menundukkan kepalanya seolah tidak kuasa menatap balik tatapan mata elang yang begitu menusuk baginya. Sepertinya ia sudah mengetahui apa yang akan disampaikan atau bahkan dipertanyakan oleh David kepadanya.


"Silakan duduk!" titah David yang masih menatap tajam wanita di hadapannya.


Diana menurut. Ia mulai mendaratkan tubuhnya di kuris yang berada tepat di depan meja kerja pria itu.


"Terima kasih, Pak," lirih Diana dengan masih tidak berani menatap David.


"Bisa tolong anda jelaskan tentang laporan ini!" ketus David seraya sedikit melempar berkas laporan yang baru saja ia terima beberapa menit yang lalu.


"I-itu ... a-anu, Pak." Diana tampak gelapan seolah bingung harus menjawab apa.


"Anda tahu? Saya bisa memecat siapapun di sini, termasuk anda! Bahkan, atasan anda sekali pun, akan saya pecat, kalau terbukti melakukan kejahatan, apapun bentuknya!" tegas David memberi peringatan, sontak membuat wanita itu semakin bergetar ketakutan.


"Ma-maaf, Pak, saya hanya melaksanakan perintah dari pak Hendra, saya mohon jangan pecat saya," ucap Diana terbata-bata, dengan masih menekuk lehernya.


Sebagai seorang bawahan ia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh sang atasan, yang tak lain adalah Hendra. Bukahkah sebaik-baiknya bawahan adalah yang mengikuti perimtah atasannya? Namun, sejauh ini Ia sendiri tahu dan menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Lantas, apakah masih perlu David mengindahkan perbuatannya?


"Saya bisa saja mengabulkan permintaan anda, asalkan anda mau bekerjasama dengan saya," terang David.


"Saya bersedia melakukan apapun asalkan Bapak tidak memecat saya," jawab Diana seraya mendongak, seolah ingin meyakinkan sang atasan.


"Baiklah, lakukan apa yang saya inginkan, saya yakin anda tahu apa yang harus anda lakukan!" tegas David.


"Baik, Pak, saya paham," jawab Diana mengangguk.


Diana tampak segera meninggalkan ruangan itu, setelah urusan dengan sang direktur perusahaan telah selesai.


\=\=\=\=\=\=\=\=


HAPPY READING


TBC