Possessive Love

Possessive Love
Dinner 2



"Jadi, sejak kapan Papa dan Mama lebih membela orang lain daripada putranya sendiri?" tanya David, Setelah semua selesai memesan makanan dan minuman kepada pelayan di restoran tersebut.


Kala itu, David masih menatap gadis di depannya, lalu seketika ia mengalihkan perhatian kepada kedua orangtuanya. Sementara, Aretha tampak terlonjak. Ia mendongakkan kepala, kemudian menatap ke arah David yang kala itu telah mengalihkan pandangan ke arah lain.


Kris terkekeh. "Kamu ini! Papa sama mama 'kan cuma khawatir kalau kamu berbuat seenaknya kepada mahasiswa magang, terlebih lagi ... kepada nak Aretha yang tak lain adalah anak dari pak Anton dan bu Mila," jelas Kris.


"Iya, Nak. Baik-baiklah sama Nak Aretha!" timpal Maria. Namun, David tak menanggapi. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada gadis yang duduk di depannya.


"Apakah saya seperti itu, Nona Aretha?" tanya David.


"Heh?" Aretha terkesiap. "Ti-tidak, Pak," jawabnya gugup. Ia kembali menundukkan kepala saat mendapati tatapan David yang begitu menusuk.


"Papa sama Mama dengar sendiri, kan?" tanya David seolah meyakinkan.


"Saya percaya kepada Nak David. Sebagai atasan, dia tahu apa yang harus dia lakukan kepada karyawannya," ucap Anton menanggapi.


"Jangan percaya, Pi, musyrik!" celetuk Aretha, sontak membuat semua yang berada di meja itu tampak mengalihkan perhatian kepadanya.


Selain untuk mencairkan suasana agar tidak terlihat canggung, ucapan Aretha juga bertujuan untuk menyindir David yang tentu saja kenyataannya memang tidak seperti itu.


Di samping yang lain menanggapinya dengan tawa dan canda. Lain halnya dengan David yang tampak membelalakkan matanya, menatap gadis itu dengan penuh ancaman.


"Jadi benar kalau David tidak pernah berbuat yang aneh-aneh di kantor?" tanya Kris kepada Aretha seolah ingin meyakinkan kembali.


"Tidak, Pak, hanya saja ...." Aretha terdiam seolah ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Kenapa?" tanya Kris seraya mengernyitkan dahi. Sementara, Maria dan kedua orangtua gadis itu tampak memperhatikan seolah ikut penasaran.


"Hanya saja Nona Aretha ini terlalu rajin kalau di kantor, Pa." Secepat kilat David menjawab pertanyaan Kris. "Bukan begitu, Nona Aretha?" tanyanya seraya menatap tajam wajah gadis itu.


Aretha tahu betul maksud dari tatapan itu. Dengan terpaksa, ia hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Om dan Tante tahu? Putri Om dan Tante itu tipikal pekerja keras," terang David.


"Oh ya?" tanya Anton seolah tidak percaya.


"Betul, Om. Bahkan, jam istirahat saja selalu ia gunakan untuk bekerja. Jujur saja, saya tidak suka jika putri Om dan Tante terlalu berlebihan hingga ia melewatkan waktu makannya hanya karena pekerjaan, tetapi dia selalu memaksakan kehendak, meski saya sudah mengingatkannya," terang David, sontak membuat Aretha mati kutu.


Dasar bos kagak ada akhlak! Jelas-jelas dia yang memaksaku seperti itu, batin Aretha saat itu.


"Betul seperti itu, Nak?" tanya Carmila sedikit memasang wajah cemasnya. Aretha tampak menoleh ke arah ibunya.


"Mm ... it-itu, Mi, aku cuma bantuin Pak David, kok, soalnya beliau sangat sibuk dengan pekerjaannya," jawab Aretha seraya menatap balik wajah David dengan tajam seolah ingin menunjukkan ketidaksukaan dengan cara pria itu.


"Wah ... ternyata kalian sama-sama pekerja keras rupanya!" seru Maria.


"Papa senang kalian bisa bekerja sama dengan baik, tetapi ingat! Kalian harus tetap menjaga kesehatan!" timpal Kris mengingatkan.


"Iya, Nak. Apalagi lambung kamu sering bermasalah," ucap Carmila menambahkan. "Makanlah dengan teratur!" imbuhnya.


"Iya, Mi," jawab Aretha singkat. Sementara, David tampak memperhatikan.


Pria itu cukup terkejut saat mengetahui bahwa Aretha memiliki masalah pada lambungnya. Seketika ia merasa bersalah karena sering mengganggu waktu makan gadis itu.


Belum sempat mereka melanjutkan perbincangannya, tiba-tiba dua orang pelayan menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi makanan yang telah dipesan.


Beberapa hidangan telah siap di meja itu dengan jenis yang berbeda-beda. Ada nicoise salad, beef bourguignon, ratatouille, foie gras dan dua mangkuk soupe a l'oignon.


Tak tertinggal enam gelas minuman dan beberapa menu dessert seperti scones, mango panna cutta dan creme brulee yang tampak menemani dinner antara kedua keluarga itu.


Nampaknya Aretha dan David memiliki kesamaan. Entah karena kebetulan atau karena memang mereka sama-sama vegetarian, yang jelas, kala itu mereka lebih memilih makanan yang berbahan dasar sayuran, meski jenis makannya berbeda.


Aretha lebih memilih nicoise salad. Sementara, David menjatuhkan pilihan pada ratatouille sebagai menu makanan malam itu.


Mereka segera melakukan kegiatan makan malam mereka dengan sangat memperhatikan table manner. Tak ada yang mereka bahas di tengah-tengah kegiatan mereka.


Mereka terlihat sangat fokus dengan kegiatan mereka. Namun, lain halnya dengan David yang lebih fokus dengan memperhatikan kegiatan gadis di depannya ketimbang memperhatikan makanannya.


Seketika Aretha menghentikan kegiatannya tatkala ia menyadari bahwa David tengah memperhatikannya. Ia menatap David dengan tajam, kemudian memalingkan wajahnya dengan sedikit kasar.


David hanya tersenyum melihat tingkah Aretha, lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.


***


Setelah kegiatan makan mereka selesai, mereka kembali membahas berbagai hal.


"Nak David, Om harap kamu bisa membimbing putri Om di kantor agar dia bisa mendapatkan nilai yang memuaskan di kampusnya," ucap Anton memulai pembicaraan.


David tersenyum malu. "Pengalaman saya masih belum banyak, Om. Saya bantu semampu saya," balas David merendah.


"Nak David suka merendah. Om yakin kinerja kamu sama luar biasanya dengan papa kamu, bukan begitu, Pak Kris?" puji Anton seraya mengalihkan pandangan ke arah Kris.


"Ah, Pak Anton bisa saja," sangkal Kris. "Tidak jauh lebih baik daripada Pak Anton," imbuhnya memuji balik Anton.


"Jeng, saya kok jadi kepikiran sesuatu ya," ucap Maria kepada Carmila, sontak membuat semua yang berada di meja itu tampak menoleh ke arahnya.


"Apa itu, Jeng?" tanya Carmila penasaran.


Maria terdiam sejenak. Dengan sedikit ragu ia berkata, "Mm ... bagaimana kalau kita jodohkan anak-anak kita, Jeng?"


"Uhuk ... uhuk ...." Seketika ucapan Maria membuat Aretha yang kala itu tengah minum tampak terbatuk-batuk. Sementara, David terlihat santai. Ia menatap Aretha sejenak, lalu menyodorkan tisu kepadanya.


"Hati-hati," ucapnya seraya tersenyum jahil.


Aretha terdiam sejenak, menatap David, lalu meraih tisu itu. "Terima kasih,"


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Carmila.


"Enggak, Mi," jawab Aretha seraya mengelap bibirnya, tanpa menoleh ke arah Carmila.


"Wah ... ide bagus tuh, Ma!" Tiba-tiba Kris ikut menimpali.


Apa-apaan ini? Memangnya aku tidak laku apa sampai harus dijodohkan segala? Batin Aretha mulai menggerutu.


"Kalau kami sih setuju saja, tetapi keputusannya saya serahkan kembali kepada mereka berdua," ucap Anton menambahkan.


"Iya, saya juga setuju, paling tidak untuk mempererat silaturahmi ya, Pi," timpal Carmila.


"Kalau kalian bagaimana, setuju ya?" tanya Maria seraya menoleh ke arah David dan Aretha secara bergantian. Perempuan paruh baya itu seolah sedikit memaksa agar mereka menyetujui rencanya.


Gadis itu sedikit tertegun. Ia bingung harus menjawab apa. Dengan sedikit ragu ia berkata, "Ma-maaf, Tante—"


"Karena aku anak yang baik, jadi aku nurut saja apa kata Mama," ucap David memotong pembicaraan Aretha, sontak membuat gadis itu membulatkan matanya, menatap tajam pria itu. Lagi-lagi David melirik gadis itu dengan senyuman jahilnya.


Pria itu tampak berkata santai, tanpa beban. Rasanya ia tidak sedikit pun memikirkan akan perasaan Aretha. Bahkan, ia seperti tidak peduli gadis itu akan setuju atau tidak dengan perjodohan itu. Terlebih lagi dengan sikapnya yang seolah menyetujui.


"Syukurlah, Mama senang sekali, Nak," ucap Maria seraya tersenyum simpul.


David membalas senyum itu. "Apa sih yang enggak buat Mama?" ucapnya.


"Makasih, Sayang," balas Maria.


"Jadi, bagaimana Pak Anton dan Bu Mila, apa kalian juga setuju?" tanya Kris memastikan.


Anton dan Carmila tampak saling menatap sejenak, lalu melebarkan senyumnya. "Tentu saja kami setuju, Pak," ucap Anton seraya memandang rekan bisnisnya itu.


"Tapi, Pi!"


_________________


TO BE CONTINUED ....


HAPPY READING!