
"Pengantin prianya sudah datang, kamu sudah siap, kan?" tanyanya.
Aretha sedikit tertegun, ketika mendengar kabar itu. Jantungnya semakin berdebar kencang. Entah bagaimana mendeskripsikan perasaanya saat itu, yang jelas Aretha begitu gugup. Seketika keringat dingin pun mulai terasa di setiap pori-pori tubuhnya.
Ah, benarkah hari ini aku akan menikah dengan mas David?
Rasa tidak percaya kembali melintas di kepalanya. Terdengar konyol memang. Setelah ia berulang kali membahas soal pernikahannya dengan David, dan melakukan serangkaian aktivitas yang berkaitan dengan pernikahannya. Namun, itu masih saja terasa mimpi baginya.
"Sayang, sudah siap, kan?" tanya sang mami sekali lagi seraya memegang pundak putri semata wayangnya itu.
"Hn?" Aretha tampak terkesiap. "Si-siap, Mi," jawabnya terbata-bata.
"Baiklah, ayo segera keluar!" ajak Carmila. "Kalian tolong bantu dampingi Rere ya!" titahnya kepada ketiga sahabat Aretha yang langsung mendapat persetujuan dari ketiganya.
Dengan sangat perlahan, Aretha bangkit dari tempat duduknya. Ia diapit oleh Diandra dan Deasy, sementara Tania dan sang mami tampak mengekorinya di belakang.
Dengan perlahan, tetapi pasti, Aretha melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang masih terbuka lebar saat itu. Namun, seketika ia menghentikan langkahnya, tepat di ambang pintu kamar itu, sehingga membuat Carmila dan ketiga sahabatnya merasa heran.
"Kenapa, Re?" tanya Diandra, menatap penuh tanya.
"Ada apa, Sayang?" Carmila yang berada tepat di belakangnya tampak ikut penasaran.
Aretha sedikit menoleh ke belakang seraya menatap sang mami.
"Mi, aku deg-degan," keluhnya yang sontak membuat Carmila tertawa. Pun dengan ketiga sahabatnya itu.
"Tarik napas, Re, tarik napas!" canda Tania. Seketika Aretha mencebikkan bibirnya.
"Tenang, Sayang ... tidak perlu gugup yang berlebihan!" timpal Carmila.
"Tapi, Miβ"
"Sudah! Kamu percaya sama mami, ini hanya sementara. Beberapa saat kemudian, akan hilang dengan sendirinya," jelas Carmila.
Aretha sedikit memberengutkan wajahnya, lalu menggigit bibirnya sejenak. Fokusnya kembali teralihkan ke depan sembari menatap nanar, tanpa objek yang pasti.
Mau menikah kok begini banget ya rasanya? Kenapa perasaanku gak enak? Ada apa ini? Apa memang benar seperti ini rasanya?
Serangkaian pertanyaan tampak memenuhi kepala gadis itu. Hal yang wajar memang. Setiap calon pengantin juga akan merasa gugup dan deg-degan, seperti yang dirasakan Aretha. Namun, apakah masih bisa dibilang wajar, ketika rasa itu berubah menjadi rasa yang membuat hatinya tidak nyaman, seolah akan ada sesuatu yang terjadi?
Ya, bahkan itu bukan hanya sekadar perasaan gugup biasa. Ia merasa bahwa tengah mendapat firasat buruk yang entah itu apa, Aretha pun tak tahu. Selain jantungnya yang semakin berdebar kencang, seketika ekspresinya pun berubah pucat pasi, seolah merasa takut dan khawatir.
Setelah beberapa saat Aretha terdiam, sebisa mungkin ia menepis pikirannya itu. Gadis itu kembali menetralkan perasaanya, mencoba lebih tenang dengan berusaha melupakan apa yang tengah ia pikirkan saat itu, meski sebenarnya itu sangat sulit baginya.
Ah, mungkin hanya perasaanku saja.
"Siap, Re?" tanya Deasy memastikan. Seketika Aretha tersadar dari lamunannya, lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
"Tarik napas dulu, Re! Biar agak tenangan," titah Diandra, Aretha pun menurut dan mulai melakukan saran dari sahabatnya itu.
"Tarik napas ... buang! Tarik napas ... buang!" ucap Diandra seraya memberi aba-aba, terlihat Aretha mengikutinya berulang kali.
"Tarβ"
"Ra! Kapan kelarnya?" pekik Deasy yang sedari tadi memperhatikan Diandra dan Aretha. Kapan selesainya kalau Aretha terus-menerus diminta tarik napas, pikirnya.
Diandra sedikit terlonjak, sadar dengan apa yang tengah dilakukannya. "Oh iya, lupa, hehe ...," ucapnya menyeringai.
Mereka kembali melangkahkan kakinya menuju tangga yang menjadi penghubung antara lantai atas dengan lantai dasar. Mereka berjalan dengan begitu santai hingga tiba di depan tangga itu.
Ya, acara akad nikah memang akan dilaksanakan di taman belakang kediaman Grissham, sehingga ruangan itu terlihat begitu sepi, tanpa dekorasi apapun.
Seketika terbit senyuman di wajah Anton, tatkala pandangannya ia fokuskan kepada Aretha yang saat itu baru melewati beberapa anak tangga. Namun, Aretha masih menatap kosong.
Sekeras apapun Aretha menepis pikirannya saat itu. Namun, tetap saja, karena hati dan pikirannya yang nampak kontras, membuat gadis itu tidak bisa melupakan apa yang tengah ia rasa. Otaknya boleh saja bekerja menepisnya, tetapi jika perasaanya masih tetap sama, apa yang bisa ia perbuat?
Aretha masih melangkahkan kakinya menuruni anak tangga itu hingga ia tiba di lantai bawah. Nampak Anton dan empat orang yang empat makhluk yang tengah menunggunya, tampak menghampiri.
"Keponakan om cantik sekali!" puji laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Arman, pamannya Aretha.
Ya, Arman adalah paman Aretha satu-satunya, adik kandung dari papinya. Arman datang ke acara tersebut sesuai undangan dari kedua orangtua Aretha. Arman hadir bersama Kinara, istrinya dan juga Arga yang tak lain adalah anak semata wayang dari mereka. Tak lupa, satu lagi adalah nenek Aretha bernama, Larasati.
Aretha tampak menerbitkan senyumnya, menatap mereka secara bergantian. "Terima kasih, Om," lirihnya.
"Cucu oma sudah besar, oma senang kamu mendapatkan pria baik-baik, Nak," ucap Larasati seraya menatap haru sang cucu.
Tak henti-hentinya pujian yang dilontarkan oleh keluarganya kepada gadis itu, termasuk Kinara dan Arga pun ikut memujinya.
"Kamu sudah mau menikah, aku pun akan segera menyusul," canda Arga yang tak lain sepupu sekaligus teman bagi Aretha. Ya, mereka memiliki usia yang sama. Arga selalu menjadi teman baik, ketika Aretha berlibur ke rumahnya.
"Hush! Kerja dulu, main nikah saja!" gerutu Kinara yang sontak membuat mereka tertawa.
Tak berlangsung lama, mereka segera menemui keluarga calon mempelai pria. Mereka tampak berjalan menuju taman belakang yang sudah disulap menjadi tempat yang begitu indah dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya.
Ya, akad nikah itu akan berlangsung di sana dengan konsep outdoor. Dekorasinya cukup sederhana. Hanya dengan dekorasi kayu-kayu yang kental akan nuansa tradisional, sehingga membuat suasanya terlihat begitu santai dan tidak terlalu tegang. Tidak lupa, beberapa rangkaian bunga yang tampak menghiasi setiap sudutnya, tentu semakin memperindah tempat itu.
Beberapa kursi yang disedikan untuk tamu undangan, yang tak lain hanya keluarga dari kedua belah pihak, tampak sudah terisi penuh. Setelah beberapa saat mereka menyambut kedatangan mempelai pria beserta keluarganya, kedua mempelai itu tampak duduk di kursi yang telah disediakan khusus untuk mereka dan penghulu, beserta para saksi dan wali nikah.
David menatap sejenak gadis yang duduk di sampingnya. Seketika ia menerbitkan senyuman. Terpancar raut bahagia di wajah pria itu. Ya, akhirnya hanya dalam hitungan jam atau bahkan menit, ia akan mencapai apa yang selama ini ia inginkan, yaitu menjadi pendamping hidup Aretha.
"Bisa kita mulai acaranya sekarang?" tanya pak penghulu.
"Tunggu, Pak! Masih ada yang saya tunggu," jawab David menolak yang sontak membuat Aretha menoleh kepadanya.
"Baiklah," jawab penghulu itu.
"Siapa, Mas?" tanya Aretha berbisik.
"Richard dan Rendy," jawab David. Aretha hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
Walau bagaimanapun mereka adalah sahabat David, dan David berharap kedua sahabatnya itu dapat menyaksikan momen terpenting dalam hidupnya.
Setelah beberapa saat menunggu, Richard dan Rendy masih belum datang juga, padahal keduanya sudah janji akan hadir di acara tersebut. Penghulu pun berulang kali meminta agar acaranya segera dimulai, tetapi David lagi-lagi menahannya, sehingga ia pun memutuskan untuk menghubungi Rendy.
"Ren, lo dan Richard dimana? Acaranya akan segera dimulai ini!" ucap Rendy menggerutu.
"Apa??"
_______________________________
Bagaimana ini?πππ
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAπ
HAPPY READING!
TBC