Possessive Love

Possessive Love
Baju Pengantin



Aretha tampak tengah mencoba pakaian pengantin di sebuah butik ternama yang katanya langganan keluarga David.


Gadis itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Mami dan calon ibu mertuanya telah menyiapkan sampai sejauh itu. karena kesibukan keduanya, Carmila dan Maria memutuskan untuk memesankan pakaian pengantin untuk calon kedua mempelai, sesuai ukuran pakaian mereka.


Kendatipun begitu, pakaian untuk acara akad nikah mereka tampak begitu pas di bandan keduanya.


"Mas gimana menurutmu?" tanya Aretha seraya menoleh ke arah David, sontak membuat pria itu tertegun memandangnya. Ia tampak melebarkan kebaya putih yang memanjang di bagian belakangnya.


"Mas!" Seketika lamunan David ambyar, ketika mendengar panggilan Aretha.


Netra pria itu tampak menelusuri setiap lekuk tubuh gadis itu. Ia memandangnya dari ujung kaki hingga kepala. Begitu cantik dan perfect, pikirnya.


"Cantik!" Hanya itu yang lolos dari tenggorokkan David, singkat, padat dan jelas. Seketika Aretha menerbitkan senyumnya, merasa senang.


Meski pakaian pengantin yang dikenakan Aretha sangat sederhana, tetap saja tidak sedikit pun mengurangi kecantikkan gadis itu.


Tak kalah perfect. David pun tampak lebih tampan dengan tuxedo berwarna hitam yang akan menjadi pasangan dari kebaya itu. Seketika Aretha terhipnotis akan penampilnnya hingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nampaknya mereka benar-benar akan menjadi pasangan yang serasi.


"Wow ... perfect! Kalian benar-benar pasangan yang serasi!" puji Riana sang pemilik butik tersebut.


Perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tampak memandang Aretha dan David secara bergantian. Bahkan, nampaknya ia begitu terpesona dengan penampilan keduanya.


"Terima kasih, Mbak. Ini berkat Mbak juga," ucap Aretha memuji balik sang desainer sekaligus pemilik butik itu.


Setelah selesai dengan kegiatan fitting baju pengantin, Aretha dan David segera meninggalkan tempat itu.


"Mas," lirih Aretha.


"Kenapa?" tanya David seraya menoleh ke samping.


"Mm ... itu, kalau misalkan kita sudah menikah, nanti kita tinggal dimana?" tanya Aretha sedikit ragu.


"Sementara di apartemenku," jawab David tanpa menoleh. Pandangannya fokus ke depan.


"Sementara, kan?" tanya Aretha memastikan sehingga membuat David menoleh.


"Iya, sementara. Kenapa?" David menatap heran gadis di sampingnya.


"Mm ... bagaimana kalau sementaranya di rumah papi sama mami saja?" tanya Aretha yang lebih ke nada memberi saran.


"Kenapa begitu?" tanya David.


"Aku kasian loh sama mami, nanti kesepian kalau gak ada aku," terang Aretha seraya memberengut. Namun, David malah tertawa kecil.


"Sayang ... nanti kamu masih bisa kok sering-sering nengokin mami sama papi,"ucap David.


"Tetap saja aku tidak tega ninggalin mereka, Mas," keluh Aretha. "Boleh ya, Mas?" tanyanya.


"NO!" tegas David.


"Please!!" Aretha menagtupkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya memohon.


"Tidak! Aku bilang tidak, ya tidak!" kekeh David. Aretha semakin memberengut kesal.


Susah banget sih membujuk kamu, Mas!


"Kamu tenang saja, aku tidak akan melarang kapanpun kamu mau bertemu mereka," terang David. Namun, tetap saja nampaknya itu tidak cukup buat Aretha. Bukan masalah bebas bertemu atau tidak, masalahnya ia belum siap jika harus berpisah dengan orangtuanya secepat itu.


"Tapi ... apartemen kamu kan jauh ke kampus, Mas," ucap Aretha masih mencari berbagai alasan.


"Tidak masalah! Memangnya kenapa kalau jauh?" tanya David.


"Ya ... nanti aku–"


"Aku pastikan, kamu tidak akan terlambat datang ke kampus!" tegas David memotong pembicaraan.


***


Pagi itu, di kediaman keluarga Grissham tampak telah ramai dengan tamu undangan yang di dominasi oleh keluarga dan kerabat jauhnya.


Ya, itu adalah hari dimana Aretha dan David akan melaksanakan akad nikah. Acaranya sederhana, mereka hanya mengundang keluarga dan teman-teman terdekatnya saja. Itu sengaja, karena hanya acara akad biasa, bukan resepsi atau pesta meriah.


Proses make over masih belum selesai. Namun, kendatipun begitu Aretha sudah terlihat sangat cantik dengan make up yang baru beberapa diaplikasikan pada wajahnya.


Seorang MUA bernama Dara, baru saja selesai memakaikan eye liner yang membingkai di garis mata Aretha. Setelah itu, tangan Dara pindah ke pipi Aretha, memakaikan blush on yang membuat pipi gadis itu semakin merona.


Sekitar 90% proses make over sudah hampir selesai. Hanya tinggal di poles sedikit lipstik, penampilan Aretha akan semakin sempurna. Setelah beberapa detik, Dara mulai mengaplikasikan lipstik itu, sebagai sentuhan terakhir pada bibir Aretha.


Beberapa menit kemudian, proses merias wajah telah diselesaikan oleh Dara. Aretha tampak masih duduk di depan cermin meja rias. Ia menatap cermin itu memperhatikan pantulan dirinya yang tampak jauh berbeda dengan sebelumnya.


Ia masih belum percaya dengan hari itu. Itu seolah mimpi baginya. Hanya dalam hitungan jam, ia akan segera menyandang status sebagai nyonya David Wijaya. Ah, sungguh tidak disangka jika ia akan menikah secepat itu.


Jantungnya berdebar kencang, merasa gugup dan deg-degan. sama halnya dengan yang ia rasakan, ketika bermimpi menikah dengan David, beberapa hari ke belakang.


Ternyata itu bukanlah sekadar mimpi biasa. Entah firasat atau apa, yang jelas mimpinya selama ini, akan segera menjadi kenyataan. Ia akan menikah dengan David, sang CEO yang sempat menjadi bosnya.


Aretha masih memfokuskan pandangannya ke arah cermin. Entah harus bersedih atau bahagia. Walau bagaimanapun, tidak lama lagi ia akan melepas masa lajangnya. Dan cepat atau lambat ia akan segera berpisah dengan kedua orangtuanya.


Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga merasa bahagia karena akan menikah dengan pria yang ia cintai, meski dalam hal ini mungkin ada hati seseorang yang terluka.


Aretha tampak menerbitkan senyum simpul di wajahnya. Dan ia dapat melihat dengan jelas senyuman itu, pada pantulan cermin yang menggambarkan wajahnya sendiri. Seketika ia semakin melebarkan senyum bahagia itu sembari memberikan tatapan tidak percaya.


Cukup lama ia dengan kegiatannya, hingga tiba-tiba lamunannya terganggu, ketika ketiga sahabatnya tiba-tiba datang, menyelonong masuk ke dalam kamarnya. Dengan sigap gadis itu menoleh ke arah pintu.


"Rere!!" teriak Deasy, Tania dan Diandra kompak.


Mereka tampak menghampiri Aretha dan memeluknya, hingga gadis itu merasa sedikit sesak karena pelukan erat dari ketiga sahabatnya. Aretha pun berusaha melepaskan pelukan itu.


"Kalian ini, bikin gue sesak tahu!" gerutu Aretha.


"Ya ampun ... lo cantik banget, Re!" puji Diandra sedikit termangu menatap kecantikan Aretha. Mulutnya sedikit terbuka, seolah merasa begitu kagum.


"Gue sudah cantik dari dulu kali, Ra!" jawab Aretha sekenanya yang sontak membuat ketiga sahabatnya berdecak.


"Selamat ya, Re ... kita ikut senang sebenarnya, cuma ...," ucap Tania seraya menggantungkan ucapannya.


"cuma apa?" tanya Aretha.


"Nanti kita gak bisa hang out bareng lagi dong," keluh Tania.


"Iya, Re ... pasti pak David banyak membatasi hidup lo nanti," timpal Diandra yang sedikit sudah mengetahui karakter David.


"Hush! Kedengaran orangnya, baru tahu rasa lo!" gerutu Aretha.


"Tetapi memang benar begitu, kan?" tanya Diandra.


"Ah, gak asyik pokoknya kalau laki lo kayak gitu, Re," ucap Deasy menambahkan.


"Gak akan! kalian tenang saja, kita akan tetap seperti dulu, percaya sama gue!" jawab Aretha yakin.


"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Carmila yang baru saja muncul dari balik pintu kamar Aretha, sontak membuat keempatnya menoleh.


Carmila tampak berjalan menghampiri mereka berempat.


"Sudah, Mi," jawab Aretha.


"Kamu cantik sekali, Nak!" puji Carmila.


"Kan Mami juga cantik," balas Aretha yang langsung mendapat senyuman dari sang mami.


"Kamu ini bisa saja!" kata Carmila. "Pengantin prianya sudah datang, kamu sudah siap, kan?" tanyanya.


______________________


AKHIRNYA SAMPAI JUGA DI HARI YANG DITUNGGU. KIRA-KIRA ACARANYA AKAN BERJALAN LANCAR ATAU TIDAK YA?🤔🤔🤭


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT!


HAPPY READING!


TBC.