Possessive Love

Possessive Love
Keributan



"Jaga bicara anda!" sergah David seraya mengahampiri Aretha dan pelayan itu, sontak membuat Aretha dan pelayan itu menoleh ke arahnya.


David tampak melepas jas berwarna abu muda yang melekat di tubuhnya, lalu memakaikan jas itu kepada Aretha. Seketika Aretha dibuatnya terlonjak. Tidak menyangka dengan sikap atasannya yang begitu spontan.


"Sudah jelas-jelas anda yang tidak berhati-hati, masih saja menyalahkan rekan kerja saya, pegawai macam apa anda?" ucap David geram.


Melihat pelayan itu memaki-maki Aretha di depan umum, membuat pria itu seketika naik pitam dan tidak tahan lagi untuk mengumpat balik orang itu.


Seketika pelayan itu menundukkan kepalanya, tatkala ia melihat tatapan membunuh yang dilontarkan oleh David. Sedangkan, Aretha hanya diam membisu. Ia termangu melihat David yang kala itu tengah membelanya.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria paruh baya berjas hitam yang menghampiri mereka, seolah berniat untuk melerai keributan tersebut. Entah ia owner atau hanya seorang manajer di kafe itu.


David menoleh ke arah pria paruh baya itu. "Apa dia pegawai anda?" tanyanya kepada pria itu seraya menunjuk ke arah pelayan itu. Sementara pelayan itu masih terdiam menunduk.


"Benar, Pak!" jawab pria paruh baya itu. "Mohon maaf atas kelalaian pegawai saya," imbuhnya merasa tidak enak hati. Ia menatap ke arah Aretha. Aretha membalasnya dengan senyuman meski ia masih merasa kesal.


David menatap gadis itu, pun sebaliknya. Aretha tampak menggelengkan kepala seolah memberi isyarat kepada David agar tidak memperpanjang masalah yang sedang berlangsung.


"Saya minta maaf, saya memang salah," lirih pelayan itu seraya mendongakkan kepala, menatap Aretha.


"Iya, Mas, tidak apa-apa," jawab Aretha sembari tersenyum.


"Urus pegawai anda dengan baik! Ajari dia agar tahu bagaimana caranya sopan santun!" geram David seraya menarik tangan Aretha dan berlalu pergi dari hadapan mereka.


"Sekali lagi, saya minta maaf!" ucap pria paruh baya itu yang masih jelas terdengar. Namun, David tak bergeming.


"Pak, sudahlah ... tidak perlu berlebihan seperti ini," bisik Aretha. Namun, David masih tak bergeming. Pria itu terus menyeret Aretha hingga ke meja sebelumnya.


Sesampainya di sana, David meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, kemudian kembali menarik gadis itu dan membawanya keluar dari tempat itu.


David membukakan pintu mobil untuk Aretha dan mendorong pelan gadis itu, masuk ke dalam mobil. Aretha masih terdiam. Ekspresi David saat itu cukup membuatnya tidak berani berkomentar. Ia hanya bisa menatapnya, itu pun hanya sekilas saja.


"Pak, bagaimana dengan teman Bapak?" tanya Aretha ragu, setelah David duduk di sampingnya.


"Tidak perlu pikirkan itu!" perintah David.


"Tapi—"


"Saya tidak suka mengulangi perkataan saya!" tegas David seraya memotong omongan sembari menatap tajam wajah gadis itu.


Lagi-lagi Aretha dibuatnya menciut. "Baik," lirihnya seraya menekuk leher.


Tanpa menunggu komando, David segera melajukan kendaraannya menuju rumah Aretha.


Hening ...


Tak ada yang mereka bahas. Seketika David melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya.


David tampak membelalakkan matanya, ketika menyadari jas yang ia berikan kepada gadis itu, nampaknya tidak menutupi pakaian Aretha dengan sempurna sehingga terlihat transparan dan menunjukkan pakaian dalam berwarna merah muda.


David tampak menelan salivanya. Sebagai laki-laki normal, terkadang hasratnya bisa saja sewaktu-waktu naik jika dihadapkan dengan situasi seperti itu.


Pria itu tampak bingung, bagaimana caranya memberi tahu Aretha soal itu. Sementara, ia sendiri merasa tidak enak hati untuk menyampaikannya.


"Itu ... tolong jasnya!" ucap David gugup seraya menunjuk ke arah jas yang dikenakan oleh Aretha. Namun, tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Aretha menoleh, sedikit merasa heran. "Kenapa dengan jasnya?" tanya Aretha. "Mau Bapak pakai? Ya sudah, nih," tanyanya seraya akan melepas jas itu.


"BUKAN!" tukas David, seketika menghentikan lengan Aretha yang baru saja akan membuka jas itu.


"Lantas kenapa?" tanya Aretha masih belum menyadari.


Dengan sigap Aretha menundukkan kepala dan melihat pakaiannya yang basah. Ia tampak membelalakkan mata dengan mulut yang menganga lebar, ketika menyadari pakaiannya yang terlihat transparan.


Gadis itu menoleh ke arah David sejenak, lalu secepat kilat ia membetulkan pakaiannya sehingga bagian tubuh yang dimaksud tampak tertutup dengan sempurna.


Gilal! Malu-maluin banget gue! Aretha merutuk dalam hati.


Seketika, wajah Aretha berumah menjadi sangat merah. Tentu saja karena ia sangat malu. Bisa-bisanya ia seceroboh itu. Sementara, David tampak menahan senyum melihat kegelisahan yang dihadapi oleh gadis di sampingnya.


Tak berlangsung lama. Sepuluh menit kemudian mereka tiba di depan rumah gadis itu. Aretha segera turun dari mobilnya dan berlalu masuk ke dalam rumah, setelah mengucapkan terima kasih kepada sang atasan. David pun segera pergi dari tempat itu.


***


Sang mentari tampak menyambut pagi dengan begitu indah. Aretha tampak memicingkan mata, ketika ia menyadari akan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela kamarnya.


Pasalnya hari itu ia tidak perlu pergi ke kantor, sesuai yang diperintahkan sang atasan. Meski ia tidak tahu pasti alasananya, tetapi itu cukup membuat gadis itu merasa senang, dimana ia mendapatkan jatah libur bekerja, walau cuma satu hari.


Sesuai dengan rencana. Ia bangun tepat pukul 06.30, sebagaimana yang telah ia atur pada alarm handphone-nya. Ya, tadi pagi sebenarnya ia sudah bangun, hanya untuk melaksanakan shalat subuh, lalu tidur kembali.


Gadis itu segera bergegas ke kamar mandi, hanya untuk membasuh wajah dan gosok gigi. Karena ia libur berkerja, ia pikir tidak perlu mandi sepagi itu.


Setelah kegiatannya selesai, ia segera keluar dari kamar, berjalan menuruni anak tangga seraya menghampiri meja makan, dimana Carmila, ibunya, tengah sibuk dengan kegiatan menyiapkan sarapan di sana.


"Pagi, Mom," sapa Aretha seraya mendaratkan tubuhnya di kursi makan.


Carmila tampak menatap putrinya. "Lho, kok belum siap-siap, memangnya hari ini tidak ke kantor, Nak?" tanyanya heran melihat anak semata wayangnya yang masih mengenakan baju piyama.


Aretha tampak menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumnya. "Aku dikasih libur satu hari sama si bos," jawabnya seraya menoleh ke arah Carmila.


"Pagi ...," sapa Anton yang baru saja muncul di tengah-tengah mereka, sontak membuat keduanya mengalihkan perhatian kepada pria paling tampan di rumah itu.


"Pagi, Pi." Aretha dan Carmila tampak menyapa balik, berbarengan.


Anton tampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi makan. Seketika ia mengalihkan perhatian kepada putrinya.


"Kamu tidak bekerja hari ini, Nak?" tanya Anton seraya memerhatikan penampilan putrinya, sama halnya seperti Carmila, istrinya.


"Tidak, Pi," jawab Aretha. "Bosku lagi baik hati, beliau kasih aku jatah libur untuk hari ini, entah kenapa," jelasnya.


"Waaah ... bagus dong. Kebetulan hari ini rekan kerja bisnis papi mengundang kita untuk acara dinner, kamu harus ikut!" ucap Anton.


Mengingat putrinya yang sering pulang sore. Bahkan, terkadang malam. Anton pikir, itu kesempatan baik untuknya agar bisa mengajak Aretha ikut serta dalam acara dinner bersama rekan bisnisnya.


"Yah, Pi, masa aku harus ikut?" keluh Aretha.


"Karena yang diundang itu satu keluarga bukan cuma papi, Sayang," jawab pria paruh baya itu.


"Ya sudah, tidak apa-apa, kamu sekalin temani mami di sana," timpal Carmila. "Nanti, siangan dikit kita ke salon bareng ya, sekalian kita cari pakaian buat dinner nanti malam," imbuhnya.


"Yah ... padahal aku sudah niat gak akan pergi kemana-mana hari ini," keluh gadis itu sekali lagi.


"Kita 'kan sudah lama tidak jalan bareng, Sayang," ucap Carmila.


"Memangnya yang undang rekan bisnis papi yang mana, sih?" tanya Aretha seolah telah mengenal seluruh rekan bisnis ayahnya.


"Ada, nanti juga kamu bakal tahu sendiri," jawab Anton.


Mereka segera melakukan kegiatan sarapan, setelah Carmila selesai menyiapkan semuanya. Hening. Tidak ada perbincangan di tengah-tengah kegiatan mereka.