
Malam itu, Aretha terlihat tengah sibuk membuat kopi untuk sang suami. Hal yang sudah menjadi rutinitasnya, setelah menjadi istrinya David. Sesekali ia tersenyum di tengah-tengah kegiatannya. Masih teringat jelas, ketika pertama kali ia membuat kopi untuk David, sewaktu ia masih menjadi sekretarisnya dulu.
Namun, tiba-tiba ia sedikit terlonjak, ketika sepasang tangan memeluknya dengan bebas dari belakang. Tentu saja Aretha tahu pemilik dari tangan kekar itu.
"Kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanya David yang sudah menopangkan dagunya di bahu Aretha.
Aretha sedikit menoleh. "Tidak apa-apa, Mas," jawabnya.
"Bohong!"
David tidak percaya. Mana mungkin Aretha senyum-senyum sendiri, jika tanpa alasan, pikirnya.
"Ya sudah, kalau tidak percaya," ucap Aretha tak peduli, lalu melepaskan tangan David dari perutnya.
Aretha membawa kopi itu ke meja makan, lalu meletakkannya di sana. David pun mengekorinya dari belakang, lalu mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi makan.
"Mana mungkin kamu senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya David seraya menatap wajah sang istri.
Aretha duduk di kursi yang berada di samping David. "Kalau iya, memangnya kenapa?" tanyanya semakin membuat David penasaran, apa yang sebenarnya membuat Aretha seperti itu.
"Apa?" tanya David sedikit memicingkan sebelah matanya.
Aretha mengulum senyumnya, sebelum menanggapi pertanyaan David. "Dulu, kamu sengaja mengerjaiku 'kan, waktu pertama kali kamu memintaku untuk membuatkan kopi?" tanyanya sedikit curiga.
David sedikit tersentak mendengar pertanyaan Aretha. Ingin rasanya ia tertawa mengingat hal itu, tetapi berusaha untuk ditahan dan tetap bersikap elegan, berharap Aretha tidak mencurigainya.
"Mana ada? Memang dasar takarannya saja yang kurang pas," bantahnya.
"Mana mungkin takarannya kurang pas. Aku kasih takaran yang sama lho, Mas!" Aretha tak mau kalah.
"Oh ya?" tanya David berlagak polos. "Mungkin lidahku yang bermasalah," imbuhnya seraya menyesap sedikit kopi itu.
"Ish, menyebalkan!" kesal Aretha.
"Tapi suka, kan?" tanya David menggoda.
Aretha hanya berdecih kesal menanggapinya. Sementara David hanya terkekeh melihatnya.
Aretha beranjak dari duduknya, lalu mengambil gelas kosong dari rak. Ia mengisi gelas itu dengan air putih.
David tampak mengambil cangkir kopi itu kembali, lalu sedikit menyesapnya untuk yang ke sekian kali. Namun, seketika kegiatannya terhenti, ketika ponsel Aretha yang tergeletak di atas meja makan, tiba-tiba berdering.
Aretha sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah meja makan yang memang tidak jauh dari dapur, tempat dimana ia tengah berdiri saat itu.
Aretha segera berjalan menuju meja makan, berniat untuk mengecek ponselnya. Namun, sayang sekali David telah lebih dulu meraih ponsel itu. Aretha sedikit mengerutkan dahinya, merasa heran.
"Boleh kuangkat?" tanya David seraya mendongak kepada Aretha yang kala itu masih berdiri di sampingnya.
Aretha sedikit bingung harus menjawab apa. Bahkan, ia sendiri tidak tahu itu telepon dari siapa.
"Dari siapa?" tanya Aretha penasaran.
David melirik ke layar ponsel, tertera jelas nama kontak samuel di layar ponsel itu. David menunjukkannya kepada Aretha.
Aretha mendengus kasar. Bingung juga harus berbuat apa. Sepertinya semua akan menjadi serba salah baginya. Jika ia mengijinkan David untuk mengangkat panggilan masuk itu, khawatir David akan berbuat sesuatu yang aneh-aneh. Namun, jika ia tidak memberinya ijin, justru dikhawatirkan David malah akan mencurigainya.
Dengan sedikit terpaksa, Aretha menganggukkan kepalanya, sebagai tanda memberi ijin David untuk mengangkat panggilan masuk dari Samuel.
"Jangan macam-macam!" rengek Aretha mengingatkan.
David tak menanggapi. Ia segera menerima panggilan itu.
David menempelkan ponsel itu ke telinganya. Terdengar suara Samuel yang menyapa dari seberang sana. David pun membalas sapaannya, sehingga membuat Samuel terdiam beberapa saat, mungkin ia terkejut, karena yang menerima teleponnya bukanlah Aretha, melainkan seorang pria.
"Bisa bicara dengan Aretha?" tanya Samuel.
"Ada perlu apa? Aretha sedang sibuk!" tegas David.
"Mm ... kalau boleh tahu, saya sedang berbicara dengan siapa, ya?" tanya Samuel penasaran.
"Saya? Saya suaminya," jawab David.
"Ck! Yang benar saja!" Samuel seolah tidak percaya dengan pernyataan David. "Saya beneran ada perlu dengan Rere," imbuhnya.
"Tolong sambungkan saya dengannya, ini penting sekali," ujar Samuel.
David mendelik kesal ke arah Aretha, lalu menyodorkan ponsel itu. "Dia mau berbicara sama kamu," ucapnya.
Dengan sedikit rasa ragu, Aretha meraih ponsel itu dari tangan David.
David beranjak dari tempat itu menuju ruang kerja. Ia tampak duduk di kursi putar, tempatnya bekerja, lalu memasang handsfree pada ponsel dan telinganya.
Sementara, di ruang makan, Aretha tampak mulai berbicara dengan Samuel.
"Re, apa benar pria itu suami kamu?" tanya Samuel.
"Iya, Sam. Aku memang sudah menikah," jawab Aretha.
"Kamu bohong kan, Re?" tanya Samuel tidak percaya.
"Benar, Sam. Aku memang sudah menikah dengan mas David," jelas Aretha.
"Kamu mau menikah sama dia?"
"Lho, memangnya kenapa?" Aretha mengernyitkan dahinya.
"Ah sudahlah, aku kecewa sama kamu, Re!"
Samuel langsung menutup teleponnya, sehingga membuat Aretha sedikit termangu dibuatnya.
"Maaf, Sam," lirih Aretha.
Tentu saja Aretha menyadari kekecewaan yang dirasakan oleh Samuel. Setelah tiga tahun pria itu mengejarnya, tetapi tak sedikit pun ia memberi kesempatan untuknya. Ia malah menikah dengan pria, yang bahkan belum genap satu tahun dikenalnya.
Aretha tidak mau terlalu ambil pusing akan hal itu. Setidaknya, ia cukup tenang dengan Samuel yang sudah mengetahui status barunya. Ia harap Samuel tidak terlalu berharap lagi padanya.
Aretha segera mencari keberadaan sang suami. Ia beranjak ke ruang kerja David, setelah ia mengecek ke kemarnya, dan David tidak berada di sana.
"Mas, apa kamu di dalam?" Aretha mengetuk pelan pintu ruangan itu. Namun, tidak ada sahutan dari David, sehingga ia memutuskan untuk membukanya sendiri. Dan benar saja, David berada di sana.
Dengan sigap, David melepas handsfree di telinganya, lalu bangkit dari tempat duduknya, setelah menyadari kehadiran Aretha di sana.
"Pantas saja kamu tidak menyahutiku, rupanya sedang memakai handsfree," ucap Aretha menduga. Padahal, David memang sengaja tidak menyahutinha, entah apa maksud pria itu.
"Maaf, Sayang," balas David. "Kamu sudah selesai?" tanyanya seraya mengulum senyum.
Aretha yang menyadarinya sedikit merasa heran.
"Kamu kenapa?" tanya Aretha penuh curiga.
"Aku?" David menunjuk wajahnya sendiri. "Tidak apa-apa," imbuhnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ish, mencurigakan!" Aretha tampak mencebikkan bibirnya.
"Mencurigakan apa sih, Sayang?" tanya David seraya memegang bahu Aretha. "Ayo kita tidur!" ajaknya, lalu mendorong pelan tubuh Aretha keluar dari ruangan itu.
"Mas, aku sudah bilang sama Samuel, kalau kita sudah menikah," ucap Aretha memberi tahu di tengah-tengah perjalanannya menuuju kamar tidur mereka.
"Aku sudah tahu," batin David menanggapi.
"Oh ya? Bagus dong ...," ujar David pura-pura tidak tahu. "Jadi, dia tidak akan mengganggu kamu lagi," imbuhnya seraya merangkulkan sebelah tangannya di bahu Aretha.
Ya, beberapa menit David menyendiri di ruang kerjanya, ternyata hanya untuk memantau Aretha dari kejauhan, sehingga i bisa mengetahui semua yang dibahas oleh Aretha dengan Samuel, tanpa ada yang terlewati sedikit pun. Namun, David tidak ingin menunjukkannya di hadapan Aretha bahwa ia mengetahui semua itu. Khawatir Aretha malah akan mencurigainya.
"Kamu senang?" tanya Aretha seraya menoleh ke samping, menatap wajah sang suami.
"Tentu saja aku senang," jawab David, lalu memutar knop pintu kamar mereka, hingga pintu itu terbuka lebar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC