
"Tapi aku masih kesal ya, Mas, karena kamu ketemu sama mantan kamu itu," keluh Aretha.
"Tidak apa-apa," jawab David seolah tak peduli.
"Kok, tidak apa-apa?" gerutu Aretha.
"Kan aku senang kalau kamu jealous," jawab David santai.
"Ish, menyebalkan! Sudahlah, aku mau mandi!" kesal Aretha lekas beranjak dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar itu menuju kamarnya. Sementara, David hanya terkekeh melihat tingkah sang istri yang selalu terlihat menggemaskan, ketika sedang marah ataupun kesal.
Dua jam berlalu, Aretha dan David baru saja selesai sarapan. David tampak meneguk setengah gelas air putih dalam satu kali tegukkan, lalu kembali meletakkan gelas itu di atas meja, tepat di sampingnya.
"Sayang, kalau kamu mau pergi keluar, pakai saja mobil yang di garasi," ucap David tiba-tiba. Tentu saja membuat Aretha sedikit girang.
"Aku boleh menyetir sendiri, Mas?" tanya Aretha heboh seraya menyeringai senang.
"Enak saja! Tidak boleh!" sergah David tidak memberi ijin.
"Lalu?" tanya Aretha sedikit kecewa. Percuma juga disiapkan mobil kalau tidak diijinkan untuk mengendarainya, terlebih lagi tidak ada sopir pribadi, pikirnya.
"Ada pak Arman yang nanti akan mengantar kamu, kalau lagi ada keperluan," jelas David.
"Pak Arman? Sopir baru?" tanya Aretha heran.
"Hmm ...."
"Baiklah."
***
Tiga jam kemudian.
David telah berada di kantor, tepat di ruangan pribadinya. Ia tampak sibuk menandatangani beberapa berkas laporan yang diberikan oleh beberapa karyawan dari tiap-tiap divisi. Namun, kegiatannya terhenti pada sebuah laporan dari divisi keuangan. Seketika rahangnya mengeras, seolah memendam amarah.
Laporan yang ia terima sangatlah tidak logis menurutnya. Bahkan, kelebihannya sudah mencapai 50% dari anggaran yang seharusnya dikeluarkan. Kalau itu dibiarkan terus, bisa bangkrut perusahaannya.
David segera menekan tombol telepon, lalu memanggil seseorang untuk datang ke ruangannya. Entah itu siapa.
Tak lama kemudian, seorang wanita bertubuh tinggi, langsing, cantik dan sangat modis, masuk ke dalam ruangan tersebut, setelah David memberinya ijin.
Wanita itu duduk di kursi yang berada di depan meja kerja David, lalu David menunjukkan hasil laporan itu. Wanita itu tampak memeriksanya. Namun, tak berlangsung lama, seolah ia juga sudah mengetahui akan hal itu.
Mereka berbincang cukup lama. Kala itu Davidlah yang lebih aktif berbicara. Sementara, wanita itu hanya menyimak dengan seksama. Sesekali wanita itu menganggukkan kepalanya seolah paham apa yang disampaikan oleh David kepadanya.
Entah apa yang mereka bicarakan saat itu. Yang jelas, David terlihat begitu serius dengan apa yang ia sampaikan kepada wanita itu.
Setelah hampir seperempat jam, mereka segera mengakhiri perbincangan mereka. Wanita itu keluar dari ruangan David. Sementara, David tampak mengecek beberapa laporan lainnya yang belum sempat ia selesaikan.
***
Di tempat lain, tepat di depan sebuah gedung perusahaan property, yang tak lain adalah Calder City Development, seorang pria berjas hitam dengan sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap, tampak turun dari sebuah mobil Mercedes Benz-CLS Class berwarna hitam.
Tidak hanya tampan dan gagah, tetapi juga berwibawa. Ia adalah putra dari pemilik perusahaan tersebut, yang merupakan salah satu pewaris perusahaan yang tengah dikelolanya saat ini. Siapa lagi jika bukan Richard Calder.
Dengan langkah pasti, pria itu berjalan masuk ke dalam gedung, dimana perusahaannya beroperasi. Dari lobby depan tampak beberapa orang menyapanya dengan hormat. Ya, siapa yang tidak mengenalnya, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan tersebut. Bahkan, semua yang bekerja di sana mengenalnya, meskipun ia sendiri tidak mengenal mereka satu-persatu.
Tubuh tegapnya selalu saja menghipnotis kaum hawa yang melihatnya. Bahkan, mereka yang tak lain bawahannya di kantor. Wajar saja pupil mereka selalu melebar, ketika melihat wajah tampan sang atasan. Siapa pula yang tidak akan terpesona oleh semua yang dimiliki oleh pria itu.
Sudah tampan, mapan, turunan sultan, baik hati dan tidak sombong pula, kurang apa lagi coba? Apa mereka tidak ngiler, ketika dihadapkan dengan pria macam begitu? Terlebih lagi, mereka tahu bahwa sang atasan masih single, semakin berharap saja mereka, suatu saat bisa menjadi pendamping hidupnya, meski mereka tahu bahwa itu hanyalah mimpi belaka.
Richard tampak memasuki private lift yang pintunya baru saja terbuka lebar. Ia tampak sudah siap di dalam. Namun, ketika pintu itu hendak menutup kembali secara otomatis, terdapat sebuah tangan yang menahannya, dan berdiri seorang wanita dengan sebuket bunga mawar merah yang dibawanya, tepat di hadapan Richard.
Wanita itu sedikit termangu, lalu tersenyum kepada Richard. Namun, Richard hanya mengangkat sebelah alisnya, karena merasa heran. Lebih heran lagi, ketika wanita itu ikut masuk ke dalam lift tanpa permisi, apalagi berbasa-basi. Richard semakin mengerutkan dahinya, mendapati keanehan di pagi hari.
Apa dia tidak tahu kalau lift ini diperkhususkan untuk pemimpin perusahaan? Sungguh aneh sekali wanita ini!
Richard tidak terlalu ingin ambil pusing akan hal itu. Ia tidak ingin berkomentar ataupun melayangkan protesnya kepada wanita asing yang berani memasuki area private-nya. Biarkan saja ia begitu, pikirnya.
Pintu lift itu telah tertutup dan mulai mengantarkan mereka ke lantai yang dituju. Richard tampak berdiri di depan. Semetara, wanita itu berada di belakangnya.
Wanita itu tampak memandangi pria yang tengah memunggunginya, tanpa henti.
Hening
Tidak ada suara sama sekali di dalam lift itu. Baru beberapa saat di dalam lift, tiba-tiba lift-nya terhenti dan listriknya mati, sehingga membuat keadaan di dalam menjadi gelap gulita, tanpa ada cahaya sedikit pun.
Sungguh itu membuat mereka terkejut. Terlebih lagi wanita itu yang seolah memiliki ketakutan akan gelap. Dengan Reflect ia memeluk tubuh Richard dari belakang, sontak membuat Richard membeliak kaget. Bagaimana bisa ia mendapat pelukan dari wanita aneh sepertinya, pikirnya.
Apa-apaan ini? Kenapa dia memelukku?
"Ehem ... ehem ...." Richard berdeham kasar, sebagai kode agar wanita itu melepas pelukannya.
Wanita itu langsung melepaskan pelukannya, ketika menyadari akan hal itu. Namun, ia tidak menjauhkan tubuhnya dari Richard.
"Ma-maaf, sa-saya reflect. Saya takut gelap," ucap wanita itu sedikit bergetar, antara gugup dan takut.
"Ck!" Richard hanya berdecak kesal, lalu merogoh saku celananya mengambil ponsel cerdas miliknya.
Richard tampak menyalakan senter pada ponsel itu. Terlihat jelas wanita itu yang sangat ketakutan. Ya, mungkin wanita itu memang memiliki nyctophobia. Richard segera menghubungi resepsionis untuk meminta bantuan, agar masalahnya segera teratasi.
Richard tidak mematikan ponselnya, sebelum listrik menyala kembali. Seketika ia melirik ke arah wanita itu. Wanita itu tampak menekuk lehernya, dengan tubuh yang masih terlihat bergetar. Richard bingung juga harus melakukan apa. Ia merasa sedikit kasihan terhadap wanita itu. Namun, ia juga merasa kesal, karena apapun alasannya, ia tetap tidak menerima dipeluk sembarangan oleh wanita.
Setelah beberapa menit, listrik telah menyala kembali, sehingga membuat keduanya bisa bernapas lega. Wanita itu tampak mengusap dadanya. Sementara, Richard hanya mendengus kesal.
Wanita asing itu tampak menundukkan kepalanya, ketika ia menyadari kekesalan Richard.
Lift berhenti, pintu itu pun terbuka lebar. Richard keluar lebih dulu, lalu segera masuk ke dalam ruangannya yang memang berada tepat satu meter di depan pintu lift itu. Sementara, Wanita itu tampak celingukan mendapati ruangan tersebut, yang di depannya terdapat pintu ruangan bertuliskan CEO room.
Di tengah kebingungannya, wanita itu berniat ingin bertanya kepada pria yang sedari tadi berada di dalam lift dengannya. Namun, sayang sekali Richard telah lebih dulu masuk ke dalam ruangannya. Bahkan, ia sudah menutup rapat-rapat pintunya.
"Sepertinya aku salah naik lift," gumam wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING