Possessive Love

Possessive Love
Mual



Hari berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan semenjak liburan itu. Tidak banyak yang berubah. Semuanya masih tetap sama. Aretha menjalani kehidupan seperti biasanya. Hanya saja, kali ini terlalu istimewa.


Ya, bagaimana tidak? Hampir setiap saat ia hanya menghabiskan waktunya di rumah. Belajar menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, nampaknya cukup membuatnya kewalahan, ketika ia harus menyiapkan beberapa keperluan untuk sang suami di waktu yang bersamaan. Namun, ia tetap menikmatinya.


Terlalu lama menghabiskan waktunya dengan hanya berdiam di rumah. Nampaknya sudah membuat wanita polos itu berubah menjadi wanita yang dewasa dan bertanggung jawab atas apa yang sudah menjadi komitmennya. Apapun yang seharusnya ia kerjakan sebagai seorang istri, akhirnya sudah dapat ia lakukan dengan baik. Dan tentu saja itu membuat sang suami merasa kagum dan bangga terhadapnya.


Pagi itu, kedua pasangan muda itu tengah melakukan sarapan bersama. Bukanlah kegiatan yang asing bagi keduanya. Mereka memang selalu melakukan kegiatan itu berdua setiap harinya. Dan kala itu mereka sarapan dengan nasi goreng buatan Aretha.


Nampaknya, setelah ia menekuni pekerjaan rumah, Aretha menjadi pandai memasak. Setiap harinya ia yang selalu memasak untuk suaminya. Bahkan, terkadang ia tidak meminta Ratih untuk membantunya. Asisten rumah tangganya itu hanya fokus dengan pekerjaan rumah yang lainnya.


"Sayang, ini pedas sekali?" protes David, ketika ia baru saja memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Aretha tertegun sejenak, menatap suaminya. "Lho, kenapa, Mas? Bukankah kamu tidak masalah dengan makanan pedas?" ucapnya heran. Selama ini ia tahu bahwa David tidak masalah dengan makanan pedas.


"Bukan aku, tapi kamu! Lagi pula, ini terlalu pedas, Sayang. Nanti kalau lambung kamu—"


"Sudahlah, Mas. Jangan terlalu berlebihan, aku tidak akan kenapa-kenapa hanya karena itu," sela Aretha tidak terlalu khawatir akan kesehatan dirinya sendiri.


"Kamu itu, selalu saja!" kesal David, lalu menghela napas kasar.


Di tengah-tengah kegiatan mereka, setelah Aretha memasukkan beberapa suapan nasi goreng ke dalam mulutnya, tiba-tiba wanita itu menutup mulutnya menggunakan tangan, karena merasakan mual dan ingin sekali mengeluarkan habis makanan itu dari perutnya.


Setelah rasa mual itu sudah tak tertahankan lagi, Aretha segera berlari menuju kamar mandi yang tidak jauh dari jangkauannya.


Kegiatan itu sontak membuat sang suami yang tengah melakukan kegiatan yang sama merasa kaget dan juga khawatir, ada apa dengannya? Pikirnya saat itu.


Seketika David menghentikan kegiatannya.


"Sayang, kamu kenapa?" panggil David seraya berlari mengejar sang istri ke kamar mandi. Namun, Aretha telah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Aretha yang seolah tengah memuntahkan kembali apa yang baru saja dimakannya.


David yang berada di luar segera mengetuk pintu kamar mandi itu berulang kali.


"Sayang, kamu kenapa?" teriak David dari luar. Namun, tak kunjung mendapat jawaban, yang ada hanya suara Aretha yang terus-menerus memuntahkan isi perutnya. Sungguh Aretha membuat ia sangat merasa cemas saat itu.


David pun mencoba memutar knop pintu dan ternyata pintu kamar mandinya tidak dikunci. Ia segera menghampiri sang istri yang kala itu masih dengan kegiatan yang sama, lalu mengelus-elus punggung sang istri.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanyanya seraya mencondongkan wajahnya ke wajah sang istri, lalu memegang kening wanita itu, sekadar mengecek suhu tubuhnya. Namun, panasnya masih terasa normal.


"Tidak tahu, Mas, sepertinya lambungku kambuh. Aku sedikit merasakan pusing dan mual," jawab Aretha dengan lemas, setelah ia selesai dengan kegiatannya. Namun, tiba-tiba ia merasakan mual kembali di perutnya.


"Uwek ... uwek ...."


Aretha kembali ingin memuntahkan apapun yang ada dalam perutnya. Namun, tidak ada sedikit pun yang keluar dari sana.


"Kamu selalu saja tidak mendengar perkataanku, sudah kubilang jangan makan sembarangan, kamu tidak pernah mau mendengarkan aku," gerutu David kesal.


Istrinya itu selalu saja membantah, ketika ia mengingatkannya. Padahal, sering sekali ia memintanya untuk tidak memakan makanan yang bisa mengganggu lambungnya.


"Ayo, kita ke rumah sakit," ajak David.


"Tidak, Mas. Aku hanya butuh istirahat sebentar saja, nanti juga sembuh lagi, kok," tolak Aretha dengan ekspresi wajah yang entah sudah seperti apa, yang jelas sama sekali tidak enak dipandang dan membuat sang suami merasa tidak tega.


"Jangan membantah deh, aku tidak suka! Apapun alasannya, kita tetap pergi ke dokter sekarang juga!" tegas David tidak mau tahu. "Aku khawatir kalau didiamkan malah akan bertambah parah," imbuhnya khawatir.


"Tidak, Mas. Aku sudah baikan kok. Kamu berangkat kerja saja, nanti kalau ada apa-apa aku akan kabari kamu," jelas Aretha kekeh.


David terdiam beberapa saat untuk berpikir. Sungguh istrinya sangat keras kepala. Ia benar-benar merasa khawatir dan tidak ingin meninggalkan sang istri di rumah. Namun, pagi itu ia juga memiliki kepentingan lain di perusahaannya. Ia sudah memiliki janji dengan kliennya.


Kendatipun begitu, ia tetap ingin memprioritaskan sang istri, tetapi jika Aretha tetap bersih keras dengan pendiriannya, lantas ia bisa berbuat apa?


"Benar?" David menatap intens sepasang iris berwarna cokelat itu, seolah ingin mengetahui keseriusan dari apa yang dikatakan oleh Aretha.


Aretha hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.


"Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa langsung kabari aku secepatnya!" tegas David.


"Pasti, Mas," jawab Aretha yakin.


"Sebaiknya, sekarang kamu istirahat, akan kuantar kamu ke kamar." David merangkul sang istri, menuntunnya untuk beristirahat.


David membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidurnya, lalu mengecup kening wanita itu.


"Sayang, aku berangkat dulu, jangan lupa kabari aku kalau ada apa-apa dan jangan makan sembarangan lagi!" pesannya, sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati, ya," balas Aretha.


David berjalan menuju dapur, berniat menemui Ratih yang tengah sibuk di sana.


"Bi, saya titip istri saya, dia sedang sakit, tolong kabari saya secepatnya kalau terjadi sesuatu," pesan David kepada Ratih.


"Oh iya, Mas," jawab Ratih seraya menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Bi."


Dengan perasaan khawatir dan terpaksa, pria itu segera pergi menuju kantor perusahaannya.


***


Setelah beberapa jam Aretha beristirahat di dalam kamarnya, ia kembali merasakan mual. Secepat kilat wanita itu beranjak dari tempat tidurnya, lalu berlari menuju kamar mandi dengan menutup mulutnya. Dan lagi-lagi tidak ada yang keluar, selain cairan. Ia terus memuntahkan apa yang telah membuat perutnya terganggu, sehingga suaranya dapat didengar hingga keluar kamar.


Ratih yang kala itu tengah sibuk memasak makan siang, segera menghentikan kegiatannya tatkala mendengar suara Aretha dari dalam kamarnya.


"Mbak ... Mbak kenapa?" tanya Ratih seraya mengetuk pintu kamar sang majikan.


Namun, tidak ada sahutan dari dalam sana, sehingga membuat Ratih semakin cemas. Ia bingung harus bagaimana agar bisa melihat keadaan sang majikan. Ingin rasanya ia membuka pintu itu, tetapi khawatir disangka tidak sopan. Namun, jika dibiarkan justru ia takut terjadi apa-apa dengan majikannya.


Ratih kembali mengetuk pintu kamar itu, tetapi hasilnya masih sama. Di tengah kebingungannya, ia pun memutuskan untuk membuka pintu kamar itu, berharap pintunya tidak dikunci.


Dengan perlahan dan rasa ragu, Ratih memutar knop pintu kamar sang majikan, lalu membukanya lebar, ketika ia menyadari bahwa pintunya tidak terkunci.


Seketika ia terkejut melihat Aretha yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari berjalan sempoyongan. Tubuhnya terlihat lemas, wajahnya pun tampak begitu pucat pasi.


"Mbak? Mbak kenapa?" Ratih segera menghampiri sang majikan.


"Tidak tahu ini, Bi. Saya pusing, mual, rasanya ingin sekali memuntahkan semua yang ada di dalam perut saya, tetapi tidak bisa," keluh Aretha kepada sang asisten rumah tangganya. Ia tampak memegang dadanya yang masih terasa enek.


Ratih menuntun Aretha untuk berbaring kembali di atas tempat tidur. "Mbak, istirahat dulu, saya akan mengabari mas David dulu," ucapnya.


"Jangan, Bi!" Aretha berusaha menahan Ratih untuk tidak memberi tahu sang suami tentang apa yang tengah ia keluhkan. Sungguh ia tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya itu. Lagi pula, sepertinya ia juga masih bisa menahan dan mengatasi rasa mualnya untuk sementara waktu.


"Lho, kenapa, Mbak?" Ratih terlihat memasang wajah heran. "Tadi mas David pesan kepada saya untuk segera menghubunginya jika terjadi sesuatu," jelasnya kemudian.


"Jangan, Bi! Saya sudah merasa lebih baik, kok." Aretha kekeh dengan pendiriannya.


"Baiklah, kalau begitu ada yang bisa saya bantu, mengambilkan obat misalnya?" tanya Ratih di tengah kebingungannya harus berbuat apa. Ia pun tidak tahu harus memberikan jenis obat apa kepada wanita yang usianya lebih muda darinya itu.


"Harusnya saya minum obat untuk mengatasi asam lambung, tapi obatnya habis, karena lambung saya juga sudah sejak lama tidak bermasalah," lirih Aretha meberi tahu.


"Mbak, punya masalah pada asam lambung?" tanya Ratih meyakinkan.


"Iya, Bi. Tapi, sudah lama tidak kambuh. Bahkan, saya rasa ini lebih parah dari sebelumnya," terang Aretha memberi tahu.


Ratih terdiam beberapa saat, seraya berpikir. "Apa jangan-jangan, Mbak sedang hamil?" ucapnya menduga.


"Hamil?" Aretha tampak membeliak kaget.


"Tanda-tandanya sih begitu, tetapi saya juga tidak bisa memastikan, Mbak," jelas Ratih ragu.


Aretha termangu. Apa mungkin yang dikatakan bi ratih itu benar? Pikirnya.


"Bi, saya boleh minta tolong sesuatu?" tanya Aretha.


"Tentu saja, Mbak. Apa yang bisa saya bantu?" Ratih tampak antusias.


"Tolong belikan saya test pack. Saya jadi penasaran, mungkin yang dikatakan bibi benar. Saya akan merasa senang sekali jika itu benar," jawab Aretha.


"Baiklah, saya akan membelikannya." Ratih tampak bersedia untuk mengabulkan permintaan sang majikan. "Saya tinggal sebentar tidak apa-apa, Mbak?" tanyanya kemudian.


"Tidak apa-apa, Bi."


Ratih segera berlalu pergi untuk membeli benda tersebut ke sebuah minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumah itu.


Sebetulnya, tanpa harus menggunakan kendaraan pun ia akan tiba di minimarket itu dengan hanya berjalan kaki. Namun, lagi-lagi perasaan khawatirnya membuat ia memutuskan untuk meminta supir pribadi sang majikan mengantarkannya. Ia takut jika majikannya terlalu menunggu lama. Ia juga takut jika terjadi apa-apa dengan Aretha, ketika ditinggal terlalu lama olehnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suara orang muntah itu kek gimana, sih? 🤔🤔🤔


Happy reading.


Yang kemarin minta cerita khusus untuk Diandra dan Samuel, mohon ditunggu ya, masih on process 😉🥰