Possessive Love

Possessive Love
Surat Undangan



Aretha segera pamit pulang, setelah selesai menemani David makan siang. Mangingat pekerjaan David yang belum selesai, ia tidak ingin jika keberadaanya di sana, malah mengganggu pekerjaan suaminya. Selain itu, ia juga merasa kasihan dengan supirnya, jika terlalu lama menunggu.


Aretha keluar dari ruangan itu, tanpa diantar oleh David. Namun, lagi-lagi ia dihadapkan dengan Dita. Aretha sedikit memutar bola matanya, merasa tidak nyaman dengan keberadaan wanita itu.


Sial! Kenapa dia begitu senang menggangguku? Sepertinya harus kukasih sedikit pelajaran.


"Sudah, bertemu dengan pak bosnya?" tanya Dita.


Aretha tersenyum senang. "Ya, kami sangat bahagia karena bisa saling melepas rindu," jawabnya sengaja memanas-manasi Dita.


Dita tampak berdecih. "Cih! Tidak tahu malu kamu!" ejeknya.


"Lho, kenapa saya harus malu?" tanya Aretha.


"Sayang!"


Seketika suara bariton mengalihkan fokus keduanya. Dita tampak terkejut saat menyadari David yang berdiri di belakang Aretha. Lebih mengejutkan lagi, ketika ia mendengar panggilan sayang untuk Aretha yang terlontar dari mulutnya. Sungguh itu membuatnya terperangah, hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Mas?" ucap Aretha, setelah berhasil membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Handphone kamu ketinggalan." David tampak menyodorkan ponsel Aretha yang tidak sengaja tertinggal di ruangan David.


Aretha segera meraih ponsel itu. "Aku lupa. Terima kasih, Mas," ucapnya yang sontak membuat Dita semakin mematung dibuatnya.


Sayang? Mas? Apa maksudnya ini? Kenapa mereka terlihat begitu mesra sekali?


David mengalihkan fokusnya kepada Dita. Ia tampak menatap sinis wanita itu, seolah tidak suka dengannya.


"Lain kali, hati-hati jika berbicara dengan istri saya!" ketus David. Rupanya ia sudah memperhatikan gelagat Dita sedari tadi.


Krek!


Istri? Apa-apaan ini? Apa ada yang salah dengan pendengaranku?


Dita masih mematung di tempat. Seketika hatinya hancur, karena harus menerima kenyataan pahit bahwa pria yang ia dambakan selama ini telah memiliki istri, terlebih yang menjadi istri David adalah Aretha. Sungguh itu terasa mimpi baginya. Ekspresinya berubah menciut, ketika menyadari tatapan yang begitu menusuk. Ia pun segera menundukkan kepalanya.


"Ma-maaf, Pak," ucap Dita lirih.


Ternyata itu salah satu alasan Dita selalu mengganggu dan bersikap seolah iri kepada Aretha. Ternyata diam-diam ia menaruh hati kepada atasannya sendiri. Namun, sayang sekali ia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, untuk menjadi dekat saja, itu seperti mimpi baginya. Oleh karena itu, ia sangat iri melihat kedekatan David dengan Aretha.


"Oh iya, Mas, aku lupa kalau ada tujuan lain sampai aku harus datang ke sini," ucap Aretha kepada David.


Aretha senang sekali dengan sikap David kepada Dita saat itu. Paling tidak, Dita tidak akan berani mengganggunya lagi, kecuali jika wanita itu ingin kehilangan pekerjaannya, karena Aretha tahu bahwa David tidak akan tinggal diam, membiarkan siapa saja mengganggunya.


"Apa, Sayang?" tanya David penasaran.


Aretha tampak merogoh sling bag yang ia kenakan, lalu mengeluarkan sebuah surat undangan. Aretha memberikan surat undangan itu kepada Dita.


"Nih, Mbak. Jangan lupa datang ya, ke acara resepsi pernikahan kami," ucap Aretha benar-benar sengaja ingin membuat Dita mati kutu.


Dengan rasa ragu, Dita meraih surat undangani


Beruntung tadi pagi sang ibu mertua sudah mengirimkan sebagian surat undangan ke rumahnya, melalui supir pribadi mertuanya itu. Aretha pun segera berencana untuk menemui sang suami, karena sebagian besar surat undangan itu adalah untuk rekan kerja David di kantornya.


"Tadi pagi mama kirim ini," ucap Aretha memberi tahu seraya menyodorkan beberapa surat undang itu kepada David.


David segera meraihnya dari tangan Aretha. "Terima kasih, Sayang," ucapnya.


"Ya sudah, aku pulang dulu," pamit Aretha.


Aretha segera beranjak dari tempat itu.


Nyatanya tidak hanya Dita yang terperangah, melainkan karyawan wanita lain yang melihat adegan itu juga ikut terperangah, merasa tidak percaya bahwa atasannya sudah tak lagi single. Hancur sudah harapan mereka. Sudah tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk menjadi pendamping hidup sang atasan, karena sudah ada yang menempati kekosongannya. Dan akhirnya, terjadilah patah hati berjamaah.


***


Di dalam ruangan, David tengah sibuk memeriksa email yang masuk, beberapa laporan berbentuk soft file yang ia minta dari para pegawainya. Seketika kegiatannya terhenti, ketika terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" titah David.


Pintu itu pun terbuka dalam hitungan detik. Tampak menyembul kepala Denis dari balik pintu itu, lalu diiringi tubuh tegapnya yang kemudian masuk ke dalam.


"Den, duduk!" titah David seraya menoleh sejenak, lalu fokus kembali ke layar laptop. "Sebentar, saya menyelesaikan ini dulu," sambungnya dengan jari yang masih menari-nari pada touchpad laptop miliknya.


"Silakan, Pak," ucap Denis sama sekali tidak keberatan.


Tak berlangsung lama. Hanya dalam waktu lima menit, David telah menyelesaikan kegiatannya. Ia tampak menutup akun emailnya pada layar laptop itu, lalu beralih fokus kepada Denis yang kala itu telah duduk di depannya, hanya terhalang meja kerja.


"Ada apa? Apa sudah ada perkembangan?" tanya David yang langsung dipahami oleh Denis. Ya, perkara apa lagi jika bukan yang berhubungan dengan Hendra.


"Ya," singkat Denis.


"Apa?" David tampak begitu penasaran.


Selama satu minggu, Denis menyelidiki Hendra. Bahkan, ia meminta salah satu dari anggota timnya untuk mengikuti Hendra, kemanapun ia pergi, sehingga ia dapat mengumpulkan beberapa informasi terkait dirinya.


Awalnya, Denis tidak menyangka bahwa Hendra berani berbuat seperti itu. Hendra, pria berusia tiga puluh tahun yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan itu. Selama bekerja dengan Kris, papanya David, Hendra tidak pernah sekalipun berbuat curang, tetapi kenapa setelah perusahaan itu dikelola oleh David ia justru malah berbuat curang.


Itu menjadi tanda tanya besar. Hingga akhirnya, Denis menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaannya. Dan sungguh itu sangat mengejutkan baginya. Bahkan, David pun ikut terkejut mendengar informasi yang diberikan oleh Denis. Percaya atau tidak, tetapi itulah kenyataannya.


"Apa kamu bilang?" tanya David seraya terbelalak saat mendengar informasi langsung dari mulut Denis.


"Ya, saya juga sempat tida memercayainya, tetapi memang itulah kenyataannya. Bahkan, saya melihat sendiri pak Hendra menjenguk Alivia di kantor polisi dua hari yang lalu, dan saya rasa pak Hendra melakukan itu terhadap Bapak, semata-mata hanya karena ingin membalaskan dendam Alivia, adik sepupunya," jelas David.


Tidak ada yang menyangka sedikit pun bahwa Hendra ternyata saudara sepupu dengan Alivia, wanita yang David kirimkan ke bui, karena balasan dari ulahnya sendiri. Rupanya wanita itu masih belum puas bermain-main dengan David Wijaya yang tidak pernah akan diam jika ada siapapun orang yang mengganggunya, ataupun mengganggu keluarganya.


"Sial! Berani sekali dia bermain-main denganku!" geram David seraya mengepalkan tangannya, lalu dipukulnya meja yang berada di hadapannya, sehingga membuat Denis sedikit tersentak.


Aku harus segera berbuat sesuatu, sebelum dia berbuat lebih jauh!


"Apa perlu saya ambil tindakan sekarang?" tanya Denis yang sudah tidak sabar ingin menyergap pelaku kejahatan di kantor itu.


"Lakukan!" tegas David tanpa berbasa-basi.


Saat itu juga, Denis melaporkan Hendra kepada pihak berwajib, dengan berbagai bukti yang ia miliki.


Karena Denis cukup mengenal baik beberapa dari tim kepolisian, sehingga prosesnya begitu lancar tanpa hambatan, dan sore itu juga, mereka melakukan penyergapan di kantor David. Hendra berhasil ditangkap oleh tim kepolisian, lalu segera dibawanya ke kantor polisi detk itu juga.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC