Possessive Love

Possessive Love
Penasaran



"Tunggu!"


Aretha dan Diandra sontak membalikkan badan, menoleh ke arah sumber suara. Mereka termangu saat menyadari bahwa David yang berdiri di sana. Entah ada perlu apa sehingga harus menghentikan kegiatan kedua gadis itu pada waktu istirahat.


"Maaf, Pa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aretha.


"Ikut saya!" jawab David tegas seraya melangkahkan kakinya, entah mau kemana.


"Ta-tapi mau kemana, Pak?" tanya Aretha masih berdiam di tempat semula, sontak membuat David yang kala itu telah memunggunginya, seketika menghentikan kembali langkahnya.


"Tidak usah banyak tanya! Lakukan apa yang saya perintahkan!" tukas pria itu tanpa menoleh ke belakang, lalu melanjutkan kembali langkahnya.


"Ra, sorry ya ...," bisik Aretha memelas. Lagi-lagi acara makan siang bersama sahabatnya harus ia batalkan.


Diandra tampak mendengus. "Ya udah, Re, gak apa-apa," jawabnya sedikit kecewa. "Ya udah, buruan sana kejar pak David!" titahnya kemudian.


Aretha segera meraih tasnya, lalu mengejar langkah David. Ia tampak sedikit berlari untuk mengejar ketertinggalan hingga napasnya terasa sedikit terengah-engah. Dadanya tampak naik turun karena kelelahan.


Heran sama atasan yang satu ini, gak bisa apa lihat orang santai sebentar saja, dipikirnya aku ini robot hingga tidak diberi kesempatan untuk istirahat sama sekali? batin Aretha saat itu.


Setelah bersusah payah, akhirnya ia dapat mengejar atasannya dan berjalan tepat di belakang pria itu.


Aretha terus mengikuti langkah David. Langkah David yang dua kali lebih cepat membuat gadis itu sedikit tergesa-gesa mengejarnya. Ia tidak bisa menyeimbangkan langkahnya dengan langkah David. Terlebih lagi karena ia memakai high heels sehingga membuatnya cukup kesulitan berjalan dengan tempo yang cepat.


David menuntun Aretha dengan langkahnya hingga ke parkiran. Pria itu masuk ke dalam mobil miliknya. Namun, tidak dengan Aretha. Gadis itu masih berdiri termangu, merasa heran, sebenarnya David akan membawanya kemana.


"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" teriak David dari dalam mobil. Aretha tampak melihat ke dalam mobil itu melalui jendela mobil yang terbuka.


"Ayo masuk! Jangan manja, pake nunggu dibukain pintu segala!" ucap David ketus, sebelum Aretha berhasil menanyakan apa yang ada dalam pikirannya.


Sialan! Tuh orang suka seenak jidat kalau ngomong! umpat Aretha dalam hati.


Aretha menatap David sinis, tetapi tidak berlangsung lama. Gadis itu segera menuruti perintah David. Ia masuk ke dalam mobil itu, walau dalam keadaan masih penasaran.


BRUK!


Aretha menutup pintu mobil mewah itu dengan sedikit menghentakkannya. Ia seolah ingin menunjukkan kekesalannya kepada sang pemilik mobil.


"Kamu sengaja mau menghancurkan mobil saya?" tanya David seraya membelalakkan mata, menatap sinis gadis itu.


"Elah ... Pa, segitu doank, tidak berarti apa-apalah buat Bapak!" keluh Aretha santai. "Di rumah masih banyak stok, kan?" imbuhnya tanpa menoleh ke arah David.


"Jangan kurang ngajar kamu!" David semakin mempertajam tatapannya hingga membuat Aretha yang kala itu seketika menciut, saat baru saja ia menatap balik pria itu.


"Ma-maaf, Pa, saya tidak bermaksud seperti itu," lirihnya seraya menundukkan kepala.


Ya ampun, kenapa bisa keceplosan sih gue! Lihat sikap pak David yang kayak gitu, gue jadi lupa 'kan kalau dia ternyata atasan gue, sialan! Aretha merutuki dirinya sendiri.


Tak ada respon dari David. Ia segera menyalakan mesin mobilnya, lalu keluar dari area perkantoran.


***


Lima belas menit kemudian, Aretha dan David nampak telah duduk di sebuah kafe dengan dua cangkir kopi yang telah di suguhkan pelayan kafe itu untuk mereka, sesuai dengan pesanan.


Aretha masih penasaran. Meski David telah mengatakan bahwa ia akan menunggu seseorang di sana. Namun, pria itu tidak memberi tahu gadis itu dengan jelas siapa orangnya.


Gadis itu semakin bertanya-tanya setelah sepuluh menit mereka menunggu, tetapi orang yang ditunggu tidak juga menampakkan diri di hadapan mereka.


Dengan perasaan ragu, Aretha sedikit mencondongkan tubuhnya. "Pak, sebenarnya ... siapa orang yang sedang kita tunggu?" tanyanya, sontak membuat David yang tengah sibuk memainkan ponsel, melirik ke arahnya.


"Bukan begitu maksud saya," balas Aretha mencoba santai. "Maaf sebelumnya, ini udah lebih dari sepuluh menit kita menunggu, tetapi sampai sekarang orangnya masih belum datang. Apa Bapak sedang menunggu klien?" tanyanya.


Setahu Aretha hari itu tidak ada jadwal meeting dengan klien. Entah kalau ternyata jadwalnya dadakan. Namun, seandainya itu benar, paling tidak David memintanya untuk mempersiapkan apa saja yang harus ia bawa. Akan tetapi, kala itu tidak ada perintah apapun dari David, selain memintanya untuk ikut.


"Saya sedang menunggu teman saya," jawab David sembari fokus ke layar ponselnya.


Mendengar ucapan David, seketika membuat Aretha geram. Bagaimana mungkin David menyita waktu istirahat gadis itu hanya demi bertemu dengan temannya. Bahkan, Aretha sama sekali tidak mengenal orang itu.


"Lantas, kenapa Bapak ajak saya kalau cuma untuk bertemu dengan teman Bapak?" tanya Aretha sedikit memelotot.


"Suka-suka saya!" jawab David tak peduli.


Ya ampun ... ini orang di kasih makan apa sih waktu bayi, kok begini amat ya? gumam Aretha.


"Ya sudah, Pak, saya permisi ke toilet dulu," pamit Aretha dengan nada sedikit kesal.


Gadis itu segera beranjak dari tempat itu. Sementara David hanya memandangi Aretha yang kala itu telah memunggunginya dan semakin menjauh dari jangkauannya.


"Dasar gadis bodoh! Mana mungkin aku mengajaknya kalau bukan karena urusan pekerjaan!" umpat David.


***


Setelah beberapa menit, Aretha tampak telah kembali dari toilet. Dengan perlahan, ia berjalan menghampiri meja nomor 10, dimana David tengah duduk di sana.


Craaang!!!


Seketika gadis itu menghentikan langkahnya, tatkala seorang pelayan kafe yang tengah membawa nampan berisi satu gelas minuman, menabraknya hingga gelas itu terjatuh dan pecah.


Tampak beberapa serpihan kaca berserakan dimana-mana. Gadis itu cukup dibuat ternganga dengan kejadian itu. Baju berwarna biru langit yang ia kenakan tampak basah, tersiram minuman itu, hingga membuat pakaian dalamnya sedikit transparan.


Nampaknya kejadian itu membuat seluruh pengunjung di sana mengalihkan perhatiannya ke arah mereka.


Seketika Aretha mendongak, menatap pelayan itu dengan sinis. Ia merasa geram karena pelayan yang berjenis kelamin laki-laki itu, tidak berjalan hati-hati.


"Nona bisa hati-hati tidak kalau sedang berjalan? Lihat! Akibat ulah Nona, satu minuman milik pelanggan saya tumpah!" ucap pelayan itu memaki sembari menunjuk ke arah serpihan-serpihan gelas kaca itu. Netra gadis itu tampak mengikuti arah telunjuk pelayan tersebut.


Sementara dari kejauhan, David yang sedari tadi memerhatikan ke arah sumber suara, tampak segera menghampiri tempat keributan itu, ketika ia menyadari bahwa Arethalah yang mengalami hal tersebut.


"Jaga bicara anda!"


_________________________


Hai ... hai ... hai ... para readers yang ketjeh🤗🤗


Hayo loh ... penasaran gak apa yang akan dilakukan David?🤔


Ikuti terus ya ceritanya!☺️ Jangan lupalike and comment-nya donk! Sesekali sapa author juga di kolom komentar biar semangatku semakin memburu, jangan cuma jadi silent readers ya!😌🙏


Oh ya, satu lagi! Kalian tahu ga, kira-kira David dikasih makan apa ya waktu bayi?🤔🤔


Semoga kalian tetap suka🤗


Happy Reading!


Jangan lupa follow ig aku @batik.tik03


TO BE CONTINUED ....