Possessive Love

Possessive Love
Frustasi



David menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Aretha. Pria itu hanya diam tanpa kata dengan leher yang sedikit ditekuknya. Pandangannya fokus ke arah setir mobil. Namun, deru napasnya yang sedikit terengah-engah dapat dirasakan seolah menahan amarah yang semakin bergejolak di dalam dada.


Bukanlah hal yang mudah baginya, menerima apa yang selama ini tidak diinginkannya. Menerima kenyataan akan perkara yang bahkan setiap detiknya ia singkirkan dari otaknya. Siapa yang menyangka, ternyata itu semua benar. Kenapa ia begitu naif akan hal itu?


Aretha hanya diam menatap pria di sampingnya. Air mata yang semakin luruh tak dapat lagi ia bendung. Melihat orang yang ia cintai terluka, sungguh menyakitkan baginya. Dan, lebih menyakitkan lagi, saat ia sendiri yang membuat luka itu.


"Mas ...," lirihnya parau. "Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kita bicarakan ini baik-baik, aku tidak bisa kalau harus seperti ini, please ... kamu dengarkan aku," imbuhnya tak berhenti memohon.


"Apalagi yang ingin kamu jelaskan, Re? Tidak ada satupun kebohongan yang dapat dibenarkan, sekalipun menurut kamu itu demi kebaikan!" batin David menanggapi.


"Kamu lihat ini!" Aretha mengeluarkan kalung pemberian David dari balik bajunya. Ia memegang bandul kunci itu. "Bahkan aku sudah menggunakan ini untuk hati aku, Mas," imbuhnya seraya memejamkan mata sejenak, hingga menumpahkan kristal beningnya, seolah menahan rasa sakit yang begitu mendalam.


Pria itu masih tak bersuara dengan pandangan yang masih fokus menatap setir mobil. Kedua tangannya pun masih bertumpu di sana. sungguh tangisan Aretha membuatnya tidak tega. Namun, apa yang bisa ia lakukan untuk kenyataan pahit yang baru saja ia terima?


"Mas ...," lirih Aretha sekali lagi seraya meraih tangan David.


"Turun," lirih David memerintah.


"Tidak, Mas. Kita harus selesaikan masalah ini dulu," rengek Aretha seraya menggenggam tangan David. "Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon kamu maafkan aku, Mas ... hiks." Tangisan Aretha semakin membuat tubuhnya bergetar.


David menoleh, menatap sayu gadis yang tengah duduk di sampingnya. "Turun, Re," titahnya pelan. Namun, Aretha tak bergeming.


"Aku sayang kamu, Mas," ucap Aretha, berharap dengan ia mengungkapkan perasaan yang selama ini tidak pernah ia lakukan dapat membuat hati David luluh.


Aku tahu itu hanya omong kosong, Re


"Aku bilang turun." David masih berkata pelan, meski sebenarnya ia ingin sekali berteriak.


Aretha masih mencoba bertahan dan berharap David akan berubah pikiran untuk mau mendengarkan penjelasannya. Namun, nyatanya itu di luar dugaan.


Tatapan sayu itu tiba-tiba berubah menjadi tajam. "Turun!" bentak David yang sontak membuat Aretha tersentak dan semakin tidak bisa membendung Isak tangis yang lolos dari tenggorokannya.


Aretha menutup mulutnya dengan tangan kanan seraya menggelengkan kepalanya. Ia menyerah seolah tak ada lagi yang bisa ia perbuat, selain menangisi apa yang sudah ia lakukan.


Dengan terpaksa, Aretha turun dari mobil David dalam kondisi masih terisak, lalu gadis itu berlari masuk ke rumahnya.


Melihat Aretha yang menangis membuat Carmila yang kala itu membukakan pintu cukup dibuatnya terkejut. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya memasang ekspresi cemas.


Tanpa berkata apapun, Aretha langsung memeluk erat tubuh sang mami dan membenamkan wajahnya di dada Carmila. Ia pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang mami.


Sementara David masih berada di dalam mobil. Ia masih belum meninggalkan tempat itu. Pria itu terkulai lemas pada sandaran jok mobil. Napasnya sedikit berat. Apa yang baru saja ia dengar membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Arrgh!!" David mengerang frustasi seraya mengacak rambutnya sendiri.


Pria itu tampak merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya.


"Dimana?" tanya David kepada seseorang di seberang sana, setelah ia berhasil menghubungkan saluran telepon itu.


Tut!


David mengakhiri kembali teleponnya, setelah ia mendapatkan jawaban dari orang yang dimaksud.


David kembali menegakkan posisi duduknya, lalu mulai menyalakan mesin mobil itu dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi hingga sampai disebuah apartemen.


Lift itu melesat cepat, setelah David berhasil menaikinya. David keluar dari lift itu. Dengan tergesa ia berjalan menuju salah satu unit apartemen itu hingga tiba di depan pintu apartemen yang dimaksud.


Pintu apartemen itu terbuka, ketika David telah berhasil memencet belnya. Nampak Rendy yang muncul dari balik pintu itu.


Rendy tampak termangu melihat rambut David yang nampak berantakan, disertai ekspresi wajah yang sedikit menakutkan. "Dave, are you okay?" tanyanya.


Namun, David tak menjawab. Pria itu menerobos masuk, sebelum sang empunya mempersilakan. Tampak Richard tengah duduk di sofa di dalam sana.


Kehadiran David yang secara tiba-tiba membuat Richard menoleh. Namun, ia ikut terkejut, tatkala melihat David yang sedikit berantakan sembari menatapnya geram.


"Dave?" Richard mengerutkan dahi heran.


David terus menghampiri Richard. Kedua tangannya telah mengepal sempurna. sementara Rendy tampak mengekorinya dari belakang. Melihat kondisi David saat itu membuat Rendy sedikit menaruh kecurigaan terhadapnya.


David menarik kerah baju Richard, setelah ia berhasil berdiri tepat di hadapan pria itu sehingga membuat Richard berdiri dari duduknya.


"Dave, ada apa ini?" tanya Richard memastikan, meski sebenarnya ia sudah dapat menduga apa yang telah terjadi kepada David.


BUG!


Satu tonjokan melayang di pipi kiri Richard hingga membuat bibir pria itu sedikit mengeluarkan darah. Richard masih tak bergeming.


"Dave, apa yang lo lakukan?" teriak Rendy.


BUG!


"Untuk sahabat yang sudah berani khianati gue!"


Satu pukulan lagi mengenai pipi kanan Richard hingga membuat pria itu tersungkur kembali di sofa. Namun, Richard masih menerima itu semua, tanpa membalasnya sedikit pun.


Mendengar ucapan David membuat Richard semakin yakin bahwa itu semua ada hubungannya dengan Aretha. Ia berpikir bahwa Aretha telah mengatakan semuanya kepada David, sebagaimana sebelumnya gadis itu merengek memintanya untuk mengakui itu semua kepada David.


David menarik kembali tubuh Richard dari sofa itu hingga membuat Richard kembali berdiri. Tangannya telah siap dengan satu pukulan yang akan ia layangkan di perut Richard. Namun, belum berhasil David melakukannya, Rendy telah lebih dulu menahannya sekuat tenaga dengan meraih tangan David


"Dave, gue mohon jangan lakukan ini!" titah Rendy memohon seraya menatap sayu David, lalu menggelengkan kepalanya tampak cemas Namun, David masih fokus ke wajah Richard.


"Lakukan, Dave, jika itu bisa menebus semua kesalahan gue," titah Richard pasrah tidak melawan. Namun, David hanya diam.


Setelah beberapa saat David menatap geram pria di hadapannya, lalu ia mendorong kasar pria itu hingga kembali terhempas pada sofa berwarna hitam itu.


David masih berdiri di tempat semula sembari menatap sinis wajah Richard dengan napas yang sedikit terengah-engah.


"Dave, kalau ada masalah, ayolah ... Kita selesaikan baik-baik," ucap Rendy sedikit memberi jeda. " Jangan seperti ini lah ... Kita sama-sam sudah dewasa, kan?" imbuhnya.


_________


JANGAN LUPA KOMENTAR


HAPPY READING!