Possessive Love

Possessive Love
Arka Yang Usil



"Ehem! Seru sekali, sedang bahas apa kalian?" tanya David yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka dengan tatapan penuh tanya yang sontak membuat mereka kelabakan harus menjawab apa.


"Tidak ada hal penting yang kami bahas," jawab Rendy mengeles.


David tampak mendaratkan tubuhnya di sofa berukuran panjang, bertepatan dengan Aretha yang menyuguhkan minuman beserta camilannya untuk ketiga tamunya itu.


"Lho, bi Ratih kemana, Sayang?" tanya David heran, kenapa harus istrinya yang menyuguhi tamu mereka, padahal ada asisten rumah tangga yang bisa melakukannya.


"Bi Ratih sedang sibuk memasak untuk makan siang. Nanti kita makan siang bersama ya," ujar Aretha seraya mengajak ketiga tamunya untuk makan siang di rumahnya, karena kebetulan waktu makan siang tinggal satu jam lagi. "Silakan diminum!" imbuhnya, lalu menghampiri David dan duduk di sebelah pria itu.


"Terima kasih, Re," ucap Clara.


Mereka pun tampak berbincang berbagai hal. Tak ada hal penting yang mereka bahas. Hanya pembahasan seputar anak-anak mereka masing-masing. Meski Richard belum memiliki anak, tetapi ia kerap kali menanggapi pembahasan mereka. Ia banyak sekali bertanya tentang kembang tumbuh si kembar yang justru membuat David semakin merasa heran akan tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat mencurigakan.


"Bagaimana dengan kuliahmu, Re?" tanya Richard yang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.


Aretha menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. "Alhamdulillah kuliahku lancar. Kebetulan sekarang sedang menyusun tesis. Mohon doanya dari kalian agar aku bisa lulus tahun ini," jawab Aretha.


Ya, setelah dua tahun melahirkan, sang suami memang telah memenuhi janjinya dengan memberikan izin kepada wanita itu untuk melanjutkan study S2-nya. Terlebih lagi, karena papinya meminta Aretha untuk segera dapat mengelola perusahaan yang nantinya akan diwariskan penuh kepadanya.


"Syukurlah, semoga lancar ya, Re," ujar Clara.


"Terima kasih, Mbak," balas Aretha.


Di satu sisi, Aretha senang bisa melanjutkan kembali pendidikannya. Namun, di sisi lain ia juga merasa repot dengan kesibukan barunya. Bagaimana tidak? Di usianya yang semuda itu, ia harus mengurusi sepasang anak kembarnya, ditambah lagi harus membagi waktu untuk kuliah. Ia tidak bisa mebayangkan, bagaimana nanti ketika ia sudah benar-benar mengelola perusahaan papinya. Entah ia akan bisa membagi waktu dengan baik atau tidak, yang jelas itu akan menjadi tantangan baru baginya.


"Huwaaaa ... Mama ...." Rintihan Zelline seketika memecah di ruangan itu, sontak membuat mereka yang tengah berbincang renyah seketika mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.


Dari kejauhan tampak Zelline yang tengah berjalan menghampiri mereka sembari menutup sebelah matanya disertai suara isak tangis yang seolah tak bisa dihentikan.


"Zelline sayang, kamu kenapa, Nak?" Aretha segera menghampiri gadis kecil itu, karena jaraknya memang paling dekat dibandingkan dengan Clara. Ia memegangi kedua lengan Zelline. Namun, Zelline hanya menjawab dengan isak tangisnya.


Tak lama Clara pun menyusul menghampiri putrinya. "Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya seraya menatap wajah putri kecilnya itu.


"Ar-Arka, Ma ...," jawab Zelline terbata.


"Arka?" lirih Aretha. "Apa yang dia lakukan padamu, Nak?" tanyanya kemudian. Lagi-lagi Zelline menjawab dengan isak tangisnya.


"Arka gangguin Zelline lagi main, Ma. Tadi bonekanya diambil sama Arka," lapor Aruna yang tiba-tiba muncul di sana.


"Ya ampun, Arka ... anak itu selalu saja usil!" gerutu Aretha.


"Arka ...,"panggil David yang sedari tadi memerhatikan mereka.


"Sudah, sudah, biarkan saja. Namanya juga anak-anak," ucap Clara tidak ingin memperpanjang urusan. "Sini, Sayang," imbuhnya seraya menggendong putrinya, lalu membawanya duduk di tempat semula.


"Arka ...," panggil David sekali lagi.


"Sudah, Dave, biarkan saja," ujar Rendy yang tidak ingin melihat Arka diomeli papanya hanya karena masalah sepele.


"Nanti akan kebiasaan kalau selalu dibiarkan," jawab David tidak peduli.


"Mereka masih anak-anak, Dave," balas Rendy. Namun, David tidak menghiraukan.


Rendy menghela napas kasar. Ia sama sekali tidak ingin mempermaslahkan itu, tetapi David tetap saja.


"Aruna, sini sama om," panggil Richard kepada Aruna yang sontak membuat David mendelik seketika. Namun, David tidak ingin terlalu peduli, karena saat itu ia masih menunggu Arka datang menghadapnya.


"Arka ...." Lagi-lagi David memanggil putranya dengan nada yang sedikit tinggi. Kala itu ia sudah memasang wajah seriusnya.


"Mas," sela Aretha yang tidak ingin jika David memarahi putranya.


"Iya, Pa," lirih Arka yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Aretha langsung meraih putranya itu, sedangkan David tampak menatapnya sedikit tajam, sehingga membuat Arka menunduk—tidak berani menatap balik papanya.


"Sayang, sini sama mama." Aretha segera menggendong putranya itu. Aretha paham betul ketakutan Arka saat itu. Aretha beranjak, lalu duduk kembali di sofa, tepat di samping David. Ia mendudukkan Arkana di pangkuannya.


Arkana masih saja menunduk, terlebih lagi ketika ia sadar bahwa papanya masih saja menatapnya dengan tajam.


"Arka," panggil David lirih. Namun, Arka masih saja bergeming. "Arka dengar tidak, papa panggil Arka?" tanya David masih dengan nada lembut.


Arka mengangguk dan masih belum berani menatap papanya.


"Arka, lihat papa," pinta David.


Dengan rasa ragu, Arka mendongak, lalu menatap papanya dengan sedikit ketakutan.


David yang menyadarinya, ia langsung menyunggingkan senyumnya, berusaha untuk tidak membuat putranya merasa ketakutan. "Arka tidak perlu takut, papa tidak marah, kok," ucapnya memberi tahu. "Papa hanya mau tanya, benar apa yang dikatakan adikmu, Nak?" tanyanya kemudian.


"Iya, Pa," jawab Arkana mengangguk. "Arka hanya iseng, tidak bermaksud untuk membuat Zelline menangis," akunya kemudian.


"Ayo, Sayang. Kamu minta maaf dulu," timpal Aretha.


"Baik, Pa, Ma," jawab Arka. Dengan rasa ragu ia turun dari pangkuan mamanya, lalu berjalan menghampiri Zelline yang kala itu duduk dipangkuan Clara.


Clara tampak menyambut Arka dengan senyuman, meski Arka masih belum mengucapkan apapun. Pun dengan Rendy yang juga melakukan hal yang sama.


"Zelline, Arka minta maaf ya," lirih Arka seraya mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Zelline, sontak membuat gadis kecil itu seketika menghentikan isak tangisnya.


"Ayo, Sayang ... maafin dong," bisik Rendy kepada putrinya.


Alih-alih menerima permintaan maaf Arka, gadis kecil itu malah menatap mamanya.


"Maafin, Sayang. Anak baik itu harus saling memaafkan. Kamu anak yang baik, bukan?" ujar Clara seraya menasihati putrinya.


Mendengar nasihat dari sang mama membuat Zelline seketika menyadarinya. Gadis kecil itu pun langsung mengacungkan jari kelingkingnya, lalu mengaitkannya dengan jari kelingking Arka. "Aku maafin," ucapnya, tetapi dengan ekspresi masih sedikit cemberut.


"Anak-anak yang baik," puji Rendy seraya tersenyum senang melihat kedua anak itu berbaikan.


"Sudah dong, Sayang, wajahnya jangan cemberut seperti itu," goda Clara sembari tertawa ringan, kemudian mencubit pipi putrinya dengan gemas.


"Sakit, Ma ...," rengek Zelline.


Clara merengkuh tubuh putrinya. "Oh iya, iya, maafin mama ya, Sayang," ucapnya.


Arka yang kala itu masih berdiri di dekat mereka, tampak memerhatikan Zelline yang memiliki sikap manja yang hampir sama dengan adik kembarnya.


"Arka, kemarilah, duduk di sini sama om," panggil Rendy seraya menepuk-nepuk pangkuannya. Namun, Arka hanya menggeleng, lalu segera menghampiri kembali mama dan papanya.


Anak itu memang susah sekali didekati, berbeda dengan Aruna yang bisa akrab dengan siapapun, terlebih lagi dengan Richard.


Dengan sigap, David meraih tubuh putranya, lalu mendudukkan Arka di pangkuannya. "Nah, begitu dong ... itu baru namanya anak laki-laki," pujinya kepada Arka. Namun, putranya tak menanggapi apapun.


***


"Sayang, bagaimana dengan anak-anak, apa mereka sudah tidur?" tanya David, ketika Aretha baru saja beranjak menaiki tempat tidur, lalu berbaring di sampingnya, setelah beberapa menit lalu wanita itu memeriksa kedua buah hatinya yang sudah tertidur pulas di kamar mereka.


"Sudah, Mas. Mereka terlihat tidur dengan nyenyak," jawab Aretha seraya menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.


"Syukurlah," lirih David, lalu memiringkan posisi tidurnya menghadap Aretha, pun sebaliknya. "Kamu lelah?" tanyanya kemudian sembari menatap sepasang manik coklat di hadapannya.


"Aku cukup lelah hari ini," lirih Aretha yang kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Ia menatap langit-langit kamarnya seolah tengah ada yang ia pikirkan.


"Bagaimana nanti kalau kamu sudah bekerja?" tanya David masih menatap sang istri.


Tak bisa dipungkiri bahwa ia juga masih merasa ragu memberikan izin istrinya untuk bekerja. Entah kenapa, banyak sekali kekhawatiran yang ada di dalam benaknya. Dan ia pun bingung itu kekhawatiran atas apa.


"Entahlah," singkat Aretha.


Mereka terdiam beberapa saat. David masih memandangi wajah sang istri yang kala itu masih menghadap langit-langit kamarnya.


"Kamu belum ngantuk?" tanya David, setelah beberapa menatap sang istri yang masih belum memejamkan matanya.


"Belum, Mas," jawab Aretha.


"Sudah malam. Ayo, kita tidur!" ajak David.


"Aku belum ngantuk," tolak Aretha yang ditanggapi dengan helaan napas panjang.


"Mas ...," lirih Aretha kemudian.


"Kenapa?"


"Entah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu kepikiran papi," desis Aretha.


David tersenyum, lalu berkata, "Mungkin karena kamu kangen, sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan papi.


"Ya, mungkin. Papi terlalu sibuk, sehingga aku sulit sekali untuk bertemu dengan beliau," balas Aretha memasang ekspresi sendu. Entah kenapa, tiba-tuba ia ingin menangis saat mengingat papinya. "Aku khawatir dengan kondisi kesehatannya, Mas. Aku takut papi tidak memedulikan kesehatannya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan," imbuhnya cemas.


Lagi-lagi David tersenyum. Ia tahu betul dengan kekhawatiran sang istri saat itu. Bahkan, ia pun merasakan hal yang sama, selalu terpikirkan papi mertuanya itu.


"Besok kita menginap di rumah papi," ujar David sembari menyunggingkan senyumnya. Ia pikir itu akan membuat istrinya merasa sangat senang.


Secepat kilat Aretha langsung menoleh ke arah David. "Beneran, Mas?" tanyanya meyakinkan.


"Tentu," jawab David singkat.


Aretha tersenyum bahagia. "Terima kasih, Mas," ucapnya.


"Ya sudah, ayo kita tidur!" ajak David.