Possessive Love

Possessive Love
Rekaman CCTV



Siang itu, tepat pukul 12.30 WIB. David sengaja mengajak bertemu Richard dan juga Rendy. Namun, Richard malah meminta kedua sahabatnya untuk datang ke kantornya.


Satu jam kemudian, David dan Rendy telah berada di ruangan Richard, sementara Richard masih belum selesai dengan kegiatan meeting di kantornya. Rencananya, mereka akan membahas perihal penyelidikkan kasus kecelakaan Aretha.


Mengingat sepulang dari rumah sakit, tadi malam. Richard dan Rendy langsung mengunjungi toko kue, dimana Aretha sebelumnya membeli kue di toko tersebut.


Beruntung mereka bergerak cepat hingga dapat menemui petugas dari toko tersebut dan melacak kejadian beberapa jam yang lalu di depan toko kue itu.


Benar saja dugaan mereka, bahwa kecelakaan Aretha memang karena adanya unsur kesengajaan. Ada seorang pria yang telah sengaja memutus kabel rem mobil Aretha. Bukti itu mereka dapatkan dari rekaman CCTV yang memang telah terpasang secara tersembunyi di area depan toko kue itu.


Selang beberapa menit, Richard langsung mengirimkan rekaman CCTV itu kepada David, setelah ia berhasil menyalin rekaman itu ke handphone cerdas miliknya.


Tak lupa, Richard dan Rendy pun segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib, sementara David menyuruh seorang agen rahasia handal yang sudah tergabung dengan badan inteligen.


Ya, ia adalah Denis, seseorang yang sudah bekerja dengan David dari sebelum ia mengelola perusahaan di kantor pusat. Denis diminta untuk menyelidiki kasus tersebut oleh David.


Karena kegigihan Denis, dalam waktu singkat pria itu telah menemukan siapa pelaku pemutus kabel rem tersebut. Namun, sialnya pelaku itu hanyalah seorang pesuruh bayaran sehingga Ia belum menemukan siapa dalang di balik semua itu. Itulah mengapa David tidak ingin menyerahkan terlebih dahulu ke polisi, sebelum pelaku itu mengakui siapa sebenarnya yang sudah berniat mencelakai Aretha.


"Bagaimana hasil penyelidikkan lo?" tanya Rendy kepada David.


"Terkahir kabar dari Denis, pelaku itu masih belum mengakui siapa dalang di balik semua ini," jawab David seraya menyandarkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan kerja Richard.


"Apa tidak sebaiknya orang itu segera diserahkan ke pihak berwajib?" ucap Rendy memberi saran.


"Sorry, menunggu lama!" Seketika kemunculan Richard tampak mengalihkan perhatian keduanya.


David dan Rendy menoleh ke arah pintu, memperhatikan Richard yang tengah berjalan menghampiri mereka. Sepertinya Richard baru saja selesai meeting dengan rekan kerja yang lainnya.


"Sudah selesai, Bro?" tanya Rendy seraya menatap Richard.


Richard mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal yang berada tepat di samping David. "Baru saja selesai," jawabnya. "Jadi bagaimana? Apa pelaku itu sudah mengakui siapa yang menyuruhnya untuk mencelakai Aretha?" tanyanya tanpa berbasa basi.


David memberikan jawaban yang sama seperti apa yang ia jawab kepada Rendy. Ya, kenyataannya memang begitu. Denis, sebagai agen rahasianya masih belum mendapatkan jawaban terkait pelaku sebenarnya dari orang yang sudah ia tangkap, sesuai yang ada dalam rekaman CCTV itu.


"Apa perlu kita sendiri yang menemui orang itu dan memaksanya untuk mengaku?" tanya Richard sedikit geram mendengar jawaban dari David.


"Tunggu malam ini, jika cunguk itu masih belum mengakui, gue sendiri yang akan turun tangan!" jawab David seraya mengepalkan kedua tangannya seolah tidak sabar ingin segera bertemu dengan orang yang dimaksud dan melayangkan bogem mentah pada orang tersebut, karena sudah dengan berani bermain-main dengannya.


"Apa lo tahu Aretha punya masalah dengan siapa?" tanya Richard seraya menatap David penasaran.


"Masalah?" David tampak berpikir. "Entahlah, dia tidak pernah cerita hal itu sama gue," jawabnya.


Apa mungkin dia memiliki masalah dengan orang lain sehingga ada yang berani mencelakainya?


.


"Coba lo tanya, Dave. Barangkali dia memang memiliki masalah dengan orang lain, teman sekampusnya mungkin?" saran Rendy menimpali.


"Kalau masalah dengan teman kampusnya gue kurang tahu, tetapi memang ada salah satu temannya yang mengejar Aretha. Baru-baru ini dia tahu kalau Aretha calon tunangan gue," jelas David.


"Ada kemungkinan. Bisa jadi karena dia merasa cemburu terus marah," balas Rendy.


"Tidak! Gue tidak yakin kalau dia pelakunya," jawab David sedikit ragu.


"Harusnya kalau dia dendam sama gue, gue yang akan kena imbasnya, bukan malah Aretha," ujar David. Menurutnya itu tidak masuk logika. Sebab, yang menjadi penghalang itu dirinya. Harusnya Samuel mencelakainya, bukan malah mencelakai Aretha.


"Bisa jadi alasannya karena Aretha terus menolaknya. Siapa yang tahu kalau ternyata dia adalah seorang psikopat," balas Richard.


David terdiam sejenak seraya berpikir, sebelum akhirnya menanggapi Richard. "Lo benar juga. Sepertinya gue memang harus waspada sama dia," ucapnya.


"Kenapa tidak kita serahkan cunguk itu ke pihak berwajib?" tanya Rendy.


"Jangan dulu! Biarkan saja polisi tetap menyelidiki kasus ini. Setelah kita berhasil membuat brengsek itu membuka mulut, barulah kita serahkan ke pihak berwajib, sekalian kita seret dengan bosnya!" jawab David sedikit emosi. Richard dan Rendy tampak mengangguk seolah mengindahkan perkataan David.


"Thanks, kalian sudah bantu gue," lirih David. Ia begitu bersyukur memiliki sahabat seperti Richard dan Rendy yang selalu mendukung dan juga membantunya, ketika ia sedang kesulitan.


David memang sempat menganggap kedua sahabatnya sebagai pembohong dan pengkhianat, terlebih lagi kepada Richard. Namun, itu hanyalah emosi sesaat baginya dan itulah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Akan tetapi, sungguh itu tidak benar-benar dari lubuk hatinya.


"Apa gunanya seorang teman, jika tidak bisa membantu satu sama lain," jawab Rendy.


"Gue lakukan ini buat Aretha, bukan buat lo!" timpal Richard seolah sengaja ingin memancing emosi David.


Dan benar saja, David tampak menatap Richard tajam. Dengan sigap satu bantal sofa dilayangkannya ke wajah Richard. Namun, secepat kilat Richard menangkapnya. Itu sama sekali tak membuat Richard geram. Pria itu malah terkekeh karena merasa menang.


Rendy pun dibuatnya terkekeh melihat tingkah David. Entah kenapa David yang terkenal tegas, berwibawa, dewasa dan karismatik, tiba-tiba selalu berubah menjadi seperti anak kecil, jika mengenai hal yang berhubungan dengan Aretha.


"Lihat saja, secepatnya gue akan menikahi Aretha!" kesal David.


Richard dan Rendy terdiam. Seketika mereka menghentikan aksinya, menatap serius ke arah David. Terlebih lagi Richard. Benarkah yang dikatakan David? pikirnya.


"Menikah?" Richard tampak mengerutkan dahinya dengan ekspresi sedikit termangu.


David menatap penuh kemenangan. Sepertinya ia sudah tidak peduli dengan perasaan sahabatnya itu. Walau bagaimanapun, Richard yang telah memulainya, batinnya saat itu.


"Kenapa? Bukankah lo sudah merelakannya untuk gue?" tanya David.


Richard tertawa kecil, yang lebih ke ekspresi mengejek. "Gue tidak yakin Aretha akan mau menikah secepat itu," balasnya. Tentu saja ia tahu bagaimana Aretha.


"Jangan panggil gue David, kalau gue tidak bisa melakukannya!" tegas David. "Gue balik! Nanti gue kabari kalian kalau gue butuh bantuan!" David beranjak dari tempat itu. Sementara, baik Richard ataupun Rendy tidak ada yang menanggapinya. Mereka hanya memperhatikan kepergian David saat itu.


"Bro, are you okay?" tanya Rendy, setelah David berlalu dari ruangan itu. Ia tampak menoleh ke arah Richard yang kala itu masih termangu menatap ke arah pintu.


"sure!" jawab Richard yakin.


"Jagalah kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran!" ucap Rendy mengingatkan. "Gue balik juga," pamitnya seraya mengangkat tubuhnya dari sofa.


"It's okay. Jangan terlalu mengkhawatirkan gue!"


______________________


JANGAN LUPA KOMENTARNYA DOOOOOOOOONKKKKKKKK!!!📢📢📢📢📢📢📢📢


HAPPY READING!


TBC