
Aretha tampak menyeringai, sebelum ia menanggapi sang suami. "Tiba-tiba aku merasa kenyang, Mas. Yang makan satenya kamu saja, ya?" imbuhnya yang tentu saja membuat David membeliak kesal.
"Apa kamu bilang? Aku yang makan?" tanya David dengan tatapan yang membulat sempurna. "Aku sudah susah payah lho, Sayang, buatnya. Lalu, dengan gampangnya kamu minta aku yang makan? Yang benar saja!" geramnya.
Enak sekali dia ngomong, dipikir aku membuatkan ini semua untuk siapa? Dia yang tadi merengek-rengek mau makan sate, lalu sekarang? Dia meminta aku yang makan sendiri? Sungguh menyebalkan sekali!
"Maaf, Mas ... tapi aku benar-benar sudah kenyang," jawab Aretha tanpa beban.
David melengos sejenak, lalu berdecak kesal. "Sayang, kamu lihat, sekarang jam berapa?" David tampak menunjuk jam dinding yang berada di ruangan itu. "Sudah hampir jam tiga pagi, itu artinya aku menghabiskan waktu membuat sate-sate ini hampir dua jam, malam-malam pula, lalu dengan entengnya kamu bilang sudah kenyang? Setidaknya, kamu hargai sedikit lah usahaku," geram David seraya menunjuk-nunjuk sate itu. Nampaknya pria itu sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya.
Bagaimana bisa ia sudah merasa kenyang, tanpa mencicipi sedikit pun satenya, pikirnya saat itu.
"Ya maaf, aku tahu aku salah ...," rengek Aretha dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, karena mendapati amarah sang suami.
"Lalu, kamu menunggu apalagi? Ya makan dong, walau sedikit saja!" bentak David.
"Ya sudah, kamu tidak perlu marah-marah seperti itu dong, biasa saja ngomongnya!" kesal Aretha sudah seperti ingin menangis.
David terdiam sejenak. Ia baru menyadari bahwa saat itu ia sudah kehilangan kontrol hingga memarahi sang istri, sungguh ia sangat menyesali perbuatannya. Tidak ada sedikit pun niat yang ada di dalam benaknya untuk memarahi sang istri seperti itu.
Astaghfirullahaladzim ... apa yang sudah kulakukan?
David segera bangkit dari duduknya. Pria itu berdiri di samping Aretha, lalu meraih kepala sang istri dan merengkuhnya.
"Aku minta maaf, aku salah, aku menyesal," ucap David seraya mengecup puncak kepala sang istri. Sungguh ia tidak menyadari sebelumnya bahwa ia sudah memperlakukan sang istri dengan kasar.
Aretha hanya diam. Tanpa ia sadari air matanya telah luruh. Sungguh ia merasakan sakit, ketika dibentak seperti itu oleh sang suami. Padahal, ia sendiri sadar bahwa suaminya seperti itu, karena ulahnya sendiri. Dan ia rasa itu sangatlah sepele, tetapi entah kenapa rasa sakitnya kentara sekali.
"Maaf, Sayang. Aku benar-benar menyesal." David melepaskan rengkuhannya lalu mendongakkan wajah sang istri. Ia menatapnya dengan penuh penyesalan. Seketika ia menyeka air mata sang istri.
"Jangan menangis, aku tidak suka melihatnya. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu, aku benar-benar lepas kontrol, harusnya aku tidak perlu seperti itu," jelas David menyadari kesalahannya. "Kamu paham, kan? Kamu mau 'kan, memaafkanku" tanyanya kemudian.
"Jangan marah-marah seperti itu, aku bisa stres kalau kamu terus-terusan memarahiku seperti itu, kamu lupa apa yang dibilang dokter Dara, kalau aku tidak boleh stres?" Lagi-lagi Aretha menjadikan alasan perihal itu. Nampaknya, alasan itu sudah ia jadikan sebagai senjata untuk mereda emosi sang suami, ketika sedang lepas kontrol seperti itu.
"Iya, aku tahu. Aku minta maaf." David merengkuh kembali kepala sang istri dan membenamkan wajah cantik itu pada perutnya sendiri.
Aretha tampak menganggukkan kepalanya berulang kali. Walau bagaimanapun ia tetap menyadari bahwa itu semua karena kesalahannya sendiri, David tidak mungkin sampai semarah itu, kalau dirinya tidak membuat ulah.
David melepaskan rengkuhannya kembali, lalu menatap sang istri. "Ya sudah, sekarang mau apa? Mau langsung tidur lagi?" tanyanya memastikan.
Aretha terdiam sejenak, seolah tengah berpikir. "Mm ... aku mau mencicipi satenya," ujarnya lirih.
David terdiam beberapa saat, sungguh istrinya sangat plinplan sekali, tadi bilangnya tidak mau, sekarang bilangnya mau, heran, pikirnya.
David memaksakan tersenyum dihadapan sang istri. "Ya sudah, ayo kita makan bersama satenya," ajak David.
Pria itu tampak mendaratkan kembali tubuhnya di kursi semula, lalu ia meraih satu tusuk sate dan memberikannya kepada sang istri.
"Ini, kamu makan!" titah David seraya menyodorkan sate itu.
Aretha tersenyum, lalu segera meraih sate itu. Ia tampak mencicipinya. "Enak, Mas," ucapnya, setelah ia menghabiskan satu tusuk sate itu. "Aku mau lagi," imbuhnya seraya meraih kembali sate yang lainnya dari piring, sehingga membuat sang suami menggeleng-gelengkan kepalanya.
Coba dari tadi seperti ini, 'kan tidak harus berdebat dulu.
Sebagaimana Aretha, David pun melakukan hal yang sama. Ia tampak meraih satu tusuk sate dari dalam piring.
David terdiam sejenak di tengah-tengah kegiatannya mencicipi sate itu, ketika ia merasakan rasa lezat di lidahnya, saat memakan sate yang ia buat bersama sang istri.
Enak juga!
"Sayang, kamu habis berapa?" tanya David seraya menatap sang istri yang masih sibuk menikmati makanannya.
"Hh?" Aretha terkesiap, lalu menurunkan tatapannya, memfokuskan pandangan ke arah tusuk sate bekas miliknya. Dengan polosnya, wanita itu menghitung tusuk sate bekasnya itu satu-persatu. Meski tanpa suara, tetapi terlihat jelas dengan ia yang menunjuk satu-persatu tusuk sate bekas itu.
"Baru tujuh, Mas," ucap Aretha memberi tahu, setelah ia berhasil menghitunganya.
David hanya tertegun mendengarnya. Entah harus bagaimana menanggapi sang istri. Akhirnya ia memilih tersenyum saja, seolah mencari aman.
Tadi bilangnya kenyang, lalu ini apa? Tujuh tusuk sate dia habiskan secepat kilat.
David menggelengkan kepala, seolah masih tidak percaya jika sang istri bisa menghabiskan sate sebanyak itu dalam waktu singkat.
Melihat sang istri yang sangat lahap, pria itu memilih untuk tidak lagi memakan sate itu. Rasanya ia sudah sangat kenyang dengan hanya melihat sang istri memakannya. Seketika ia menelan salivanya.
"Mas, kamu tidak mau?" tanya Aretha di tengah-tengah kegiatannya.
"Aku kenyang, Sayang. Buat kamu saja," jawab David.
"Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang memakannya," balas Aretha tak begitu ambil pusing.
Wanita itu terus melanjutkan kegiatannya hingga hanya tersisa tiga tusuk.
David yang sedari awal memperhatikannya, lagi-lagi menatap tidak percaya. Namun, memang seperti itulah adanya.
Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi rakus seperti ini, sih? Apa semua wanita hamil memang seperti itu?
David tampak mengambilkan segelas air putih pada detik-detik terakhir sang istri akan menghabiskan sate di tangannya, lalu menyimpannya di samping sang istri.
"Terima kasih, Mas," ucap Aretha seraya meraih gelas itu, lalu meminum setengah isinya dalam satu kali tegukan.
"Sudah?" tanya David.
"Sudah, Mas," jawab Aretha.
"Masih sisa tiga, tidak sekalian dihabiskan saja?" David tampak menatap piring berisi tiga sate itu.
"Tidak, Mas, aku sudah sangat merasa kenyang," balas Aretha seraya mengelus-elus perutnya memutar.
"Baiklah. Aku akan membereskan ini semua dulu." David tampak bangkit dari tempat duduknya seraya akan merapikan gelas dan piring kotor bekas sang istri.
"Tidak usah, Mas! Aku bisa sendiri," ucap Aretha melarang.
"Sudah, kamu duduk saja!" titah David tetap memaksa.
Aretha pun hanya bisa patuh mengikuti perintah suaminya. "Terima kasih, Mas," ucapnya yang tidak mendapat tanggapan dari sang suami.
David pun segera membawa gelas dan piring kotor itu ke tempat cuci piring, lalu ia mengelap meja makan itu. Tak berlangsung lama, David sudah menyelesaikan kegiatannya.
"Ayo, kita tidur lagi!" ajak David kepada sang istri, mengingat waktu itu masih terlalu pagi, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak sang istri tidur kembali.
Aretha tampak menuruti suaminya. Akhirnya, mereka segera kembali menuju kamar mereka.
"Mas, terima kasih ya, sudah membuatkanku sate selezat itu buatku," ucap Aretha di tengah perjalanan mereka menuju kamarnya.
David hanya tersenyum, lalu merangkulkan tangannya kepada bahu sang istri. Seketika ia mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.