Possessive Love

Possessive Love
Kamar Hotel



Sepulang kuliah Aretha segera pergi ke sebuah rumah sakit terbesar di kotanya, dimana sang sahabat dirawat di sana. Ya, pagi itu ia tidak mendapati sosok Diandra di kampus sehingga ia memutuskan untuk mencari tahu dimana keberadaan sahabatnya itu dan kenapa hari itu Diandra tidak pergi ke kampus?


Benar saja dugaannya. Diandra sakit. Tanpa harus berpikir panjang, Aretha segera pergi untuk menjenguk sahabatnya di rumah sakit. Mengingat Deasy dan Tania tidak bisa ikut dengannya, ia pun memutuskan untuk pergi sendiri tanpa ditemani kedua sahabat yang lainnya.


Aretha tampak turun dari mobil yang dikendarai oleh Iman, setelah sopirnya itu memarkirkan mobil tersebut di area parkir rumah sakit yang dimaksud.


Aretha berjalan menuju pintu utama rumah sakit itu, lalu menanyakan kepada petugas akan ruangan tempat Diandra dirawat. Gadis itu kembali berjalan sepanjang koridor rumah sakit, mencari keberadaan ruangan yang dimaksud, setelah mendapatkan informasi itu dari petugas.


Namun, belum sempat ia menemukan ruangan itu, tiba-tiba langkahnya terhenti, tatkala ia menemukan sosok yang sangat ia kenal tengah berjalan di depannya dengan sedikit menekuk lehernya, menuju arah yang berlawanan.


"Kak Richard?" Ya, sosok tak asing itu adalah Richard. Suara Aretha nampaknya membuat pria itu sedikit tersentak, lalu menghentikan langkahnya.


Richard mendongak. "Rere?" ucapnya. Seketika keberadaan Aretha membuat pria itu sedikit termangu menatapnya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Entah apa yang membuatnya seperti itu.


"Kak Richard sedang apa di sini?" tanya Aretha seraya menghampiri Richard sehingga membuat Richard sedikit terlonjak dari lamunnya.


"Re? Kamu sendiri sedang apa di sini?" Richard malah bertanya balik, sebelum ia menjawab pertanyaan Aretha.


"Aku yang tanya, kok malah tanya balik," gerutu Aretha yang langsung mendapatkan senyuman dari Richard.


"Ada yang sakit? Siapa?" celoteh Aretha seraya menatap penuh tanya.


"Te-temanku! Aku baru saja menjenguk teman kuliahku, dia sudah tiga hari ini dirawat di sini," jelas Richard tampak gugup. Namun, Aretha hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.


"Kamu sendiri?" tanya Richard kemudian.


"Aku mau menjenguk Diandra. Katanya dia juga dirawat di sini," jawab Aretha.


"Diandra sakit? Sakit apa dia?" tanya Richard ingin tahu.


"Entahlah, aku belum sempat bertanya," ujar Aretha seraya sedikit mengangkat kedua pundaknya sebagai bahasa tubuh.


"Ya sudah. Ayo aku temani sekalian!" ajak Richard yang segera mendapat persetujuan dari gadis itu.


Mereka segera melanjutkan kembali langkah mereka menuju ruangan dimana Diandra dirawat. Tampak Diandra tengah terbaring lemah di ruangan itu dengan ditemani seorang perempuan paruh baya yang tak lain adalah ibu kandungnya.


***


Di tempat lain, tepat pukul 20.00. David yang baru saja selesai meeting dengan kliennya di sebuah resort ternama di kota Bali tampak berjalan menuju sebuah kamar hotel. Pria itu diiringi oleh Alivia, sekretarisnya. Nampaknya mereka menempati kamar hotel yang bersebelahan.


Mereka memasuki kamar mereka masing-masing, setelah pria itu mengucapkan selamat malam kepada sang sekretaris dan langsung mendapat balasan dari Alivia. Wanita yang statusnya masih lajang itu tampak tersenyum manis kepada sang atasan. Nampaknya ia cukup senang dengan ucapan dari David yang sebenarnya sangat wajar dan sederhana itu.


David merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk berukuran king. Ia terlihat begitu lelah akibat serangkaian kegiatan hari itu bersama kliennya. Namun, itu tak lantas membuat pria itu merasa tidak bersemangat. Keberhasilannya dalam memenangkan tender proyek besar, tak henti-hentinya membuat pria itu mengulas senyum bahagia di wajahnya.


"Finally, I did it," gumamnya.


Setelah hampir setengah jam berbaring di atas kasur, David kembali mengangkat tubuhnya seraya beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri.


Tak berlangsung lama, pria itu telah kembali dari kamar mandi dengan selembar handuk yang melilit di pinggangnya, sementara tubuh bagian atasnya nampak terekspos jelas, memperlihatkan kulit putih beserta dadanya yang bidang dengan enam kotak-kotak pada bagian perutnya. Sungguh mahakarya yang sangat menakjubkan bagi setiap insan yang melihatnya. 🙈


David mengusap layar ponselnya seraya membuka screen lock , lalu mencari nomor kontak seorang gadis yang belum genap dua puluh empat jam menjadi kekasihnya itu.


Terpampang jelas nama Arethaku dalam sederet kontak pada layar ponselnya. Pria itu melebarkan senyumnya, sebelum ia melakukan panggilan ke nomor tersebut. Tak berlangsung lama, nampaknya pria itu sudah tidak sabar untuk mendengar suara lembut sang kekasih.


Namun, baru saja ia akan melakukan panggilan ke nomor tersebut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang seketika membuat pria itu mengurungkan kembali niatnya.


"Ck ... siapa, sih?" gerutu David kesal karena merasa terganggu. Tak menunggu lama pria itu langsung menghampiri pintu kamar hotelnya, lalu meraih handle pintu itu.


Ceklek


Pintu itu terbuka lebar hingga menampakan dengan jelas sosok wanita yang ada di baliknya. Alivia. Ya, sosok itu adalah Alivia sang sekretaris yang baru beberapa menit menemaninya meeting dengan klien.


Namun, nampaknya Alivia telah merubah penampilannya. Jika sebelumnya ia mengenakan setelan kerjanya, kala itu ia telah menggantinya dengan sebuah piyama bermotif kotak-kotak berwarna hitam. Entah ada keperluan apa hingga malam itu ia menemui sang atasan di kamar hotelnya.


"Alivia? Ada apa?" tanya David heran, sementara pekerjaan mereka telah selesai, hanya tinggal beristirahat dengan tenag di kamar hotel itu, tanpa memikirkan lagi setumpuk pekerjaan yang sebelumnya telah menguras tenaga dan pikiran mereka. Namun, entah kenapa Alivia malah menemuinya di waktu istirahat seperti itu.


Alivia tampak menerbitkan senyumnya. "Boleh saya masuk?" tanyanya yang sontak membuat David seketika membeliak tak percaya.


"Untuk apa?" tanya David memastikan. Tentu saja ia merasa tidak nyaman jika harus berduaan di kamar hotel dengan seorang wanita, terlebih lagi Alivia adalah sekretarisnya. Apa yang akan mereka bahas nanti, pikirnya.


"Saya hanya butuh teman ngobrol saja, Pak. Bosan juga di kamar sendirian," jawab Alivia santai.


David menyunggingkan senyumnya sembari menatap Alivia tidak suka. "Lebih baik kamu segera istirahat, saya juga mau istirahat." David berusaha menunjukkan sikap seramah mungkin terhadap rekan kerjanya itu.


"Apa tidak sebaiknya kita merayakan kemenangan kita malam ini, walaupun hanya sebentar?" Alivia tampak menerobos masuk ke dalam kamar itu, sebelum sang empunya mengijinkan. Bahkan, ia berani menyenggol tubuh David yang kala itu sedikit menghalangi jalannya sehingga ujung pundak mereka saling berbenturan.


Cih, berani sekali dia masuk tanpa permisi!


Alivia tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang begitu rapi dan bersih dengan beberapa furnitur mewah yang di desain di dalamnya. Namun, masih terlihat elegan dengan warna yang didominasi oleh hitam dan putih.


Terdengar suara lirih gemuruh ombak yang terdengar di telinganya. Ya, tepat di belakang kamar itu terdapat laut yang dapat dinikmati langsung dari jendela atau pun balkon kamar hotel tersebut.


"Tidak ada perayaan apapun malam ini, Alivia!" tegas David yang seketika membuat Alivia tersentak, lalu membalikkan badannya. Alivia masih mengulas senyumnya.


"Lho ... kenapa, Pak?" tanyanya seraya menatap David. "Paling tidak kita bisa minum sebentar, sekadar untuk melupakan kejenuhan kita karena terlalu banyak bekerja," imbuhnya seraya menatap menggoda David yang beberapa langkah berada di hadapannya, lalu Alivia menghampirinya. Namun, David tampak diam tidak menanggapi.


"Bukankah selama ini kita terlalu sibuk dengan pekerjaan?" godanya seraya memegang bahu David yang sontak membuat pria itu seketika menoleh sejenak ke arah tangan Alivia yang telah menempel di atas bahunya, lalu memfokuskan kembali tatapannya ke wajah sang sekretaris.


David menelan salivanya dengan begitu berat, tatkala mendapati paras cantik Alivia. Bahkan, lebih cantik dari sebelumnya, ketika dilihat dari jarak yang sangat dekat seperti itu, ditambah kulit putih mulus yang semakin menyempurnakan kecantikannya.


____________


Segini dulu ya🤭


HAPPY READING!