
Rendy dan Clara masih sibuk menertawakan tingkah David saat itu. Ketika sedang cemburu seperti itu, David benar-benar terlihat seperti anak kecil, sehingga membuat mereka sangat merasa lucu melihat kekesalannya.
Bagaimana tidak? Seorang David Wijaya yang terbilang sangat tegas dan tidak bisa ditentang, tiba-tiba bisa berubah menciut hanya karena perkara cemburu. Sungguh kekuatan cinta sangatlah istimewa, ia bisa merubah seseorang seolah jungkir balik 180 derajat.
"Itu masih belum selesai, Dave! Sini, biarkan gue mengelusnya kembali, kasihan masih belum terasa 'kan, Re?" ucap Richard masih berusaha menggoda sahabatnya itu.
"NO! Lo jangan macam-macam ya, Rich!" ancam David semakin geram. "Sekali lagi lo sentuh istri gue, gue pastikan lo pulang tanpa nyawa!" imbuhnya seraya membulatkan matanya.
"Hahaha!" gelak tawa Clara semakin menjadi, ketika melihat ekspresi David saat itu. "Sayang, lihat wajah sahabatmu itu," bisik Clara kepada Rendy.
"Biarkan saja, Sayang ... jarang-jarang kita melihat dia sebucin itu," balas Rendy yang juga masih terkekeh.
"Shit! senang sekali kalian!" umpat David, ketika menyadari Rendy dan Clara yang masih menertawakannya.
"Haha!"
Mereka semakin tergelak menanggapinya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Richard tampak bangkit dari duduknya. Aretha dan David pun melakukan hal yang sama.
Baguslah kalau dia pulang cepat, batin David saat itu.
"Kak, terima kasih ya, sudah mau membantuku mengatasi kekonyolanku ini," ucap Aretha, ketika Richard berpamitan untuk pulang.
"Sayang ... sudahlah, tidak perlu mengucapkan terima kasih berulang kali, satu kali saja cukup, kan?" protes David yang masih terlihat sangat kesal.
Ya, David merasa sangat kesal, karena menurutnya Aretha dan Richard terlihat santai di depannya yang justru tengah merasakan panik dan geram dalam waktu bersamaan. Bahkan, saking kesalnya, ia tidak rela melihat sang istri mengucapkan terima kasih kepada Richard yang menurutnya sudah berulang kali dilakukan. Padahal, itu pertama kali Aretha ucapkan, setelah Richard mengelus perutnya.
Bagaimana bisa mereka terlihat santai seperti itu, sedangakan aku di sini sangat muak melihatnya, pikirnya.
"Mas, kamu ini bagaimana, sih! Aku baru mengucapkannya satu kali lho," balas Aretha dengan polosnya.
"Lho, bukannya tadi sudah?" tanya David berlagak bodoh.
"Belum, Mas!" jawab Aretha tegas.
David hanya berdecak kesal menanggapi istrinya itu. Ia pikir Aretha sangat tidak peka sekali padanya. Harusnya ia tahu bahwa David sangat muak melihat adegannya dengan Richard, tetapi Aretha malah terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Ya, mungkin untuk Aretha memang bukanlah apa-apa, tetapi bagi David, itu sungguh bukanlah masalah sepele yang bisa ia lupakan begitu saja. Bahkan, mungkin ia tidak akan bisa melupakan itu sampai kapanpun, dan itu benar-benar membuatnya semakin muak.
Aretha tampak memfokuskan kembali pandangannya kepada Richard, lalu mengulas senyuman. "Kak, sekali lagi terima kasih, ya," ucapnya.
"Ck!" Lagi-lagi David berdecak kesal, sebelum Richard menangapi perkataan istrinya.
Dengan sigap, Aretha kembali menoleh kepadanya. "Kamu kenapa sih, Mas?" tanyanya heran.
"Hn? Tidak apa-apa, Sayang," jawab David berbohong dengan ekspresi datar.
Kenapa dia tidak peka sekali?
Rendy dan Clara yang sedari tadi tidak banyak berkomentar, tampak terkekeh memperhatikan kekesalan David. Mereka tahu betul apa yang dirasakan oleh David saat itu. Sungguh, selain itu membuat mereka terkesan sendu, tetapi juga lucu, sehingga tak henti-hentinya mereka mengulum senyumnya demi menahan tawanya.
"Mungkin David sudah tidak sabar ingin menikahkan anak kalian nanti dengan Richard, haha!" seloroh Rendy tiba-tiba.
"Haiish! Mana mungkin bisa begitu, anak pertama gue pasti laki-laki!" bantah David semakin dibuat geram.
"Mana ada, Mas. Aku maunya perempuan," rengek Aretha seraya memberengutkan wajahnya.
Ya, perihal jenis kelamin bayi dalam kandungan itu, baik David atau Aretha memang belum mengetahui jenis kelaminnya apa, sehingga mereka terkadang masih berebut. Aretha yang menginginkan anak perempuan, sementara David sebaliknya.
Kendatipun begitu, David selalu mengalah kepada sang istri, dan lebih banyak memberikan pemahaman kepada istrinya itu agar ia tidak terlalu berharap hasilnya sesuai dengan yang ia hararpkan.
"Tetapi ingat! Restui putrimu untuk menikah denganku nanti," imbuh Richard yang sontak membuat David semakin membeliak.
Aretha tampak terkekeh. "Kak Richard bisa saja," ucapnya.
"Haha ... nggak kebayang kalau David menjadi mertuanya Richard," timpal Clara seraya lagi-lagi tergelak.
"Mimpi lo ketinggian!" geram David seraya mencebikkan bibirnya.
"Ya sudah, sepertinya aku harus segera pulang, Re," ucap Richard berpamitan untuk yang kedua kalinya.
"Baiklah, terima kasih ya, Kak," balas Aretha.
"It's okay, Re. Kapan-kapan kalau butuh dielus lagi, hubungi saja aku," jawab Richard seraya menyunggingkan senyumannya.
"Tentu saja, Kak," jawab Aretha yang terpikirkan ingin ikut menggoda suaminya yang nampak sudah sangat geram.
David hanya mendelik sinis, menatap tidak suka. Namun, ia tidak berkomentar apapun.
Ketiga tamu itu tampak segera meninggalkan rumah tersebut. David dan Aretha tampak mengantar mereka hingga ke depan rumah.
Setelah mereka sudah tak terjangkau oleh netranya, Aretha dan David segera masuk kembali ke dalam rumahnya.
David segera mengunci pintu rumahnya, sedangkan Aretha tampak memperhatikannya dari belakang. Setelah pintu itu terkunci aman, secepat kilat David menarik tangan sang istri dengan perlahan, sehingga membuat wanita itu menghentikan pergerakkan kakinya yang baru saja akan melangkah, sontak membuatnya membalikkan badan kembali, menatap sang suami.
"Sayang, kamu membuatku cemburu malam ini," gerutu David seraya memasang ekspresi memelas, lalu memeluk tubuh istrinya itu.
"Bukankah kamu sudah ikhlas?" tanya Aretha seraya menatap sang suami.
"Tetapi tidak harus seperti itu juga, kan?" protes David. "Kamu terlihat enjoy sekali dengan Richard, aku tidak suka!" imbuhnya mempertegas.
"Sudahlah, Mas ... kak Richard itu hanya bercanda, tidakkah kamu tahu bahwa dia sedang menggodamu?" jelas Aretha seraya tidak ingin memperpanjang masalah.
"Tetap saja aku tidak suka!" tegas David.
Aretha hanya menghela napas panjang.
David tampak mengelus perut istrinya itu. "Sayang, lebih enak dielus olehku atau Richard?" tanyanya penasaran.
"Hh?" Aretha tampak tertegun sejenak. "Tentu saja lebih enak dielus sama kamu, Mas," jawab Aretha.
"Benarkah?" David menatap penuh tanya.
"Tentu saja," jawab Aretha singkat.
David tampak sedikit membungkukka tubuhnya, lalu mencium perut sang istri. "Nak, kamu jangan nakal lagi, ya!" ucapnya seraya mengajak berbicara janin yang ada di dalam kandungan sang istri.
David segera mengangkat tubuhnya kembali hingga berdiri tegap, bertanya kepadaku.
"Sayang, sudah cukup ya ... satu kali saja kamu membuatku frustrasi seperti sekarang ini," pintanya seraya menatap intens wajah sang istri.
Aretha tersenyum simpul. "Iya, Mas. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengidam yang aneh-aneh lagi, kok," jawabnya seolah merasa yakin.
"Benar ya? Awas saja kalau lagi-lagi seperti ini!" ancam David.
"Kamu percaya deh sama aku!" Aretha berusaha meyakinkan sang suami.
"Baiklah, ayo kita tidur!" ajak David seraya melepaskan pelukannya.