
Dokter itu tampak menghela napas, sehingga membuat mereka semakin tegang melihatnya. Namun, seketika dokter itu menerbitkan senyuman di wajahnya, sebelum ia menanggapi pertanyaan dari Aretha dan Kris.
Sayang sekali, senyuman yang dilemparkan oleh dokter itu tak lantas membuat mereka merasa lega, sebelum mereka mendengar sendiri kabar mengenai kondisi David yang sebenarnya dari dokter itu. Mereka masih bersitegang menunggu penjelasan dari dokter.
"Sebelumnya pasien memang mengalami kritis, tetapi berkat doa dari keluarga, bersyukur sekali sekarang pasien sudah melewatinya dengan baik. Namun, kondisinya masih belum sadarkan diri. Sampai saat ini, pasien masih belum merespon rangsangan apapun," jelas dokter itu yang seketika membuat mereka bertiga kembali merasa lega.
"Alhamdulillah," ucap mereka bertiga serempak.
Seketika Aretha mengembuskan napasnya sedikit kasar. Ia merasa lega, benar-benar lega. Setidaknya, David masih dalam kondisi bernyawa. Hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya bahwa David telah benar-benar meninggalkannya. Namun, ternyata ia salah dan ia sangat bersyukur akan hal itu. Ia bersyukur karena David masih diberikan kesempatan untuk hidup, sehingga membuatnya semakin semangat untuk memberikan dukungan kepada sang suami untuk segera pulih kembali.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mengabulkan doaku.
"Dok, kira-kira kapan suami saya bisa sadar kembali?" tanya Aretha penasaran, barangkali dokter mengetahui akan hal itu.
"Perihal itu ... saya belum bisa memastikan. Itu tergantung kondisi pasiennya sendiri. Tetapi, semoga pasien bisa melewati masa koma dalam waktu singkat. Berdoa saja," jawab dokter itu.
Seketika Aretha menciut kembali mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Namun, ia tetap tidak boleh patah semangat. Meski demikian, ia masih tetap memiliki kesempatan untuk membuat sang suami bisa kembali seperti sebelumnya.
"Baik, Dok. Terima kasih," balas Aretha.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," ujar dokter itu berpamitan.
Dokter itu segera beranjak dari hadapan mereka dengan diikuti oleh kedua perawat di belakangnya.
***
Hari-hari telah berlalu. Dua minggu sudah Aretha menjalani hari-hari tanpa adanya David di sisinya. Ya, sampai detik itu masih belum ada perkembangan akan kondisinya.
Satu minggu yang lalu Aretha sudah kembali pulang ke rumah dengan memboyong kedua bayi kembarnya. Ia tetap merawat kedua buah hatinya itu dengan baik, meski tanpa suami yang membantunya.
Siang itu.
Seperti biasanya, setiap hari ia tidak pernah absen untuk menjenguk sang suami yang memang masih berada di rumah sakit.
"Re?" Suara bariton seketika membuat wanita itu terfokus ke sumber suara.
"Kak Richard?" Aretha tampak menatap Richard yang kala itu baru saja keluar dari ruangan tempat David dirawat.
Aretha masih melangkahkan kakinya menghampiri pria itu, lebih tepatnya menghampiri ruangan tersebut. Pun dengan Richard yang juga berjalan menghampiri Aretha.
"Aku baru saja menjenguk David. Aku turut prihatin dengan kondisinya yang masih sama seperti sebelumnya," ucap Richard memasang ekspresi menyesal. "Andai saja waktu itu ...."
"Sudahlah, Kak. Ini bukan salah kamu, melainkan memang sudah takdirnya mas David. Waktu itu kita dalam keadaan panik, jadi wajar saja kamu melakukan hal itu. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri," potong Aretha yang sudah memahami apa yang akan disampaikan oleh pria itu.
Sedari awal Aretha memang taju bahwa pria itu menyesal dan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa David. Namun, Aretha sama sekali tidak pernah beranggapan seperti itu.
Meski Richard sudah berulang kali meminta maaf, tetapi Aretha selalu menyangkal bahwa itu bukanlah kesalahan Richard. Aretha paham betul bahwa tidak akan ada sahabat baik yang ingin membuat sahabatnya sendiri celaka, dan ia percaya itu.
"Tapi aku benar-benar menyesal sudah mem—"
"Sudahlah, Kak. Jangan bahas ini lagi. Aku sedang fokus dengan kesembuhan mas David dan tidak ingin memikirkan hal-hal yang memang sudah tidak bisa diulang kembali," Lagi-lagi Aretha memotong pembicaraan Richard.
Seketika Richard menerbitkan senyumannya—merasa senang. "Baiklah, terima kasih ya, Re. Terima kasih karena kamu sudah memahamiku," ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit," ucap Richard, setelah ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Buru-buru sekali? Masih ada tugas kantor yang belum diselesaikan?" tanya Aretha yang memang sudah lebih dulu menyadari akan Richard yang terlihat seolah masih memiliki kesibukan lain.
"Aku ada meeting dengan klien di luar. Jadi, sorry ya ... aku tinggal," jawab Richard.
"Oh ... begitu. Baiklah Kak. Semoga meetingnya berjalan dengan lancar," ucap Aretha.
"Terima kasih, Re," balas David.
"Baiklah, aku jug mau masuk." Aretha tampak menunjuk ke arah ruangan David.
"Silakan, Re!"
"Kalau begitu, aku duluan ya, Kak," ucap Aretha berpamitan, meski Richard juga berpamitan lebih dulu daripadanya.
Aretha tampak melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksud. Namun, baru saja dua langkah, tiba-tiba Richard kembali memanggil membuat langkahnya terhenti.
"Re," panggil Richad yang sontak membuat Aretha kembali menoleh kebakang.
"Iya, Kak?" tanya Aretha, setelah ia berhasil menghadapkan tubuhnya ke arah Richard.
Richard tersenyum. "Kamu yang sabar ya. Aku yakin ini semua akan segera berakhir dan David akan kembali di sisimu," ujar Richard mengingatkan.
Aretha membalas senyuman itu. Ia hafal betul maksud dari senyuman Richard.
"Aku kuat, Kak. Tidak perlu khawatir," jawab Aretha yakin.
"Aku percaya itu." Richard tampak menatap intens wajah Aretha.
Tak berlangsung lama. Karena Aretha sudah tidak sabar ingin segera menemui sang suami, ia pun segera mengakhiri perbincangannya dengan Richard, lalu segera beranjak dari tempat itu. Pun dengan Richard yang juga langsung pergi meninggalkan kawasan rumah sakit tersebut.
***
Aretha tampak sudah berada di ruangan tempat David di rawat. Ia tampak duduk di sebua kursi, tepat di samping ranjang di mana David tengah terbaring lemah tak berdaya.
Sedari awal masuk ruangan itu, Aretha tampak menggenggam tangan pria itu. Bahkan, ia tidak ingin melepasnya walau barang sedetik pun.
Seperti yang sudah biasa dilakukan, Aretha tampak menceritakan tentang berbagai hal yang ia lewati selama tanpa adanya David. Ia juga menceritakan kepada sosok kaku itu tentang perkembangan dan pertumbuhan kedua buah hati mereka, meski ia tahu bahwa David tidak akan bisa meresponnya.
"Mas, kamu cepat sembuh ya, biar kita bisa mengurus si kembar berdua."
Sesekali Aretha mencium tangan David dengan penuh cinta dan kasih sayang, berharap bahwa David akan menerima rangsangan yang ia berikan.
Setelah merasa cukup untuk melepas rindu, wanita itu memutuskan
untuk segera pergi dari sana. Mengingat ada dua bayi yang sudah pasti menunggunya pulang. Dengan terpaksa ia pun harus meninggalkan David kembali di rumah sakit itu.
"Mas, aku pulang dulu, kasihan anak-anak jika kutinggalkan terlalu lama. Aku sangat berharap kemu bisa berkumpul kembali di tengah-tengah kami. Aku merindukanmu, Mas," lirih Aretha seolah tidak tega jika harus meninggalkan David sendirian di sana, karena memang selalu seperti itu. Namun, apa boleh buat. Jika ia tetap menemani David, bagaimana dengan kedua bayinya di rumah?
Aretha kambali mencium tangan David, lalu beralih ke kening pria itu. Ia memberikan kecupan di kening pria itu, sebelum akhirnya ia melepaskan genggamannya. Namun, baru saja ia akan melepasnya, justru tangan David yang memperkuat genggamannya, sontak membuat wanita itu terbelalak hebat, merasa tidak percaya dengan apa yang tengah ia alami saat itu.