Possessive Love

Possessive Love
Ajakan Menikah



"Sayang, kamu sudah baikan?" tanya David yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia berdiri di depan ranjang pasien, tepat kurang lebih dua meter di hadapan Aretha.


"Kamu dari kantor langsung ke sini, Mas?" tanya Aretha menoleh yang langsung mendapat anggukkan dari David. "Aku sudah baikan. Rasanya ingin segera pulang," imbuhnya, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke sebuah buku novel yang tengah dibacanya.


David tampak mengulum senyum sejenak. "Bersabarlah ... nanti kalau benar-benar sudah pulih, kamu pasti akan segera pulang," ucap David. Aretha hanya mengangguk menanggapinya.


"Mami kamu kemana?" tanya David seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


"Mami sedang menebus obat, Mas," jawab Aretha. Matanya fokus memindai lembaran buku itu. Nampaknya itu salah satu cara Aretha menghilangkan kejenuhannya berada di rumah sakit.


Mereka terdiam beberapa saat. David hanya menatap Aretha yang kala itu tengah duduk bersandar di atas ranjang pasien sembari sibuk dengan kegiatannya. Tak mau ambil pusing. Pria itu langsung mengambil alih bagian kosong di samping Aretha, lalu mendaratkan tubuhnya di sana.


Netranya masih fokus ke arah gadis itu. Menatap lekat pahatan wajah yang ternyata begitu sempurna jika diperhatikan dari samping.


Terlihat anak rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah gadis itu dari rambutnya yang terkuncir tidak sempurna. Namun, sama sekali tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Terlebih lagi pipinya yang chubby. Sungguh menggemaskan dipandang oleh mata.


Tatapan gadis itu masih fokus ke sebuah buku novel di pangkuannya, tanpa terlalu menghiraukan pria di sampingnya. Bahkan, ia tidak menyadari bahwa sedari tadi David memperhatikannya.


Sesekali gadis itu tersenyum ringan membuat David ikut tersenyum melihatnya. Ternyata membaca bisa membuatnya semenyenangkan itu, pikir David.


"Sayang, apa buku itu lebih menyenangkan daripada aku?" tanya David tanpa mengalihkan perhatiannya dsri wajah Aretha.


"Hn?" Aretha mendongak. Fokusnya teralihkan pada pria yang kala itu tengah duduk di sampingnya.


Apa dia sebegitunya mencintaiku hingga pada buku saja dia cemburu?


"Aku selesaikan satu lembar lagi, tidak apa-apa, kan?" tanya Aretha, berharap David akan mengerti.


"Baiklah, kamu lanjutkan saja," jawab David.


Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya, sementara David mulai memainkan ponselnya, mengecek beberapa notifikasi pesan yang masuk. Ia merubah posisi duduknya menghadap nakas.


"Mas, kamu tidak lelah? Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja?"


Pertanyaan Aretha seketika membuat David tersentak, setelah beberapa saat ia sibuk bermain dengan gawai di tangannya. Pria itu mendongak, lalu menoleh ke arah gadis di sampingnya.


"Baru beberapa menit di sini, sudah kamu usir," gerutu David.


Aretha meletakkan buku novel itu di atas nakas, lalu mengalihkan perhatiannya kembali kepada David. "Bukannya begitu, Mas. Aku hanya tidak ingin melihat kamu sakit karena kelelahan," jawabnya.


David hanya tersenyum menanggapinya. Ia merasa senang, ternyata Aretha juga mengkhawatirkannya. "Kamu sudah selesai?" tanya David.


"Sudah," singkat Aretha.


"Secepat itu?" David mengerutkan dahinya heran, padahal menurutnya belum genap tiga menit, Aretha telah menyelesaikan satu lembar membaca buku itu.


"Kamu terlalu sibuk dengan ponselmu!" sindir Aretha.


David memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Lalu membenarkan posisi duduknya, menghadap Aretha dengan sempurna, setelah sebelumnya ia menghadapkan tubuhnya ke arah nakas.


"Sayang, kamu yang sudah membuatku seperti itu," ucap David seraya menggenggam tangan kiri Aretha, membuat fokus gadis itu teralihkan.


"Mas, jangan mulai, deh!" ucap Aretha sedikit kesal.


"Apa? Aku cuma pegang saja," keluh David.


Aretha berdecak kesal. "Awas saja kalau kamu berani macam-macam!" ancamnya. Namun, David hanya mengulum senyum.


"Sayang, aku mau tanya sesuatu," ucap David.


"Tanya saja, Mas! Mau tanya apa?"


"Mm ... apa kamu punya problem dengan seseorang?" tanya David ingin tahu.


"Problem? Problem apa?" Aretha tampak heran.


"Apa saja. Mungkin dengan temanmu di kampus?"


David mengangguk. "Syukurlah," ucapnya menanggapi.


"Memangnya kenapa?" Aretha mengangkat alisnya.


"Tidak. Tidak apa-apa," jawab David seraya menerbitkan senyumnya seolah tidak ingin membuat Aretha semakin heran.


Mereka terdiam kembali beberapa saat. David kembali menatap lekat gadis itu. Cukup lama sehingga membuat Aretha merasa sedikit risih ditatap seintens itu.


Seketika pria itu teringat akan pembahasan terakhir dengan Richard. Mengingat hal itu membuatnya sedikit tertantang untuk membuktikan kepada Richard dan Rendy bahwa ia dapat melakukan dan membuktikan ucapannya.


"Sayang, bagaimana kalau kita membatalkan pertunangan kita?" tanya David sedikit ragu.


Aretha membulatkan mata, lalu mengerutkan dahinya. "Kenapa?" tanyanya datar.


Kenapa tiba-tiba dia ingin membatalkan pertunangan? Apa karena aku—


David tersenyum. " Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kita langsung menikah saja," jawabnya lirih seraya memotong kata vatin Aretha. David mempererat genggaman tangannya.


"Menikah?" Aretha semakin membulatkan matanya.


Ah, Mas David ... kenapa tiba-tiba dia mengajakku menikah? Aku bingung jadinya.


"Nak David, kamu sudah di sini rupanya." Suara Carmila seketika mengalihkan perhatian keduanya.


"Tante?" David mengangkat tubuhnya seraya berdiri.


"Kamu dari tadi, Nak?" tanya Carmila, setelah ia menyimpan obat di atas bakas.


"Baru saja, Tante," jawab David pelan.


"Ya sudah, kalau begitu tante titip Rere lagi ya, tante harus segera menemui dokter," ucap Carmila.


"Oh, iya baik, Tante," jawab David mengiyakan.


Carmila kembali keluar dari ruangan itu, bergegas menuju ruangan dokter yang menangani Aretha, sementara David dan Aretha melanjutkan kembali perbincangan mereka.


"Mas, kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku tidak apa-apa ditinggal sendiri," ucap Aretha.


"Siapa bilang aku mau pulang, aku akan menemani kamu malam ini." David kembali meraih tangan Aretha, digenggamnya erat.


"Tidak usah, Mas! biarkan mami saja yang menemaniku malam ini," jawab Aretha menolak.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap David tak menghiraukan perkataan Aretha.


Aretha masih terdiam beberapa saat. Ia tampak bingung harus menjawab apa. Bukanlah hal yang mudah baginya memutuskan begitu saja, tanpa berpikir ulang. Sebab, pernikahan adalah hal yang sakral dan juga menyangkut dua hati yang berbeda, sementara Aretha masih belum mengenal David yang sesungguhnya.


Namun, kendatipun begitu ia tetap percaya bahwa David adalah pria baik-baik, hanya saja ia merasa itu terlalu cepat baginya. Terlebih lagi ia memiliki komitmen untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.


"Aku janji, aku tidak akan melarang kamu untuk melanjutkan kuliah kamu, meskipun kita sudah menikah nanti." David menatap dalam manik cokelat itu. Ada kesungguhan pada tatapannya, dan Aretha menyadari itu. Ia masih termangu menatap David.


Sepertinya mas David serius, aku tidak tega juga jika harus menolak. Belum lagi dia yang semakin berani kepadaku. Aku menjadi khawatir, bisa saja suatu saat dia melakukan hal di luar batas. Ini membuatku dilema.


"Sayang ... Please," ucap David memohon seraya semakin mempererat genggaman tangannya.


Aretha masih berpikir, lalu menjawabnya dengan pelan. "Terserah kamu saja," jawab Aretha.


"YES!" heboh David, menandakan bahwa ia sangat bahagia mendapat jawaban Aretha. Ia mencium tangan Aretha senang. Namun, tiba-tiba euforia-nya lenyap begitu saja, ketika Carmila kembali muncul di ruangan itu. Secepat kilat David melepaskan tangan Aretha, lalu menghentikan aksinya.


___________________


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!