Possessive Love

Possessive Love
Paket Honeymoon



"Apa ini, Ma?" tanya Aretha, ketika sang mama mertua menyodorkan sebuah amplop berwarna putih kepadanya.


Kala itu mereka baru saja selesai sarapan. Setelah satu hari resepsi itu berlangsung, Kris dan Maria sengaja menginap di rumah David dan Aretha, sehingga mereka bisa melangsungkan sarapan bersama.


"Buka saja, Nak!" titah Maria.


Dengan sedikit ragu, Aretha meraih amplop itu dari tangan Maria, lalu membukanya. Sementara, David hanya memperhatikannya.


Aretha tampak mengambil isi dari amplop itu. Ia sedikit terkejut dengan isinya. Aretha mendongak menatap sang mama dan papa mertua secara bergantian.


"Paket honeymoon ke Paris?" ucap Aretha.


Ia tidak menyangka jika sang mertua telah mempersiapkan hingga sejauh itu. Padahal, tanpa adanya honeymoon ke luar Negeri pun, mereka sudah lebih dulu merasakan indahnya malam pertama. Apa itu akan terasa berbeda jika dilakukan di tempat lain? pikirnya.


Pandangan Aretha beralih kepada sang suami. Ia menatapnya, seolah memberi kode, haruskah mereka menerima itu? Sementara, waktunya sangat singkat, satu minggu lagi Aretha akan disibukkan kembali dengan kegiatan kuliahnya.


Namun, David tidak memberi komentar apapun, seolah ia tidak paham dengan sorot mata Aretha saat itu.


"Kenapa? Kamu tidak senang?" tanya Maria.


"Hh? Ti-tidak kok, Ma. Aku senang, kok. Kami pasti berangkat," jawab Aretha sedikit terpaksa, demi tidak ingin membuat sang mertua kecewa, jika ia sampai menolaknya.


David tampak tersenyum. Namun, masih tidak memberikan komentar apapun.


"Bersenang-senanglah di sana, urusan pekerjaan biar nanti papa yang akan handle dulu, selama kalian di sana," ujar Kris.


"Terima kasih, Pa, Ma," balas David.


Sebagaimana David, Aretha pun melakukan hal yang sama dengan mengucapkan terima kasih kepada kedua mertuanya itu.


***


"Mas," panggil Aretha kepada David yang kala itu tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Kenapa?" David mendongak seraya mengalihkan fokusnya dari layar laptop yang berada di hadapannya, menatap Aretha yang tengah duduk di kursi yang terletak di depan meja kerjanya, tampak wajah Aretha yang cemberut saat itu.


"Aku sebenarnya tidak mau lho ke Paris minggu ini," rengek Aretha.


"Kenapa?" tanya David yang telah kembali fokus ke layar laptopnya.


"Sebenarnya ... tadi aku mau nolak," keluh Aretha.


"Kenapa?" Lagi-lagi David melayangkan pertanyaan yang sama, tanpa menoleh pula.


"Kamu tuh dari tadi kenapa kenapa melulu, tidak bisa apa komentar yang lain?" kesal Aretha yang merasa sedari tadi tidak diperhatikan, dan hanya mendapatkan pertanyaan yang sama.


David sedikit tersentak. Ia langsung memfokuskan perhatiannya kepada Aretha, setelah menyadari kekesalan wanita itu. Bahkan, melihat Aretha yang cemberut, ia langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Aretha.


"Kenapa?" tanya David seraya menyelipkan sebagian rambut Aretha ke telinganya.


"Tuh 'kan ... masih pertanyaan yang sama," gerutu Aretha.


David mengulum senyumnya, menatap gemas wajah sang istri.


"Aku bingung jadinya, harus tanya apa," keluh David sembari menahan senyumnya. "Aku mau tahu, apa sih yang jadi alasan kamu mau menolak?" imbuhnya.


"Aku minggu depan masuk kuliah lho, Mas, harus sudah persiapan buat ajukan judul skripsi," terang Aretha memberi tahu.


"Hanya itu alasannya?" tanya David meyakinkan. Aretha hanya menganggukkan kepala.


"Masalah kecil," ucap David seolah menyepelekan keluhan Aretha.


"Masalah kecil apanya, itu urusan penting lho, taruhannya masa depan aku," gerutu Aretha.


"Masa depan kamu itu yang saat ini ada di depan mata kamu!" balas David.


"Ya, tapi ' kan itu juga—"


"Sudahlah, jangan dibikin ribet, aku bisa bantu kamu kalau soal itu," ucap David tidak mau tahu.


Pria itu berlalu menghampiri laptopnya, lalu mematikan benda itu.


"Apa tidak bisa gitu, honeymoon ke Parisnya ditunda dulu?" tanya Aretha sedikit ragu.


"Bisa saja, kalau kamu ingin membuat mama sama papa kecewa," jawab David sembari menutup layar laptop.


Aretha hanya diam tak berkomentar apapun. Sepertinya ia hanya bisa pasrah. Mungkin memang itu yang sudah seharusnya ia jalani, dan itulah risiko yang harus dihadapi karena telah memilih menikah, sebelum lulus kuliah. Apapun alasannya, ia harus siap dengan segala risiko itu, meski itu terasa berat.


"Sudahlah, jangan terlalu diambil pusing! Kita nikmati saja liburan kita nanti. Lebih baik, sekarang kita segera berkemas. Bukankah besok pagi kita harus sudah berangkat ke Bandara?" ucap David mengingatkan.


Aretha hanya bisa patuh dengan mengikuti ajakan David malam itu.


***


David tampak menyiapkan dua koper yang akan mereka gunakan untuk menampung beberapa barang yang akan mereka butuhkan di Paris nanti, salah satunya adalah pakaian ganti.


Setelah dua koper nangkring di depan lemari pakaian, Aretha mulai memilih-milih beberapa pakaian dari dalam lemari, lalu mengemaskan ke dalam salah satu koper tersebut. Tak lupa, ia juga menyiapkan barang-barang pribadi sang suami yang akan dibawanya, lalu mengemas ke dalam koper yang satunya lagi.


"Mas, ini mau dibawa?" tanya Aretha seraya menunjukkan baju hangat milik David.


David yang tengah menyiapkan barang lainnya pun tampak mengamati baju itu sejenak. "Bawa, Sayang," jawabnya.


Aretha tampak memasukan baju itu ke dalam koper David. Setelah ia selesai mengemas barang-barang David, ia kembali mengecek kopernya, lalu memasukkan sebagian barang-barang lainnya yang belum ia kemas.


"Mas, tidak cukup," ucap Aretha memberi tahu.


David yang kala itu sudah duduk di sofa yang berada di kamarnya, tampak sedikit mendongak. Namun, hanya sekilas.


"Bawa barang yang penting saja, Sayang!" titah David yang sudah sibuk kembali dengan gawai di tangannya.


"Ini penting semua lho, Mas," jawab Aretha.


"Bawa yang lebih penting saja!" saran David, berharap kali ini Aretha akan mendengarnya. Sungguh ia tidak ingin dibuat susah oleh barang-barang yang banyaknya melebihi dari dua koper.


"Ini sudah yang paling penting, Mas," rengek Aretha.


David menghela napas, lalu beranjak dari tempat duduknya, seraya menghampiri sang istri yang kala itu tengah duduk di lantai, dengan tangan yang masih belum terlepas dari koper miliknya.


"Memangnya kamu bawa apa saja, sih?" tanya David.


"Ini."Aretha tampak menunjukkan beberapa barang bawaannya.


"Ya, Tuhan ... apa wanita memang seribet ini?" gumam David dalam hati.


Tampak beberapa potong pakaian, termasuk baju hangat, buku, alat make up, sepatu, sandal dan beberapa keperluan tidak terlalu penting lainnya, juga ia masukkan ke dalam koper itu, salah satunya adalah beberapa camilan, yang tentu saja itu bisa dibeli di tempat tujuan, dan tidak perlu repot-repot membawa dari rumah.


Namun, faktor utama yang membuat koper itu penuh sih, tetap pakaian yang ia bawa cukup banyak, padahal mereka di sana hanya akan menghabiskan waktu lima hari saja.


"Ini pakaiannya terlalu banyak," ujar David.


"Masa sih?" tanya Aretha seolah tidak yakin.


"Iya, Sayang. Coba kamu kurangi, pasti kopernya cukup," balas David.


Aretha terdiam sejenak. "Kalau nanti pakaianku kurang, bagaimana?" tanyanya.


"Kita bukan mau pergi ke gunung, kan?" David tampak menatap wajah Aretha.


Benar, bukankah jika mereka kekurangan pakaian ganti, mereka bisa membelinya di sana?


Aretha pun nurut. Ia tampak mengeluarkan beberapa pakaian dan barang yang tidak terlalu penting lainnnya dari dalam koper, alhasil kopernya menjadi cukup, dan mereka sudah selesai dengan kegiatan mengemas barangnya.


"Sudah selesai?" tanya David, ketika Aretha tengah meresletingkan koper itu.


"Sudah, Mas," jawab Aretha.


"Ayo kita tidur!" ajak David.


"Ayo!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TBC