
Aretha dan ketiga sahabatnya berbincang banyak perihal proses operasi tadi malam. Sesekali Diandra terlihat memasang ekspresi ngeri, ketika membayangkan apa yang Aretha ceritakan.
Di tengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba dua orang perawat tampak memasuki ruangan tersebut dengan membawa dua bayi kembar yang tak lain adalah putra-putri Aretha.
"Bu, ini bayinya," ucap salah satu perawat itu kepada Aretha yang kala itu tengah terduduk di atas ranjang, meski belum sempurna.
Wanita itu hanya bisa duduk dengan bantuan ranjang yang sedikit dinaikkan di bagian punggungnya, karena bekas operasi itu masih terasa sakit sekali jika dipaksakan.
Betapa bahagianya Aretha, ketika melihat dua bayi yang berada di dalam box bayi yang dibawa kedua perawat itu. Senyuman merekah pun akhirnya terbit di wajah wanita itu. Ia tampak menatapnya beberapa saat. Kedua bayi itu masih tertidur dengan tenang. Cantik dan tampan, itulah yang ada di dalam pikiran Aretha saat itu.
"Wah ... keponakan aunty lucu-lucu banget sih ...," heboh Diandra dengan gemas. Ia langsung menghampiri kedua bayi itu. Pun dengan Tania dan Deasy yang juga melakukan hal yang sama.
"Eh lihat deh, wajahnya mirip siapa ya?" tanya Deasy yang sedari tadi mengamati wajah kedua bayi itu.
"Wah ... ini sih David junior!" seru Tania yang memfokuskan pandangan ke salah satu bayi yang sudah dapat dipastikan berjenis kelamin laki-laki, jika dilihat dari gelang identitas berwarna biru yang melingkar di tangannya. Dan memang wajahnya sangat mirip sekali dengan David.
"Iya benar. Wah ... bahaya ini kalau karakternya juga sama persis dengan papanya," timpal Deasy mengindahkan perkataan Tania. "Kebayang nggak sih, betapa dinginnya dia nanti," imbuhnya.
"Betul. Pasti akan susah dapat jodoh," balas Tania.
"Lo jangan sembarangan doain anak gue!" ketus Aretha kesal.
"Ups, sorry!" Deasy dan Tania tampak mengatupkan bibirnya menggunakan tangan.
"Re, nanti kita jodohkan anak lo sama anak gue ya," celetuk Diandra seraya menoleh ke belakang.
"Apa-apaan? Main jodoh-jodohin aja. Nikah dulu, Neng!" balas Deasy.
"Gimana mau punya anak, lo pacar saja kagak punya, Ra." Tania tampak menimpali sekaligus menyindir.
"Ledekin saja terus!" ketus Diandra seraya mengerucutkan bibirnya kesal. Bagaimana tidak? Ketiga sahabatnya selalu saja mengaitkan dengan statusnya yang jomlo akut.
Gelak tawa pun memecah di ruangan itu. Suatu kesenangan bagi mereka bisa menggoda Diandra seperti itu. Dan memang, Diandra selalu saja menjadi bahan ledekan sahabatnya, terutama Deasy dan Tania yang lebih sering menggodanya.
Seketika mata Aretha berbinar, merasa terharu melihat kedua buah hatinya itu. Sampai detik itu, ia masih belum percaya bisa melewati itu semua. Namun, itulah kenyataannya. Ia bisa melewatinya dengan baik dari awal hingga akhir.
Rasanya baru saja kemarin ia memeriksa kehamilannya menggunakan tespack, sekarang ia sudah melahirkan bayi kembar yang sungguh tidak ada sedikit pun dalam bayangannya. Pasti ia akan sangat rindu dengan masa-masa saat ia membuat suaminya merasa jengkel karena harus menuruti apapun yang ia inginkan.
Hal yang selalu menjadi perdebatan antara dirinya dengan sang suami, yaitu mengenai jenis kelamin bayi yang mereka inginkan. Ia ingin sekali memiliki bayi perempuan, sedangkan David sebaliknya. Namun, siapa sangka ternyata Tuhan mengabulkan keinginan keduanya.
Mas David pasti senang sekali kalau tahu kita memiliki sepasang bayi kembar.
Lagi-lagi Aretha mengulas senyumnya. Sungguh ia sangat merasakan kebahagiaan tak terkira.
"Sus, saya mau menggendongnya," ucap Aretha dengan mata yang masih berbinar.
"Boleh, Bu. Memang sudah waktunya bayi ibu diberikan ASI," jawab salah satu perawat itu, lalu meraih satu bayi berjenis kelamin perempuan dari dalam box itu.
Perawat itu langsung memberikan bayi perempuan itu kepada ibunya.
Aretha sangat behati-hati, ketika menerima putrinya itu, mengingat ia yang baru pertama kali menggendong bayi yang baru lahir.
Baru beberapa saat Aretha menggendong bayinya, tiba-tiba Carmila kembali ke ruangan itu. Kala itu perempuan paruh baya itu ditemani oleh Maria, sontak keduanya langsung heboh, ketika menyadari kehadiran sepasang bayi kembar di dalam ruangan itu.
"Ya ampun ... cucuku sudah ada di sini rupanya!" seru Carmila dari ambang pintu ruangan. Ia segera menghampiri box bayi itu dan segera menggendong salah satu bayinya.
Setelah operasi itu, Carmila memang belum sempat menggendong cucunya. Meski ia berulang kali ke ruangan bayi, tetapi ia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sebab, ia tidak diizinkan untuk masuk ke ruangan bayi, sehingga ia pun terpaksa harus bersabar harus menunggu agar bisa menggendongnya.
"Ya ampun ... lucu sekali, jadi ingat waktu melahirkan Dave dulu," timpal Maria yang tampak ikut menatap dan mengelus pipi bayi mungil itu.
"Tapi, kalau dilihat-lihat, mirip sekali loh dengan papanya," ujar Carmila sambil menatap bayi dipangkuannya.
"Iya benar. Memang mirip sekali dengan, Dave," balas Maria.
"Mi, aku mau gendong juga," ucap Aretha yang langsung membuat Carmila dan Maria fokus menatapnya.
Maria langsung menghampiri Aretha, lalu meraih bayi yang tengah digendong oleh menantunya itu.
"Sini, Nak. Biar mama yang gendong."
Aretha langsung memberikan putrinya kepada sang ibu mertua, karena ia juga sudah tidak sabar ingin menggendong bayi satunya lagi.
"Benar-benar mirip sekali dengan mas David," ucap Aretha seraya mengusap hidung bayi itu dengan jari telunjuknya, setelah sang mami meletakan sang putra di pangkuannya.
"Apa gue bilang. Benar 'kan mirip sekali dengan pak David," timpal Diandra yang sedari tadi berdiri di samping kanannya.
"Mirip sekali, Ra."
Aretha tampak memberikan ASI kepada buah hatinya itu secara bergantian. Rasanya ia menjadi orang tua yang paling bahagia saat itu. Untuk pertama kalinya ia bisa memberikan ASI kepada buah hatinya. Meski ASI yang ia miliki masih belum begitu subur, tetapi Aretha tetap berusaha memberikannya, karena ia tahu betapa petingnya ASI itu untuk bayinya.
Setelah nyaris menghabiskan waktu satu jam Aretha malakukan kegitan itu, tiba-tiba Anton dan Kris masuk ke dalam ruangan, sehingga membuat ketiga sahabat Aretha pamit untuk keluar beberapa saat, karena merasa tidak enak jika di dalam ruangan itu terlalu banyak orang.
Anton langsung menghampiri Aretha yang kala itu masih menggendong bayinya. Seketika ia menerbitkan senyumnya, ketika ia menyentuh puncak kepala bayi itu.
"Cucu opa tampan sekali," ucap Anton.
"Papi, ini perempuan bukan laki-laki, masa iya dibilang tampan," protes Aretha yang sontak membuat gelak tawa memecah.
Anton memang tidak menyadari bahwa bayi yang digendong Aretha adalah bayi perempuan. Ia memang tidak memahami arti warna gelang identitas yang melingkar di tangan bayi itu, sehingga ia tidak bisa membedakannya.
"Oh ... ini perempuan, papa pikir ini yang laki-laki. Maaf ya, Sayang," balas Anton.
"Pak Anton, coba lihat! Ini mirip siapa?" tanya Kris yang kala itu tengah mengamati salah satu bayi yang tengah digendong oleh istrinya.
Anton segera menghampiri mereka saat itu juga, lalu mengamati wajah bayi tersebut.
"Wah ... ini mirip sekali dengan papanya!" seru Anton.
Tak sedikit yang mengatakan bahwa bayi laki-laki itu sangat mirip sekali dengan David, sehingga membuat Aretha teringat kembali dengan sosok suaminya yang sampai detik itu belum ada menampakkan diri di tengah-tengah mereka.
"Pa, apa mas David belum menelepon?" tanya Aretha yang seketika membuat semuanya bungkam. "Kalau memang mas David tidak ada menelepon, biarkan aku yang akan menghubunginya sekarang. Ini sudah melebihi jadwal yang sudah ditentukan, Lho? Masa sampai sekarang mas David masih belum pulang?" imbuhnya dengan nada kesal.