
"You are the reason for my happiness all this time. I cannot throw you away from my brain and Let my dreams come true. So, will you be mine?"
Deg!
Kalimat itu seakan menghunjam jantung Aretha. Ia terpaku dengan mulut terasa kaku. Sungguh David telah membuatnya terdiam membisu malam itu. Jangakan untuk berkata-kata, mengedipkan mata pun seakan terasa berat baginya.
Lagi-lagi Aretha menatap tak percaya. Dalam hati ia bertanya, apakah benar apa yang sedang ia lihat adalah nyata atau mungkin itu hanyalah mimpi semata? Benarkah orang yang berada di hadapannya itu adalah sosok dingin dan menyebalkan yang sangat ia kenal?
Untuk membuktikan itu semua, diam-diam gadis itu mencubit pahanya sendiri dan itu cukup terasa sakit, meski tidak membuatnya meringis kesakitan. Namun, itu membuatnya tersadar bahwa apa yang tengah ia alami saat itu adalah nyata.
Mas David ... ah, kamu sungguh membuatku terkejut malam ini. Aku bingung harus jawab apa sekarang. Kenapa kamu tiba-tiba berubah semanis ini, sih?
Sebagaimana Aretha, David pun masih menatap lekat Aretha tanpa menghentikan senyum di wajahnya. Ia tampak memegang kotak berwarna merah itu dan masih menunggu jawaban dari Aretha, berharap Aretha akan memberikan jawaban yang ia inginkan, sebab ia tidak akan rela, jika menerima penolakan dari gadis itu.
Setelah sekian lama ia menghindari wanita karena ulah sang mantan yang cukup menyakitkan baginya, hanya Aretha lah yang dapat mengembalikan kepercayaannya terhadap sebuah cinta dan itu membuatnya takut kehilangan sosok gadis yang telah membuat hatinya seolah hidup kembali.
"Aku ...," gugup Aretha. Suaranya seakan terhenti kembali, sebelum ia berhasil menuntaskannya. Ia tampak memainkan jari telunjuk dengan mengetuk-ngetuknya di atas paha dan membiarkan jari yang lainnya untuk tetap diam.
Dengan sabar, David menunggu jawaban gadis itu. Namun, setelah beberapa saat gadis itu terdiam kembali, David mulai menghitung dalam hati.
Satu ... dua ... tiga ....
Aretha masih diam sehingga membuat David kehilangan kesabarannya. Pria itu tampak menyeringai, menatapnya jahil.
"Oke, diam kamu, aku anggap iya," celetuk David yang sontak membuat Aretha sedikit terlonjak. Bagaimana bisa pria itu bersikap seenaknya dalam situasi seperti itu.
Suara David yang masih terdengar jelas dari pengeras suara seketika membuat beberapa yang tengah menontonnya kembali bersorak ria disertai tepukan tangan yang memecah di udara seolah ikut merasa berbahagia.
David menoleh ke arah mereka sembari melebarkan senyumya. Dengan mikrofon yang masih berada di bawah bibirnya, pria itu berkata. "Everybody, do you agree with me?" tanyanya meminta pendapat yang sontak membuat kepala Aretha mengikuti kemana arah tatapan pria yang kala itu masih berlutut di hadapannya.
"YES!" Teriakan kompak itu seketika membuat David melebarkan senyumnya, pun dengan Aretha yang tidak menyangka jika David bisa menghipnotis mereka dengan ulahnya, lalu memberikan support akan hubungannya dengan David, meski mereka semua bukanlah orang yang dikenal Aretha ataupun David.
David menatap Aretha kembali. Begitupun dengan Aretha. Ia tampak melakukan hal yang sama sehingga terjadilah bentrokan tatapan antara keduanya. Mereka tampak beradu pandang.
"Kamu—"
"Please!" ucap David memohon.
"Terima ... terima ... terima ...." Teriakan pengunjung lain yang tampak memberikan dukungan akan hubungan mereka selanjutnya.
Aretha masih ragu dengan apa yang akan ia ucapkan. Namun, seketika ia memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Ehem!" Gadis itu berdeham, mencoba meteralkan perasaannya dari rasa gugup.
"Aku ...," lirihnya sedikit memberi jeda. "Sebenarnya aku mau menolak, cuma karena kamu memaksa ... ya sudahlah, aku bisa apa," imbuhnya seraya memalingkan pandangannya ke sembarang arah sembari tersenyum malu.
Melihat ekspresi Aretha yang seakan tidak ada tekanan, tentu saja membuat David menyeringai senang. Meskipun gadis itu berkata bahwa karena terpaksa, tetapi itu tidak membuatnya percaya. Justru yang ia lihat Aretha cukup tersenyum bahagia, meski terkesan malu-malu.
Lagi-lagi sorak pengunjung lain kembali memecah sehingga membuat Aretha semakin tersipu malu. Sungguh itu membuatnya merasa tidak nyaman. Disaksikan orang banyak dalam situasi seperti itu, sangat memalukan baginya.
"YES!" pekik David merasa senang. "Thank you so much, Re. I'm so happy. Aku janji tidak akan membuatmu kecewa. I promise it!" tegasnya yang langsung mendapat anggukkan dari gadis itu.
"Can I put this on?" tanya David seraya menatap, lalu mengangkat sedikit kotak merah yang masih ia pegang. Secepat kilat Aretha menganggukkan kepala sehingga membuat David langsung mengangkat tubuhnya berdiri.
David tampak mendekat kepada Aretha, lalu berdiri di belakang gadis itu. Dengan perlahan pria itu mengalungkan benda yang terbuat dari emas putih itu di leher Aretha.
Aretha sedikit menekuk lehernya, setelah David berhasil memakaikan kalung tersebut. "Kenapa kunci?" tanya Aretha sedikit mendongak.
"Biar kamu dapat mengunci hati kamu dan tidak membiarkan nama pria lain masuk ke dalamnya sehingga hanya namaku yang bisa bersemayam di sana," bisiknya menggoda. Namun, serius dengan maksudnya, sontak membuat Aretha tidak percaya jika David bisa berpikir sejauh itu. Gadis itu pun berpikir untuk menjahili pria itu.
"Kalau ternyata nama kamu juga belum berada di dalamnya, gimana?" tanya Aretha tidak serius.
"Kamu lihat saja, aku akan mendorongnya sekuat tenaga, agar aku bisa mendobrak pintu hati kamu," ucap David tak mau kalah yang langsung membuat Aretha menyerah. Pria itu terlalu pandai untuk diajak berdebat.
Aretha tampak berdecak kesal sehingga membuat David kembali menerbitkan senyumnya karena merasa menang. David kembali duduk di kursi yang berada di hadapan Aretha.
"soal rencana pertunangan itu ...," ucap Aretha ragu untuk melanjutkan.
"Soal itu, aku akan meminta papa buat batalin, jika kamu keberatan," jawab David yakin. Pria itu tampak mengernyitkan dahi seolah meminta pendapat apakah pertunangan itu perlu dilanjutkan atau tidak.
Maksud aku kan bukan seperti itu. Maksudnya aku mau tanya itu rencana dia atau bukan? Ah, mas David gak peka!
"So?" Pertanyaan David seketika membuat Aretha tersentak.
"Aku ... aku terserah kamu saja," jawab Aretha yang tentu saja membuat David seketika bisa membaca ekspresi gadis itu bahwa ia tidak merasa keberatan.
David segera mengajak Aretha untuk menyantap makan malam yang sudah tersaji di atas meja. Mereka makan dalam keheningan, tanpa perbincangan. Namun, disertai senyum bahagia dari masing-masing wajah mereka.
Setelah selesai, David segera mengantar pulang Aretha. Mengingat Aretha yang sudah memberi tahunya bahwa Carmila meminta gadis itu untuk tidak pulang terlalu larut malam.
Setengah jam berlalu, David telah memarkir mobilnya di depan rumah Aretha. Mereka terdiam sejenak, sebelum akhirnya Aretha memutuskan untuk turun dari mobil itu.
"Mas, makasih ya untuk malam ini," ucap Aretha yang hanya dibalas dengan senyuman. "Ya sudah, a-aku turun," imbuhnya seraya membalikkan badan untuk membuka pintu mobil.
"Sayang, tunggu!" pekik David yang sontak membuat Aretha mengurungkan niatnya.
"Hh?" Aretha menoleh kembali ke belakang dengan ekspresi penuh tanya.
David mengulas senyumnya sembari menatap sayu Aretha. "Jangan lupa minum obat tidur, ya!" titah David yang tentu saja membuat Aretha termangu, tak mengerti maksud dari ucapannya.
"Untuk apa?" tanya Aretha seraya mengernyitkan dahinya, menatap heran pria itu.
"Agar kamu bisa tidur nyenyak, sebab aku tahu kamu tidak akan bisa tidur malam ini," jawab David menggoda yang langsung mendapatkan cubitan dari Aretha di perutnya.
"Aww!" pekik David meringis kesakitan.
"Belum apa-apa sudah mencoba mau membunuhku!" ketus Aretha yang seketika membuat David tertawa.
"Good night!" ucap David seraya mengusap rambut Aretha.
Aretha tersenyum. "Night," balasnya. "Aku turun sekarang," imbuhnya.
"Mau aku bantu bukain pintunya?" tanya David.
"Gak usah sok manis, aku tahu itu bukan tipe kamu!"
____________
🙄🙄🙄🙄🙄
HAPPY READING!