Possessive Love

Possessive Love
Teror



Aaaaaa!!" teriak Aretha yang mendadak melempar benda pipih yang tengah ia genggam ke atas tempat tidur.


"Astaghfirullahaladzim," imbuhnya dengan tidak mengalihkan fokusnya dari ponsel yang kala itu sudah jauh dari jangkauannya.


Tak ayal teriakan wanita itu membuat David yang tengah berada di kamar mandi merasa terkejut saat itu, lalu berteriak dari di tengah-tengah kegiatannya, sekadar memastikan apa yang sudah terjadi.


"Sayang, ada apa?" teriak David dari dalam kamar mandi. Namun, Aretha hanya diam termangu, tanpa melepas pandangan dari benda pipih itu.


Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi, sehingga membuat wanita itu seolah terkesima, juga sedikit bergetar, seolah ketakutan.


"Sayang!" teriak David sekali lagi. Aretha masih tetap diam.


Entah sebenarnya ia mendengar atau tidak teriakan dari sang suami. Sebab, tidak ada respon sedikit pun darinya.


Selang lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Nampak David keluar dari sana. Tidak adanya tanggapan dari sang istri membuat pria itu merasa sedikit cemas dan segera mengakhiri kegiatannya.


Langkah pria itu terhenti sejenak, ketika mendapati punggung sang istri yang tengah berdiri membelakanginya, dengan mengahadap ke arah tempat tidur.


"Sayang, ada apa? Pagi-pagi begini sudah membuat keributan?" tanya David, sebelum ia berniat menghampiri istrinya lebih dekat lagi.


Aretha masih tertegun, seolah tidak mendengar suara bariton yang cukup memecah di ruangan itu.


Karena masih tidak ada respon dari sang istri, pria itu pun memutuskan untuk segera menghampiri wanita itu, lalu memegang sebelah bahunya, dengan fokus yang mengikuti objek dari pandangan wanita itu.


"Sayang, are you okay?" tanya David seraya menatap ke arah tempat tidur yang jelas tidak ada yang aneh menurutnya.


Akan tetapi, Aretha terlihat memberi tatapan berbeda, seolah ada sesuatu di sana.


Kehadiran pria itu seketika membuat Aretha tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke samping, dimana pria itu berdiri.


Bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan David, wanita itu malah dengan reflect memeluk pria yang kala itu masih bertelanjang dada.


"Mas," lirih Aretha seraya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Seketika aroma maskulin terasa begitu menenangkan, atau bahkan menghangatkan.


"Hey! Ada apa?" tanya David seraya merenggangkan tubuh Aretha dari tubuhnya, lalu menatap wajah wanita itu dengan penuh tanya, setelah ia berhasil membuatnya mendongak.


"Itu," tunjuk Aretha ke belakang, tanpa menolehkan pandangan.


David mengikuti jari telunjuk Aretha yang mengarah ke tempat tidur. Namun, pria itu masih tampak bingung dan belum memahami apa yang dimaksud sang istri, semetara ia tidak menemukan apapun, selain benda pipih milik sang istri yang tergeletak tak berdaya di sana.


"Apa?" tanya David memastikan.


"Itu, Mas!" jawab Aretha dengan masih menunjuk, seperti sebelumnya. Namun, kala itu sembari menoleh ke belakang.


"Handphone?" tanya David seraya menatap Aretha, seolah meyakinkan.


Aretha tampak menganggukkan kepalanya, membenarkan.


Dengan perlahan David melepaskan Aretha, lalu segera menghampiri tempat tidurnya. Secepat kilat, David telah meraih benda pipih itu, lalu membuka screenlock ponsel tersebut.


Dalam sekali usapan, David telah dibuatnya terbelalak, ketika ia mendapati sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Ya, Aretha memang belum sempat menutup lagi pesan itu, sehingga David bisa langsung membacanya.


MATI!!!


Begitu singkat, bukan? Hanya satu kata. Bahkan itu bukan kalimat, tetapi cukup membuat jantung Aretha berubah menjadi berpacu lebih cepat, karena merasa cemas dan ketakutan.


Apa maksud dari semua itu? Kenapa tiba-tiba hidup mereka seolah berada di bawah ancaman perbuatan orang jahat. Namun, siapakah dalang di baliknya? Kalaupun memang benar, lantas apa yang menjadi motif akan kejahatan sesorang itu kepada mereka? Apa yang sebenarnya ia inginkan? Mungkinkah karena balas dendam, tetapi untuk perkara apa?


Lagi-lagi mereka dibuat bertanya-tanya. Mereka sungguh tidak mengerti dengan dua kejadian yang cukup membuat mereka resah.


"Mas, aku takut," lirih Aretha yang seketika membuat David yang kala itu masih fokus ke layar handphone tampak terkesiap, lalu mendongak, menatap sang istri.


David kembali mendekati wanita itu, sebelum ia menanggapi pertanyaan darinya.


"Sayang, apa kamu punya masalah dengan orang lain?" tanya David.


Pria itu merasa khawatir jika Aretha memiliki masalah yang serius dengan orang lain, sehingga berujung dengan dendam.


"Tidak ada, Mas," jawab Aretha.


David terdiam beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Eh, tapi sebentar, deh!" ucap Aretha yang seolah mengingat sesuatu, sehingga membuat David sedikit tersentak dan serasa tertarik dengan ucapan Aretha. "Beberapa hari lalu kan aku ada masalah dengan Indira, Mas," imbuhnya yang sontak membuat David membeliak, ketika mengingat kejadian tempo hari di kafe itu.


Apa benar dia pelakunya? Tidak! Aku tidak boleh gegabah, belum tentu juga dia yang melakukan itu.


David tampak menepis pikiran buruk itu. Ia tidak ingin menuduh seseorang tanpa bukti. Namun, kendatipun begitu ia akan tetap menyelidiki kasus tersebut. Walau bagaimanapun, keamanan dan keselamatan sang istri patut ia prioritaskan dari apapun itu.


"Menurut kamu, mungkin tidak dia berani melakukan hal semacam ini kepada kita, hanya karena masalah kecil?" tanya Aretha.


David menghela napas. Sebetulnya ia juga bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan itu. Namun, sebisa mungkin ia berusaha netral di hadapan istrinya.


"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, tetapi kita tidak boleh gegabah, dengan menuduh seseorang tanpa bukti," jawab David.


"Kamu benar, Mas," lirih Aretha yang tampak mengindahkan perkataan sang suami.


"Kamu tenang saja! Semua akan baik-baik saja, tidak akan ada siapapun yang berani berbuat jahat sama kita. Kamu percaya aku kan, Sayang?" ucap David seraya memegang kedua bahu sang istri.


Pria itu menatap wanita di hadapannya, pun sebaliknya.


"Iya, Mas. Aku percaya," lirih Aretha mengangguk pelan.


Setelah berusaha meyakinkan dan menenangkan sang istri, David segera berganti pakaian. Awalnya Ia berniat untuk pergi ke kantor. Namun, teror itu membuatnya merasa khawatir jika harus meninggalkan sang istri, hingga ia pun kembali berpikir bahwa hari itu ia memutuskan untuk tidak bekerja.


David segera menghubungi Hendra, sebagai CFO diperusaannya, berharap pria berusia tiga puluh tahun itu bisa membantunya dalam mengelola perusahaan dengan baik, selama ia tidak ada. Beruntung Hendra segera menyetujui permintaannya.


Setelah selesai, mereka langsung melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Mereka segera keluar dari kamar, lalu melakukan sarapan bersama. Tampak Ratih yang tengah sibuk di dapur dengan segudang pekerjaanya.


Aretha dan sang suami seketika mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan, lalu tak menunggu lama mereka segera menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa pikiran mereka masih sama seperti sebelumnya, sama-sama merasa cemas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TBC