Possessive Love

Possessive Love
Merindumu



David memeluk Aretha dengan sangat erat. Betapa ia sangat sedih, ketika tahu bahwa wanita itu harus berjuang sendirian. Bahkan, disaat nyawanya menjadi taruhan. Ia merasa menjadi laki-laki tak berguna. Jangankan untuk memberinya semangat dan kekuatan, menemaninya pun ia tidak mampu, hingga wanita yang sangat ia cintai itu juga harus berjuang merawat bayi mereka sendirian. Hanya karena apa? Hanya karena kebodohannya.


Ia sudah membayangkan betapa ia akan sangat bahagia, ketika menyambut bayi yang baru lahir ke dunia. Namun, semua itu musnah begitu saja, karena kebodohannya. Andai saja waktu itu ia mendengar perkataan Rangga, mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu. Namun, apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa memutar waktu. Semua telah menjadi ketetapanNya, dan siapapun tidak bisa mencegah dan menghalanginya.


Namun, tetap saja. Itu sangat kentara. David betul-betul sedih membayangkan semua yang terjadi dengan istrinya disaat ia tidak ada di samping wanita itu. Seketika ia sudah tak lagi bisa menahan haru. Akhirnya, David yang selama ini terbilang kuat, nyatannya bisa lemah, sebab kekuatan cinta. Betapa besar cintanya kepada sang istri, sehingga ia tidak kuasa membayangkan sesuatu yang dapat membuat istrinya menangis dan terluka.


"Maaf, maafkan aku," ucap David parau tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.


Selain karena menyesal, ia juga sangat merindukan sosok yang selama tiga minggu itu tidak bisa ia rengkuh, bahkan sentuh. Ia benar-benar sangat merindukannya. Rasanya enggan sekali untuk melepaskan tubuh itu dari pelukannya.


Merindumu adalah satu hal yang tak pernah membuatku jemu. Bahkan, meski dalam keadaan kacau dan beradu, aku tetap tahu dan mampu merasakan betapa besarnya rinduku padamu.—David Wijaya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, Mas. Bisa melihatmu kembali seperti sedia kala, benar-benar membuatku bahagia. Terima kasih sudah kembali untukku dan untuk anak-anak kita." Aretha pun mulai meneteskan cairan bening yang sedari tadi sudah memenuhi sudut matanya.


Melihatmu bisa kembali membuka mata adalah satu hal yang tidak kusangka. Meski aku sudah buruk menduga, tetapi pada kenyataannya ketetapan Tuhan berbeda. Tuhan memang selalu punya cara untuk membuat kita bahagia.—Aretha Chairani Grissham.


Setelah beberapa saat sepasang suami istri itu berpelukan melepas rindu, akhirnya mereka saling merenggangkan tubuh mereka—saling melepaskan pelukan, mengingat ada beberapa sosok lain di ruangan itu yang tengah memerhatikan adegan mereka.


Mereka saling menatap. Seketika Aretha tersenyum jahil. "Mas, kamu menangis?" tanyanya dengan nada meledek.


Secepat kilat David memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Tidak! Mana mungkin aku menangis," jawab David tanpa menoleh ke arah Aretha.


Aretha masih tidak mau kalah. Ia mengikuti ke mana pun arah wajah David saat itu. "Tuh kah ... lihat deh, ada sisa air mata di pipi kamu, Mas. Bekas apa kalau bukan menangis?" tanya Aretha menggoda suaminya.


Seketika gelak tawa memecah di ruangan itu. Sungguh itu membuat David merasa malu. Bisa-bisanya ia dipermalukan oleh istrinya sendiri, pikirnya.


Tak ingin dibilang cengeng, David masih berusaha menyangkal dan bersikap elegan, seolah apa yang dikatakan Aretha adalah salah.


"Mana?" David segera mengusap pipi dan matanya. "Tidak ada, Sayang," imbuhnya menyangkal.


Memang benar yang dikatakan Aretha. Masih ada sedikit air mata yang menempel tanpa David sadari. Sungguh itu membuat harga dirinya sebagai laki-laki yang kuat runtuh seketika di depan keluarganya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun, terlebih lagi di depan istrinya sendiri.


"Sudah kelihatan, kok masih saja bohong," sindir Aretha masih ingin menggoda suaminya, setelah sekian lama ia merindukan momen seperti itu.


"Aduh, kepalaku pusing! Sepertinya aku butuh sekali istirahat." David tampak memegang kepalanya.


"Mas, kamu kenapa?" Aretha terlihat sangat panik, lalu menatap ke arah dokter yang kala itu memang masih berada di sana. "Dokter?" Ia menatap penuh tanya, seolah meminta pertolongan.


Aretha benar-benar takut jika David kembali merasakan sakit, yang mungkin saja karena istirahatnya terganggu, sehingga menurunkan kondisi kesehatannya.


David langsung merebahkan tubuhnya kembali, sehingga membuat Aretha semakin panik, padahal itu hanyalah alasan David untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Biar saya periksa," ucap dokter itu seraya mendekati David. Namun, dengan sigap pria itu mengangkat tangannya, sebagai isyarat untuk menghentikan niat dokter itu.


"Tidak perlu, Dok! Saya hanya butuh sedikit istirahat, mungkin nanti akan segera membaik," tolak David seraya mengerlingkan matanya kepada dokter itu yang langsung dipahami oleh sang dokter.


Dokter itu hanya tersenyum melihat tingkah laku pasiennya itu. "Baiklah, kalau begitu saya permisi. Oh iya, mungkin ada yang bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" tanyanya.


"Biar saya saja." Dengan sigap Kris menawarkan diri untuk ikut ke ruangan dokter. Tentu ia tahu apa yang akan disampaikan oleh dokter itu. Apa lagi jika bukan tentang kondisi David. Dan memang ia perlu tahu akan hal itu.


"Baiklah," jawab dokter itu. Tak lama kemudian dokter dan perawat itu keluar daei ruangan tersebut.


"Maaf ya, Pa," ucap Aetha merasa tidak enak hati, karena seharusnya ia sendiri yang menghadap dokter itu, tetapi sungguh ia sangat khawatir dengan kondisi David saat itu.


"Tidak apa-apa, kamu di sini saja temani suamimu." Nyatanya Kris lebih memahami hal itu. Ia tahu betul bahwa mereka butuh waktu berdua, setelah sekian lama tidak saling bercengkrama.


"Mama sama papa tinggal dulu ya, Nak," ucap Maria.


Kris dan Maria keluar dari ruangan itu mengikuti dokter yang telah lebih dulu beranjak dari hadapan mereka.


"Mas ... kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Aretha.


Tampak kedua orang tuanya yang sedari tadi memperhatikan sembari tersenyum. Mereka mulai mendekati anak menantunya itu, karena memang sedari tadi masih belum mendapat kesempatan untuk bercengkrama dengan menantunya itu. Mereka juga sama, merindukan sosok David.


"Nak David," panggil Anton.


"Papi, Mami?" David menoleh ke arah mereka berdua, lalu mengangkat tubuhnya kembali. Sedikit senyuman ia terbitkan di wajahnya.


"Kamu baik-baik saja, Nak? Kamu rebahan saja kalau memang merasa pusing," tanya Anton memastikan.


"Tidak apa-apa, Pi, Saya baik-baik saja, berkat doa dari semuanya saya bisa kembali seperti semula," jawab David.


"Selamat ya, Nak, kamu sudah bisa melewati masa kritismu, papi senang sekali melihatnya." Kris tampak menepuk pelan punggung pria itu.


"Terima kasih, Pi. Saya juga senang bisa berkumpul kembali bersama kalian semua," jawab David lirih. Seketika ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap kembali papi mertuanya. "Pi, Mi, maafkan saya karena tidak bisa menemani Aretha disaat—"


"Sst! Jangan menyesal seperti itu. Ini bukan salah kamu. Semuanya sudah menjadi takdir dari Sang Mahakuasa. Dari sini papi tahu, betapa hebatnya kalian berdua. Papi bangga, bangga sekali," potong Anton yang seketika kembali menciptakan suasana haru di dalam ruangan itu.


"Terima kasih, Pi. Terima kasih juga sudah menjaga Rere selama saya koma," jawab David.


"Nak, kamu sehat-sehat ya ... jangan membuat kami cemas lagi," timpal Carmila memasang eskpresi sendunya.


"Iya, Mi. Saya pasti jaga kesehatan." Lagi-lagi David mengulas senyumnya. Beruntung sekali ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.


***


Sore harinya, Aretha terlihat hanya berdua dengan David saat itu. Kedua orang tuanya sudah pamit pulang lebih dulu, karena sang mami merasa khawatir dengan si kembar, jadi ia memutuskan pulang ke rumah Aretha untuk melihat kedua cucunya dengan ditemani Maria. Sedangkan, Kris dan Anton tampak pergi ke kantor, karena ada kegiatan yang tidak bisa ditunda siang itu.


"Mas, sejak kapan kamu sadar dari koma?" tanya Aretha kepada David yang kala itu masih dalam posisi terbaring. tanya Aretha penasaran.


"Sebetulnya dari kemarin sore," jawab David.


"Kenapa pihak rumah sakit baru memberi tahuku hari ini?"


"Mas, kamu merasakan sesuatu?" tanya Aretha kepada David yang kala itu masih dalam posisi terbaring.


David menatap sang istri, sebelum ia menanggapi pertanyaan wanita itu. "Iya," jawab David singkat dengan eksperesi datar.


Aretha bangkit dari tempat duduknya seraya memasang ekspresi panik. "Apa, Mas? Biar aku panggilkan dokter?" tanyanya ingin tahu.


"Rindu," jawab David sembari mengulum senyumnya yang seketika membuat Aretha menciut kembali.


"Mas ... aku serius," protes Aretha pelan seraya mendaratkan kembali tubuhnya ke tempat duduk dengan terlihat sedikit lemas.


"Aku serius, Sayang," jawab David seraya meraih tangan Aretha. "Aku rindu kamu," imbuhnya seraya menatap intens kedua manik cokelat itu, lalu ia mencium tangan istrinya dengan lembut.


Aretha memberengutkan wajahnya sembari menatap aksi suaminya saat itu. Bukan karena ia tidak suka diperlakukan manis oleh David, tetapi ia kesal karena hampir saja dibuat jantungan. Sebab, apapun yang menyangkut dengan kondisi kesehatan David saat itu, sungguh membuatnya akan merasa panik berlebihan jika sampai ia tahu bahwa kondisi kesehatan David tiba-tiba menurun lagi.


"Kenapa? Kamu tidak suka? Kamu tidak rindu?" David tampak membelalakkan matanya, menatap tidak suka ekspresi Aretha saat itu.


"Bukan begitu, Mas ...," bantah Aretha lirih. "Aku itu tanya serius loh, aku panik. Aku tidak bisa kalau lihat kamu seperti sebelumnya. Sudah, cukup tiga minggu saja aku melewati hari-hari tanpa kamu! Jangan ulangi lagi ya, Mas," jelasnya dengan wajah memelas.


Lagi-lagi David mengulum senyumnya. Nampaknya ia senang sekali mendengar pernyataan Aretha saat itu. Setidaknya, ia tahu bahwa dirinya sungguh sangat berarti untuk istrinya. "Maaf," lirihnya seraya mempererat genggaman tangannya lalu mencium kembali tangan istrinya itu cukup lama.


Aretha hanya tersenyum memerhatikannya. Entah ia harus berkata apa, yang jelas tidak ada kata ataupun kalimat yang pantas mendeskripsikan perasaannya saat itu, selain 'Bahagia'.


Menjalani hari-hari yang tanpa kamu adalah hal terberat yang pernah aku alami. Meski begitu banyak nasihat dan pelukan yang menguatkanku. Namun, apalah artinya jika bukan kamu. Tanpamu membuatku nyaris putus asa. Hatiku berantakan, disaat ragamu hanya bisa kusentuh dan kurengkuh. Namun, tanpa ada kata, canda dan tawa yang selama ini menghiasi hari-hari kita. Aku takut! Aku takut jika pada akhirnya kamu akan pergi meninggalkan. Aku takut jika pada akhirnya aku akan kehilanganmu untuk selamanya. Kamu telah membuatku berada pada posisi yang paling hancur sehancur-hancurnya. Ya, sehancur itu aku menjalani hari-hari tanpa kamu. Cukup! Cukup satu kali saja kamu membuatku cemas! Jangan pernah ulangi lagi! Sebab, aku tidak tahu bagaimana caranya ikhlas.


"Jangan pernah ulangi, Mas!" pinta Aretha.


David tersenyum. "Tidak akan!" jawabnya yakin.


"Aku takut," lirih Aretha dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak perlu takut," balas David.


"Mas ...," panggil Aretha.


"Kenapa, Sayang?" tanya David yang masih setia menggenggam tangan wanita itu.


"Kamu tidak mengalami sesuatu selama koma?" tanya Aretha polos. Entah apa yang ingin ia ketahui. "Misalnya hal yang aneh gitu?" imbuhnya.


David mengerutkan dahinya. "Justru pertanyaan kamu yang aneh," jawabnya.


"Aneh gimana? Aku cuma tanya." Aretha tampak bingung.


"Aku hanya bermimpi," ujar David memberi tahu.


"Kamu mimpi apa, Mas?" tanya Aretha begitu antusias. Ia tampak membulatkan matanya penuh tanya.


Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu, sehingga ia ingin sekali mengetahui apa yang dialami oleh sang suami selama dalam keadaan koma.


"Kamu ini kenapa sih, Sayang?" tanya David heran.


"Ya ... tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu kamu mimpi apa," jawab Aretha. "Kamu tidak mimpi aneh-aneh, kan? Misalnya mimpi bertemu malaikat pen—"


"Terlalu banyak nonton sinetron jadi begini, nih!" potong David yang langsung memahami apa yang akan disampaikan oleh sang istri.


"Mereka membuat film tidak mungkin tanpa riset 'kan, Mas?" tanya Aretha memastikan. "Aku yakin mereka tidak akan sembarangan, pasti berdasarkan pengalaman seseorang," jelasnya seraya berpikir.


"Ya, mungkin kamu benar," lirih David.


"Jadi?" Aretha masih menunggu jawaban David.


"Jadi apa?"


"Jadi kamu mimpi apa?"


David memalingkan wajahnya sejenak. "Ya Tuhan ... kamu masih penasaran?" tanyanya seraya menatap Aretha yang kala itu masih menunggu jawaban darinya. "Aku tidak mimpi yang aneh-aneh, Sayang," jawabnya.


"Mimpi apa?"


"Kamu," jawab Aretha.


"Aku?" tanya Aretha.


"Ya kamu, siapa lagi?" jawab David yang memang yakin bahwa yang ada dalam mimpinya selama koma adalah Aretha, bukan siapa pun. Terlebih lagi, malaikat pencabut nyawa.


"Aduh! Kok, tiba-tiba kepalaku semakin pusing!" David tampak memegang kepalanya, sebelum Aretha berhasil menanggapi ucapannya.


"Kamu kenapa, Mas?" Aretha bangkit kembali. Lagi-lagi dibuat panik.


"Kepalaku sakit sekali, Sayang," jawab David yang tampak mecengkeram sebagian kepalanya, seolah benar-benar merasakan sakit di kepalanya.


Aretha semakin panik. "Mas, kamu kenapa sih?" Aretha tampak mendekatkan wajahnya dengan wajah pria itu, lalu ia memegang kepala David di tengah kebingungannya.


Cup!


Seketika kecupan manis mendarat di bibir Aretha yang sontak membuat wanita itu mematung dalam waktu sekejap. Betapa sangat geramnya ia. Di tengah-tengah ketakutannya, David masih saja memiliki cara untuk mempermainkannya. Namun, ia tidak bisa marah. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga merasa senang dengan perlakuan manis David yang selalu penuh dengan kejutan.


Mereka masih dalam posisi yang sama. Saling beradu pandang dengan tatapan yang sama-sama terkunci. Bahkan, tak ada pergerakan dari kedua pasang kelopak mata mereka.


"Lagi?" tanya David yang seketika membuyarkan lamunan Aretha, tepat ketika pintu ruangan itu terbuka dan munculah seorang pria.