Possessive Love

Possessive Love
Bagaikan Tom and Jerry



Diandra telah berada di dalam sebuah mobil mewah yang tak lain adalah milik Samuel. Mereka tampak duduk bersebelahan di jok depan. Samuel sedang fokus dengan kegiatan menyetirnya. Sementara Diandra hanya bersandar di jok mobil, tanpa ada kegiatan apapun yang ia lakukan.


Suasananya hening, tak ada yang mereka bahas. Diandra masih dengan ekspresi cemberut, karena kesal tidak bisa mengikuti acara resepsi pernikahan Aretha dan David hingga selesai. Sementara, Samuel masih dengan ekspresi marahnya, karena harus kena masalah disaat hatinya sedang patah. Lengkap sudah penderitaannya malam itu.


Sesekali Diandra melirik ke samping, tampak Samuel yang masih fokus dengan kemudinya. Diandra menyunggingkan senyumnya, menatap wajah tampan pria di sampingnya itu.


Dia lucu juga kalau lagi marah seperti ini.


Diandra kembali fokus ke depan, menatap jalanan yang sedikit gelap, hanya pencahayaan dari lampu kendaraan, juga street lamp yang tampak menerangi jalan tersebut.


Terlalu lama berada di dalam mobil dengan susana yang sunyi senyap, tanpa ada perbincangan, atau bahkan suara musik yang mengiringi perjalanannya, membuat Diandra merasa jenuh dan bosan. Rasanya perjalanan yang baru beberapa menit itu, terasa sudah beberapa jam.


Diandra merasa bingung harus bagaimana mengatasi rasa bosannya. Mau memulai pembicaraan dengan Samuel, ia tidak tahu harus membahas apa, terlebih ia juga khawatir kalau Samuel akan semakin naik darah, jika diajak berbicara hal-hal yang tidak penting.


Lagi-lagi Diandra melirikkan matanya ke samping. Namun, tiba-tiba ia terlonjak, saat mendapati Samuel yang juga tengah menoleh ke arahnya, hingga mereka beradu pandang sejenak. Samuel semakin membeliak, pun dengan Diandra.


"Apa lo?" ucap mereka kompak, dengan tatapan sinis yang masing-masing dilemparkan.


"Wajah gue tampan?" tanya Samuel. "Iya, memang!" imbuhnya percaya diri, seraya menjawab pertanyaannya sendiri.


Diandra berdecih, lalu mencebikkan bibirnya. "Cih! PD banget!" ucapnya lalu melengos, menatap ke luar jendela mobil.


"Lalu, apa yang sedari tadi lo lihat, kalau bukan wajah tampan gue?" tanya Samuel yang ternyata menyadari bahwa Diandra telah memperhatikannya sejak lama.


"Eh, tolong ya ... masnya jangan kepedean, memangnya tidak ada lagi yang bisa dipandang apa, selain wajah buluknya situ?" ucap Diandra mengelak.


"Ya ... ada sih, sayang sekali, mbaknya lebih suka memandang wajah gue," balas Samuel tidak mau kalah.


"Ish, ngeselin!" kesal Diandra.


"Bodo amat!" Samuel tidak peduli. "Biar kata wajah gue buluk ya, tapi masih banyak lho ... yang ngemis-ngemis mau jadi pacar gue," imbuhnya narsis dengan pandangan yang fokus ke arah kemudi.


"Oh ya? Sayang sekali, Aretha bukan termasuk di dalamnya," sindir Diandra yang sontak membuat Samuel kembali merasakan luka di hatinya.


Samuel menoleh, menatap sinis wajah Diandra. "Gue heran sama lo, dari dulu sampai sekarang, senang banget lihat gue menderita," geramnya.


"Gue bukan cuma senang, tetapi bersyukur banget lihat cowok resek, nyebelin dan ngeselin kayak lo menderita!" celetuk Diandra sedikit memberi jeda. "Bila perlu, gue doain biar lo semakin menderita, karena sudah merusak acara gue malam ini!" imbuhnya tanpa ampun.


Ya, sedari awal mereka saling kenal, keduanya memang tidak pernah akur, bagaikan tokoh kartun Tom and Jerry. Samuel senang sekali menggoda Diandra. Bahkan, mengejek gadis itu, sehingga membuat Diandra selalu merasa jengkel terhadapnya. Itulah alasan Diandra tidak pernah serius mendukung hubungan Samuel dengan Aretha lebih lanjut, meski Samuel sering memohon agar mendapat bantuan dan dukungan darinya.


"Cukup ya, Ra! Jangan bahas itu, kalau nggak mau gue turunin di sini!"


Benar saja, Samuel semakin naik pitam dibuatnya.


"Turunin saja kalau berani!" tantang Diandra tanpa rasa takut.


"Wah ... nantangin nih anak!"


Tanpa berpikir panjang, Samuel langsung menginjak pedal rem dalam satu kali hentakan, sontak membuat mobil itu terhenti dalam hitungan detik.


Diandra langsung merasa khawatir, Samuel akan benar-benar memintanya untuk turun di tempat itu, sementara tempat itu sangat sepi, jauh sekali dari pemukiman, atau bahkan keramaian.


Diandra tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan. Seketika ia dibuat merinding, melihat jalanan yang sepi dan juga gelap. Bahkan, tidak ada pencahayaan sedikit pun, selain cahaya lampu mobil Samuel.


Bagaimana jika Samuel benar-benar tidak mengampuninya, lalu menurunkannya di tempat menyeramkan seperti ini? batinnya mulai cemas.


"Turun lo!" titah Samuel dengan tatapan sinisnya.


Belum sempat ia mengakhiri lamunannya, Samuel telah lebih dulu membuatnya tersentak. Dan siapa sangka, apa yang ada di dalam pikirannya saat itu, dengan cepat Samuel mengabulkannya.


"Serius, Sam?" tanya Diandra tidak percaya. Ia tampak menoleh, menatap Samuel penuh tanya.


"Turun!" perintah Samuel nampak tidak peduli.


"Lo tega sama gue, Sam? Masa mau ninggalin gue sendiri di sini, sih? Nanti kalau gue kenapa-kenapa gimana?" rengek Diandra.


"Bukan urusan gue! Turun!" Bahkan, Samuel tidak menatap wajah Diandra sama sekali.


Nampaknya Samuel sudah tidak akan bisa lagi dibujuk. Diandra menciut menatap ekspresi pria itu, lalu dengan terpaksa membuka pintu mobil itu dan turun. Baru saja ia menutup kembali pintu itu, mobil Samuel melesat dengan cepat dari hadapannya.


Diandra memperhatikannya, hingga mobil itu tak lagi terjangkau oleh netranya. Saat itulah ia mulai nangis sesenggukkan, menatap kepergian Samuel.


Diandra tak ingin menyerah. Ia tampak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, berniat untuk menghubungi salah satu sahabatnya, baik Tania ataupun Deasy, untuk meminta pertolongan dari mereka. Sialnya, ponselnya mati, sebelum ia berhasil melakukan apa yang sudah menjadi niatnya. Seketika pupuslah harapannya. Diandra semakin menangis sejadi-jadinya di sana.


Lalu, ia harus berbuat apa di tengah jalanan yang begitu jauh dari keramaian? Bahkan, tak ada satu pun kendaraan yang bisa ia hentikan untuk sekadar meminta pertolongan?


Tubuhnya terkulai lemah tak berdaya. Ia tampak terduduk di pinggir jalan, dengan menekuk kakinya, lalu menjadikan lutut kaki sebagai tumpuan atas kepalanya. Ia membenamkan wajahnya di sana, dan semakin memperkeras tangisannya.


"Masih mau nangis di sini?"


Tiba-tiba suara bariton membuat Diandra tersentak, lalu mendongak. Ia sungguh terkejut, ketika mendapati Samuel yang berdiri di hadapannya.


"Sam?" ucapnya sambil menangis, lalu bangkit dari duduknya. "Lo tega sama gue! Gue takut, Sam!" rengeknya di tengah-tengah isak tangisnya.


"Makanya, jangan suka nantangin gue! Masih cengeng juga, sok-sokan mau nantangin!" ledek Samuel.


"Gue 'kan nggak serius, Sam," aku Diandra.


"Sudah, jangan nangis! Jelek tahu!" ledek Samuel. "Ayo pulang!" ajaknya seraya berjalan menuju mobil yamg sengaja diparkir beberapa meter dari tempat itu. Diandra tampak mengekorinya dari belakang, sembari sesekali menyeka air matanya.


Mereka masuk ke dalam mobil, lalu duduk berdampingan. Samuel tampak memutar kunci mobil itu, tanda akan menyalakan mesin mobil. Namun, belum berhasil ia menginjak pedal gas, Diandra telah lebih dulu menghentikan kegiatannya.


"Sam, apa itu artinya ... gue terlihat cantik, kalau nggak lagi nangis?" tanya Diandra polos.


Samuel yang merasa terganggu oleh pertanyaan tidak penting itu, langsung memutar bola matanya, lalu melengos, memfokuskan pandangan ke arah kemudi. Tanpa menanggapi pertanyaan Diandra, Samuel segera melajukan mobilnya. Sementara, Diandra hanya memberengut kesal, karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya.


***


Di depan gerbang besi yang menjulang tinggi, Samuel menghentikan mobilnya. Tampak rumah bergaya minimalis di dalamnya, yang tak lain dan tak bukan adalah tempat tinggal Diandra. Rumah itu terlihat begitu sepi dan gelap, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Padahal, waktu masih terbilang belum begitu larut malam.


Diandra tampak membuka pintu mobil itu, lalu turun.


"Sam, nggak usah mampir ya, sudah malam!" ucap Diandra sebelum ia menutup kembali pintu mobilnya.


"Ck! Siapa juga yang mau mampir!" Samuel berdecak kesal. Tidak terpikirkan sedikit pun di benaknya, untuk mampir ke rumah Diandra.


"Baguslah!" balas Diandra tampak senang. "Thanks ya ... Jangan lupa, nyampe rumah berendam air dingin," imbuhnya seraya tersenyum jahil.


Samuel yang tidak paham dengan maksud Diandra, tampak mengangkat sebelah alisnya, merasa heran.


"Biar berkurang kadar panas di hati lo, wleeee!" ucap Diandra seraya menjulurkan lidahnya mengejek, sontak membuat Samuel lagi-lagi geram dibuatnya. Namun, belum sempat pria itu membalasnya, Diandra telah lebih dulu menutup pintu mobil itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC