Possessive Love

Possessive Love
Pesta Barbeque



Malam terakhir di kota orang, mereka mengisinya dengan pesta barbeque. Mereka tampak berkumpul di halaman belakang villa itu. Suasananya sangat nyaman, terdapat pohon besar dan tanaman bunga, juga sebuah gazebo berukuran besar yang terbuat dari bahan kayu jati berwarna cokelat mengkilap. Di sampingnya terdapat sebuah kolam renang yang cukup luas.


Bahan dan alat sudah siap. Beberapa dari mereka sudah siap untuk memanggang berbagai bahan olahan mentah. Sementara sebagian lagi tampak sedang mengobrol dan bersenda gurau sembari mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Samuel. Pria itu terlihat sangat mahir memainkan gitar yang tengah ia mainkan.


Terdapat dua alat pemanggang di sana yang terletak sangat berdekatan. David dan Aretha, pun dengan Rendy dan Clara tampak tengah membolak-balikkan daging dan beberapa olahan lainnya seperti sosis dan lain-lain pada alat pemanggang yang sama. Sementara Richard dan Renata tengah melakukan hal yang sama pada alat pemanggang yang lainnya.


There goes my heart beating


'Cause you are the reason


I'm losing my sleep


Please come back now


There goes my mind racing


And you are the reason


That I'm still breathing


I'm hopeless now


Terdengar lirih merdu suara Samuel yang tengah menyanyikan lagu Calum Scott dan Leona Lewis yang berjudul You Are The Reason. Ia tampak di temani oleh Diandra dan dua pasangan kekasih yang tengah dimabuk cinta, tak lain adalah Deasy dan Tania.


Mereka duduk di atas gazebo dengan posisi melingkar. Deasy dan Tania tampak duduk masing-masing bersebelahan dengan kekasihnya. Berbeda dengan Samuel yang duduk berhadapan dengan jarak yang cukup renggang.


"Keren!" puji Deasy saat mendengar suara Samuel yang begitu merdu.


"Lagu untuk siapa, nih?" goda Tania di tengah-tengah permainan gitar Samuel.


Samuel tersenyum simpul, sebelum akhirnya ia melanjutkan lirik selanjutnya. "Ada lah ... untuk seseorang yang sudah menetap di hati," ucapnya tanpa menghentikan permainan tangannya pada senar gitar itu, sementara tatapannya fokus ke depan, menatap sosok yang tengah memandanginya secara diam-diam.


"Uwuuuw!" heboh Tania dan Deasy, pun dengan kekasih mereka. Mereka tampak melirik ke arah Diandra sejenak.


Diandra yang menyadari tatapan Samuel, ia langsung menurunkan pandangannya, lalu mengalihkan tangannya ke layar ponsel.


Samuel melanjutkan kembali lirik lagunya sembari terfokus kepada objek sebelumnya. Namun, hanya sesaat.


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


Tak jauh dari tempat mereka.


David tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah secara bergantian, seolah tengah mencari sesuatu yang ia butuhkan.


"Ini sausnya mana?" tanya David, ketika ia baru saja selesai memanggang sosis yang baru saja ia simpan di atas piring berwarna putih.


"Saus ya, Mas?" Aretha terlihat mencarinya. Namun, ia juga tidak dapat menemukan apa yang mereka cari. "Sepertinya tertinggal di dalam, Mas. Sebentar aku ambilkan," imbuhnya.


"Terima kasih, Sayang," balas David tersenyum senang.


Aretha segera bergegas masuk ke dalam rumah itu. Ia berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, wanita itu tampak membuka beberapa pintu lemari dapur yang menggantung di atas dinding.


Aretha memandangi botol saus itu beberapa saat sekadar membaca tulisan yang menyatakan bahwa itu adalah saus tomat. Aretha segera mengambil satu botol saus cabai dari dalam sana, berniat untuk membawa dua-duanya.


Setelah Aretha menutup kembali pintu lemari dapur itu, ia segera membalikkan badannya. Namun, seketika ia terkejut ketika mendapati sosok tidak asing yang tengah berdiri tepat di hadapannya. Dengan reflect ia mengerem kakinya yang baru saja akan digerakkan.


"Kak Richard?" lirihnya sedikit gugup.


Bagaimana Aretha tidak gugup? Sedekat apapun Richard dan suaminya. Setelah ia menikah dengan David, ia tidak pernah menghabiskan waktu hanya berdua dengan pria itu, meski itu hanya sekadar mengobrol biasa, kecuali ditemani sang suami. Namun, sekarang? Mereka terlihat hanya berdua di ruangan yang jelas-jelas tidak ada siapapun di sana.


"Aku butuh sesuatu," ucap Richard memberi tahu.


"Bu-butuh apa?" Aretha sidikit terbata dengan tatapan yang tidak hanya fokus ke wajah Richard.


Richard tersenyum sayu menatap wanita di depannya. Wanita yang dulu selalu menemani hari-harinya. Wanita yang bahkan sampai detik itu masih menetap di hatinya dan belum tergantikan oleh siapapun, meski ia tahu bahwa wanita itu telah menjadi milik orang lain.


"Biar aku ambil sendiri." jawab Richard.


"Baiklah, aku duluan," balas Aretha merasa tidak enak hati hanya berduaan di sana bersama sang mantan kekasih yang dulu pernah singgah untuk memberi bahagia, sekaligus luka yang mendalam, meski hanya sesaat.


"Silakan!" Richard masih tidak ingin mengalihkan pandangan dari wanita itu.


Karena Richard masih saja menghalangi jalannya, Aretha memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke kanan. Namun, baru saja ia menggerakkan kakinya, Richard melakukan hal yang sama ke sebelah kiri, sehingga posisinya Richard seolah menghalangi jalannya. Namun, itu sungguh tidak sengaja. Itu hanyalah kebetulan. Begitu saja seterusnya sampai tiga kali, sehingga mereka memutuskan untuk sama-sama mengalah dan diam di tempat.


"Kamu duluan," ucap mereka berbarengan.


Seketika mereka terkekeh, menyadari aksinya masing-masing.


"Oke, kamu duluan," titah Richard seraya menggeser tubuhnya ke kanan, sekadar memberi jalan kepada Aretha.


"Terima kasih," lirih Aretha seraya menundukkan kepalanya, lalu mulai melangkahkan kakinya.


"Kulihat, kamu bahagia sekali dengan Dave."


Seketika suara Richard menghentikan kegiatan Aretha yang baru saja melangkahkan kakinya satu langkah.


Aretha menoleh dengan ekspresi yang seolah penuh tanya. Ia mengerutkan dahinya dengan fokus kepada Richard, tampak Richard yang masih memandanginya dengan tatapan yang sama.


"Maksudku, aku senang melihat kalian berdua bahagia." Richard berusahan mengonfirmasi ucapan sebelumnya.


"Terima kasih." Aretha sedikit memaksakan senyumnya.


Richard hanya menganggukkan kepala pelan. Betapapun Aretha sudah menjadi istri sahabatnya, perasaan pria itu masih tetap sama seperti dulu. Namun, ia selalu berusaha untuk mengendalikan perasaan itu, ketika melihat Aretha dalam jarak yang sangat dekat.


"Selamat ya," ucap Richard yang entah maksudnya apa.


Aretha tampak mengerutkan dahinya heran.


"Selamat untuk kelulusanmu." Richard melanjutkan, sebelum Aretha menanggapi ucapannya. "Aku dengar, kamu sebagai wisudawati terbaik di kampusmu?" imbuhnya seolah memastikan.


"Ya, alhamdulillah. Terima kasih, Kak," balas Aretha tersenyum ramah.


"Dan memang selalu begitu dari dulu. Sukses untukmu, Re!"


Ya, tentu saja Richard mengetahui bahwa Aretha memang selalu menjadi siswa berprestasi sejak dari zaman sekolah dulu. Jadi, sudah bukan menjadi hal yang baru baginya. Dan itu salah satu kekagumannya terhadap Aretha. Selain baik, juga cerdas.


"Ah, kak Richard terlalu berlebihan." Aretha tampak tersipu malu akan pujian Richard yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Sayang!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=