
Setelah David pergi ke luar kota dua hari yang lalu, Aretha sengaja dititipkan kepada kedua orangtuanya, mengingat David yang khawatir jika meninggalkan Aretha sendirian di rumah, terlebih lagi kondisi Aretha yang tengah hamil dan tinggal menghitung hari untuk proses persalinannya.
Pagi itu Aretha baru saja selesai sarapan bersama kedua orangtunya. Ia langsung pergi ke taman belakang rumah setelah kegiatannya selesai.
Aretha mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang sengaja di desain di sana, tepat beberapa meter dari kolam renang yang memiliki ukuran yang cukup luas.
Aretha tampak memainkan gawai miliknya yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Seketika ia teringat sang suami yang sudah dua hari jauh darinya. Aretha pun segera mengirimkan pesan whatsap kepada sang suami, sekadar menyampaikan kerinduannya terhadap sosok tersebut.
Sembari menunggu balasan pesan dari David, Aretha tampak membuka beberapa aplikasi sosial media, sebagai pengisi kejenuhan. Namun, setelah ia menunggu beberapa lama, ternyata masih saja tidak mendapat jawaban dari suaminya itu.
"Bahkan, dia tidak membaca pesan dariku, sesibuk itukah dirinya sampai melupakan istrinya di rumah?" gerutu Aretha di tengah-tengah lamunannya.
Aretha sedikit memberengutkan wajahnya, merasa kesal karena tak kunjung mendapat balasan dari sang suami yang teramat ia rindukan.
Aretha pun sedikit merasa bingung, entah kenapa perginya David kali ini berbeda sekali dengan biasanya. Ingin rasanya ia segera melihat suaminya itu berada di rumah kembali. Sungguh, tiga hari terasa lama sekali baginya yang tengah merindu.
Namun, bukan hanya karena itu, melainkan ada hal lain yang ia rasakan. Ya, rasa khawatir. Entah kenapa, semenjak David memberitahunya tentang rencana pergi ke liar kota itu, tiba-tiba ia merasakan cemas yang begitu mendalam, sehingga membuatnya seolah merasa tidak bisa tenang dan terpikirkan terus kecemasan itu.
"Sayang ...."
Panggilan sang mami seketika membuat wanita itu tersentak, lalu apa yang tengah ada dalam pikirannya ambyar, tetapi tidak dengan apa yang tengah ia rasakan. Perasaan cemas itu masih ada dan masih sangat terasa.
"Iya, Mi?" balas Aretha sedikit menggeser tubuhnya, seolah memherikan tempat kosong untuk sang mami.
Carmila mendaratkan tubuhnya di samping putrinya itu. "Kamu kenapa, Nak? Mami perhatikan dari tadi hanya melamun saja, ada apa? Adakah yang mengganggu pikiranmu saat ini, Nak?" tanyanya kepada Aretha..
Perasaaan seorang ibu memang selalu tepat. Meski tanpa anaknya bercerita, nayatanya sang ibu mampu mengetahui, bahka merasakan apa yang tengah dialami oleh sang anak.
"Mami, aku teringat mas David," rengek Aretha seraya menyandarkan tubuhnya di atas tubuh sang mami.
Carmila hanya tersenyum menanggapi, sebelum akhirnya ia membalas perkataan anak perempuan semata wayangnya. "Hal yang wajar, Nak. Namanya juga suami istri, pasti akan selalu ingat, ketika berjauhan satu sama lain," ucap Carmila memberikan jawaban sesuai apa yang pernah ia alami selama hidup berumah tangga.
"Mami, aku rasa ini tuh bukan sekadar kangen, tetapi ada hal lain. Aku merasa cemas, ingin mas David segera pulang. Terlebih lagi hari ini, dia belum menghubungiku dan pesanku juga belum di balas olehnya. Padahal, sebelumnya mas David tidak pernah seperti ini. Menurut Mami, kira-kira ada apa?" Aretha tampak menumpahkan semua keluh kesahnya kepada sang mami yang memang selama ini selalu menjadi ibu dan teman terbaik untuknya.
Lagi-lagi Carmila menyunggingkan senyumnya, sebelum ia menanggapi perkataan Aretha. "Mami rasa suamimu masih sibuk hari ini, maka dari itu dia belum sempat menghubungimu," jawabnya berusaha memberi ketenangan kepada putrinya. Ya, memang itulah yang seharusnya ia lakukan. Membuat Aretha menghindari rasa stres, itu akan jauh akan lebih baik daripada membuat wanita itu semakin stres.
"Semoga saja apa yang kita pikirkan memang benar. Aku harap ini hanya perasaanku karena merasa terlalu lama saja jauh darinya," lirih Aretha.
"Nah, begitu dong ... ini baru putri mami." Carmila tampak mngelus punggung Aretha beberapa saat.
Aretha tampak menikmati posisi itu. Berada di pelukan sang mami yang sudah lama sekali ia rindukan. .
Setelah beberapa saat, Aretha tampak mengangkat tubuhnya, membuatnya sedikit renggang dengan tubuh sang mami.
"Mi, sepertinya aku harus pergi ke sesuatu tempat," ujar Aretha.
"Lho, mau kemana? Kamu jangan pergi jauh-jauh, Nak!" Carmila tampak sedikit tidak setuju, mengingat Aretha yang sedang hamil tua.
"Aku hanya merasa bosan saja di rumah terus, Mi ... boleh ya aku pergi keluar sebentar?" Aretha berusaha meminta izin, berharap sang mami mengizinkannya.
"Mau kemana?" tanya Carmila masih penasaran.
"Jalan-jalan saja," jawab Aretha.
"Jangan, ah! Mami tidak bisa menemanimu hari ini, karena mami ada acara arisan bersama teman-teman mami, jadi mami tidak bisa mengizinkan kamu untuk pergi sendirian," ucap Carmila tidak memberi izin.
"Yah ... Mami kurang asyik, nih ...," gerutu Aretha sedikit mengerucutkan bibirnya, merasa sangat kecewa karena tidak mendapat izin dari sang mami. "Ayolah, Mi ... sebentar saja," rengek Aretha memaksa.
"Nanti kalau terjadi apa-apa, mami yang disalahkan oleh suamimu," balas Carmila merasa ragu.
"Tidak akan terjadi apa-apa, Mami ... percaya deh sama aku! Nanti aku akan telepon pak Arman agar bisa antar aku, biar Mami tidak terlalu cemas," jawab Aretha masih berusaha membujuk sang mami.
Carmila terdiam beberapa saat, seolah tengah berpikir.
"Baiklah, kalau kamu memang memaksa, mami bisa apa? Cuma mami pesan satu hal, hati-hati, jangan lama-lama di luar dan jagalah dirimu baik-baik," pesan sang mami.
"Baiklah Mami sayang ...," balas Aretha.
"Kamu ini, selalu saja!"
***
Setelah mendapat izin dari sang mami, siang itu juga Aretha pergi keluar menuju beberapa tempat, salah satunya adalah toko buku.
Aretha tampak mengelilingi setiap rak buku yang ada di toko buku tersebut, sembari membaca satu-persatu buku yang sekiranya terlihat menarik.
Setelah beberapa lama Aretha mencari-cari buku di toko itu, akhirnya ia menemukan beberapa buku menarik yang sudah ia pilihkan dan akan dibawa pulang ke rumahnya.
Aretha segera membayar buku-buku itu di meja kasir. Setelah ia selesai melakukan transaksi pembayaran, ia pun segera keluar dari toko itu, lalu pergi ke tempat lain yang bisa ia kunjungi.
Rencananya, setelah dari toko buku Aretha akan pergi ke sebuah kafe untuk mencari makan, karena perutnya sudah terasa lapar.
Aretha tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil. Pandangannya ia fokuskan keluar jendela mobil, menatap keriuhan jalan protokol yang terrlihat sibuk oleh ramainya kendaraan beroda dua dan beroda empat.
Seketika wanita itu tersentak, ketika ponselnya berbunyi. Ia segera meraih benda persegi panjang itu dari dalam tasnya. Aretha tampak menyeringai senang, ketika mendapati nama sang suami yang tertera pada layar ponselnya.
"Akhirnya mas David menghubungiku juga," lirihnya.
Secepat kilat Aretha menggeser ikon berwarna hijau, berniat untuk segera menerima panggilan dari suami yang sudah sangat dirindukannya.
"Iya, Mas? Kamu kemana saja? Apakah kamu sesibuk itu hingga baru sempat menghubungiku siang ini? Tidakkah kamu rindu dengan istrimu ini, Mas?" cerocos Aretha yang langsung menghujani suaminya dengan berbagai pertanyaan.
David seketika terkekeh di sebarang sana, mendengar Aretha yang sangat cerewet, hanya karena dirinya yang telat menghubungi hari itu. Mungkin baginya itu sangatlah lucu, sehingga membuatnya tertawa seperti itu.
"Maaf, Sayang. Kamu ini membuatku terkejut dengan segudang pertanyaanmu itu!" balas David yang masih terdengar sedikit tawanya.
"Aku dari tadi menunggu kamu menghubungiku lho, Mas!" gerutu Aretha.
"Kamu kapan pulang?" tanya Aretha yang nampaknya sudah tidak sabar menunggu kepulangan sang suami ke rumahnya.
"Aku akan segera siap-siap untuk pulang hari ini, Sayang. Aku sudah sangat merindukanmu," jawab David yang juga sudah tidak sabar ingin menemui sang istri di rumahnya.
"Benarkah?" Aretha sedikit memberi jeda akan ucapannya. "Baiklah akan aku tunggu, Mas," imbuhnya seraya menyeringai senang.
"Kamu di mana sekarang? Kedengadannya sedang di jalan. Apa kamu memang sedang di luar?" tanya David yang mungkin mendengar betapa bisingnya jalan saat itu.
"Iya, Mas. Aku memang lagi di jalan, baru saja aku dari toko buku, aku bosan di rumah terus," terang Aretha.
"Hmmm ... baiklah, hati-hati di jalan. Segeralah pulang, jangan terlalu lama bermain di luar!" titah David mengingatkan.
"Baik, Mas."
"Sayang, aku akan segera bersiap-siap untuk pulang. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Jaga juga bayi kita nanti," ucap David mengingatkan.
Aretha sedikit mengangkat sebelah alisnya, seolah merasa ada yang aneh. Namun, ia tidak terlalu ingin peduli.
"Tentu, Mas," singkat Aretha.
***
Menikmati minuman dan camilan yang menjadi pesanannya di sebuah kafe, sembari membaca buku yang baru beberapa menit ia beli, membuat Aretha terlihat sangat betah berlama-lama di kafe tersebut, sehingga membuat wanita itu nyaris melupakan berala banyak waktu yang sudah ia habiskan di kafe tersebut.
Setelah Aretha menyadari bahwa ia sudah terlalu lama berada di kafe itu, ia pun berniat untuk segera mengakhiri kegiatannya. Aretha segera menyelesaikan pembayaran, lalu bergegas dari kafe tersebut.
Aretha tampak berjalan menuju pintu keluar yang terbuat dari kaca. Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika ia mendapati Richard yang baru saja akan masuk ke dalam kafe itu.
"Lho, Re?" sapa Richard yang juga tiba-tiba terhenti, ketika mendapati keberadaan Aretha di depannya.
"Kak Richard?" Aretha balik menyapa pria itu.
"Kamu sendirian saja?" tanya Richard karena tidak menemukan sosok lain yang tengah bersama Aretha saat itu.
"Iya, Kak," jawab Aretha singkat.
"David kemana?" tanya Richard lagi.
"Dia masih di luar kota dan baru akan pulang hari ini," jelas Aretha seraya menerbitkan senyumannya. "Kak Richard sedang apa di sini?" tanyanya kemudian.
"Aku ada janji dengan seseorang," jawab Richard yang juga menyunggingkan senyuman khasnya.
"Oh ... begitu. Baiklah, kalau begitu aku duluan" pamit Aretha.
"Silakan, Re. Hati-hati ya," balas Richard yang selalu terlihat ramah, meski kepada mantan kekasih.
Aretha segera beranjak dari tempat itu. Namun, baru tiga langkah kakinya bergerak, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.
"Aduh!" rintih Aretha seraya memegang perutnya yang terasa mulas, sehingga membuat Richard yang masih bisa mendengarnya dengan jelas, seketika membalikkan badannya kembali, menghadap ke arah Aretha.
"Re, kamu kenapa?" teriak Richard seraya menghampiri Aretha dengan sedikit tergesa, ketika mendapati Aretha yang terus-menerus merintih kesakitan dengan tubuh yang membungkuk, karena tangan yang terus berusaha menahan perutnya yang terasa semakin mulas.
Tanpa berpikir jernih, Richard segera meraih kedua bahu Aretha. "Kamu kenapa?" tanyanya, lalu menurunkan tatapannya.
Betapa terkejutnya Richard saat itu yang menyadari bahwa ada banyak darah di kaki Aretha. Ya, jelas. Aretha mengalami pendarahan, entah itu pertanda apa, yang jelas Richard sangatlah dibuat panik dengan kondisi Aretha saat itu.
"Ya ampun, Re! Aku akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga!" panik Richard saat itu. "Kamu masih kuat berjalan?" tanyanya kemudian seraya menatap manik berwarna cokelat itu dengan begitu intens.
"Sepertinya masih, Kak," jawb Aretha sembari menahan rasa mulas di perutnya.
"Baiklah, ayo ikut denganku!" tegas Richard. Bahkan, sepertinya kejadian itu sudah membuat ia melupakan akan janjinya dengan seseorang di kafe tersebut yang entah itu dengan siapa.
"Tapi aku ke sini diantar oleh pak Arman," jawab Aretha memberi tahu.
Richard terdiam sejenak. "Sudah, biarkan saja! Aku akan mengantarmu secepat mungkin!"
Richard tidak peduli dengan supir Aretha. Ia segera membawa Aretha ke sebuah rumah sakit swasta tempat yang biasa Aretha melakukan pemeriksaan kehamilan kepada Dara, selaku dokter kanduangan di rumah sakit tersebut.
"Aretha? Kamu kenapa?" Dara terlihat panik melihat pasien binaannya yang selama ini ia ketahui kondisinya sangat baik, tetapi tiba-tiba mengalami pendarahan, sebelum waktu melahirkan tiba, karena berdasarkan prediksi, masih ada waktu sekitar satu minggu lagi untuk Aretah menunggu proses persalinan.
Tanpa berpikir panjang Dara langsung melakukan pemeriksaan ulang akan kandungan Aretha, setelah Aretha dibawa ke ruang IGD.
Dara dan beberapa perawat tampak panik melakukan penanganan terhadap Aretha, sementara Aretha masih belum berhenti merintih kesakitan.
Tak kalah paniknya, Richard yang saat itu menunggunya di luar pun sangat terlihat panik. Ia pun memutuskan untuk segera menghubungi kekuarga Aretha dan juga David sebagai suami dari wanita yang tengah membuatnya panik saat itu.
"APA?" kaget David di seberang sana, ketika Richard memberikan kabar tentang kondisi Aretha yang sebenarnya.
"Lo cepat pulang, Dave!" titah Richard.
"Bro, gue masih di jalan pulang. Gue titip Aretha. Gue mohon, jaga dia baik-baik. Gue percaya sama lo!" jawab David.
"Tentu, Bro!"
Di tengah kepanikannya, David menghentikan Rangga yang kala itu tengah menyetir. Pria itu memaksa untuk menggantikan Rangga menyetir, meski Rangg sudah menolaknya, karena mengingat David yang terlihat sangat panik. Namun, David memaksa, sehingga membuat Rangga tidak bisa berbuat banyak.
David segera mengendarai mobil itu dengan kecepatan penuh hingga membuat Rangga sedikit merasa ketakutan hingga jantungnya sekaan mau lepas dari tempatnya, karena David yang menyetir di tengah-tengah kepanikan. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain berdoa agar tidak terjadi sesuatu buruk kepada dirinya, pun dengan atasannya.
David terus mempercepat laju kemudinya, tanpa mengalihkan fokusnya barang sedetik pun. Bahkan, sudah puluhan mobil yang ia salip, karena otak yang sudah tidak bekerja dengan baik. Satu-satunya yang ada dalam pikiran David saat itu adalah kondisi Aretha dan bayinya, sehingga ia tidak peduli seberapa cepat melajukan kendaraanya dan seberapa banyak kendaraan lain yang ia salip dengan apik.
Merasa belum puas, David menambah kembali kecepatan laju kemudinya pada jalanan yang sudah terlihat sepi dari sebelumnya, sehingga ia bisa menambah kecepatan dengan sedikit bebas. Namun, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan, ketika mendapati sebuah truk yang menghalangi jalannya dari berlawanan arah.
"Aaaaa!!"
BRAAAK!!!!