
Lagi-lagi Aretha tersenyum. "Oh iya, harusnya kan mas David pulang hari ini, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Aretha heran. "Apa memang mas David belum datang?" imbuhnya.
Tak ada satu pun yang berani mengangkat suara, sekadar untuk menjawab rasa heran wanita itu.
"Ma, apa mas David belum pulang?" tanya Aretha memastikan, seraya menatap sang mama mertua dengan penuh tanya.
Namun, mama mertuanya hanya diam—bingung harus menajawab apa, sedangkan ia sendiri tidak ingin membuat Aretha yang baru saja selesai operasi—merasa syok mendengar kabar buruk itu.
"Ma, mas David belum pulang?" tanya Aretha sekali lagi sembari mengerutkan dahi.
Maria hanya melempar tatapan kepada suaminya yang kala itu tengah berdiri berseberangan dengannya. Pun dengan Carmila dan Anton yang juga ikut saling menatap mereka secara bergantian. Entah bagaimana harus mulai menjelaskan semua yang telah terjadi kepada Aretha.
Aretha yang menyadari kegiatan itu ikut menatap mereka secara bergantian. Tatapannya penuh tanya dan keheranan. Kenapa tiba-tiba semuanya diam, saat dirinya menanyakan keberadaan David, pikirnya.
Setelah beberapa saat terdiam. Anton yang menyadari tatapan heran yang dilemparkan putrinya, segera memutuskan untuk membuka suara, berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan putrinya itu.
"Sayang, mungkin David masih ada urusan penting, jadi dia belum bisa pulang hari ini," jawab Anton berbohong.
Menurutnya, berbohong adalah salah satu alasan agar tidak membuat kondisi Aretha terganggu dan memburuk, setelah menjalankan proses operasi beberapa jam lalu. Sungguh ia tidak ingin hal itu terjadi kepada putri tercintanya. Ia tahu betul bahwa kabar mengenai David akan sangat membuat Aretha terpukul. Maka dari itu, untuk semenatara waktu ia memutuskan untuk menyembunyikan itu semua dari Aretha.
Lagi-lagi Aretha mengerutkan dahinya—seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh sang papi.
Bagaimana mungkin David tiba-tiba memperpanjang kegiatannya di luar kota, setelah pria itu berjanji hanya tiga hari. Bahkan, di saat sang istri akan melahirkan pun, David tidak merasa khawatir dan meninggalkan kegiatan itu. Sungguh itu aneh sekali bagi Aretha.
Batin Aretha mulai bertanya-tanya akan keanehan yang ia rasakan saat itu. Rasanya sulit sekali untuk dipercaya bahwa David—suaminya, membiarkan dirinya begitu saja dalam berjuang mempertaruhkan nyawa.
Tidakkah dia cemas denganku dan bayinya? Tidakkah dia ingin mendampingiku saat persalinan? Kenapa dia tiba-tiba berubah, seolah lebih memprioritaskan pekerjaannya daripada aku yang selama ini selalu dia prioritaskan?
Pikiran Aretha melayang, berusaha menjawab atas pertanyaannya sendiri. Namun, ia sendiri pun tidak bisa menjawab itu.
Seketika perasaannya menjadi tidak enak. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Yang jelas, ia merasakan tidak tenang dan cemas.
Baginya, sikap suamimya itu sangatlah tidak biasa, padahal ia tahu bahwa Richard sudah memberi tahu pria itu tentang kejadian yang menimpa dirinya tadi siang. Akan tetapi, kenapa pria itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya? Batinnya kembali bertanya-tanya.
Aretha mengalihkan fokusnya ke arah sang mami. "Mi, handphone-ku mana ya? Aku mau mencoba telepon mas David," ucapnya.
Mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari sang putri, membuat Carmila seketika kelimpungan—bingung harus menjawab apa. Seketika ia berubah menjadi gugup.
"Oh, handphone ya? Di mana ya?" Carmila tampak mengedarkan pandangan ke sebuah nakas, lalu menghampiri nakas itu dan mencari benda yang dimaksud pada laci nakas tersebut. Padahal, ia tahu di mana letak ponsel milik Aretha. Ya, di dalam tas yang tadi siang dipakai oleh Aretha.
"Sudahlah, Nak ... jangan mikir yang macam-macam dulu. Kamu juga harus istirahat, bukan?" ucap Anton berusaha mengalihkan, seolah ia tahu apa yang tengah Aretha pikirkan.
"Nah, papa rasa juga begitu," timpal Kris menanggapi.
Namun, orang tua Aretha juga bukan tanpa alasan menyembunyikan kebenaran itu. Mereka hanya tidak ingin Aretha stress di saat kondisinya masih belum stabil. Setelah wanita itu pulih kembali, mereka sudah berjanji akan memberi tahu semuanya kepada Aretha, meski itu tetap akan membuat wanita itu terluka.
Dengan rasa kecewa, Aretha pun berusaha untuk menerima dan memahami kesibukan David saat itu, meski sebenarnya dalam hati ia sangat menuntut kehadiran David saat itu juga. Namun apalah daya, selalu saja ada kebetulan yang menghambat harapannya menjadi nyata. Dan ia harua menerimanya dengan lapang dada.
"Oh iya, bagaimana dengan kondisi bayi kembarku?" tanya Aretha seketika mengingat kedua buah hati yang baru saja ia lahirkan.
Semenjak selesai operasi, Aretha memang belum melihat bayinya lagi, karena sepasang bayi kembarnya itu langsung di bawa ke ruangan bayi. Sampai detik itu, belum ada perawat yang membawa bayi kembari itu ke pangkuannya.
"Si kembar masih di ruang bayi, mungkin masih dalam proses pemeriksaan," jelas Mari memberi tahu.
"Om, Tante, saya permisi keluar sebentar."
Seketika suara Richard mengalihkan perhatian mereka.
Nampaknya, pria yang sedari tadi hanya diam memperhatikan perbincangan mereka, memiliki urusan lain. Ia terlihat tengah memegang ponsel miliknya. Rupanya ada panggilan masuk ke dalam ponselnya itu, sehingga ia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut di luar ruangan.
"Oh iya, silakan Nak Richard," jawab Kris memberi izin.
Richard segera keluar dari ruangan itu, setelah mendapat izin dari Kris. Ia tampak menerima panggilan yang tak lain dari Rendy—sahabatnya.
Beberapa menit lalu, Richard memang sengaja mengirim pesan whatsapp kepada Rendy untuk memberi tahu perihal kondisi David dan Aretha saat itu. Itulah mengapa Rendy segera menghubunginya dan meminta penjelasan yang lebih akurat mengenai hal tersebut.
***
Setelah beberapa jam berlalu. Kris dan Anton tampak tengah berada di depan ruang ICU untuk menunggu giliran masuk ke dalam ruangan tersebut, sekadar melihat kondisi David secara langsung.
Kala itu, Maria yang tengah berada di dalam, sementara mereka berdua tampak menunggu sembari berbincang.
"Pak, saya bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Aretha," ucap Anton di tengah-tengah perbincangan mereka.
Kris menghela napas pendek. "Ya, saya pun bingung harus bagaimana. Tetapi, walau bagaimanapun nak Rere tahu apa yang menimpa Dave, apapun alasannya," jawab Kris seraya menatap Anton dengan serius.
"Ya, betul. Tetapi untuk sekarang, rasanya saya masih belum siap melihat Aretha terpukul karena kenyataan ini," ujar Anton di tengah kebingungannya.
"Ya, saya paham. Semoga mereka berdua segera pulih dan bisa berkumpul kembali," balas Kris.
Setelah beberapa saat mereka menunggu, akhirnya Maria keluar dari ruangan itu dengan rinai air mata, sehingga mengalihkan fokus keduanya.
Sudah dipastikan karena Maria merasa tidak tega dengan kondisi David saat itu.
Tak berlangsung lama, Kris langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.