Possessive Love

Possessive Love
Gagal Bimbingan Skripsi



Aretha tampak berjalan menyusuri koridor kampus dengan wajah memberengut kesal, karena gagal melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing yang memang sudah membuat janji dengannya.


"Tahu gini aku nggak bakal ke kampus," gerutunya.


Di tengah kekesalannya, tiba-tiba handphone-nya bergetar. Aretha segera menganbilnya dari dalam saku celana jeans-nya.


"Iya, Tan, ada apa?" ucap Aretha, setelah berhasil menerima panggilan telepon yang ternyata dari Tania.


"Re, lo ngampus nggak, sih?" tanya Tania di seberang sana. "Kok, dari pagi tidak kelihatan?" imbuhnya.


"Ngampus, Tan. Gue baru keluar dari perpustakaan, nih!" jawab Aretha.


"Langsung ke kantin, ya ... kita tunggu!" titah Tania.


Tania tampak mematikan teleponnya, setelah Aretha meyetujui permintaannya.


Aretha segera bergegas, mempercepat langkahnya menuju kantin yang memang tidak terlalu jauh dari tempatnya saat itu.


Aretha sudah tiba di tempat yang dituju. Dari kejauhan, tampak Deasy dan Tania yang melambaikan tangannya. Aretha yang menyadari segera menghampiri keduanya yang kala itu tengah duduk di salah satu tempat duduk kantin tersebut, dengan dua makanan dan minuman yang tampak sudah siap di depannya.


Aretha duduk di sebelah Tania, lalu manaruh beberapa lembar kertas yang tak lain adalah skripsi yang seharusnya diperiksa oleh dosen pembimbingnya.


"Muka lo kenapa, Re?" tanya Deasy yang menyadari wajah kusut Aretha.


"Bu, lemon tea satu, ya!" ucap Aretha sedikit berteriak.


Aretha tampak memesan minuman kepada salah satu ibu kantin yang tidak jauh dari meja, dimana mereka berada, sebelum menanggapi pertanyaan Deasy.


"Sumpah ya, gue kesal banget hari ini," gerutu Aretha.


"Kenapa sih, Beb?" tanya Tania serayan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dengan tatapan yang ia fokuskan kepada Aretha.


Tampak ibu kantin membawakan satu gelas es lemon tea, lalu menyimpannya di meja, tepat di depan Aretha.


"Terima kasih, Bu," ucap Aretha kepada ibu kantin itu.


Aretha langsung menyeruput minumannya, karena memang ia merasa sangat dahaga. Cuaca sore itu memang sangat panas sekali, sehingga membuatnya kegerahan.


Aretha mendongak, menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Gue sudah bikin janji sama pak Iksan pagi ini untuk bimbingan. Kalian tahu? Dari pagi gue tungguin beliau di perpustakaan, gue hanya di suruh nunggu, nunggu dan nunggu," jelas Aretha kesal.


"Lalu?" tanya Deasy yang sedari tadi mendengarkan ceritanya.


"Beliau nggak datang, dan kesalnya, beliau baru kabarin gue beberapa menit lalu, kebayang nggak sih, gue nungguin dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore? Kurang sabar apa coba gue?" keluh Aretha.


"Sabar ... namanya juga perjuangan," ujar Tania.


"Perjuangan sih, perjuangan, tapi nggak harus gini juga kali," balas Aretha. "Skripsi kalian gimana?" tanyanya, setelah beberapa saat.


"Skripsi gue aman, dosen pembimbing dua-duanya juga aman," jawab Tania.


"Gue juga," timpal Deasy.


"Enak banget kalian. Lah, gue?" balas Aretha.


"Memangnya dosen pembimbing dua nggak bisa bantu?" tanya Deasy.


"Lah, itu pak Iksan. Dosen pembimbing satu gue itu pak Sucipto, beliau masih di Singapur, entah ada urusan apa," jelas Aretha.


Deasy hanya mengangguk sebagai tanggapan.


"Eh, Diandra kemana, kok gue belum lihat dia hari ini?" tanya Aretha heran.


"Dia sakit," jawab Tania.


"Sakit?" Aretha sedikit terkejut. "Pasti ini gara-gara Samuel, kemarin," lirihnya.


"Samuel?" Deasy dan Tania tampak kompak. Mereka sangat terkejut dengan apa yang dikatan Aretha.


Deasy dan Tania tampak beradu pandang sejenak, sebelum mereka melayangkan pertanyaan lebih lanjut.


"Samuel bikin ulah apa sama Diandra?" tanya Tania.


"Entahlah, yang jelas Kemarin pinggang Diandra sakit, dan katanya itu gara-gara Samuel," jelas Aretha.


"Ah, sial! Bisa gagal rencana kita buat jodohin mereka," gerutu Deasy.


Drt ... drt ... drt ....


Handphone Aretha bergetar di tengah perbincangan mereka. Aretha langsung mengambilnya dari dalam saku celana, rupanya ada pesan whatsapp masuk dari sang suami.


Sayang, kamu pulang jam berapa? Aku jemput, ya!


Aretha segera menutup kembali handphone-nya, lalu memasukannya ke tempat semula, setelah ia mengirim balasan kepada sang suami.


***


Aretha tampak berjalan di halaman kampus, berniat akan menunggu David menjemputnya. Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika Samuel memanggilnya. Aretha membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Ada apa, Sam?" tanya Aretha heran.


"Diandra nggak masuk? Kok, hari ini aku nggak lihat dia?" tanya Samuel ingin tahu.


"Iya," jawab Aretha.


"Kenapa?" Samuel tampak antusias. Rupanya ia merasa khawatir akan kejadian kemarin yang membuat Diandra merintih kesakitan.


"Dia sakit," jawab Aretha.


"Serius, Re?" tanya Samuel meyakinkan. "Gara-gara kejadian kemarin?" imbuhnya penasaran.


"Bisa jadi," balas Aretha.


Ya, Tuhan ... apa yang sudah gue lakukan sama dia.


"Sayang!"


Tiba-tiba suara bariton mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Mas?" Aretha tampak menyapa David yang kala itu tengah menghampirinya.


David memfokuskan pandangannya ke arah Samuel sejenak, lalu beralih kepada Aretha. Ia tampak merangkulkan sebelah tangannya dengan posesif di pinggang Aretha, lalu memberikan kecupan di kening wanita itu, tepat di hadapan Samuel, sontak membuat Aretha mematung seketika, karena merasa tidak enak hati, mengingat ia yang saat itu tengah berada dimana.


"Ck!" Samuel berdecak kesal menyaksikan kemesraan mereka berdua.


David tampak menoleh ke arahnya. "Hai, Tuan Samuel Benedict," sapanya seraya menyeringai penuh kemenangan.


Rupanya David memang sengaja melakukan itu di depan Samuel, berharap Samuel mengingat bahwa status Aretha sudah menjadi istrinya, sehingga Samuel tidak perlu mendekati istrinya lagi.


Samuel melengos sejenak. "Aku tahu kalian sudah menikah, tidak perlulah pamer kemesraan di depanku seperti itu!" kesalnya. "Tidak ada akhlak namanya!" imbuhnya.


"Sorry, tidak bermaksud," ucap David lagi-lagi mengeringai senang mendapat tanggapan dari Samuel, yang justru ia harapkan.


"Ck!" Samuel kembali berdecak. Ia paham betul bahwa David memang sengaja melakukan itu di depannya.


"Sayang, ayo pulang!" ajak David kepada Aretha.


"Sam, aku duluan ya," pamit Aretha. Namun, Samuel tidak menanggapi. Pria itu hanya menatap keduanya yang tampak berjalan berdampingan menuju mobil David.


***


Aretha dan David telah berada di dalam mobil. David mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang sangat ramai sore itu.


"Sayang, aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Samuel," ucap David di tengah-tengah perjalanan mereka, dengan pandangan yang masih fokus ke depan.


Aretha yang sedari tadi sibuk memandang ramainya lalu lalang kendaraan di depan sana, tiba-tiba mengalihkan fokusnya kepada sang suami.


"Ya ampun, Mas ... aku hanya ngobrol biasa, itu tadi dia hanya menanyakan soal Diandra, kok," jawab Aretha.


"Tetap saja aku tidak suka. Dari dulu 'kan kamu tahu itu," terang David dengan fokus yang masih sama seperti sebelumnya.


"Tapi 'kan, sekarang itu sudah beda, Mas ... Samuel tahu aku sudah menikah," jelas Aretha.


"Tetap saja aku tidak suka kamu dekat dengan pria manapun, termasuk Samuel!" tegas David.


Aretha hanya mendengus kesal, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil.


"Kamu keberatan?" tanya David seraya menoleh sejekan.


"Tidak!" ketus Aretha degan ekspresi yang menyebalkan.


"Ini demi kebaikan kita. Aku tahu dia masih memiliki rasa sama kamu, meski dia tahu kalau kita sudah menikah," ujar David.


"Ya," singkat Aretha tidak ingin berdebat.


David hanya mendengus kesal, melihat ekspresi Aretha yang sangat tidak enak dipandang, padahal ia hanya tidak ingin jika Samuel merebut Aretha darinya, karena ia benar-benar tidak ingin kehilangan wanita itu.