
Setelah operasi Richard selesai, Aretha segera mencari keberadaan David. Gadis itu tampak berjalan mengelilingi rumah sakit. Bahkan, ia menghampiri setiap sudutnya untuk menemukan pria itu. Namun, hasilnya nihil, hingga ia sudah tidak kuat lagi berjalan karena merasa lelah, sedari tadi bolak-balik tempat itu-itu saja.
Gadis itu mengistirahatkan tubunya beberapa saat di kursi tunggu yang berada di loby rumah sakit yang sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang melintas di hadapannya. Sesekali orang itu memperhatikannya dengan tatapan aneh. Ya, mungkin karena pakaian yang masih ia kenakan saat itu. Namun, ia tidak begitu peduli akan hal itu. Nafasnya tampak sedikit terengah-engah.
"Mas David kemana ya? Apa dia marah sama aku, lalu pulang?" gumam Aretha.
Setelah kurang lebih dua jam ia mencari David. Akhirnya Rendy memeberi tahu gadis itu bahwa Richard telah dipindahkan ke ruang rawat. Aretha pun segera mengikuti Rendy saat itu untuk pergi ke ruangan yang dimaksud.
Aretha masuk ke dalam ruangan itu. Tampak Felix dan Renata yang menemani pria itu di sana. Kala itu, Richard masih terbring lemah di atas ranjang. Matanya masih terpejam, tetapi jemarinya mulai bergerak, tatkala Renata memegangnya. Itu pertanda bahwa adanya respon dari tubuh pasien.
Baru saja Rendy akan keluar untuk memanggil dokter, tetapi dokter yang dimaksud ternyata telah berada di depan pintu ruangan tersebut, seolah dokter itu tahu bahwa sudah waktunya Richard tersadar dari pengaruh anestesi.
Dokter itu mulai memeriksa kembali Richard, lalu menunggunya beberapa saat. Tak berlangsung lama. Dengan perlahan, Richard mulai menggerakkan kelopak matanya, seolah ingin membukanya lebar, tetapi terasa begitu berat. Namun, karena usahanya, akhirnya Richard bisa melakukan itu dengan baik.
Dokter itu tampak menggerakkan tangan dan jemarinya tepat di atas wajah Richard, sesaat setelah Richard berhasil membuka matanya. Dokter menanyakan jumlah jari yang ia tunjukkan kepada Richard berulang kali, lalu Richard pun menjawabnya dengan benar, meski suaranya begitu parau.
Itu artinya kondisi Richard sudah membaik. Dokter itu pun keluar, setelah Richard siuman. Semburat senyum terpancar dari wajah mereka yang tengah menunggunya, terlebih Felix dan Renata.
"Syukurlah, Nak, kamu sudah siuman," lirih Felix.
"Pa," gumam Richard seraya menoleh kepada Felix.
"Kak, akhirnya aku bisa dengar suara Kakak lagi," ujar Renata seraya menangis haru.
perlahan, Richard menyeka air mata adik kandungnya itu, lalu tersenyum. "Adik kakak tidak boleh menangis," ucapnya. "Kamu tenang saja, kakak akan baik-baik saja," imbuhnya.
"Kak, selamat ya operasinya berjalan dengan lancar, aku turut senang melihat kamu sudah siuman," lirih Aretha.
Seketika Richard terdiam. Ya, ternyata ia masih belum sadar bahwa telah melaksanakan operasi.
"Operasi? Operasi apa?" tanyanya heran.
Semuanya masih tak bergeming. Nampaknya mereka bingung mau menjelaskan apa.
Rendy mulai menjelaskan semuanya kepada Richard. Ia terlihat menyesal karena tidak mengetahui siapa seseorang yang berhati malaikat itu.
"Re, selamat ya atas pernikahan kamu sama David, maaf aku tidak bisa hadir di momen terpenting kalian," ucap Richard, setelah ia menyadari pakaian yang dikenakan Aretha.
Aretha tertegun sejenak. "Mm ... aku ... aku sama mas David belum jadi menikah, Kak," lirih Aretha sedikit ragu.
"Loh, kenapa?" Richard sedikit terlonjak. Ia reflect akan mengangkat tubuhnya. Namun, seketika ia memekik kesakitan di bagian luka bekas operasi. Rupanya ia lupa kalau baru saja menjalani operasi.
"Kakak jangan terlalu banyak bergerak, kan baru selesai operasi!" titah Renata seraya membenarkan kembali posisi Richard seperti semula.
Belum sempat Aretha menanggapi, tiba-tiba seorang perawat masuk ke ruangan itu.
"Maaf, apa benar di sini ada yang bernama Mbak Aretha?" tanya perawat itu tampak ragu.
"Saya, Sus. Ada apa?" Aretha sedikit heran, tiba-tiba dipanggil oleh seorang perawat.
"Di cariin mas David, Mbak," jawab perawat itu.
"Mas David?" bisik gadis itu. "Dimana dia, Sus?" tanyanya seraya mengerutkan dahi.
"Ada di ruang rawat, Mbak. Tadi mas David sempat mengalami pingsan dan tidak sengaja ditemukan di koridor rumah sakit," jelas perawat itu yang sontak membuat semuanya terkejut, terlebih lagi Aretha.
"Apa?" Aretha seketika membeliakkan matanya seolah tidak percaya dengan kabar yang baru saja ia dengar.
Aretha pun segera keluar dari ruangan itu, setelah berpamitan kepada Richard dan keluarganya. Tak lama, Rendy menyusul di belakangnya.
Aretha berjalan tergesa-gesa menuju ruang yang diberitahukan oleh perawat itu. Namun, seketika langkahnya terhenti, tatkala ia mendengar suara bariton memanggilnya.
Aretha menoleh ke belakang. Tampak Iman, sopir pribadi keluarganya tengah mengejarnya.
"Pak Iman?"
Aretha menunggunya beberapa saat hingga Iman berada tepat di hadapannya. Tampak Rendy yang juga langkahnya ikut terhentikan.
"Mbak, ini baju gantinya," ucap Iman seraya menyodorkan sebuah paper bag berisi baju ganti Aretha. Namun, Aretha masih terlihat kebingungan.
"Tadi mas David meminta saya untuk mengantar baju ganti," jelas Iman yang langsung dipahami oleh Aretha.
Tak berlangsung lama. Setelah Aretha meraih paper bag itu, ia segera melangkahkan kembali kakinya menuju ruangan dimana David berada di sana, sementara Iman kembali pulang.
Setibanya di depan pintu ruangan tersebut, Aretha segera membukanya. Nampak David yang tengah terbaring di atas ranjang dengan wajah yang sedikit pucat. Pria itu tersenyum, ketika menyadari bahwa Aretha yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Mas!" Aretha menghampiri David dengan ekspresi cemasnya.
"Mas, kamu kenapa?"
tanya Aretha seraya berdiri di samping ranjang pasien. Pun dengan Rendy yang juga merasa heran. David hanya melebarkan senyumnya dengan sedikit terpaksa.
"Dave, lo tidak apa-apa?" tanya Rendy.
"Tidak, gue hanya sedikit pusing. Menurut dokter karena anemia," jawab David.
"Mas, kamu membuatku cemas. Dari tadi aku mencarimu, Mas," gerutu Aretha.
"Maaf," lirih David.
"Aku yang minta maaf, tidak seharusnya aku meninggalkan kamu tadi," ucap Aretha menyesal seraya menekuk lehernya.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu cemas," ucap David. "Bagaimana kondisi Richard, apa operasinya berjalan dengan lancar?" tanyanya, ketika ia teringat kembali dengan sahabatnya yang telah menjalani operasi.
"Richard, sudah siuman," jelas Rendy seraya menatap David penuh tanya, entah kenapa begitu.
"Syukurlah," lirih David.
Mereka terdiam beberapa saat. Namun, Akhirnya Rendy kembali membuka suara.
"Re, boleh aku berbicara dengan David berdua?" tanya Rendy seraya menatap Aretha.
"Oh, ya. Silakan, Kak. Aku juga mau berganti baju dulu," ucap Aretha paham.
Gadis itu tampak masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut, berniat untuk mengganti pakaiannya, sementara Rendy masih berdiri di samping David. Ia masih menatap ptia itu penuh tanya, seolah tengah mencurigai pria yang tengah terbaring lemah itu.
"Dave," panggil Rendy lirih.
"Kenapa? Lo mau ngomong apa?" tanya David seraya menoleh.
"Apa elo pendonor itu?"
_____________________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING!
TBC