
Hari berganti hari, satu tahun berlalu begitu cepat.
Aretha dan David menjalani hidup bersama dengan berbagai rasa yang mereka alami. Manis, asam dan asin. Bahkan, sekaligus rasa pahit yang seakan sudah tertelan dan menjalar ke seluruh tubuhnya, itu sudah bukan hal yang asing bagi mereka.
Kendatipun begitu, mereka tetap bisa menjaga keutuhan rumah tangga mereka hingga satu tahun lamanya, meski sudah cukup banyak rintangan dan hambatan yang menghadang. Berkat rasa saling percaya, mereka bisa melewati itu semua.
Hari itu, tepat hari dimana Aretha melaksanakan wisuda dan menyandang gelar S.1. Wanita yang sedari awal telah dinobatkan sebagai mahasiswi berprestasi, nyatanya mampu menjadi lulusan terbaik di kampusnya, dengan membawa predikat cumlaude.
Tak henti-hentinya wanita itu mendapat pujian dan ucapan selamat dari keluarga dan sahabat, terlebih suami yang begitu mencintainya.
David tampak membawakan sebuket bunga mawar berwarna-warni untuk sang istri, sebagai ucapan selamat atas kelulusannya. Ia begitu bangga memiliki istri yang cerdas dan berbakat.
"Sayang, mami sama papi pulang dulu, ya," ucap sang mami kepada Aretha.
"Iya, Mi. Terima kasih ya, sudah hadir di acara wisuda aku," ucap Aretha.
"Iya, Sayang. Sekali lagi selamat ya. Pokoknya mami sama papi bangga sama kamu," jawab Carmila.
Aretha tampak memeluk sang mami, lalu papinya secara bergantian. Ia bahagia sekali, karena dikelilingi orang-orang yang sayang dan begitu peduli dengannya.
"Terima kasih ya, Sayang, sudah menjadi putri kebanggaan papi," ujar Anton lagi-lagi memeluk putrinya.
Suasana seketika menjadi haru. Tanpa disadari Aretha telah meneteskan air matanya, ketika dipeluk oleh sang papi. Namun, tak berlangsung lama.
Bagi Anton Aretha tetaplah putri kecil kesayangannya, meski ia sudah menikah dan menjadi istri pria lain. Dari sejak kecil, mereka memang sangat dekat. Anton memang selalu memanjakan Aretha, tetapi tak lupa ia juga mendidik putrinya menjadi gadis yang cerdas dan mandiri, agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Setelah kedua orangtua Aretha pulang lebih dulu, tampak disusul oleh kedua mertuanya yang juga ikut pamit pulang lebih dulu. Mereka memang sibuk. Namun, tetap menyempatkan untuk hadir sekadar memberikan ucapan kepada menantu kesayangan, meski datang setelah acara selesai.
"Sayang, setelah ini mau kemana?" tanya David.
"Pulang saja, Mas, aku lelah," jawab Aretha.
"Kamu yakin?" tanya David memastikan.
Sebenarnya Aretha masih ingin menghabiskan waktu dengan teman-temannya di hari perpisahan mereka. Namun, mengingat ia yang sudah memiliki suami, jadi merasa tidak sebebas seperti sebelum menikah.
Aretha menoleh ke arah ketiga sahabatnya yang kala itu tengah berbincang ria. Namun, hanya sekilas. Ia menoleh kembali kepada sang suami, lalu menganggukkan kepala, dengan ekspresi yang tidak yakin.
David tersenyum menanggapi. Namun, ia sangat paham dengan apa yang tengah Aretha rasakan.
"Nanti kita rencanakan waktu untuk liburan bersama teman-teman kamu," ucap David tiba-tiba yang sontak membuat Aretha terkejut tidak percaya.
"Serius, Mas?" Aretha tampak membulatkan matanya dengan ekspresi yang semringah.
David menganggukkan kepala sembari tersenyum, seraya membenarkan pertanyaan Aretha.
"Terima kasih, Mas. Aku senang sekali, mereka juga pasti senang," ujar Aretha.
"Ya sudah, sekarang kita pulang dulu, atau ... kita mau makan dulu?" tanya David.
"Boleh," singkat Aretha. "Aku menemui mereka dulu, boleh?" tanyanya meminta ijin, seraya menunjuk ke arah teman-temannya.
"Aku tunggu di mobil," jawab David seolah memberi kode bahwa ia memberikan ijin.
"Baiklah. Terima kasih, Mas," balas Aretha senang.
David tampak beranjak dari tempat itu menuju mobilnya yang berada di tempat parkir. Semetara Aretha tampak menemui ketiga sahabatnya.
"Guys, gue pulang duluan, ya," ucap Aretha pamit.
"Yah, Re ... buru-buru banget, apa nggak sebaiknya kita rayakan dulu kelulusan kita kali ini?" protes Deasy.
"Tahu, Re, setelah ini 'kan belum tentu kita bisa bareng-bareng lagi," timpal Diandra.
"Hmm ... mungkin kita bisa cari waktu untuk liburan?" ucap Aretha yang lebih ke nada meminta persetujuan.
"Lo yakin?" tanya Tania.
"Yakin dong, mas David sudah kasih ijin," jawab Aretha tersenyum.
Aretha hanya menganggukkan kepala berulang kali, seraya membenarkan.
"Mauuu!" teriak histeris ketiga sahabatnya kompak.
"Re, selamat ya," ucap Samuel yang tiba-tiba berada di belakang Aretha.
Aretha menoleh ke belakang. "Selamat juga buatmu, Sam," balas Aretha.
"Gue nggak dikasih selamat, nih?" tanya Deasy menyindiri.
Samuel menoleh sembari berdecak kesal. "Iya, iya, selamat buat kalian juga, PUAS?" ketusnya yang sontak membuat Deasy mencebikkan bibirnya.
"Lo kalau nggak ikhlas, nggak usah maksain!" protes Tania.
"Terserah kalian lah," balas Samuel tidak peduli.
Diandra hanya diam tidak berkomentar. Entah kenapa sejak kehadiran Samuel, ia malah memilih untuk bungkam dan hanya memperhatikan perbincangan mereka.
"Ya sudah, aku harus segera pergi, mas David sudah menunggu," ucap Aretha kemudian.
"Selalu saja seperti ini, setiap kali aku muncul, kamu selalu pergi. Kenapa, sih?" gerutu Samuel.
Samuel merasa dihindari, padahal ia juga sudah berjanji tidak akan mengganggu Aretha dan melupakan perasaannya. Lagi pula, itu sudah satu tahun Aretha menikah. Samuel sudah benar-benar melupakan perasaan terhadapnya. Ia hanya ingin berteman baik dengan Aretha.
Tentu saja perkataan Samuel membuat Aretha merasa tidak enak hati. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menghindari Samuel, hanya saja Samuel selalu muncul di waktu yang kurang tepat.
"Bukan begitu, Sam. Aku tidak enak kalau mas David nunggu terlalu lama," jelas Aretha. "Nanti, kita akan adakan jadwal untuk liburan khusus, kamu ikut ya, Sam," imbuhnya.
"Aku diajak, nih?" tanya Samuel seolah tidak percaya.
"Tentu," jawab Aretha yakin.
"Tapi ... kalau bisa sebelum aku pergi ke New York, ya," ujar Samuel memberi tahu.
"Lo mau ke New York, Sam?" tanya Deasy terkejut.
Bukan hanya Deasy, tetapi Tania dan yang lainnya juga merasa terkejut mendengar pernyataan Samuel. Bahkan, Diandra lebih terkejut lagi, mendengar musuh bebuyutannya akan pergi ke luar negeri. Namun, ia masih tidak berkomentar.
"Ya, gue mau lanjut S2 di sana," jawab Samuel lirih.
Namun, pandangannya ia fokuskan kepada Diandra yang sedari tadi hanya diam tak bersuara. Namun, hanya sejenak. Ia kembali mengalihkan perhatiannya, ketika Aretha membuatnya sedikit tersentak.
"Sukses ya, Sam," ucap Aretha.
"Thanks, Re," jawab Samuel.
"Ya sudah, aku duluan ya," ucap Aretha. "Ra, gue duluan ya," imbuhnya kepada Diandra.
Aretha menyadari bahwa Diandra terlihat sedikit melamun. Maka dari itu, ia berpamitan khusus kepada Diandra, sontak membuat Diandra sedikit tersentak.
"Iya, Re. Take care, ya," jawab Diandra seraya tersenyum.
Aretha segera pergi dari hadapan mereka. Ia tampak sedikit mempercepat langkahnya, khawatir David akan protes, karena ia terlalu lama menunggu.
"Lama sekali, Sayang," ucap David, ketika Aretha baru saja duduk di sampingnya.
Benar saja dugaan Aretha bahwa David akan melayangkan protesnya.
"Maaf ya, Mas, aku terlalu asyik," balas Aretha memasang wajah menyesal, padahal itu hanya kode agar David tidak protes terlalu jauh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC