Possessive Love

Possessive Love
Permintaan Batal Kontrak



David tampak turun dari mobil mewahnya, lalu berjalan masuk ke dalam sebuah gedung perkantoran yang sangat asing baginya. Ia tampak menghadap meja resepsionis, lalu setelah melakukan perbincangan dengan petugas di meja itu, David kembali melangkahkan kakinya memasuki salah satu lift yang akan mengantarkannya ke lantai empat.


Beberapa karyawan asing yang berpapasan dengannya tampak memandangnya penuh rasa penasaran akan sosok karismatik yang tengah berkunjung ke kantor mereka. Seketika kehadiran David menjadi pusat perhatian karyawati di sana. Sungguh David seakan menjadi magnet di tempat itu, sehingga membuat mereka tak ingin melepaskan pandangan darinya. Bahkan, mereka diam-diam mengekori ke mana perginya David.


"Gila, keren banget, siapa dia?" tanya seorang karyawati berambut panjang kepada salah satu temannya. Mereka diam-diam mengikuti David di belakang.


"Kamu tidak tahu siapa dia?" temannya yang berambut pendek sebahu malah berbalik tanya.


"Memangnya kamu tahu?" tanya karyawati berambut panjang lagi.


"Dia David Wijaya, salah satu pengusaha muda yang bergelut di beberapa bidang perusahaan dan berhasil menduduki peringkat pertama," jawab karyawati berambut pendek.


"Wow!" Karyawati berambut panjang tampak terkejut mendengarnya. "Tampannya tujuh puluh persen ngalahin si bos," imbuhnya sembari terkekeh.


"Jadi, selama ini kamu menilai ketampanan si bos hanya tiga puluh persen?"


"Ya, sepertinya jika dibandingakan dengan dia, memang segitu," jawab karyawati berambut panjang sembari cekikikan. "Tuhan, sisakan satu saja stok pria seperti David Wijaya itu untukku, Amin," imbuhnya seraya menengadahkan telapak tangannya ke atas, lalu mengusapkannya ke wajahnya sendiri, sehingga membuat temannya terkekeh geli melihat aksi konyol karyawati berambut panjang itu.


Bukan David tidak mengetahui bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian. Bahkan, ia tahu ketika ada yang mengikutinya. Namun, ia tidak ingin ambil pusing akan hal itu, karena ada hal penting yang harus ia selesaikan di kantor itu.


David terus berjalan dengan gaya elegannya. Pandangannya fokus ke depan, sehingga membuat auranya semakin terpancar, hingga ia tiba di depan sebuah ruangan CEO perusahaan tersebut.


Tanpa rasa ragu, David mengetuk pintu itu, lalu masuk ke dalam ruangan itu, setelah sang empunya mengizinkan.


Plak!


Tampak sebuah amplop berwarna coklat yang sedikit dilemparkan ke meja kerja, tepat ke hadapan seorang pria yang tak lain adalah pimpinan di perusahaan tersebut.


Pria itu mendongakkan kepala, menatap nanar wajah David. Seketika ia menerbitkan senyuman smirk di wajahnya, lalu meraih amplop yang dilemparkan oleh David ke hadapannya. Bahkan, tanpa mempersilakan David untuk duduk terlebih dahulu.


Tanpa berkata apapun, pria itu membuka amplop berwarna coklat itu. Tampak selembar cek kosong yang ia keluarkan dari dalam amplop tersebut. Dan, lagi-lagi ia tersenyum smirk, lalu menatap David kembali. Seketika ia mengangkat sebelah alisnya seolah menuntut penjelasan apa maksud dari semua itu, tanpa ingin menanyakan langsung kepada David.


"Tulis berapa pun yang kamu mau, lalu batalkan kontrak kerjasama dengan istri saya!" tegas David yang langsung membuat pria di hadapannya terkekeh.


Ya, pria itu adalah Fathur, pria yang baru beberapa hari lalu diresmikan menjadi pimpinan di perusahaan PT. Adi Jaya Hutama, setelah sang papa kembali mengelola perusahaannya di Amerika yang dulu sempat ia kelola secara langsung, ketika Fathur masih berusia remaja. Maka dari itu, David tidak pernah mengenal orang tua Fathur, karena beliau yang tinggal di luar negeri cukup lama.


"Kamu pikir, saya butuh ini?" tanya Fathur seraya mengangkat cek lebih tinggi daripada kepalanya.


"Saya rasa itu akan cukup untuk mengganti kerugian perusahaan kamu," jawab David masih dengan tatapan sinis.


Fathur terdiam sejenak sembari menatap cek yang masih berada di tangannya. "Kalau ternyata aku tidak menginginkannya bagaimana?" tanyanya melemparkan tatapan mengejek kepada David.


"Katakan apa yang kamu mau!" pinta David dengan amarah yang sedari tadi ia tahan.


"Istrimu!" jawab Fathur tegas, sontak membuat David membulat, lalu mengepalkan kedua tangannya. Ingij rasanya melayangkan satu toyoran kepada Fathur. Namun, masih ia tahan demi tidak ingin mencari keributan di tempat orang lain yang nantinya akan merusak nama baiknya sendiri.


"Baiklah, kurasa kamu tidak akan mengabulkan permintaanku."


Melihat ekspresi David saat itu, Fathur langsung memahaminya bahwa David tidak akan mengabulkan permintaannya yang sangat konyol. Bahkan, hanya pria tak punya hati yang mau memberikan atau menjual istrinya kepada pria lain. Dan David bukanlah tipikal pria yang seperti itu.


Fathur bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri di seberang David. Ia memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana berwarna hitam yang tengah ia kenaka.


"Bagaimana jika aku meminta seluruh harta yang kamu miliki? Termasuk perusahaan kamu itu? Apa kamu sanggup merelakan itu semua demi istrimu?" Fathur tampak memberikan penawaran kembali kepada David.


Kali ini David dibuatnya geram. Namun, tidak jauh lebih geram daripada ketika pria itu meminta istrinya. Walau bagaimanapun Aretha adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya, dibandingkan dengan apapun itu. Jangankan untuk menukar seluruh harta kekayaan yang ia miliki dengan istrinya, menukar nyawanya pun, jika itu demi istrinya, ia rela.


"Itu yang kamu mau?" tanya David memastikan yang langsung mendapat tanggapan senyuman getir dari Fathur. "Baiklah, ambil semuanya, jika itu bisa membuatmu berhenti mendekati istri saya," imbuhnya yang tentu membuat Fathur tidak percaya bahwa David mau mengambil risiko sejauh itu. Bahkan, tanpa dipikirkan terlebih dahulu apa yang akan terjadi jika ia melakukan semua itu. Tentu ia akan jatuh miskin dalam hitungan detik.


"Tidak ada yang jauh lebih berharga daripada istri saya. So, saya tidak akan takut jika harus jatuh miskin karena memberikan seluruh harta yang saya miliki kepadamu. Kamu santai saja. Kapanpun kamu akan mengambil itu semua dari saya. Saya siap," jelas David terlihat lebih santai.


Lagi-lagi Fathur menerbitkan senyuman di wajahnya. Namun, kali ini ada yang berbeda dari senyuman itu. Senyuman yang seolah memancarkan kebahagiaan dari pria tersebut.


"Sungguh ini luar biasa. Aku kagum kepada kalian. Jadi, ternyata ini rahasia kalian berdua? Pantas saja istri kamu sangat mencintaimu sampai dia rela melakukan sesuatu untukmu," ujar Fathur yang sontak membuat David merasa bingung.


"Maksud kamu?" tanya David masih tidak paham dengan apa yang dikatakan Fathur saat itu.


"Sudahlah, Dave. Kurasa kita sudah cukup dewasa, cukup bisa menghadapi masalah dengan baik dan kepala dingin. Dulu, kita memang memiliki masa lalu yang buruk, tetapi kurasa ini saatnya untuk kita mengakhiri semua itu," jelas Fathur tiba-tiba yang sontak membuat David sulit untuk percaya. Bagaimana bisa Fathur tiba-tiba berubah, setelah bertahun-tahun ia menyalahkan dirinya sebagai penyebab kematian Arumi? Pikirnya saat itu.


"Ya ... aku tahu, itu memang salahku yang terlalu egois menyalahkanmu atas meninggalnya Arumi, tanpa aku mau mendengar penjelasanmu terlebih dahulu. Aku minta maaf," tutur Fathur yang semakin membuat David bingung.


"Apa yang sudah dilakukan istriku, sehingga membuatmu seperti ini?" tanya David penuh selidik.


Fathur kembali mengulas senyumnya. "Aretha sudah menjelaskan semuanya. Dan aku baru sadar betapa bodohnya aku dulu. Kalau saja dulu aku tahu dari awal bahwa kalian saling—"


"Cukup! Jangan bahas itu lagi. Dengan kamu sudah mengetahui semuanya pun, aku sangat senang mendengarnya," potong David yang memang sudah tak ingin lagi mendengar nama Arumi yang dulu sempat membuatnya terpuruk karena merasa bersalah. Dan ia tidak ingin mengingat hal itu lagi.


"Ya," singkat Fathur sedikit berkaca-kaca. Betapa ia sangat merindukan sosok sahabat yang saat ini berada di hadapannya.


Fathur tampak berjalan mendekati David, lalu segera memeluknya, pun sebaliknya. Mereka tampak melepas rindu setelah sekian lama tidak pernah bertemu lagi, setelah kejadian Arumi bunuh diri. Mereka tampak saling meminta maaf satu sama lain, karena dulu sudah sama-sama saling menyakiti. Akhirnya kisah pelik di antara mereka pun berakhir sampai di situ. Dan sepertinya itu akan menjadi awal baru bagi mereka untuk menjalin pertemanan kembali seperti dulu.


Setelah beberapa saat, mereka pun kembali melepas pelukan mereka.


"Kurasa kamu harus mengucapkan terima kasih kepada istrimu," ucap Fathur sedikit terkekeh.


"Ck! Dia selalu saja," jawab David sedikit kesal karena diberikan kejutan yang sangat tak terduga oleh istrinya. "Kuharap kamu tidak mengatakan apapun dulu kepadanya," imbuhnya memohon. Namun, Fathur hanya menanggapinya dengan senyuman.


***


Dengan langkah sedikit tergesa, David masuk ke dalam gedung perkantoran di mana sang istri bekerja. Bahkan, ia tidak menghiraukan sapaan hangat dari beberapa karyawan di perusahaan itu.


Pria itu tetap memfokuskan pandangan ke depan dengan ekspresi serius tanpa ada keraguan, hingga tiba di depan pintu ruangan Aretha ia langsung menerobos masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu, sehingga membuat yang kala itu tengah sibuk dengan beberapa berkas di mejanya sedikit terlonjak mendapati pintunya yang terbuka tanpa seizinnya. Dan lebih terkejut lagi, ketika ia menyadari bahwa suaminya yang masuk ke dalam ruangannya.


David menghentikan langkahnya di depan pintu, ketika ia baru saja menutup pintu itu kembali dengan rapat, tanpa ada celah sedikit pun.


"Mas?" Aretha bangkit dari temoat duduknya dengan penuh ekspresi kebingungan.


Aksi David saat itu tak ayal membuat Aretha bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan suaminya, sehingga ia terlihat sangat serius dan menakutkan, padahal sebelumya David tidak pernah bersikap seperti itu.


Dengan rasa ragu, Aretha menghampiri suaminya yang kala itu masih diam di tempat. "Mas, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu berada di sini? Ini belum waktunya pulang, lho. Jam istirahat pun sudah lewat," ucap Aretha berusaha menetralkan perasaannya, meski sebenarnya ia sangat tidak nyaman melihat ekspresi suaminya saat itu.


"Ternyata diam-diam kamu menemui Fathur?"


DEG!


Seketika Aretha terhenti, ketika mendengar ucapan David yang entah itu pertanyaan atau pernyataan.


"Mas, ma-maaf, aku tidak bermaksud ...."


Belum sempat Aretha menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba David menarik lenganya dan membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, sontak membuat Aretha seketika membeliak di balik pelukan suaminya.


"Terima kasih, kamu sudah melakukan hal yang sangat berarti buatku," lirih David semakin mempererat pelukannya.